MasukJonathan Algibran harus kehilangan Karina, cinta pertamanya di sekolah SMA. Cinta pertama yang telah ia hamili, dan menghilang begitu saja saat dirinya sudah bersedia bertanggung jawab. Sempat bertemu lagi, namun terpisah lagi dengan kenyataan yang lebih pahit. Sebuah kecelakaan yang rupanya menewaskan Karina dan putranya. Karena hal itu, Jonathan mengalami trauma. Namun, sebenarnya Karina dan sang putra masih hidup. Apa yang terjadi dibalik peristiwa kecelakaan itu. Bagaimana bisa ada makam Karina dan putranya yang setiap kali Jonathan merindukan mereka. Maka ia akan datang ke makam tersebut. Mungkinkah ada andil orang tua, atau wanita lain, dan bagaimana akhir cinta Jonathan. Sedangkan takdir masih mendukung Karina untuk berjumpa lagi dengan Jonathan. Ikuti kisahnya.
Lihat lebih banyakIris POV
My name is Iris Doukas, the niece of Hatzis Doukas, the fierce and feared leader of the white fang pack.
My uncle was a cold man who cared only about battles and nothing else. Other than the prostitute he slept with, he didn't have a mate and refused to have an heir.
My childhood was beautiful and also filled with gruesome scenes because uncle Hatzis was ruthless to anyone that's not me since I was his little brother's only child and his last surviving blood relative since my parents died.
Our pack and territories had flourished and expanded over the years because of the several victories he won in the wars with other packs and the slaves he had captive.
Although our lands and people are enjoying peace. But the threat of war is very real and that's why one of uncle Hatzis's priceless hostages was Alpha Thor, the leader of the Storm Riders Pack.
My uncle kept Alpha Thor tightly in his grip because although his pack lost the war and its members were now rogues, they didn't lose their willpower to fight.
The only thing that stopped the Storm Riders pack from attacking us was the captivity of their leader who had their fear and respect.
It's said that after Thor got captured by my uncle, not even his beta will step up and take his place as the next alpha because of the terror he felt for Thor, and the loyalty the pack members have for him.
Sadly, my uncle passed away a month ago to the cold hands of death, and I as his niece is forced to pick up from where he left off.
My body feels glued to the bed just by thinking about it, and I wish that such a heavy obligation wasn't placed on my shoulder at the age of eighteen.
It wasn't strange to me after he passed for the park members to get down on their knees and pledge their allegiance to me because uncle Hatzis made them do a blood oath and swear upon their lives that I would take over after he die.
For the past one month, I have been trapped with the burden of making decisions for the pack, worrying about finding a mate to rule beside me, and pleasing the elder who are a bunch of old dudes that are annoying as fuck.
When the echoes of footsteps in the hallway grew louder and closer to my room, I raised my eyelids and stared at the masterpiece on my ceiling.
"Why is it so bright?" I mumbled without blinking, trying to pull myself together.
Finally, when reality settled in, I hastily sat up and gazed around the room before burying my face in my palm and sighing deeply.
It was morning already, and that means I did it again and stayed up all night thinking things over in my head to the point that I forgot to sleep.
All this leadership stuff was so tiresome, and yet, I couldn't stop thinking about matters about the pack because my uncle had made quite a lot of enemies, one being the Storm Riders Pack.
A gentle and sweet voice suddenly echoed into my ears after my room door opened, "My Luna, you are awake?"
Swaying my gaze to the right, my sight rested on my maid, Rona. From since I can remember, she has been by my side and so gentle to me.
With a soft smile on her lips, she brought a tray towards me and set it on the bed.
"Please eat, and afterward, I will help you get dressed, my Luna," Rona mumbled, taking two steps back.
Every time she refers to me as her Luna, I feel the weight upon my shoulder getting heavier, and yet, it was my burden to carry.
Drained and frustrated, I looked down at the tray of food, reached my hand into the bowl of grapes, and took a bite into it.
"Have the elders arrived at the mansion yet?" I asked, reaching for another grape.
