LOGIN"Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.
"Angga, habis ini kamu ada rencana ke mana?" tanya Nadine saat jam belajar usai. Langkahnya dipercepat demi bisa menyusul langkah Angga."Nggak ada. Paling balik ke kos, terus tidur," jawab Ali santai.Nadine langsung menghentikan langkahnya. Matanya membulat tak percaya. "Hah? Serius?"Ali menoleh heran. "Kenapa?""Ya ampun, Angga! Kamu lagi di Jakarta, lho. Kota sebesar ini, tapi habis kelas malah milih tidur di kos?"Ali terkekeh pelan. "Terus aku harus ngapain? Buatku nggak ada yang terlalu menarik."Ia kembali melangkah menuju gerbang gedung. Nadine buru-buru menyusul. Langkah Ali yang panjang membuat perempuan itu harus berjalan lebih cepat agar tidak tertinggal."Minimal kita nongkrong, lah. Di dekat sini ada kafe baru yang lagi ramai. Tempatnya enak buat santai."Ali menggeleng. "Kafe? Aku belum pernah ke kafe."Nadine menatapnya dengan ekspresi tak percaya."Jangan bercanda. Masa belum pernah?""Beneran.""Terus kamu kalau mau ngopi di mana?""Di warung kopi."Jawaban itu mem
Udara pagi yang dingin menusuk kulit membuat Lastri terbangun bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah sunyi, menandai dimulainya hari baru. Sebagai perempuan yang terbiasa bekerja keras, Lastri memang selalu bangun sebelum matahari menampakkan sinarnya.Ting...Bunyi notifikasi dari ponselnya memecah lamunannya. Dengan sedikit heran, Lastri segera meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Senyum tipis langsung merekah di bibirnya.Pesan itu berasal dari Ali.[Lastri, aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun. Jaga dirimu baik-baik, ya. Aku mencintaimu.]Dada Lastri seketika menghangat. Berkali-kali ia membaca pesan singkat itu, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun yang ditulis oleh lelaki pujaan hatinya.Jemarinya kemudian bergerak membalas.[Aku akan selalu menjaga diri untukmu, Mas Ali. Semoga perjalananmu lancar dan kamu selalu baik-baik di kota.]Setelah menekan tombol kirim, Lastri kembali menatap layar
Lastri tertegun. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu."Mas Ali...?"Dadanya seolah berhenti berdetak sesaat. Lelaki yang sejak tadi ia tunggu akhirnya benar-benar datang."Lastri... maafkan aku. Aku datang terlambat," ucap Ali dengan napas yang masih memburu. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.Lastri menatapnya lekat. Sudut matanya mulai memanas, menahan air mata yang nyaris tumpah."Mas Ali... aku pikir... Mas tidak akan datang lagi," bisiknya lirih. Ada kelegaan dalam suaranya, tetapi juga sisa keputusasaan yang belum sepenuhnya hilang.Ali menggeleng pelan."Bapak mengawasi aku dengan sangat ketat. Bahkan beliau menyuruh beberapa pegawai berjaga di depan kamarku supaya aku tidak bisa keluar."Lastri mengerutkan kening."Lalu... bagaimana Mas bisa sampai ke sini?"Ali tersenyum tipis, meski napasnya masih belum benar-benar teratur."Aku melompat dari jendela kamarku."Mata Lastri membulat."Mas... melompat dari jendela?"Ali mengangguk mantap."Iya. Aku t
"Bu Ratih...?" bisik Lastri lirih. Matanya membulat, wajahnya seketika pucat. Ia sama sekali tak menyangka orang yang datang bukanlah Ali, lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Justru Ratih, perempuan yang paling ingin ia hindari.Ratih berdiri tegak di hadapannya. Tatapannya dingin dan tajam, menyapu tubuh Lastri dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang menjijikkan. Sorot mata itu membuat jantung Lastri berdegup semakin kencang dan tubuhnya gemetar. "Sepertinya... kamu sedang menunggu seseorang?" ujar Ratih pelan. Nada bicaranya terdengar tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi sindiran yang menusuk. Lastri memilih diam. Bibirnya terasa kelu, sementara kepalanya semakin tertunduk. Ia tahu betul alasan Ratih begitu membencinya. Bagaimanapun juga, suami dan anak lelaki Ratih sama-sama menaruh hati kepadanya. Perempuan mana yang bisa menerima kenyataan sekejam itu? "Suamiku... atau putraku?" tanya Ratih lagi. Tatapannya semakin tajam, seolah ingin menembus perta
"Dari mana?" Suara dingin Subrata menghentikan langkah Ali yang baru saja mengendap-endap memasuki rumah. Pria itu berdiri di ruang tengah dengan sorot mata tajam, seolah sudah menunggu kepulangannya sejak tadi. Ali mengembuskan napas pelan. Rasa lelah bercampur kesal membuatnya tak lagi ingin berbasa-basi. "Apa peduli Bapak?" balasnya datar. "Aku sudah menuruti perintah Bapak untuk pergi ke Jakarta. Apa itu masih belum cukup?" Nada suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan perlawanan yang selama ini ia pendam. Ali berdiri di hadapan ayahnya tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentar. Rahang Subrata mengeras. "Kamu habis menemui janda itu lagi?" geramnya. Ali menatap ayahnya lurus. "Kenapa? Karena Bapak sendiri juga menginginkannya?" Ucapan itu menghantam Subrata seperti tamparan keras. "Lancang sekali ucapanmu, Ali!" bentaknya. "Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu! Bapak ingin kamu mendapatkan perempuan yang terhormat dan setara, bukan janda kampung seperti Lastri!" Dad
"Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.Ali mengangguk pelan. Ada sorot tak berdaya di matanya. "Bisa jadi lebih lama... kalau aku lolos tes."Kalimat itu membuat dada Lastri terasa sesak. Satu bulan saja sudah terdengar begitu panjang, apalagi jika ternyata harus lebih lama lagi."Lalu... bagaimana denganku, Mas?" tanyanya lirih. Ada ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.Ali meraih kedua tangan Lastri, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan yang bahkan ia sendiri sedang berusaha kumpulkan."Kamu... mau kan menjaga diri demi aku?" ucapnya penuh harap. "Aku janji, begitu urusan tes kedinasan selesai, aku akan segera kembali. Kalau aku berhasil lolos, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama di Jakarta."Lastri menundukkan kepala. Kata-kata itu terdengar begitu indah, seperti mimpi yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan. Namun, di b







