Mag-log inAkas sedikit terkejut ketika Salsa bahkan menolak kontaknya. Melihat Salsa yang buru buru berbalik hendak pergi, Akas mengeluarkan kartu nama miliknya dari dalam dompetnya. "Setidaknya kamu bisa menerima kartu nama ini kan? Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu." Ucap Akas dengan sedikit kelembutan. Selain rasa bersalah karena mengambil pertama kali milik gadis kecil itu, Akas juga merasa bersalah karena ia benar benar lepas kendali semalam. Ia terlalu keras semalam hingga menyakiti gadis kecil itu di pengalaman pertamanya.
Memikirkan hal ini, Akas memejamkan matanya dan menenangkan gejolak emosi yang ada tanpa disadarinya. Disisi lain Salsa memandang kartu nama yang terulur tersebut dengan perasaan bimbang. Lagipula dia sudah menolak untuk bertukar kontak dengan paman ini, jika ia juga menolak kartu namanya bukankah itu tidak sopan. Jadi Salsa mengambil kartu nama tersebut, lalu menganggukkan kepalanya dan segera berbalik untuk berlari pergi. Akas yang melihat punggung Salsa menghilang dengan cepat dari pandangannya tiba tiba merasa geli. "Apa aku begitu menakutkan?" Gumam Akas dengan ekspresi tak berdaya juga sedikit kesal di wajahnya. Namun memikirkan pengalamannya semalam, mau tidak mau Akas juga menyalahkan dirinya sendiri. "Mungkin memang sedikit menakutkan?" Bisiknya, lagipula semalam terlalu liar! Benar benar sangat liar! Pada saat ini sebuah mobil mewah hitam panjang dengan sebuah patung emas berdiri di kap mobilnya perlahan mendekat dan berhenti tepat di depan Akas. Seorang pria dengan jas yang rapi tanpa lipatan keluar dari kursi pengemudi. "Presiden." Sapa Dimas selaku asisten pribadi Akas. Keduanya hampir seumuran, namun penampilan Dimas tampak sedikit jauh lebih tua. Ia berjalan ke pintu belakang tempat kursi penumpang berada dan membantu Akas untuk membuka pintu. Akas memandang ke arah dimana Salsa pergi untuk beberapa saat sebelum melangkah masuk ke dalam mobil. Dimas juga mulai melaporkan jadwal Akas hari ini seperti biasanya. Namun di tengah tengah laporannya, ia dihentikan oleh Akas. "Ada apa presiden?" Tanya Dimas dengan ragu. Akas membuka mulutnya dan hendak bertanya namun ia sedikit ragu. Namun pada akhirnya Akas tidak meminta Dimas untuk menyelidiki perihal gadis kecil itu. Akas menggelengkan kepalanya dan meminta Dimas untuk melanjutkan laporannya. "Presiden, Tuan Henry mengundang anda untuk datang ke rumahnya. Ia tahu anda baru saja kembali ke negara ini dan pihak lain tidak bisa mengikuti janji temu semalam, jadi ia mengundang anda secara pribadi untuk datang ke rumahnya sekaligus memperkenalkan putrinya." Ucap Dimas meminta pendapat Akas. "Mengapa ia memperkenalkan putrinya padaku?" Akas balik bertanya dengan alis terangkat merasa sedikit bingung. Henry yang ada di bibir Dimas baru saja adalah teman dekat Akas yang statusnya hampir sama layaknya saudara angkat. Ia sudah berteman dengan Henry selama empat dekade dan keduanya banyak membantu satu sama lain. Meski Akas pergi ke luar negeri, keduanya hampir tidak pernah kehilangan kontak. Jadi Akas sangat akrab dengan pihak lain. "Tuan Henry berkata bahwa anda pergi keluar negeri ketika istrinya sedang hamil saat itu. Bukankah anda bilang bahwa putri Tuan Henry juga putri anda?" Ucap Dimas sambil tersenyum. Akas sedikit terdiam lalu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia menerima undangan Henry. ... Disisi lain, Salsa yang meringkuk di tengah jalan sudah tak bisa menahan tangisnya lagi dan terisak pelan. Rasanya menyakitkan di khianati oleh teman yang ia percayai. Selama tiga tahun di sekolah menengah, ketiganya begitu dekat hingga lengket. Namun tak disangka, disaat seperti tadi malam keduanya tidak segan segan mengirimnya ke ranjang seorang pria asing. Namun Salsa tidak serapuh itu, setelah menangis sejenak ia bangkit dengan tenang. Ia menatap ke arah hotel dengan sorot mata tajam. