MasukBinar memalingkan wajah, melihat keluar jendela kaca film yang membuat malam di luar tampak makin pekat. Mobil berbelok keluar menuju jalan raya utama, dan begitu mereka melewati tikungan terakhir, dunia di luar jendela berubah seketika.Awalnya dia terlihat bosan, bibirnya terkatup rapat, enggan untuk bertanya atau sekedar mengobrol. Namun kemudian, ekspresinya perlahan berubah.Papan-papan baliho raksasa mulai bermunculan di pinggir jalan, ratusan kaki tingginya, seperti raksasa yang berdiri berbaris menyambut kedatangan mereka. Semuanya ditulis dalam bahasa Inggris dengan huruf-huruf cetak tebal yang menyala terang.Matanya berbinar melihat itu semua. Dia melipat bibirnya karena menahan senyuman, tangannya berpegangan pada pintu mobil, berusaha untuk tetap tenang, karena tak ingin terlihat kampungan.Lampu neon berwarna fuchsia, hijau lemon, dan biru elektrik menerangi permukaan aspal, membuat jalanan terlihat seperti landasan pendaratan pesawat. Di atas mereka, langit malam yang t
Bhaga melirik tangan Binar yang mencengkeram kain jaketnya, lalu menoleh mencari keberadaan anaknya. "Ardan, ayo."Ardan langsung menghampiri, melewati barisan kursi-kursi kosong sambil membawa ransel dinosaurusnya. Kaki kecilnya mendarat di lantai kabin depan dengan sedikit hentakan, setelahnya dia berjalan menuju pintu tanpa menoleh."Ardan, kamu tahu ini di mana?" tanya Binar, mencoba menarik perhatiannya.Ardan sama sekali tidak menjawab, anak itu justru buru-buru memakai jaket tebalnya, merapatkan ritsleting sampai ke dagu."Ardan," tegur Binar, mencoba meraih tangan Ardan.Ardan mengelak pelan.“Bunda!” rengeknya protes. “Jangan sentuh aku sekarang.”Binar merasakan tangannya menggantung di udara, kemudian perlahan diturunkan. Sedangkan, Ardan berjalan mendahului mereka menuju pintu keluar yang baru saja dibuka oleh salah satu kru kabin, meninggalkan kedua orang tua yang menatapnya tak percaya.Udara luar langsung menyergap masuk saat pintu terbuka. Udara malam dengan hawa keri
Setelah puluhan jam di atas pesawat, akhirnya saat yang Binar nantikan tiba juga. Deretan lampu-lampu mulai muncul. Yang tadinya terlihat begitu kecil dari jauh, kini terlihat semakin jelas.Selama beberapa jam terakhir, di luar jendela pesawat hanya ada kegelapan pekat Gurun Mojave, hitam mati yang membuat kaca pesawat berfungsi layaknya cermin mengilap, memantulkan wajah Binar yang pucat dan lampu baca di atas kepalanya. Tidak ada apa pun di bawah sana. Tidak ada titik cahaya, tidak ada kerlip lampu kota. Hanya kegelapan yang begitu pekat hingga Binar hampir percaya bahwa mereka terbang di atas lautan, bukan daratan.Berulang kali dia meringkuk ketakutan, tapi Bhaga selalu bisa menenangkan, sebelum akhirnya Binar kembali panik.Namun saat pesawat menukik turun, kegelapan itu mendadak terbelah oleh ribuan garis cahaya yang teratur. Dari atas, kelihatan seperti papan sirkuit komputer raksasa yang baru saja dinyalakan di dalam ruangan gelap. Garis-garis neon emas, merah, dan biru kenca
Pesawat masih melayang di atas awan dan di dalam kabin sempit itu, mereka sudah kembali sama-sama telanjang.Selimut tipis menutupi sebagian tubuh mereka, tidak cukup untuk menghangatkan sepenuhnya tapi cukup untuk menciptakan kenyamanan di antara mereka berdua. Di luar jendela kecil, awan yang terkena sinar matahari memberikan pemandangan indah yang menyempurnakan perjalanan mereka.Ardan masih terlelap, kelihatannya dia kelelahan karena perjalanan jauh saat menjemput bInar ke desa, tetapi terlalu antusias hingga tak bisa tidur di sepanjang perjalanan. Binar berbaring miring, menyandarkan kepalanya di dada Bhaga. Satu lengan pria itu melingkar erat di punggung telanjangnya. Kulit mereka bersentuhan di beberapa tempat, kaki mereka saling bertaut di bawah selimut. Keduanya hanya saling meluapkan kerinduan untuk kesekian kalinya selama di dalam pesawat itu, benar-benar seperti taka da hari esok.Menit berlalu, mereka kembali saling membantu dalam memakaikan pakaian, kemudian kembali be
Binar menyembunyikan wajahnya di dada Bhaga. Bahunya bergetar, tawanya teredam di tubuh Bhaga. Perasaannya membuncah, antara haru dan tak percaya. Beberapa saat berikutnya dia menarik napas dalam dan menenangkan diri, ditambah dengan aroma Bhaga yang khas, membuatnya semakin mudah untuk menjadi tenang.Dia mendongak sedikit. "Ardan beneran bilang begitu?" bisiknya. "Iya. Kata-katanya persis seperti itu." Bhaga tidak bergerak. Tangannya masih di punggung Binar, mengelus pelan. "Takut kaca mobilnya pecah?" Binar tertawa lagi, rasanya masih geli saat membayangkan Ardan mengucapkan kalimat itu dengan wajah yang datar.Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Semakin lama, Ardan semakin mirip Bhaga. "Iya." Binar perlahan mengangkat tubuhnya agar bisa sejajar dengan Bhaga, menatap lurus ke dalam mata pria itu. "Umurnya masih enam tahun, tapi dia sudah bisa bersikap begitu. Mirip sekali denganmu." "Enam setengah," koreksi Bhaga tenang."Enam setengah tahun dan dia sudah jauh lebih d
Bhaga menarik napas pelan di sebelah Binar. Udara dingin di kabin makin membawa kenyamanan bagi keduanya. Di luar, langit mulai berubah warna, menandakan sore mulai datang meski tak akan bertahan lama. Ardan masih terlelap, meringkuk memeluk dinosaurusnya, sesekali posisinya berubah tapi tangannya tetap memegang dinosaurusnya itu.Binar berdeham gugup. ”A-aku dengar, Celia setiap hari ke rumahmu untuk menemani Ardan?”Kepala Bhaga mengangguk tegas. “Iya. Tapi aku hanya ketemu dengannya di pintu gerbang setiap kali aku berangkat kerja.”Mata Binar mengerjap ragu dan Bhaga menyadari itu. “Tanyakanlah. Aku akan menjawab.”“Em … bagaimana dengan Ardan. Apa dia bahagia?” “Kata Sari sama Maryam, waktu Celia tinggal di rumah ... Ardan dibiarkan begitu saja.” Dia mengangkat bahunya cuek. “Celia cuma sibuk dengan ponselnya sendiri. Gampang marah kalau Ardan mulai rewel. Tiap kali Ardan cerita soal sekolah, tidak pernah didengarkan. Diajak main juga selalu nolak. Dan yang paling menyebalkan, d







