LOGINKegiatan sarapan pagi akhirnya selesai. Fero bangkit berdiri, merapikan letak dasinya dan bersiap untuk mengambil tas kerjanya di atas meja dekat ruang tengah. Baru saja Adista hendak mengantarkan suaminya sampai ke pintu depan, Tante Rosa tiba-tiba memegang pergelangan tangan Adista dengan erat. Tubuh wanita tua itu mendadak lemas, kepalanya bersandar pada bahu Adista dengan napas yang sengaja dibuat berat."Adista... Tante mohon, hari ini kamu jangan ke kantor dulu, ya?" rintih Rosa memohon. "Tante benar-benar enggak sanggup sendirian di rumah besar ini. Pikiran Tante kacau banget, Sayang. Tante takut... Tante takut melakukan hal-hal nekat kalau ditinggal sendiri."Adista seketika panik melihat kondisi tantenya yang tampak sangat depresi. "Tante... Tante jangan bicara begitu. Tapi hari ini Fero harus ke kantor, dan aku berniat mendampinginya untuk memantau transisi kepemimpinan.""Kan ada Hana, Adista. Hana itu sekretaris yang cerdas, dia pasti bisa bantu Fero," potong Rosa cepat
Embun pagi masih menempel di dedaunan taman ketika sebuah ketukan keras di pintu depan merusak ketenangan rumah Adista. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Adista, yang baru saja turun ke lantai bawah dengan jubah tidur sutranya, mengernyitkan alis heran."Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini? " omelnya kesal. Begitu pintu jati besar itu dibuka, Adista seketika terpaku. Di hadapannya berdiri Tante Rosa, lengkap dengan kacamata hitam besar dan sebuah koper ukuran jumbo di samping kakinya. Sebelum Adista sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Rosa tiba-tiba maju dan langsung mendekap tubuh keponakannya itu dengan sangat erat. Isak tangis buatan terdengar dari balik pundak Adista."Adista... maafin Tante, Sayang! Tante menyesal sekali," ratap Rosa dengan suara bergetar yang terdengar begitu meyakinkan.Adista yang masih setengah mengantuk tertegun. Dia bingung harus bereaksi seperti apa. "T-Tante Rosa? Ada apa ini? Kenapa bawa koper besar begini?"Rosa melepaskan pelukannya
Aroma harum seduhan kopi menguar di area Gloria Coffeeshop. Hana berdiri di depan konter penyerahan menu, merapikan blazer kerjanya sembari menunggu pesanannya. Rambutnya yang biasa diikat rapi kini digerai bebas, memberikan kesan kasual yang jarang ia tunjukkan ketika berada di kantor."Satu Iced Americano atas nama Mbak Hana," panggil barista dari balik konter."Ah, iya. Terima kasih," ucap Hana, melangkah maju dan mengambil gelas plastiknya.Hana membalikkan tubuh, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Kedua alisnya bertaut. Sial, tempat ini benar-benar penuh. Tidak ada satu pun meja kosong yang tersisa. Satu-satunya tempat yang bisa ia tempati adalah sebuah meja kayu panjang di dekat jendela kaca besar yang hanya diisi oleh satu orang pria yang tampak sibuk menatap layar laptopnya.Hana menghela napas pasrah, lalu melangkah menuju meja tersebut. "Permisi... Boleh bergabung?"Pada saat yang bersamaan, pria di meja itu mendongak. Di sebelahnya, sebuah gelas Iced Americ
Jarum jam dinding di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Suasana rumah Adista terasa begitu tenang, hanya menyisakan suara sayup-sayup dari layar televisi yang masih menyala, menampilkan sebuah acara bincang-bincang malam.Adista melangkah perlahan dari arah dapur, kedua tangannya membawa seangkir kopi hitam hangat yang aromanya menguar menenangkan. Tapi langkah kakinya mendadak memelan begitu sepasang matanya menangkap pemandangan di atas sofa. Di sana, Fero masih mengenakan kemeja putih kerjanya yang kancing teratasnya sudah terbuka, duduk bersandar dengan kepala bersandar di sandaran sofa dan matanya terpejam rapat. Lelaki itu telah terlelap, tampak begitu kelelahan setelah seharian penuh memeras otak di kantor barunya.Sebuah senyuman manis nan tulus terukir di wajah cantik Adista. Dia berjalan sangat hati-hati, meletakkan cangkir kopi itu ke atas meja kaca agar tidak menimbulkan suara sekecil pun. Dengan gerakan yang amat anggun, Adista mengambil posisi duduk
Jam empat sore Stevan memutuskan untuk berenang. Setelah berjam-jam dia berusaha mencari ide untuk meluluhkan hati Adista, dab berujung buntu. Ia berenang beberapa putaran dengan kecepatan penuh, mencoba menguras energi negatifnya sebelum akhirnya menepi di ujung kolam.Stevan bertumpu pada pembatas kolam, menyeka air yang membasahi wajahnya sambil terengah-engah.Seorang asisten rumah tangga paruh baya berjalan mendekat dengan langkah berhati-hati, membawa sebuah nampan berisi segelas jus jeruk segar. "Ini jus jeruknya, Tuan Stevan.""Taruh saja di meja, Bi," sahut Stevan pendek, suaranya terdengar berat dan ketus."Baik, Tuan. Oh ya, di dekat meja tadi ponsel Tuan terus-menerus berdering," tambah asisten itu sebelum membungkuk hormat dan berjalan kembali ke dalam rumah.Stevan mengernyitkan alis. Dia naik dari kolam renang, meraih selembar handuk putih untuk mengeringkan badannya, lalu melangkah menuju kursi santai di tepi kolam. Di atas meja, layar ponselnya menyala, ada nama tan
Adista dan Feto berjalan berdampingan di koridor kantor, diikuti oleh Hana di belakangnya. Sesekali Adista membalas sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya. Sayang sekali, suasana pagi yang tenang itu terganggu oleh siluet dua orang yang sangat dikenal Adista berdiri menghadang jalan mereka tepat di depan pintu lift khusus direksi.Stevan berdiri di sana dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Di sebelahnya, seorang wanita muda dengan pakaian ketat—sekretaris barunya—memegang seikat besar buket bunga mawar merah."Selamat pagi, Adista," sapa Stevan, sok akrab. Seakan tidak ada konflik yang pernah terjadi di antara mereka. Dia memberi kode pada sekretarisnya. "Berikan bunganya."Sekretaris itu tersenyum manis lalu mengulurkan buket mawar tersebut ke hadapan Adista. "Ini untuk Anda, Ibu Adista, dari Bapak Stevan."Adista menghentikan langkahnya. Matanya menatap buket bunga itu dengan tatapan jijik, lalu beralih menatap Stevan dengan dingin. Kedua tangannya tetap terlipat di d