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah, namun apa yang harus dibalas harus ia balas. Pada saat ini, sebuah mobil sport merah muda melaju cepat dan berhenti tepat di depannya. Seorang wanita cantik dengan jas formal berjalan keluar dari kursi kemudi dengan tergesa gesa. Ia mendekati Salsa dan memeluknya erat erat. "Ya ampun sayangku... Apakah kamu baik baik saja? Jelaskan padaku, bagaimana tepatnya? Apa yang sebenarnya terjadi?" Crystal bertanya dengan khawatir menanyakan banyak pertanyaan dan kekhawatirannya sekaligus. Tangis yang tertahan kini kembali pecah, Salsa menenggelamkan wajahnya di bahu Crystal. Keduanya memiliki kontras yang kuat, Crystal memiliki penampilan yang dewasa namun Salsa jauh lebih feminim dengan kesan yang memikat dan manis. Crystal tidak banyak bertanya dan hanya menenangkan Salsa dalam diamnya. Semakin Salsa memikirkannya semakin sedih hatinya. Ia berteman dengan Sania dan Marry selama tiga tahun, dan selama tiga tahun ini ia seringkali mendorong Crystal menjauh dan mengabaikannya. Namun teman baru mengkhianatinya dan Crystal tetap datang untuk menghiburnya. Bagaimana Salsa tidak merasa bersalah. Salsa dan Crystal adalah teman sejak kecil. Keduanya sudah menghabiskan lebih dari lima belas tahun bersama sama berteman dan tumbuh dewasa. Kedua orang tua mereka memiliki status dan kekayaan yang hampir setara sehingga keduanya selalu lebih sering bertemu dan memiliki hampir topik yang sama. Namun tiga tahun yang lalu, karena kedekatan Salsa dengan Sania juga Marry membuat hubungan keduanya renggang. Namun hari ini, setelah Salsa mengetahui wajah di balik dua temannya, Salsa merasa sakit hati dan merasa bersalah untuk semua yang ia lakukan pada Crystal selama tiga tahun ini. Terutama ketika ia mengabaikannya dan mendorongnya menjauh. Setelah menangis beberapa saat, air mata Salsa perlahan terhenti. Crystal dengan lembut mengambil sapu tangan dan membasahinya dengan sedikit air agar Salsa bisa meletakkannya di matanya untuk meredakan bengkak. Salsa perlahan bercerita tentang semua yang terjadi semalam. Ketika Crystal mengetahui seluk beluk semua yang terjadi, ia hampir tidak bisa mengendalikan diri untuk bergegas masuk ke dalam hotel dan memukuli anak yang disebut Tuan Muda Liam itu dengan kedua teman yang telah lama dianggap sahabat oleh Salsa. "Lepaskan aku! Aku janji aku akan memukulinya hingga babak belur. Aku tidak akan membiarkannya keluar dari rumah sakit selama 6 bulan! Tidak, aku akan menghancurkan masa depannya! Lalu ada dua wanita itu, aku akan menampar mereka seratus kali!" Ucap Crystal dengan penuh amarah, ia bahkan sudah bergegas berlari ke arah pintu hotel.Paman keduanya, Bram berusaha tersenyum ramah dan kembali angkat bicara. Ia bahkan dengan penuh inisiatif membantu Akas menuangkan teh baru. "Akas, kau benar-benar bekerja terlalu keras. Usiamu masih empat puluh lima tahun, tapi sudah memikul seluruh keluarga." Akas lagi lagi tidak menjawab.Bram tersenyum canggung kemudian melanjutkan perkataannya seolah tidak terganggu sama sekali. Harus Akas akui, bahwa paman keduanya ini cukup tidak tahu nalu. "Kami semua sebenarnya bangga padamu."Sepupu dekatnya Kelvin, langsung menimpali. "Benar. Kalau bukan karena Paman Akas, Grup Asa tidak mungkin berkembang sejauh ini." Akas hanya mengangguk kecil tanpa membuka matanya sama sekali. Ia berdehem lembut dengan nada dingin yang membuat semua orang merasa seakan akan kembali jatuh ke dalam gua es, "Hm."Keheningan kembali turun, semua kerabat saling bertukar pandang dengan ekspresi canggung. Beberapa tampak kesal, memandang Akas yang bersikap sombong. Beberapa sudah membisu karena nyalinya yang k
Salsa tertegun sejenak, ia kemudian tersenyum dan berjalan pergi setelah membayar biaya es krim tersebut. Dalam perjalanan kembali ke apartemen, pikirannya berhasil dipenuhi oleh nasihat dari bos pemilik toko es krim yang ditemuinya di taman tersebut. Apa yang dikatakan pemilik toko es krim itu menjadi pemicu bagi solusi masalah yang banyak Salsa pikirkan sebelumnya.Namun di sisi lain, Akas menyelesaikan urusan kantornya lebih awal. Alasannya sederhana, ia harus kembali ke rumah lama untuk menghadiri perjamuan keluarga. Namun kini, pria berusia hampir setengah abad itu sama sekali tidak mau bergerak dari tempat duduknya. Ia sedang mempertimbangkan apakah dia harus menelepon para tetua itu untuk memberitahu bahwa dia tidak jadi datang dan biarkan perjamuan ini berlangsung seperti biasanya."Boss, pesawat nyonya sudah mendarat di bandara kota pagi ini. Mungkin dia sudah tiba di rumah lama." Dimas berjalan mendekat dan memberikan laporannya. Kabar ini berhasil membuat suasana hati Akas
"Ayah, apa ayah percaya anak itu adalah anak ayah? Bagaimana jika? Bagaimana jika kali ini Sienna juga berbohong?" Salsa tiba-tiba berkata, ia masih sulit untuk percaya. Jadi alam bawah sadarnya menggunakan hipotesis, menggunakan dugaan untuk menyangkal kebenaran secara sementara. Hendry mengangkat alisnya, ia jelas menyadari bahwa Salsa tampak begitu tidak menerima adik dari perut Sienna. Memang sulit di percaya, bahkan dirinya sebagai ayahnya juga merasa enggan mengakuinya hingga saat ini. Seperti ada rasa bersalah yang kuat pada mendiang istrinya dan putri kesayangannya. Sebuah pengkhianatan yang sulit untuk dimaafkan. Rasa mengganjal di hatinya, Hendry menundukkan kepalanya dan tidak mampu untuk berbicara. Namun ia tetap harus memberikan jawaban pada putrinya. Salsa masih muda, ia belum dewasa. Kabar ini juga bukan kabar baik untuknya. Hendry menarik nafas dalam dalam dan menekan rasa bersalahnya. "Ayah akan berpura pura dan bermain melanjutkan sandiwara ini. Kamu jaga diri baik
Salsa melangkah turun dari taksi, ia sudah membuat janji dengan ayahnya. Bertemu kembali di sebuah restoran tempat mereka pernah makan bersama beberapa waktu yang lalu. Ketika Salsa masuk ke dalam, ia melihat sosok familiar duduk di salah satu kursi dekat jendela.Berapa hari dia tidak bertemu ayahnya, mengapa Salsa merasa ayahnya semakin tua? Salsa berjalan menghampiri ayahnya dengan langkah sedikit lebih cepat. Salsa melihatnya duduk disana dengan pandangan kosong. Entah apa yang dipikirkannya, namun punggungnya sedikit membungkuk terlihat penuh jejak kelelahan."Ayah..." Panggil Salsa dengan ekspresi rumit. Beberapa waktu lalu, ayahnya masih tampil sangat bersemangat. Namun, beberapa waktu sudah berlalu, dan semuanya berubah sedemikian rupa. Kondisi ayahnya jelas memburuk entah dengan alasan apa.Hendry segera tersadar ketika Salsa memanggilnya, ia mendongak dan terkejut melihat putrinya ternyata sudah berdiri di sampingnya. Hendry berdiri, membantu Salsa menarik kursinya. Untuk se
"Hmm, Makasih paman." Ucap Salsa, ia tidak menyalahkan Akas. Dia tidak mengeluh atau menyebutkan apapun. Nadanya sangat tenang dan dingin, seperti yang dilakukannya hanya sebuah keharusan. Hal itu justru membuat Akas merasa sakit hati, ia lebih suka Salsa mengeluh dan bertingkah seperti putri manja.Ia ingin Salsa cemberut, berkata bahwa dirinya terlalu kasar sebelumnya. Namun Akas tidak memiliki hak menuntut dan berbicara. Statusnya semalam hanya sebagai debitur sementara Salsa sebagai seorang penyewa. Sebuah transaksi pembayaran yang dingin.Apakah kedepannya akan terus seperti ini? Akas jelas tidak ingin terus berada dalam kedinginan seperti ini. Rasanya seperti hampa dan kosong, namun ia tidak memiliki hak berbicara. Dia yang memulainya, dan Salsa hanya menerima tawarannya. Sesederhana itu!Beberapa waktu kemudian, Salsa berjalan keluar sudah dengan berpakaian rapi. Ia mengikat rambutnya dengan gaya ponytail, rok pendek berwarna putih dan kemeja berwarna merah muda. Gaya khas anak
Selesai menyelesaikan panggilan telepon, Salsa mengembalikan handphonenya pada Akas. Namun fokus Akas tidak sedang berada di situ saat ini. Ia meraih dagu Salsa, kemudian memaksanya mendongak. Akas sedikit menundukkan kepalanya dan mencium bibir Salsa dengan ganas.Akas sudah memperhatikannya sejak awal, bibir merah merona yang terus menggoda dirinya untuk mengambil alih. Salsa membelalakkan matanya terkejut. Ia ingin mendorong Akas menjauh, namun pelukan Akas dari belakang ini mencengkram dirinya dengan kuat. Tangan Akas yang lebar memeluk pinggangnya dan menyelimutinya.Salsa yang merasakan suhu tubuh Akas melonjak drastis, ciuman yang dahsyat ini membuatnya perlahan kehilangan kendali. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang meminta, atau mengisyaratkan sesuatu. Dalam hubungan seperti ini, tidak ada kejelasan dan hanya berisi kesepakatan bersama.Salsa tidak mengatakan apapun, ia tidak meminta penjelasan, tidak memaksakan status. Ia hanya duduk di pangkuan Noah, memeluk leher Noah
Di negeri yang asing, Crystal mengerucutkan bibirnya. Ia sudah lama tidak terhubung ke internet dan hanya bisa menyelami buku buku manajemen ini. Sangat mengesalkan, ia bahkan tidak bisa menanyakan kabar Salsa.Ia melirik jam tangannya, bel tanda berakhirnya mata kuliah perlahan terdengar. Ketika C
Salsa mendorong Akas menjauh dengan seluruh tenaganya, ia mengangkat tangannya tinggi dan mengayunkannya dengan cepat menampar pipi Akas dengan sangat keras.PLAKKKK!Suara tersebut seperti mengoyak seluruh suasana ambigu di dalam ruangan. Seluruh ruangan menjadi sunyi, hanya menyisakan musik yang
"Ayo pergi makan? Setelah itu pergi ke tempat yang kamu inginkan." Baik itu Akas atau Salsa tidak ada satupun yang berusaha mengungkit masalah sebelumnya. Menganggap semuanya berlalu begitu saja.Ketika mereka duduk berhadapan di meja restoran, suasananya menjadi canggung. Lagipula keduanya sempat
"Audrey aku akan bertanya padamu, bagaimana jika kamu yang menyebut dan menyebarkan kabar bahwa ibuku adalah simpanan terdengar sampai pada telinga ayah? Menurutmu, bagaimana ia akan bertindak?" Salsa berjalan mendekat sambil berbisik dengan suara yang hanya ia dan Audrey dengar.Mendengar kata jat







