Share

Chapter 36

Author: Reartha
last update publish date: 2026-06-01 16:45:59

Ketika mobil akhirnya memasuki area apartemen Rionegro, Yusallia tanpa sadar duduk sedikit lebih tegak.

Gedung itu tampak sama seperti yang ia ingat.

Tinggi, rapi, dan berdiri dengan kesan tenang yang nyaris terlalu sempurna di tengah kota yang sibuk. Halaman depannya bersih. Jalan masuknya lebar. Tanaman-tanaman di sisi gedung tertata dengan baik. Dan lobi di balik dinding kaca besar terlihat terang, elegan, dan sedikit dingin—seperti tempat yang jelas-jelas dib
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 74

    Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa hangat, tapi tetap dipenuhi rasa tegang yang samar. Yusallia duduk di ruang tamu, memeluk bantal kecil di pangkuannya, matanya sesekali menatap ke luar jendela, ke halaman yang diterangi cahaya senja yang perlahan meredup. Ia tahu Rionegro akan datang. Sudah sejak beberapa jam lalu, ponselnya bergetar dengan pesan singkat dari pria itu.> Aku akan datang sore ini, setelah dari kampus. Kita bicara berdua.Pesan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat jantung Yusallia berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menaruh cangkir teh hangat di meja sampingnya, menarik napas perlahan, dan mencoba menenangkan pikiran. Ia tidak punya jadwal rumah sakit hari itu, tapi hatinya tetap terasa penuh. Setiap menit yang ia habiskan menunggu Rionegro terasa seperti waktu yang terseret terlalu lambat.Beberapa staf rumah bergerak pelan di sekitar, menyiapkan teh, memastikan lampu tetap menyala, tapi Yusallia hampir tidak menyadari

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 73

    Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan karena tidak ada orang di dalamnya. Justru ada beberapa staf rumah yang masih berjalan pelan di lorong, sesekali terdengar suara pintu tertutup dari kejauhan, dan dering ponsel Damian yang sejak tadi tidak berhenti sepenuhnya.Tapi tetap saja.Ada sunyi yang terasa lain.Sunyi yang muncul bukan karena tidak ada suara, melainkan karena seseorang di rumah itu sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja.Yusallia duduk di sofa ruang tengah dengan kedua tangan menggenggam cangkir teh hangat yang bahkan belum ia minum sejak tadi. Rambutnya dibiarkan jatuh di bahu, sedikit berantakan, seolah ia tidak punya cukup tenaga untuk merapikannya. Wajahnya pucat. Matanya lelah.Dan senyumnya...Senyum itu ada.Tapi tidak sampai ke matanya.Damian berdiri tidak jauh darinya, bersandar di dekat rak buku dengan kedua tangan terlipat di depan dada

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 72

    Malam di rumah Callisto terasa lebih sunyi daripada biasanya.Bukan karena rumah itu benar-benar sepi. Lampu-lampu tetap menyala hangat di beberapa sudut. Dari lantai bawah, sesekali terdengar langkah pelan para staf rumah yang masih membereskan sesuatu. Suara televisi dari ruang keluarga sempat terdengar sangat kecil, lalu menghilang lagi. Semuanya tetap berjalan seperti rumah besar yang hidup sebagaimana mestinya.Namun entah kenapa, malam itu tetap terasa sunyi bagi Yusallia.Ia sedang duduk sendiri di kamar lamanya, tepat di tepi tempat tidur yang dulu pernah terasa begitu akrab sampai ia bisa duduk berjam-jam di sana tanpa merasa asing. Tirai jendela setengah terbuka. Di luar, langit Jakarta tampak gelap dengan cahaya lampu taman yang jatuh lembut ke halaman samping rumah. Angin malam bergerak pelan, membuat ujung tirai sesekali bergeser tipis.Di pangkuannya, jemari Yusallia saling bertaut.Sudah beberapa hari ia pulang ke rumah ini