"No, my Luna," Rona said with a look of hesitation in her eyes. "Do you want me to send out words for them to gather in the great hall?"
Another meeting with those suffocating dictators will drive me mad. How was I supposed to run a pack that is used to iron hand leadership when all my uncle did was pamper me with love and treated me like a princess!
Unexpectedly, Rona rushed to my side, squatted with a napkin in her hand, and whispered, "My Luna, you are crying… I know it's only been a month since our former leader passed away, but you need to pay attention to your health and not grieve for too long."
I love my uncle, but right now, I am not crying because of him but because the future seems worrisome. Uncle Hatzis was obeyed by everyone.
But I'm not him, and I feel like I'm just a wolf that got ascended to the title of a pack leader to get used as a puppet by the elders because they know the respect the pack members had for my uncle is now passed onto me.
However, since fate has given me such a burden, I should accept it, even though I'm nothing compared to my uncle or father.
"What's my schedule for today?" I asked, looking into Rona's eyes.
Immediately, she looked a bit uncomfortable and glanced at the floor as she mumbled, "The elders want you to meet slave number one."
"Oh, they want me to visit the cell," I whispered, feeling a bit calm.
Then my eyes widened when I realized who slave number one was. Instantly, I started to freak out because that number belonged to Thor, the alpha of the Storm Riders Pack.
They wanted me to visit him. No way! Rumor has it that he has no soul, and his eyes are cold and dark.
His story is nothing different from the one my uncle shares, maybe it's even bloodier than that of uncle Hatzis, and I don't know how he managed to capture Thor, but I rather not face him or look into his cold eyes.
Kenneth kembali mendapatkan mobilnya. Ia segera mendatangi kediaman rumah Karina sore ini untuk menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Jonathan. “Hentikan! Karena apapun yang kamu katakan, nggak akan bisa membuat Karina dan Azka datang ke rumah itu. Sekalipun Jonathan sedang sekarat sekalipun,” ucap Bu Raya usai mendengar penjelasan dari Kenneth. “Bu! Jonathan itu papanya Azka Bu. Ibu nggak bisa ngomong begitu. Gimana juga penyebab perpisahan aku sama Jo itu bukan karena Jo, tapi karena kedua orang tuanya. Jadi, tolong bu! Jangan terlalu membenci Jonathan,” pinta Karina. Ia memelas bahkan lututnya ikut lemas ingin bersimpuh saja di depan sang ibu. “Karina, mau sampai kapan kamu membela suami nggak guna kamu itu.” Meninggi nada bicara bu Raya. “Mungkin selamanya, karena aku masih cinta sama dia!”Bu Raya tampak emosi. Amarahnya sudah mau meledak, tapi tiba-tiba di balik dinding pembatas ruang tengah dan ruang tamu, terlihat Azka yang sedang mengintip. “Hah, cucuku. Dia pasti
Mama Kirana akhirnya datang ke kantor milik suaminya siang itu. Ia datang tanpa memberitahu. Kayren yang sedang meeting berusaha cepat menyelesaikan pekerjaannya. Ia cukup terkejut mengapa istrinya sampai datang ke kantor siang ini tanpa memberitahu dulu. “Apa! Kamu mau Kenneth dibebaskan. Kamu juga mau Karina dan siapa! Anak kecilnya dibawa ke kota ini untuk hidup bareng Jonathan. Kamu nggak salah minum obat kan Sayang?” Kayren terkejut setengah mati mendengar keinginan istrinya.“Enggak Pa, mama udah nyerah buat misahin Jo sama Karina. Mama nggak tega liat Jo menyiksa dirinya sendiri.” Nyonya Karina menatap lesu.Pak Kayren bangun dari kursinya lalu mendekat ke arah sang istri. Ia usap pundak istrinya dengan lembut, berharap hatinya bisa tenang dan mau mencari jalan lain untuk masalah ini. “Kamu tau, kita sudah berjuang keras untuk membuat Jo berpisah sama perempuan yang tidak selevel sama kita tu. Kenapa sekarang harus berhenti sih?”“Pa!” Mama Kirana menepuk punggung tangan su
