Mag-log inKeheningan itu pecah saat Maria maju dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan malu di hadapan teman-temannya.
"Keiran, jaga mulut kamu!" jerit Maria, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi kepanikan yang mulai menguasainya. Keiran tidak bergeming. Pria itu hanya memiringkan kepala, mengunci Maria dengan tatapan dingin. Sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana, Keiran mengulas satu senyum tipis, membungkam histeria Maria dan membuatnya mundur dengan wajah pucat. Sebelum melangkah pergi, Shaluna berhenti di samping Keiran. Mengabaikan keberadaan Maria, ia mendongak, menatap sepasang mata gelap itu selama beberapa detik. "Makasih, Mas," bisik Shaluna, sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah cepat menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. *** Satu minggu berlalu sejak keributan di ruang tengah hari itu. Pagi ini, suasana di meja makan terasa jauh lebih menyebalkan daripada biasanya. Papa mertuanya, Dion, sudah pulang dari luar kota. Itu berarti Ragan juga sudah kembali ke Jakarta, meskipun pria itu memilih tidak memunculkan batang hidungnya di meja makan. Mereka sarapan berempat dalam keheningan yang tenang. Shaluna mengunyah makanannya pelan, sesekali melirik ke arah Maria. Ibu mertuanya itu kini jauh lebih banyak terdiam, tidak ada lagi hinaan atau sindiran tajam yang biasanya memenuhi ruangan. Sementara itu, Dion dan Keiran menikmati sarapan mereka dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Maria, saya dengar kamu bikin masalah." Dion tiba-tiba memecah kesunyian, terdengar begitu dingin dan berwibawa. Shaluna langsung menghentikan gerakan sendoknya. Ia menatap Maria yang seketika tampak gelagapan, wajah wanita paruh baya itu berubah pias. "Masalah apa, Mas? Aku cuma sesekali pergi minum teh sama temen," kilat Maria, mencoba membela diri dengan suara yang agak bergetar. Dion tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu menggeser pandangannya, melirik lurus ke arah Shaluna yang duduk diam di sisi meja, sebelum akhirnya kembali menatap sang istri dengan sorot mata menghujam. "Berhenti teken Shaluna, Maria. Saya tahu semua meski jarang di rumah." Shaluna menahan napasnya. Di bawah meja, jemarinya saling bertautan rapat. Di rumah yang lebih sering sepi ini, ia baru menyadari bahwa sang papa mertua ternyata mengawasi setiap gerak-gerik mereka selama ini. "Aku cuma—" "Berhenti cari pembelaan," potong Dion mutlak. Pria itu meletakkan sendoknya, menatap istrinya dengan raut keras. "Saya bisa naikin berita Ragan ke publik." Shaluna terpaku. Berita Ragan? Jantungnya berdesir mendengarnya. Rupanya, papa mertuanya benar-benar memegang kendali penuh dan tahu persis kebusukan apa yang disembunyikan putra tirinya sendiri. "Mas, itu keterlaluan!" pekik Maria tertahan. Wajahnya pias. Wanita itu buru-buru melirik ke arah Shaluna dengan tatapan awas bercampur panik, seolah takut menantunya itu menangkap lebih banyak celah. Dion sama sekali tidak memedulikan bantahan istrinya. Ia bangkit dari kursi dan melangkah pergi begitu saja. Kehilangan akal sehatnya, Maria setengah berlari mengikuti langkah suaminya menaiki tangga menuju kamar mereka. Shaluna masih duduk diam di kursinya, mencerna apa yang baru saja terjadi. Dari arah lorong lantai dua, sayup-sayup telinganya masih bisa menangkap suara rengekan Maria yang terdengar begitu putus asa. "Aku janji gak akan buat Luna gak nyaman lagi, Mas!" Suara bantingan pintu menutup perdebatan itu. Hening kembali turun menyelimuti ruang makan, menyisakan Shaluna yang kini terjebak berdua saja di meja itu bersama Keiran. Di seberang meja, Keiran masih menatapnya dengan senyum tipis yang sarat arti. Sebagai anak kandung Dion, Keiran jelas memegang posisi yang jauh lebih kuat di rumah ini. Keiran mundur bersandar pada kursinya, mengunci pandangan Shaluna. Suara baritonnya mengalun rendah. "Akhirnya rumah ini bisa tenang." *** Malam itu, Ragan akhirnya pulang ke kamar mereka. Penampilannya berantakan dengan rambut yang tidak tertata, dan satu sudut bibirnya tampak memiliki bekas luka keunguan yang masih baru. Entah apa yang terjadi padanya di luar sana dan mengapa ia bisa terluka, Shaluna memilih tidak peduli. Ia hanya diam, mengabaikan presensi suaminya. "Kamu puas bikin aku diomelin ibu?" tanya Ragan tiba-tiba, suaranya terdengar serak dan penuh tuntutan. Gerakan kuas Shaluna di atas kanvas seketika terhenti. Ia meletakkan palet lukisnya dengan tenang, lalu berbalik menatap pria yang berstatus sebagai suaminya itu tanpa rasa takut lagi. "Aku tiga tahun ini diomelin ibu, dan aku gak nyalahin kamu," balas Shaluna dingin, suaranya terdengar datar sekaligus menohok. Ragan terkekeh sinis, melangkah mendekat dengan tatapan mata yang menyalang frustrasi. "Ya itu karena kamu yang salah!" Mendengar tuduhan tak berdasar itu, Shaluna tersenyum miring. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap lurus ke dalam manik mata Ragan yang tampak menyimpan banyak rahasia busuk. "Coba rincikan salah aku apa aja, Mas!" tantang Shaluna, nadanya begitu menuntut hingga membuat keheningan kamar mereka mendadak terasa mencekam. Ragan tersedak oleh kata-katanya sendiri. Rahangnya mengeras, menatap Shaluna dengan kilat amarah yang bercampur dengan kepanikan yang berusaha ia sembunyikan. Tatapan berani dari wanita yang selama tiga tahun ini selalu menunduk pasrah di hadapannya benar-benar meruntuhkan egonya. "Kamu!" Ragan menunjuk wajah Shaluna dengan jari yang sedikit gemetar. "Kamu gak becus jadi istri! Gak bisa ngambil hati Ibu, dan sekarang malah bikin keributan di depan teman-teman Ibu! Kamu tahu gak reputasiku dan Ibu taruhannya?" Shaluna berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka tanpa gentar sedikit pun. Rasa takutnya sudah habis tergerus waktu. "Keributan?" Shaluna terkekeh hambar, matanya menatap tepat pada manik mata Ragan. "Kertas yang aku kasih ke Ibu itu fakta medis, Mas. Aku cuma membela diri karena capek dituduh mandul. Kenapa? Kamu malu karena rahasia kalau kita gak pernah tidur bareng dengan normal akhirnya ketahuan?" Wajah Ragan seketika menegang, tampak salah tingkah dan tidak siap menghadapi konfrontasi sefrontal ini. "Jadi salah aku apa, Mas?" tanya Shaluna sekali lagi, menuntut jawaban dari pria yang telah membiarkannya menanggung beban mental sendirian. "Salahku karena aku jujur ke dokter, atau salahku karena membiarkan diriku bertahan di pernikahan hambar ini selama tiga tahun?" Ragan mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu kencang saat posisinya semakin tersudut. Sudut bibirnya yang terluka tampak berkedut menahan amarah sekaligus kepanikan yang teramat sangat. Ia melangkah maju, mencoba mengintimidasi Shaluna dengan tatapan matanya yang menajam. "Jaga bicara kamu, Luna! Kamu gak tahu apa-apa soal alasan aku gak nyentuh kamu!" bentak Ragan, suaranya meninggi, menggema di dinding kamar mereka yang sunyi. Shaluna tidak mundur setapak pun. Ia justru mendongak, menyunggingkan senyum paling dingin yang pernah ia miliki, lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Aku memang gak tahu, Mas. Makanya malam ini aku tanya langsung sama kamu. Apa yang sebenarnya kamu lakuin di luar kota sampai pulang dengan bibir pecah dan ketakutan setengah mati kayak gini?"Ini adalah hari pertama Shaluna menginjakkan kaki di kantor sebagai PA baru Keiran. Keheningan kubikal lantai atas seketika pecah saat Ragan melangkah masuk tanpa mengetuk pintu, berniat menyerahkan laporan mingguan, tepat ketika Shaluna sedang berdiri di samping meja kerja Keiran untuk menerima instruksi harian.Keiran tidak melirik Ragan sama sekali. Seolah Ragan hanya angin lalu, matanya tetap lurus menatap Shaluna yang mengenakan pakaian kerja formal untuk pertama kalinya.Tanpa sepatah kata pun, tangan kanan Keiran bergerak melepas dasinya dengan satu sentakan kasar, lalu menarik kerah kemejanya hingga dua kancing teratas terbuka. Mengekspos kulit dadanya yang bidang.Keiran mengulurkan dasi itu ke depan dada Shaluna. Ia hanya menatap wanita itu dengan sorot mata mengintimidasi. Tanpa instruksi verbal.Shaluna sempat menahan napas, menyadari ini adalah ujian di hari pertamanya. Sebagai PA, ia terpaksa melangkah maju, mengambil dasi itu, dan membungkuk untuk memasangkannya k
Begitu membuka pintu kamar, Shaluna mendapati Ragan sudah duduk menunggunya di tepi ranjang. "Kamu gak berangkat kantor, Mas?" tanya Shaluna, menghentikan langkah di ambang pintu. "Aku sengaja cuti." Ragan mendongak, menatapnya dengan gundah, sebelum melanjutkan dengan suara tertahan. "Aku harap, nanti kita di kantor gak saling mengenal, Lun." Shaluna mendesah pelan, menahan rasa muak yang mendadak naik ke dada. "Mas, kadang aku mikir kamu itu gila, tahu gak?!" "Terserah! Tapi aku cukup terbebani sejak kamu masuk hidupku," balas Ragan defensif. "Harusnya aku yang ngomong gitu, Mas!" Tekanan udara di dalam kamar tidur mereka seketika menyempit. Ego Ragan yang rapuh mulai terlihat dari binar matanya yang putus asa. "Kasih aku kesempatan. Satu kali aja, malam ini ...." Ragan menggantung kalimatnya. "Malam ini apa, Mas?" desak Shaluna karena Ragan tak kunjung bicara. Ragan menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Aku ingin hak aku sebagai suami. Kamu
Denting sendok yang beradu dengan piring pagi itu menjadi suara yang melenyapkan hening. Di ujung meja, Dion meletakkan cangkir kopinya pelan. "Shaluna, daripada kamu digangguin ibu mertuamu terus, lebih baik ikut kerja di kantor Papa." Tangan Shaluna yang sedang memegang garpu seketika membeku. Di seberangnya, Maria langsung menghentikan kunyahannya dengan wajah yang mengeras, sementara Ragan hanya terdiam menatap piringnya dengan rahang terkatup rapat. Shaluna mendongak, beralih menatap Dion yang sedang menunggunya dengan sorot mata menuntut jawaban. Tawaran itu jelas sebuah penyelamatan, sekaligus tiket keluar dari neraka yang diciptakan Maria di rumah ini. Namun, sebelum ia sempat membuka suara, tatapannya tanpa sengaja berbenturan dengan sepasang mata gelap Keiran yang duduk tenang di sisi meja yang lain. "Tapi, Pa, aku lulusan DKV," potong Shaluna pelan, mencoba realistis di tengah ketegangan yang kian merayap. "Ya gak apa. Nanti Papa tanyakan bagian mana yang koso
Keheningan itu pecah saat Maria maju dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan malu di hadapan teman-temannya. "Keiran, jaga mulut kamu!" jerit Maria, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi kepanikan yang mulai menguasainya. Keiran tidak bergeming. Pria itu hanya memiringkan kepala, mengunci Maria dengan tatapan dingin. Sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana, Keiran mengulas satu senyum tipis, membungkam histeria Maria dan membuatnya mundur dengan wajah pucat. Sebelum melangkah pergi, Shaluna berhenti di samping Keiran. Mengabaikan keberadaan Maria, ia mendongak, menatap sepasang mata gelap itu selama beberapa detik. "Makasih, Mas," bisik Shaluna, sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah cepat menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. *** Satu minggu berlalu sejak keributan di ruang tengah hari itu. Pagi ini, suasana di meja makan terasa jauh lebih menyebalkan daripada biasanya. Papa mertuanya, Dion, sudah pulang dari luar kota
Langkah Shaluna terhenti di anak tangga pertama. Ruang tengah rumah megah itu ternyata sudah dipenuhi oleh kepulan aroma parfum mahal dan gelak tawa ibu-ibu sosialita teman arisan Maria. Begitu sosok Shaluna terlihat, tawa itu mendadak senyap, digantikan oleh tatapan menghakimi.Maria yang duduk di tengah sofa utama langsung menyahut dengan suara sengaja dikeraskan."Gimana pemeriksaan kamu tadi? Bener kan kamu mandul?"Bisik-bisik langsung berdengung di ruangan itu. Mata para wanita paruh baya itu terang-terangan menatap Shaluna dengan binar kasihan yang mengolok.Shaluna tidak menangis. Rasa takutnya sudah menguap di ruang dokter tadi, digantikan oleh dingin yang mengeras di dadanya. Dengan tenang, ia merogoh tas jinjingnya.Mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan medis dari dokter Hanum, lalu melangkah mendekat untuk meletakkannya tepat di depan Maria.Maria menerima kertas itu dengan dagu terangkat angkuh, tapi saat matanya membaca baris demi baris keterangan medis di
Shaluna meringkuk di bawah selimut tebalnya, menatap kosong ke arah jendela kamar yang tirainya sengaja ia tutup rapat. Tiga hari. Sudah tiga hari penuh ia mengurung diri, menolak menginjakkan kaki keluar dari kamar ini bahkan hanya untuk sekadar mengambil segelas air.Shaluna berkali-kali mengutuk dirinya sendiri. Pikirannya terus berputar, kembali pada malam sialan di dapur itu, memutar ulang setiap detik percakapannya dengan Keiran seperti kaset rusak yang menyakitkan.Kenapa ia harus merasa lapar malam itu? Dan yang lebih bodoh lagi, kenapa ia harus meladeni ucapan pria itu?Penyesalan itu datang bertubi-tubi, menghantam dadanya hingga terasa sesak. Sudah benar hubungan mereka yang dulu, saling menghindar, berpura-pura tidak melihat jika berpapasan, dan menjaga jarak sejauh mungkin. Shaluna meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Baginya sekarang, berkomunikasi dengan Keiran adalah pilihan paling buruk yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya.Sialnya, perintah dari mertuanya tidak







