Home / Romansa / Janji Mas Ali / 7. Janji Ali

Share

7. Janji Ali

Author: Rinda
last update publish date: 2026-06-27 16:41:19

"Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.

Ali mengangguk pelan. Ada sorot tak berdaya di matanya. "Bisa jadi lebih lama... kalau aku lolos tes."

Kalimat itu membuat dada Lastri terasa sesak. Satu bulan saja sudah terdengar begitu panjang, apalagi jika ternyata harus lebih lama lagi.

"Lalu... bagaimana denganku, Mas?" tanyanya lirih. Ada ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.

Ali meraih kedua tangan Lastri, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan yang bahkan ia sendiri sedang berusaha kumpulkan.

"Kamu... mau kan menjaga diri demi aku?" ucapnya penuh harap. "Aku janji, begitu urusan tes kedinasan selesai, aku akan segera kembali. Kalau aku berhasil lolos, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama di Jakarta."

Lastri menundukkan kepala. Kata-kata itu terdengar begitu indah, seperti mimpi yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan. Namun, di balik keindahannya, tersimpan penantian yang terasa begitu berat.

Ia takut pada jarak. Takut pada waktu. Dan yang paling ia takuti adalah kemungkinan bahwa keadaan akan mengubah segalanya. Mengubah sikap dan perasaan Ali padanya.

"Kalau... tidak lolos?" tanyanya pelan.

Ali tersenyum tipis, berusaha menenangkan kegelisahan perempuan di hadapannya.

"Itu juga kabar baik. Artinya aku akan segera pulang ke desa ini dan kembali bersamamu. Aku akan mencari pekerjaan di sini saja, supaya tidak jauh darimu, Lastri."

Hati Lastri semakin bimbang. Haruskah ia berharap Ali berhasil? Menjadi orang sukses dan mandiri, lalu menjemputnya ke Jakarta seperti yang dijanjikan? Ataukah diam-diam ia berharap Ali gagal, agar pemuda yang begitu dicintainya itu bisa segera kembali ke desa dan tetap berada di sisinya?

Lastri merasa bahwa harapan dan kehilangan bisa berjalan beriringan. Apa pun hasilnya nanti, selalu ada sesuatu yang harus ia relakan.

"Kapan Mas Ali akan berangkat ke Jakarta?" tanya Lastri lirih. Ia berusaha terdengar biasa, padahal pertanyaan itu ia lontarkan hanya untuk mempersiapkan hatinya menghadapi perpisahan yang tinggal menghitung jam.

Ali menarik napas pelan sebelum menjawab.

"Besok pagi, Lastri. Keretanya berangkat jam enam. Jadi, sehabis subuh aku sudah harus berangkat ke stasiun."

Mata Lastri membulat. "Secepat itu?"

Rasanya baru beberapa saat yang lalu ia mendengar kabar keberangkatan itu, tetapi ternyata waktu tak memberinya kesempatan untuk bersiap.

Ali hanya mengangguk pelan. Wajahnya menyiratkan penyesalan. Seandainya bisa, ia pun ingin menunda kepergian itu. Namun kali ini, ia tak memiliki kuasa untuk itu. Ali hanya ingin menuruti permintaan Ibunya dan tak mau mengecewakan perempuan yang sangat disayangi dan dihormatinya.

Tiba-tiba Ali menoleh ke arah luar warung, seolah memastikan tak ada orang yang melihatnya.

"Lastri... aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku takut Bapak atau Ibu sadar kalau aku tidak ada di rumah."

Lastri menggigit bibirnya pelan. Ia ingin meminta Ali tetap tinggal beberapa menit lagi, tetapi ia tahu itu hanya akan mempersulit keadaan.

Melihat wajah murung perempuan itu, Ali mengangkat kedua tangannya, lalu membingkai wajah Lastri dengan lembut. Tatapannya penuh keyakinan, seakan ingin menghapus semua kecemasan yang memenuhi hati gadis itu.

"Jangan khawatir. Nanti malam aku akan datang lagi ke sini, setelah warungmu tutup."

Mata Lastri kembali berbinar, meski masih menyimpan keraguan.

"Janji?" tanyanya pelan, nyaris seperti anak kecil yang takut harapannya dipatahkan.

Ali tersenyum hangat. "Iya... aku janji."

Tanpa memberi kesempatan Lastri mengatakan apa pun, Ali menundukkan kepala.

Cup! Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Lastri.

Sesaat kemudian, Ali berbalik dan melangkah pergi meninggalkan warung kopi itu. Langkahnya cepat, seolah jika ia menoleh sekali saja, ia tak akan sanggup benar-benar pergi.

Lastri tetap berdiri mematung di tempatnya. Jemarinya perlahan terangkat, menyentuh kening yang baru saja dikecup Ali. Hangatnya masih terasa begitu nyata.

Namun, kehangatan itu justru meninggalkan sesak yang perlahan memenuhi dadanya. Ada firasat aneh yang tak mampu ia jelaskan, seolah kecupan itu bukan sekadar janji untuk bertemu lagi, melainkan kenangan yang akan terus ia simpan saat hari-hari panjang tanpa Ali mulai menghampirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji Mas Ali   12. Juragan Karta

    "Angga, habis ini kamu ada rencana ke mana?" tanya Nadine saat jam belajar usai. Langkahnya dipercepat demi bisa menyusul langkah Angga."Nggak ada. Paling balik ke kos, terus tidur," jawab Ali santai.Nadine langsung menghentikan langkahnya. Matanya membulat tak percaya. "Hah? Serius?"Ali menoleh heran. "Kenapa?""Ya ampun, Angga! Kamu lagi di Jakarta, lho. Kota sebesar ini, tapi habis kelas malah milih tidur di kos?"Ali terkekeh pelan. "Terus aku harus ngapain? Buatku nggak ada yang terlalu menarik."Ia kembali melangkah menuju gerbang gedung. Nadine buru-buru menyusul. Langkah Ali yang panjang membuat perempuan itu harus berjalan lebih cepat agar tidak tertinggal."Minimal kita nongkrong, lah. Di dekat sini ada kafe baru yang lagi ramai. Tempatnya enak buat santai."Ali menggeleng. "Kafe? Aku belum pernah ke kafe."Nadine menatapnya dengan ekspresi tak percaya."Jangan bercanda. Masa belum pernah?""Beneran.""Terus kamu kalau mau ngopi di mana?""Di warung kopi."Jawaban itu mem

  • Janji Mas Ali   11. Nadine

    Udara pagi yang dingin menusuk kulit membuat Lastri terbangun bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah sunyi, menandai dimulainya hari baru. Sebagai perempuan yang terbiasa bekerja keras, Lastri memang selalu bangun sebelum matahari menampakkan sinarnya.Ting...Bunyi notifikasi dari ponselnya memecah lamunannya. Dengan sedikit heran, Lastri segera meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Senyum tipis langsung merekah di bibirnya.Pesan itu berasal dari Ali.[Lastri, aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun. Jaga dirimu baik-baik, ya. Aku mencintaimu.]Dada Lastri seketika menghangat. Berkali-kali ia membaca pesan singkat itu, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun yang ditulis oleh lelaki pujaan hatinya.Jemarinya kemudian bergerak membalas.[Aku akan selalu menjaga diri untukmu, Mas Ali. Semoga perjalananmu lancar dan kamu selalu baik-baik di kota.]Setelah menekan tombol kirim, Lastri kembali menatap layar

  • Janji Mas Ali   10. Akankah Ali menepati janjinya?

    Lastri tertegun. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu."Mas Ali...?"Dadanya seolah berhenti berdetak sesaat. Lelaki yang sejak tadi ia tunggu akhirnya benar-benar datang."Lastri... maafkan aku. Aku datang terlambat," ucap Ali dengan napas yang masih memburu. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.Lastri menatapnya lekat. Sudut matanya mulai memanas, menahan air mata yang nyaris tumpah."Mas Ali... aku pikir... Mas tidak akan datang lagi," bisiknya lirih. Ada kelegaan dalam suaranya, tetapi juga sisa keputusasaan yang belum sepenuhnya hilang.Ali menggeleng pelan."Bapak mengawasi aku dengan sangat ketat. Bahkan beliau menyuruh beberapa pegawai berjaga di depan kamarku supaya aku tidak bisa keluar."Lastri mengerutkan kening."Lalu... bagaimana Mas bisa sampai ke sini?"Ali tersenyum tipis, meski napasnya masih belum benar-benar teratur."Aku melompat dari jendela kamarku."Mata Lastri membulat."Mas... melompat dari jendela?"Ali mengangguk mantap."Iya. Aku t

  • Janji Mas Ali   9. Kedatangan Ratih

    "Bu Ratih...?" bisik Lastri lirih. Matanya membulat, wajahnya seketika pucat. Ia sama sekali tak menyangka orang yang datang bukanlah Ali, lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Justru Ratih, perempuan yang paling ingin ia hindari.Ratih berdiri tegak di hadapannya. Tatapannya dingin dan tajam, menyapu tubuh Lastri dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang menjijikkan. Sorot mata itu membuat jantung Lastri berdegup semakin kencang dan tubuhnya gemetar. "Sepertinya... kamu sedang menunggu seseorang?" ujar Ratih pelan. Nada bicaranya terdengar tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi sindiran yang menusuk. Lastri memilih diam. Bibirnya terasa kelu, sementara kepalanya semakin tertunduk. Ia tahu betul alasan Ratih begitu membencinya. Bagaimanapun juga, suami dan anak lelaki Ratih sama-sama menaruh hati kepadanya. Perempuan mana yang bisa menerima kenyataan sekejam itu? "Suamiku... atau putraku?" tanya Ratih lagi. Tatapannya semakin tajam, seolah ingin menembus perta

  • Janji Mas Ali   8. Menunggu kedatangan Ali

    "Dari mana?" Suara dingin Subrata menghentikan langkah Ali yang baru saja mengendap-endap memasuki rumah. Pria itu berdiri di ruang tengah dengan sorot mata tajam, seolah sudah menunggu kepulangannya sejak tadi. Ali mengembuskan napas pelan. Rasa lelah bercampur kesal membuatnya tak lagi ingin berbasa-basi. "Apa peduli Bapak?" balasnya datar. "Aku sudah menuruti perintah Bapak untuk pergi ke Jakarta. Apa itu masih belum cukup?" Nada suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan perlawanan yang selama ini ia pendam. Ali berdiri di hadapan ayahnya tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentar. Rahang Subrata mengeras. "Kamu habis menemui janda itu lagi?" geramnya. Ali menatap ayahnya lurus. "Kenapa? Karena Bapak sendiri juga menginginkannya?" Ucapan itu menghantam Subrata seperti tamparan keras. "Lancang sekali ucapanmu, Ali!" bentaknya. "Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu! Bapak ingin kamu mendapatkan perempuan yang terhormat dan setara, bukan janda kampung seperti Lastri!" Dad

  • Janji Mas Ali   7. Janji Ali

    "Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.Ali mengangguk pelan. Ada sorot tak berdaya di matanya. "Bisa jadi lebih lama... kalau aku lolos tes."Kalimat itu membuat dada Lastri terasa sesak. Satu bulan saja sudah terdengar begitu panjang, apalagi jika ternyata harus lebih lama lagi."Lalu... bagaimana denganku, Mas?" tanyanya lirih. Ada ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.Ali meraih kedua tangan Lastri, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan yang bahkan ia sendiri sedang berusaha kumpulkan."Kamu... mau kan menjaga diri demi aku?" ucapnya penuh harap. "Aku janji, begitu urusan tes kedinasan selesai, aku akan segera kembali. Kalau aku berhasil lolos, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama di Jakarta."Lastri menundukkan kepala. Kata-kata itu terdengar begitu indah, seperti mimpi yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan. Namun, di b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status