MasukSemua berawal dari Jihan yang menginap di rumah Septi dan Wisnu. Jihan merasa tertekan oleh keluarganya karena tidak kunjung hamil. Mengingat suaminya, Brata mengalami penyakit hiprotroid yang membuat benihnya sulit untuk membuahi. Namun seminggu sepulang dari rumah Septi dan Wisnu, Jihan mengabarkan bahwa dirinya hamil. Tentu berita yang sangat membahagiakan sekaligus menggemparkan. Terutama Wisnu yang teringat dengan kejadian sore itu bersama dengan Jihan, ketika Septi pergi. Mungkinkah itu anak dari Wisnu?
Lihat lebih banyakYanna
The familiar musky air of the club filled my nostrils as I walked through the back rooms where all the other girls changed to ready for their performance.
I felt nervous coming back after taking a few months from taking a break. It felt like I was the new girl all over again, my palms felt clammy and I couldn’t get my heart to stop racing.
“Yanna!” Hailey called out as she rushed over to me, engulfing me in a tight hug.
“I’m so glad your back, this place hasn’t been the same without you.” she was in her pink cowgirl outfit ready for her performance.
I giggled softly “It’s good to be back.”
Hailey smiled and nodded. “I have to go right now but we’re definitely hanging out later.” She rushed out as our manager called out for her.
I quickly nodded with a smile as I watched her rush over to her waiting room.
Hailey was the first person to speak to me when I began stripping last year. She had only been in the business for a year but she helped me to know the ropes around stripping and taught me a few tricks for my performance and since then, we’ve been inseparable.
I made my way over to my vanity to get ready. Luckily, I still had time to prepare and calm my nerves a little before I went on stage.
Few minutes passed getting ready and I now sat in my matching red lingerie set, my curly hair was let out and in my strappy red platform heels. My nerves were all over the place as I constantly retouched my makeup.
“Hey Yanna, you’re up next!.” The manager called out.
I took in a deep breath, It felt like my first performance all over again. I adjusted my garter once more as I walked over backstage.
“Loosen up, you look stiff.” My manager said.
“I feel stiff..” I frowned as I tried to relax.
Sighing loudly, he moved closer to me. “Relax, and break a leg.”
On cue the flashing lights turned red indicating I was about to come on stage. Men roared as the announcer called out my name, I made a sultry pose as I knew my silhouette was in view. The roaring became louder as a sexy song came on, feeling the vibe of the song I walked on stage with confidence.
My performance was a blur, men roared as I gave them a view of my ass and climbed the pole. My skin glistened slightly with sweat as I twisted in a mid-air split, working my ass on the pole. Bills rained down on me but I couldn’t forget the feel of a pair of eyes staring intently at me.
“Girlll, you ate that up.” Hailey whistled as I came backstage from my performance.
I shook my head but laughed as I panted softly. “I definitely needed to let loose.”
“Mm hmm.” Hailey hummed in agreement.
The manager walked in as I was retouching my makeup. “Great performance but you’ve been requested for a private session.”
I frowned. “I told you that I won’t be taking any private sessions for the mean time.”
He sighed but nodded. “I wouldn’t have told you if it was just anyone.”
“No, I’m not doing the session. Tell him I feel sick or something.” I wasn’t in the mood to dance for any slimy guy tonight.
“You can’t say no, he’s a very dangerous man.” He stated.
I rolled my eyes, why can’t men just listen when a woman says no.
“Then I’ll go tell him no myself.” I stood up abruptly.
“Wait, if he’s the man that I’m thinking of right now, then just do the session, please.” Hailey held my hand as she pleaded.
My brows furrowed in confusion. “Its fine, I’ll just fake being sick to him.”
Hailey didn’t look so sure with my plan but she let me go. I followed my manager to the private rooms which only loaded men could book, it cost about thirteen grand to just book a room minus payment for the session.
My manager stopped in front of a door. “Be careful.” He warned lastly as he left me standing in front of the door.
My nerves got the best of me as I walked into the dimly lit room.
In the corner of the room, seated on the leather couch is an olive skinned man taking a drag from his cigar.
I froze as his eyes met mine.
His eyes raked my form as I walked over to him cautiously. He’s immaculately dressed in a black tailored suit, slightly unbuttoned collared shirt. His chain peeked from his exposed chest, he was in a very sexy man-spread as his veiny tattooed hands held his cigar.
Fuck, he’s so sexy.
“You took your time.” Even his voice was deep, gruff and don’t get me started on his Italian accent.
I gulp instinctively, all thoughts of rejecting this private session has flown out the window. I bit my lips, trying to gather myself together.
“uhh.. yeah.” What the hell is wrong with me!?
He clips off the end of the cigar rising to his full height. Damn… he’s tall.
Even with my platform heels on, he still towered over me. I’m rooted at my spot as he walked leisurely towards me.
He’s even more attractive up close, my nostrils are invaded with his expensive scent and sex appeal. My knees grows week in my seven inches platform heels.
His perfect brow raised. “Did I not request for a private session?”
My daze was broken as I blushed in embarrassment of literally eye fucking this man. I nodded slowly and cleared my throat.
“There’s a no touching rule, sir.” I state breathlessly.
He stared down at me intensely with a slight smirk on his full lips.
“Go on.”
“Bayinya cantik sekali, Bu,” ucap Dokter sambil mendekatkan bayi yang bersih dan sudah terbalut dengan kain di dekat Septi. Septi yang sudah tidak sabar mengulurkan kedua tangannya, sehingga bayi itu beralih ke gendongannya. Dokter itu pun pergi meninggalkan mereka sementara.Septi tidak kuasa menahan haru melihat seorang putri mungil yang sedang menggeliat kecil. Gerakan kehidupan yang menambah kebahagiaan bagi keluarganya. Ekspektasi suaminya terkabul. Bayi yang sekarang ada dalam gendongannya adalah perempuan. Dan wajahnya cantik sekali mewarisi dirinya.“Pratiwi Nagara,” sebut Septi, sesuai dengan nama yang telah disiapkan Brata. Seakan merasakan batin sang ibu, bayi itu menangis. Septi segera menimangnya dan mencium pipi bayi kemerahan itu. Airmatanya tertumpah di sana.Sedangkan Alex memandangnya penuh keharuan. Sebuas apapun dirinya, kalau dihadapkan dengan pemandangan seperti ini pasti luluh juga. Dia yang tadi menyaksikan Septi yang berjuang bertaruh nyawa, hingga lahirlah ke
Brata kembali meringkuk di balik jeruji besi. Pakaian yang dia kenakan adalah tahanan. Dia tidak menyangka seorang predir yang begitu terhormat sekarang tidak ubahnya sampah masyarakat yang tidak berguna. Imbas dari sikapnya yang terlalu arogan.Dalam diamnya, dia menyesali atas semua yang terjadi. Kepalanya dipenuhi oleh pengandaian yang tidak mungkin terjadi. Perasaannya terlalu tertutup oleh bayang-bayang Delinda. Entah kenapa dia sulit untuk melepas bayang-bayang wanita itu.Kejadian di restoran itu kembali tergiang di benaknya. Wanita yang mengaku Merlinda itu sangat mirip dengan Delinda. Kalau dipikir secara logika, apa yang diucapkan Merlinda itu cukup masuk akal. Dia menikah dengan Warren setelah sekian lama sampai mempunyai seorang anak, Jelas sangat mustahil kalau dia adalah Delinda yang masih selamat dari kecelakaan dan kemudian amnesia. Dan dia sudah seringkali mengecek di sebuah situs penerbangan kalau tidak ada korban yang berhasil ditemukan lagi, bahkan jasadnya tidak.
“Pak Brata, Halo. Halo,” ucap Rangga saat panggilannya berhenti secara sepihak. Dia mendecak kesal pandangannya tertuju ke arah ruang bersalin di mana di dalamnya sudah ada Alex yang ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.Beberapa saat yang lalu, suster keluar dan bertanya siapa suami dari Septi, Alex yang tidak tahu diri langsung menerobos masuk. Bahkan, sebelum dia bisa mencegah. Alhasil, sekarang Septi berjuang ditemani dengan cecunguk bedebah itu.Rangga tahu kalau tidak mungkin Brata datang hari itu juga karena sedang berada di dalam penjara. Maka perlindungan terhadap Septi jatuh kepadanya sebagai orang kepercayaannya. Persoalan rumah tangga memang rumit dan Rangga justru sering berkecimpung dalam urusan rumah tangga majikannya.“Pak Rangga,” ucap Dinda yang mengejutkannya, dia muncul sembari merangkul Bagas di sampingnya yang terlihat mengantuk.Rangga memaksakan untuk tersenyum. Dia menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan Bagas,”Kamu mengantuk ya? Om minta anak buah om untuk
“Ya Ampun, Brata kamu kenapa?” tanya Jesica khawatir saat melihat Brata duduk di hadapannya. Dia baru bisa bertemu dengan Brata setelah menunggunya sadar dari pingsan, sampai sebuah insiden yang membuat Brata babak belur seperti ini.“Ini gara-gara para bedebah yang ada di dalam penjara itu, Ma. Awas saja kalau aku sudah keluar dari penjara. Akan kulenyapkan mereka dalam sekejap,” gerutunya dengan gusar. Jesica menghela nafas. Lagi-lagi Brata berbuat ulah seakan merasa dialah yang terbaik. Arogansi yang cenderung merugikan dirinya sendiri.“Brata, Stop it! Itu mungkin karena kamu yang membuat ulah duluan, makanya kamu bisa babak belur seperti ini.”Brata menatap Mamanya tidak percaya,”Kok Mama belain mereka. Aku Ini Presdir. Seharusnya pada begundal itu hormat kepada saya, bukannya berbuat kurang ajar!”Jesica menggeleng-gelengkan kepala. Dia mengurut dada melihat anaknya yang masih keras kepala atas kesalahannya. Tidak mau kalah dan mengalah.“Sekarang, Lebih baik Mama bilang kepada
“Mama,” gumam Brata tertahan. Bagaimana dia tidak terkejut saat melihat seorang wanita berumur enam puluh tahun itu berada tepat di hadapannya. Setelah sekian lama tidak bertemu, dia mendapati begitu banyak perubahan dari seorang wanita yang pernah melahirkannya itu. Wanita dengan kehidupan glamour
“Mas, biar saya bantu bawa tasnya,” ucap Septii setelah selesai sarapan. Brata yang akan bergegas ke depan pun menoleh. Dia tersenyum.“Tidak perlu Sayang, ini tasnya berat lho,” canda Brata. Namun, Septii bersikeras dengan merebut tas kantor suaminya.“Enggak apa-apa, Mas. sekali-kali boleh kan?” tan
“Apa yang Pak Brata lakukan di kamar saya?” seru Dinda di ambang pintu. Tatapannya nanar melihat Brata yang sedang melirik ponselnya yang menyala. Cepat-cepat dia masuk dan menyembunyikan ponsel itu di dalam laci. Meski itu adalah hal yang percuma.“Kamu suka dengan saya?” tanya Brata yang membuat wa
“Mas,” panggil Septi yang baru saja menerobos kamar. Terlihat Brata yang sedang membelakanginya. Dia tengah mengenakan baju tidur.Septi menyergap punggung Brata yang akan membalikan badan. Membenamkan kepalanya di tempat ternyaman selain pundak sang suami.“Ada apa, Sayang?”“Mas, maafkan aku karena t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan