LOGIN"Zayn, kenapa tiba-tiba membahas itu?" Azalea menatap Zayn lebih lekat. Sementara Zayn juatru memalingkan tatapannya. "Tidak apa. Aku hanya kasihan." Azalea menghela napas. Ia lalu mengangguk. "Aku akan pertimbangkannya dulu." Zayn membalas dengan anggun kecil lalu memerintah Azalea untuk keluar. Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Azalea melangkah dengan kaki yang terasa berat, ia menoleh sekilas sebelum benar-benar menjauh namun ia lihat Zayn yang tidak lagi menatapnya. ***Siangnya, Azalea berjalan ke arah gerbang sekolah seorang diri. Ia berniat untuk pulang dengan menggunakan kendaraan umum. Namun, di depan sana lagi-lagi tampak sebuah mobil mewah yang terparkir tepat di depan pintu gerbang utama.Langkah Azalea seketika melambat saat ia menyadari mobil milik siapa itu. Sayangnya, ia sudah terlanjur terlihat dan tidak bisa menghindar lagi."Lea, kemarilah!" panggil Marvel yang bergegas keluar dari dalam mobil. Ia tidak sendiri, melainkan bersama Marta. Hubungan suam
Bukankah seharusnya Zayn tahu kalau ibunya meninggal? Namun, hingga tengah malam berlalu, tidak ada satu pun kabar atau pesan singkat dari lelaki itu. Apakah ia memang sesibuk itu?Sebenarnya Azalea tidak ingin memikirkan hal itu, tetapi entah mengapa hatinya merasa gelisah dan rasa sedihnya kian menumpuk. Meski sebelumnya Azalea sudah bertekad untuk tidak terlalu bergantung dan terbawa perasaan, nyatanya ia tetap tidak bisa membohongi rasa sakit di dadanya saat membayangkan Zayn ternyata lebih peduli dan memberikan perhatian penuh pada wanita lain.Dua hari berlalu. Azalea akhirnya memutuskan untuk kembali berangkat sekolah dengan wajah lesu dan kantung mata yang menghitam akibat kurang tidur.Jeje langsung menyambut kedatangannya dengan penuh perhatian. Sebagai sahabat, ia tahu betul bahwa Azalea masih berada dalam masa berkabung yang berat."Lea, Zayn memanggilmu ke ruang eksklusif," kata Ezra menghampiri meja Azalea begitu melihat gadis itu sudah berada di kelas.Azalea langs
Perasaan Azalea sudah diliputi cemas dan tidak enak sejak kehadiran Marta di rumah sakit, namun ia tidak ingin berpikir macam-macam saat ini. Fokusnya sepenuhnya tercurah untuk mendiang Dina yang kini harus segera dimakamkan.Meski Azalea sebatang kara, untung saja proses pemakaman berjalan lancar karena dibantu oleh banyak pihak, termasuk beberapa teman sekolah yang datang melayat. Marvel dan Marta bahkan ikut mendampingi hingga seluruh proses pemakaman selesai. Bisa dibilang, pasang suami istri itulah yang paling banyak membantu mengatur segala keperluan administrasi dan pemakaman.Kini, Azalea didampingi oleh Jeje, masih duduk bersimpuh di dekat gundukan tanah yang masih basah itu. Azalea tidak lagi menangis, karena sejak tadi terus terisak, air matanya seolah sudah habis tak bersisa. Ia hanya diam termenung, menatap sendu taburan bunga segar di depannya."Kamu pasti bisa bertahan dan menghadapi semuanya. Kamu tidak sendiri kok, masih ada aku," bisik Jeje coba menenangkan, mer
Marvel melihat istrinya yang tampak sangat terkejut sekaligus terluka akibat kalimat kejam yang baru saja dilontarkannya. Ia pun segera tersadar bahwa tidak seharusnya ia berbicara sekasar itu jika ingin membujuk Marta."Marta," Marvel kembali merendahkan suara, mencoba meredam ketegangan. "Maaf, bukan maksudku berkata seperti itu... Kita sudah sama-sama tua. Untuk apa lagi memikirkan perceraian? Menurutku, itu sama sekali tidak ada gunanya. Kenapa kita tidak fokus saja pada karier dan mempersiapkan masa senja kita nanti?"Marvel terus mencoba membujuk. Lelaki itu memang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah emosinya dalam sekejap, berupaya bicara selembut mungkin demi membuat suasana hati Marta mereda.Namun, Marta hanya memalingkan wajahnya dengan dingin, enggan menatap wajah sang suami."Aku berjanji akan jujur mulai sekarang. Bahkan, semua kebohongan yang pernah aku lakukan di masa lampau, aku akan mengatakannya semua kepadamu!" Marvel melangkah maju, lalu meraih jema
Napas Marvel memburu. Darahnya seolah mendidih ke ubun-ubun melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Tanpa membuang waktu lagi, ia menendang pintu kayu itu hingga terbuka lebar dan membentur dinding dengan suara dentuman keras.BRAK!Marta dan Bram sontak terlonjak kaget. Pria muda itu dengan cepat menarik tangannya menjauh dari tubuh Marta, wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat."Lancang sekali kamu!" bentak Marvel dengan suara menggelegar. Ia melangkah cepat, lalu mencengkeram kerah kemeja Bram dan menyentakkannya kasar ke arah pintu. "Keluar dari sini sebelum saya hancurkan kamu! Keluar!"Bram yang ketakutan tidak berani membantah. Ia buru-buru memungut pita ukurnya yang terjatuh di lantai, lalu lari tunggang-langgang meninggalkan ruangan tanpa berani menoleh lagi.Setelah pintu tertutup, suasana ruangan mendadak mencekam. Marvel berbalik menatap istrinya dengan dada naik-turun menahan murka. Sementara itu, Marta perlahan turun dari meja kerja dengan sangat te
Tanpa membuang kata lagi, Zayn langsung menarik jemari Azalea dan membawanya pergi dari tempat itu.Sepanjang jalan tidak ada bicara, Azalea menangis lirih sampai Zayn berhenti di sebuah taman pinggiran kota, lalu mengajak Azalea beristirahat sebentar di sana. Keduanya duduk di bawah pohon besar yang rindang. Azalea menunduk canggung, matanya sembab dengan hidung yang masih memerah. "Kalau masih mau menangis ya menangis saja, siapa bilang harus berhenti," kata Zayn yang tiba-tiba menarik Azalea dan menahan kepalanya agar bersandar di lengan Zayn. Azalea terdiam sesaat kemudian kembali sesenggukan. Gadis itu menumpahkan rasa sesaknya dengan menangis di samping Zayn. "Aku tidak tahu kenpa Om Marvel bisa jadi ayahmu. Tapi ... apa itu sungguh?" tanya Zayn pelan saat Azalea mulai tenang. Pemuda itu masih tidak menyangka dan bingung bagaimana Awal mulainya, ia juga masih belum percaya. Namun melihat Azalea yang seperti itu, Zayn tidak bisa terus menyangkal. "Zayn--" Azalea bicara de
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan







