MasukMalam semakin larut. Jam di dinding kamar VVIP sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu kota terlihat berkelip dari balik jendela besar kamar rumah sakit.
Sementara itu, Carlos masih sibuk menatap layar laptop yang dibawakan Sintia tadi. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Sesekali ia membuka dokumen lain. Sesekali membalas email. Azalea yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya tidak tahan lagi.
Dengan cepat ia berjalan mendekat.
Lalu laptop itu langsung
Malam semakin larut. Jam di dinding kamar VVIP sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu kota terlihat berkelip dari balik jendela besar kamar rumah sakit.Sementara itu, Carlos masih sibuk menatap layar laptop yang dibawakan Sintia tadi. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard.Sesekali ia membuka dokumen lain. Sesekali membalas email. Azalea yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya tidak tahan lagi.Dengan cepat ia berjalan mendekat.Lalu laptop itu langsung ditutup. Carlos mengangkat kepala."Hm?"Azalea berdiri di depannya dengan wajah tegas."Waktunya tidur."Carlos melirik jam. "Masih sore ini.”“Ini jam sebelas malam, Carlos."Carlos tersenyum kecil."Dikit lagi."Azalea langsung menggeleng."Nggak. Lanjutin besok."Carlos menghela napas."Tanggung."Azalea tetap tidak bergeming."Lagian orang kantor lo juga harusnya ngerti kalau lo lagi sakit
Malam itu, Rose dan Bryan datang ke rumah Tommy sambil membawa beberapa wadah makanan hasil panen kemarin.Ada sambal goreng kentang, sayur sop, ayam goreng, dan beberapa kilo ubi serta cabe yang baru dipetik dari kebun.Sisca langsung menyambut mereka dengan hangat. "Aduh, kenapa repot-repot bawa sebanyak ini?"Rose tertawa kecil. "Namanya juga habis panen. Kalau nggak dibagi malah kebanyakan."Sisca tersenyum senang lalu membantu membawa makanan itu ke ruang makan. Tak lama kemudian mereka berempat sudah duduk mengelilingi meja makan.Suasana terasa santai.Tommy yang kini terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa bulan lalu sedang bercerita dengan penuh semangat."Terapi di Singapura memang beda. Sekarang jalan juga udah jauh lebih kuat."Bryan mengangguk lega. "Itu kabar bagus."Rose tersenyum. "Kami juga lihat wajahmu jauh lebih segar."Tommy tertawa kecil. "Setidaknya sekarang nggak terlalu merepotkan lag
Tak lama kemudian, makanan yang dipesan Carlos untuk Azalea akhirnya datang. Aroma burger hangat langsung memenuhi ruangan.Bersamaan dengan itu, petugas rumah sakit juga mengantarkan makan siang Carlos. Sebuah nampan berisi bubur ayam, sup bening, dan beberapa potong buah.Carlos langsung menatap nampan itu seolah sedang melihat hukuman hidup."Ini makanan atau siksaan?"Azalea yang sedang membuka bungkus burger langsung mendelik."Udah syukur dikasih makan."Carlos mendesah panjang."Kok hidup gue menyedihkan banget sih."Meski mengeluh, akhirnya mereka mulai makan. Ruangan menjadi tenang. Hanya terdengar suara plastik burger dan sendok yang sesekali menyentuh mangkuk.A
Sudah lebih dari satu jam Azalea duduk di kursi samping ranjang rumah sakit. Awalnya ia sempat membaca materi kuliah dari ponselnya.Lalu mencoba bermain game. Namun pada akhirnya ia hanya melamun sambil sesekali melihat infus Carlos.Pria itu masih tertidur. Atau setidaknya begitulah yang Azalea kira. Karena merasa bosan, Azalea akhirnya menghubungi Citra.Panggilan langsung tersambung."Halo?"Suara Citra terdengar heboh seperti biasa."Lo di mana? Dosennya udah masuk nih."Azalea menghela napas. "Gue nggak bisa masuk hari ini."Citra langsung penasaran."Hah? Kenapa?"Azalea melirik ke arah Carlos yang masih tampak tertidur.
Azalea berlari keluar dari kamarnya sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan. Wajahnya terlihat panik.Langkahnya cepat menuruni tangga rumah. Di ruang makan, Rose dan Bryan sedang menikmati sarapan pagi seperti biasa.Ada nasi goreng, telur dadar, dan teh hangat di atas meja. Rose yang sedang menuang teh langsung menoleh.Bryan juga ikut mengangkat kepala. Keduanya tampak heran.“Loh?”“Bukannya kamu tidur di rumah Carlos? Kenapa keluar dari kamar?” tanya Rose bingung.Azalea bahkan tidak sempat duduk. “Nanti aja jelasinnya, Bu. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”Rose dan Bryan langsung saling pandang. “Rumah sakit?”
Azalea langsung mendesah panjang. “Emangnya kenapa?”Mike berkedip bingung.Azalea menatapnya datar. “Nggak boleh gue udah terbiasa sama hal begitu?”Mike langsung terdiam.Azalea melanjutkan santai. “Lo sama Leon juga pasti udah sering kan?”Wajah Mike langsung memerah.“AZALEA!”Azalea malah terkekeh kecil melihat reaksinya.“Apaan?”Mike menutup wajahnya sebentar.“Bukan gitu maksud gue. Sumpah.” Ia menghela napas panjang.“Gue cuma nggak nyangka aja.”Azalea yang tadinya bercanda perlahan kembali terdiam. Ia tahu Mike tidak sedang menghakiminya. Pria itu memang hanya terkejut.Namun tetap saja membahas semua itu membuat Azalea kembali teringat pada Carlos. Dan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.Akhirnya ia berdiri dari sofa. “Ya udahlah. Nggak usah dibahas lagi.”Mike memperh
Esok paginya, Azalea langsung terbangun dengan panik. Matanya membesar saat menyadari sisi ranjang di sebelahnya kosong.“Carlos?”Ia langsung duduk sambil melihat sekitar kamar. Selimut di sisi Carlos sudah rapi. Tanda pria itu sudah bangun sejak tadi.Azalea bur
Mobil Carlos dan Azalea akhirnya sampai di rumah saat malam sudah cukup larut. Tubuh mereka sama-sama terasa lelah setelah seharian penuh kegiatan.Mulai dari panjat tebing… Bertengkar… Sampai ikut panen kentang di kebun. Begitu masuk rumah, keduanya langsung bergantian membe
Malam akhirnya tiba. Udara kebun terasa jauh lebih dingin dibanding siang tadi. Lampu-lampu kuning kecil menyala di rumah sederhana milik Rose dan Bryan yang memang biasa mereka gunakan untuk beristirahat saat mengurus kebun sampai malam.Rumah kayu itu sederhana, hangat, dan penuh aroma m
Mobil Carlos akhirnya memasuki area perkebunan yang luas. Hamparan tanah cokelat dan tanaman kentang terlihat memenuhi area kebun dengan para petani yang masih sibuk memanen hasil panen sore itu.Azalea langsung membuka pintu mobil lebih dulu tanpa menunggu Carlos. Udara kebun yang segar l