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 71

    Pagi itu dimulai dengan langit Jakarta yang muram, meski hujan belum benar-benar turun. Awan-awan kelabu menggantung rendah di atas gedung-gedung tinggi, membuat cahaya matahari tampak pucat dan tertahan. Jalanan kota sudah dipenuhi kendaraan sejak jam-jam awal, sementara di dalam mobil hitam yang membelah arus lalu lintas dengan tenang, Rionegro duduk di kursi belakang sambil menatap layar tablet di tangannya. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Terlalu tenang, mungkin. Namun siapa pun yang mengenalnya cukup lama akan tahu bahwa ketenangan seperti itu justru sering muncul saat pikirannya sedang bekerja terlalu keras. Di layar tablet, beberapa dokumen digital terbuka berurutan. Bukan file laporan rapat. Bukan juga ringkasan presentasi biasa. Itu adalah file-file perkembangan perusahaan keluarga Raymond yang beberapa bulan terakhir rutin diberikan oleh asisten ayahnya untuk dipelajari. Selama ini, Rionegro

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 70

    Pagi datang seperti biasanya.Cahaya matahari tetap masuk dari sela tirai apartemen dengan sudut yang sama. Jam dinding tetap bergerak pelan. Pendingin ruangan tetap berdengung halus. Kota di luar jendela juga tetap hidup, dengan jalanan yang pelan-pelan dipenuhi kendaraan dan gedung-gedung yang memantulkan cahaya pagi.Semuanya tampak biasa.Setidaknya, begitu yang ingin diyakini Rionegro.Ia bangun lebih awal seperti biasa, mandi, mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika dengan licin, lalu berjalan ke dapur dengan langkah tenang. Tangannya otomatis meraih teko, menyalakan air, mengambil cangkir, dan menata meja makan tanpa perlu berpikir.Sampai di satu titik, gerakannya berhenti.Tangannya baru saja mengambil dua piring dari rak atas.Dua.Padahal pagi ini hanya ada dia.Rionegro menatap dua piring itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembalikan salah satunya ke tempat semula. Wajahnya t

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 69

    Malam setelah pertengkaran itu berlalu tanpa benar-benar memberi istirahat pada siapa pun.Di dalam kamar, Yusallia tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah basah dan dada yang masih terasa sesak, sementara di luar sana apartemen tetap sunyi seperti tidak ada apa-apa yang baru saja pecah. Tidak ada suara langkah mendekat ke pintu. Tidak ada ketukan pelan. Tidak ada suara Rionegro yang mencoba meminta ia membuka pintu dan bicara baik-baik. Yang ada hanya hening yang panjang, dingin, dan membuat semuanya terasa semakin nyata.Yusallia memeluk dirinya sendiri cukup lama sampai akhirnya lelah itu datang.Bukan lelah fisik.Bukan juga mual atau pusing yang biasa ia rasakan sejak hamil.Ini jenis lelah yang hidup di hati. Lelah karena terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang. Lelah karena berkali-kali berusaha mengerti, berkali-kali memaklumi, berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa sem

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 31

    Ruang keluarga malam itu terlihat jauh lebih tenang dibanding siang tadi. Lampu utama tidak dinyalakan terlalu terang. Hanya beberapa lampu dinding dan lampu meja yang memberi cahaya hangat ke seluruh ruangan, membuat bayangan furnitur besar dan lukisan di dinding tampak lebih lemb

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 30

    Di luar, udara sore di teras taman terasa hangat dengan angin yang bergerak pelan di antara daun-daun. Cahaya matahari mulai sedikit condong, jatuh ke rumput yang tertata rapi dan kolam kecil di ujung taman yang permukaannya memantulkan kilau lembut. Suasana itu seharusnya menenangkan.

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 35

    Perjalanan menuju apartemen Rionegro terasa lebih panjang dari biasanya, meskipun jalanan siang itu tidak terlalu macet. Atau mungkin bukan jalannya yang terasa panjang. Mungkin yang memanjangkan semuanya adalah keheningan di antara mereka. Setelah ber

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 33

    Pagi itu datang dengan cara yang terlalu tenang. Cahaya matahari masuk perlahan dari sela-sela tirai kamar Yusallia, lalu jatuh lembut di lantai dan di tepian tempat tidurnya, membentuk garis-garis terang yang biasanya terasa hangat. Namun hari itu, semuanya justru terasa berbeda.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status