Karina akhirnya mampu membuat tubuhnya terlelap. Ia mulai mendengkur halus, terasa sekali kalau fisiknya sedang kelelahan.Namun, keadaan yang tenang itu hanya bertahan beberapa menit. Tiba-tiba Karina mendapat mimpi buruk. Saking takutnya. Ia sampai berkeringat padahal cuaca sedang dingin."Enggak! Enggak boleh!!” teriak Karina yang masih terpejam. Hingga beberapa detik kemudian kedua matanya terbuka dengan perasaan kaget yang luar biasa.Azka tidur di samping Karina, ia dengar suara ibunya yang mengigau. Azka pun langsung terbangun dan langsung memeriksa keadaan Karina. “Bu! Ada apa? Ibu nggak papa? Ibu mimpi buruk ya?” Azka langsung memberondong banyak pertanyaan dengan wajah penuh kecemasan.“Azka! Jadi, yang ibu alami cuma mimpi. Astaghfirullah!!!” Karina tidak peduli pertanyaan dari putranya, yang ada dia malah memeluk erat Azka. “Bu! Biar aku ambilkan minum, ibu kayaknya kaget banget!”“Karina!! Karina! Ada apa?” Bu Raya yang ikut mendengar jeritan Karina juga terkejut dan l
Suasana menjadi begitu tegang bagi Karina. Ia bisa melihat sorot mata sang ibu yang masih belum ikhlas untuk memaafkan.Entah apa yang diinginkan Bu Raya terhadap dirinya sekarang. Karina merasa takut menghadapi kenyataan. “Ibu ingin, kamu keluar dari Internusa, dan kita pindah. Nggak tinggal di sini lagi!” tercetus juga syarat dari Bu Raya untuk Karina.“Apa!” Mata Karina menatap tak percaya. “Pindah lagi? Tapi Bu."“Kalau kamu nggak mau. Ya udah!" jawab bu Raya tegas. "Kamu tau kan. Ibu akan pergi dari sini dan Azka ibu yang bawa. Ini demi kebaikan dia. Ibu nggak bisa bayangkan kalau Azka sampai ketahuan Kayren. Hidupnya akan menjadi semakin berantakan."Karina ingin menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Namun, mengingat nama Kayren, apa yang dibilang ibunya ada benarnya.“Tapi!” Karina merasa bimbang. Hatinya merasa berat sebenarnya pergi dari sini. Jujur, ia masih ingin bisa bersatu dengan Jonathan. Sementara itu, Azka yang berada di ruang tengah, sedang asyik menonton tv. Mes
Entah mengapa suhu di dalam mobil jadi semakin dingin. Arga masih memasang wajah yang syok, lidahnya keluh. mana mungkin Karina yang dimaksud adalah Karina karyawan di Internusa.“Kamu kenal dia Arga. jangan pura-pura kaget! Apa kamu berharap Karina yang aku maksud adalah Karina yang lain?” Jonathan
Siang dengan matahari tersenyum cerah, perlahan mendung hitam mengikis dari arah selatan. Jonathan berdiri di tepi jendela ruangannya yang terbuka, menatap pemandangan langit siang itu. “Minggu-minggu ini memang sepertinya akan hujan ringan Pak!” ucap Kenneth. Ia mendekati sang bos sambil membuka tu
Jonathan merasa sangat tidak sabar untuk mencari tahu, siapa pelaku di balik motor Karina yang jadi sangat kotor itu. Tentu, Jonathan sangat menaruh dendam. Orang-orang yang tega membully Karina, tidak tahu saja kalau Karina itu istrinya. Sampai di ruangan pengecekan, ada petugas yang membantu memut
Memikirkan semuanya membuat Karina merasa sangat pusing. Ia tidak bisa tidur malam ini. Bahkan memejamkan mata saja sulit. Uang yang diberi oleh Jonathan terlalu banyak. Tidak masuk akal kalau itu hanya untuk upah membersihkan rak berkas. Juga hadiah milik Azka. Dari siapa dan mengapa. Semuanya bere












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan