LOGIN"Bu—bukan. Ti-tidak, kamu ini sebenarnya siapa?" Azalea menggelengkan kepalanya. Ia sempat mengira matanya sedang bermasalah hingga refleks mengucek kedua matanya. Namun, saat kembali melihat sosok di hadapannya, ia makin yakin bahwa ia tidak sedang salah lihat. "Kenapa mukamu bisa sama persis dengan teman Zayn yang di dalam tadi?""Aku?" Varan menunjuk dirinya sendiri, lalu menyunggingkan senyuman lembut. "Aku memang temannya Zayn, kok. Tapi kenapa kamu kelihatan sekaget itu melihatku?""I-itu karena...""Varan, cepatlah sedikit! Zayn sudah menunggumu dari tadi!" Ezra tiba-tiba menyusul keluar dan langsung menarik lengan pemuda itu. Melihat Azalea yang masih berdiri mematung di tempatnya, Ezra pun sempat melempar penjelasan singkat. "Jangan bingung begitu, Lea. Mereka berdua itu anak kembar. Yang kamu tarik-tarik tadi namanya Varel, nah yang ini Varan!" ujar Ezra seraya berlalu pergi."Oh..." Azalea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham, lalu melanjutkan langkah kakinya
Zayn mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras tajam—terlihat jelas bahwa ia dikuasai oleh emosi setelah mendengarnya. "Zayn." Naura masih berdiri setia di sisi pemuda itu. "Mengenai hal itu, aku memang belum tahu secara detailnya. Namun, ada kemungkinan besar jika mereka melakukan tindakan medis—""Aku bisa menanyakan hal itu sendiri pada Om Marvel," potong Zayn dingin, sama sekali tidak ingin lagi mendengarkan tebakan atau spekulasi Naura. Tanpa menanti respons, ia kembali melanjutkan langkah yang sempat tertahan."Zayn! Aku belum menyampaikan apa permintaanku! Kamu sudah berjanji akan mengabulkannya, kan?!" panggil Naura dari belakang."Tenang saja. Aku tidak akan pernah ingkar," sahut Zayn meyakinkan tanpa menoleh.Naura bergegas menyusul langkah pemuda itu dengan senyuman semringah yang merekah. "Kalau begitu, dengarkan baik-baik apa yang aku inginkan—!"Dari kejauhan, Azalea yang menyaksikan interaksi mereka berdua hanya bisa mem
"Jadi, maksudmu ingin menggelar pesta besar untuk Lea? Kamu ingin semua orang tahu bahwa dia adalah putri kandungmu?! Lalu dengan cara apa kamu akan mengenalkannya di depan relasi kita?!"Suara Marta melengking keras, menyuarakan rasa protes dan ketidaksetujuan saat suaminya mengutarakan niat untuk mengadakan pesta penyambutan."Ingat, Marvel! Kalau kamu sampai mengenalkan Lea sebagai putri kandungmu di hadapan publik... itu sama saja kamu mengorbankan namaku! Semua orang akan tahu bahwa dulu kamu memiliki wanita selain aku! Kamu sendiri pun pasti akan menanggung konsekuensinya! Orang-orang akan mencap dirimu sebagai pria brengsek!"Dada Marta kembang-kempis, napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak. Bagaimanapun juga, keinginan impulsif suaminya itu mengandung risiko yang besar bagi reputasi mereka.Marvel yang tadinya duduk kini mengepalkan tangan, mendengarkan cecaran istrinya yang membuat kepalanya mendadak pening. Namun, di dalam hati kecilnya, ia harus mengakui b
Zayn melepas gandengan tangannya, melangkah lebih dulu lalu duduk. Sementara itu, Azalea tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pemandangan di luar gedung.Ternyata, suasana kota di malam hari terasa begitu indah jika dilihat dari tempatnya berdiri saat ini."Wah, Zayn, indah banget," gumamnya dengan mata berbinar-binar.Tingkahnya tak sekadar kagum—mungkin terkesan sedikit udik dan norak. Namun, Zayn tidak melarangnya untuk berhenti. Pemuda itu justru tersenyum, meski ada selipan cibiran dan rasa geli di balik senyumannya."Lea, masih banyak yang harus kamu coba. Bagaimana dengan menu di restoran ini, tidak ingin mencobanya?"Azalea menoleh. Ia melihat seorang pelayan datang membawa pesanan Zayn dan menatanya rapi di atas meja. Bukan hanya menunya yang tampak menggugah selera, tetapi suasana yang tercipta di sana pun terasa begitu romantis dan hangat.Gadis itu berdeham. Senyumnya tak luntur sejak tadi, seolah pengalaman pertama ini sangat menyenangkan—meski dinner romantis in
Marta menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran. Ia yakin saat ini ayahnya merasa menjadi dalang dibalik nasib malang putrinya ini. "Kalau menyesal, memang Ayah bisa lakukan apa untukku?" Pertanyaan menohok itu sontak membuat Adinata terdiam cukup lama. Ia mungkin sedang mengingat kilas balik masa lalu. Marvel menikah dengan Marta, itu berarti wanita itu dicampakkan begitu saja. Atau bahkan mungkin Marvel punya hubungan di saat sudah menikah dengan Marta? Hal ini perlu diperjelas lagi. Jika sampai kabar ini menyebar bukan tidak mungkin nama keluarga akan terseret. Orang mungkin akan berpikir putrinya merebut Marvel dari istri sebelumnya dan Marvel menghasilkan anak haram. Tak ingin menunggu jawaban yang sulit Adinata jawab, Marta kembali bicara. "Sudahlah. Toh, gadis itu sudah tumbuh dewasa. Aku sangat yakin Marvel membawanya pulang bukan semata-mata karena dorongan rasa tanggung jawab sebagai seorang ayah, melainkan karena ia melihat ada keuntungan besar yang bisa i
Di luar jam pelajaran, anak-anak kelas Azalea memanfaatkan waktu luang untuk berlatih bersama beberapa cabang olahraga yang akan mereka ikuti dalam kompetisi Sport Day mendatang melawan kelas Yiyi.Pemandangan di lapangan justru memperlihatkan kebanyakan dari mereka yang tampak begitu loyo, padahal baru saja melakukan pemanasan. Kelas ini memang jauh lebih cocok menerjunkan diri ke kompetisi akademis ketimbang harus menguras fisik. Meski begitu, hal itu bukanlah masalah besar, setidaknya waktu satu minggu sudah cukup untuk membagi tugas dan mengasah potensi masing-masing siswa."Ayo, semangat semuanya!" seru Azalea berapi-api. Selain Ezra, suaranya yang paling lantang menyuntikkan motivasi di tengah lapangan.Sementara itu dari kejauhan, Zayn berdiri bersandar di dekat tiang koridor. Tidak ada hal khusus yang dilakukan pemuda itu selain diam dan terus memperhatikan ke arah lapangan. Hah!Ezra menghela napas panjang saat baru saja menginjakkan kaki di dalam ruang eksklusif dan
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus







