LOGINBab 71. DilemaLangkah keenam orang itu kembali berlanjut menyusuri jalan pegunungan. Namun kali ini suasana jauh lebih santai dibanding sebelumnya. Ma Dai beberapa kali melirik Tian Fan dari samping. Semakin lama berbincang, semakin sulit baginya memahami pemuda yang usianya tampak tidak jauh berbeda dengannya itu. Hanya dengan sekali melihat, Tian Fan mampu mengetahui luka yang telah bertahun-tahun ia sembunyikan dari siapapun.Setelah cukup lama berpikir, Ma Dai akhirnya menghela nafas pelan. "Saudara Tian, karena kau mampu mengetahui kondisiku hanya dengan sekali pandang... apakah itu berarti kau juga mengetahui cara mengobatinya?" tanyanya penuh harap.Tian Fan hanya menganggukkan kepala sambil tetap melangkah. "Tentu saja ada. Kalau hanya memperbaiki otot, tulang, dan meridian yang rusak sebenarnya bukan perkara sulit. Cara yang paling umum menggunakan Pil Penguat Otot dan Tulang. Kalau tidak memilikinya, beberapa jenis ramuan juga dapat memberikan hasil yang hampir sama."Me
Bab 70. Mata Seorang Tabib.Suasana yang sempat menegang perlahan mulai mereda.Ma Dai masih berdiri memandang Tian Fan dengan tatapan rumit ketika salah seorang pengawalnya berlari kembali dari arah hutan. Di tangannya tampak beberapa cincin spasial, sebuah lencana keluarga, serta beberapa benda lain yang sebelumnya dibawa dari lokasi kematian Xie Wang dan Xie Ba.Pengawal itu segera memberi hormat."Tuan Muda, aku telah memeriksa identitas kedua mayat tersebut. Dari lambang keluarga, pakaian, serta token yang mereka bawa... tidak salah lagi. Mereka memang berasal dari Klan Xie di Kota Shui."Ma Dai menerima lencana itu dan memperhatikannya beberapa saat. Lambang burung elang berwarna hitam yang terukir di permukaannya memang merupakan lambang resmi Klan Xie.Belum sempat ia mengatakan sesuatu, pengawal lainnya ikut melangkah maju."Tuan Muda, aku baru teringat sesuatu. Kemarin malam saat kita bermalam di Kota Kecil Fu, aku sempat mendengar kabar dari para pedagang di kedai."Ma Dai
Bab 69. Menjadi pahlawan?Shin dan Mu Rong hanya mampu terdiam di tempat saat melihat apa yang dilakukan Tian Fan berikutnya.Tanpa sedikitpun keraguan, Tian Fan melangkah mendekati Xie Wang dan Xie Ba. Tatapannya tetap tenang, seolah sedang melakukan sesuatu yang sangat biasa."Karena semua yang ingin kuketahui sudah kudapatkan...keberadaan kalian pun tidak lagi memiliki arti."“Lagipula…dulu kalian yang ingin mati, jadi…terima saja karmanya,” gumamnya pelan.Belum sempat kedua bersaudara itu mengucapkan sepatah kata pun, tangan Tian Fan telah bergerak.Sreet!Kilatan cahaya dingin melintas begitu cepat hingga nyaris tak terlihat.Sesaat kemudian dua kepala melayang ke udara bersamaan.Bruk!Keduanya jatuh berguling di atas tanah dengan mata yang masih terbuka lebar, seolah bahkan sampai detik terakhir mereka pun tidak menyangka Tian Fan benar-benar akan menghabisi mereka.Tian Fan belum berhenti. Dengan satu kibasan tangan, puluhan paku es berwarna kebiruan terbentuk di udara.Wuuss
Bab 68. Mulai Membuka Mulut.Mu Rong berjalan paling depan memimpin jalan. Langkahnya ringan namun pasti, membawa Tian Fan dan Shin memasuki hutan yang semakin lebat. Semakin jauh mereka masuk, semakin sunyi suasana di sekitar. Cahaya matahari pagi hanya mampu menembus sela-sela dedaunan, membentuk garis-garis cahaya yang jatuh di atas tanah.Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah tanah lapang yang tersembunyi di tengah hutan. Begitu memasuki area itu, tatapan Tian Fan langsung tertuju pada dua sosok yang berada di bawah sebuah pohon besar.Xie Wang tergantung dengan kondisi yang mengenaskan. Kedua tangan dan kakinya yang telah remuk sebelumnya diikat menjadi satu menggunakan tali baja, lalu seluruh tubuhnya digantung beberapa jengkal dari tanah. Setiap kali tubuhnya bergoyang, luka-luka di tangan dan kakinya akan bergesekan dengan tali hingga membuat wajahnya terus dipenuhi keringat dingin.Tidak jauh darinya, Xie Ba berada dalam kondisi yang bahkan tidak kalah menyedihkan.Ia dipa
Bab 67. Dalang penculikan.Setelah berpisah dengan Tang San di perbatasan menuju Lembah Kematian, Tian Fan dan Shin melanjutkan perjalanan berdua. Tampak sosok berjubah hitam yang dijuluki Pembunuh Bulan itu hanya menganggukkan kepala sebagai salam perpisahan sebelum tubuhnya menghilang di antara pepohonan lebat, seolah ditelan kabut pagi.Kini tujuan Tian Fan berikutnya adalah Kota Du, kota terbesar sebelum memasuki Ibukota Kerajaan Shui.Sepanjang perjalanan, keduanya berjalan santai melewati jalan pegunungan yang mulai ramai oleh para pedagang dan para cultivator pengembara.Beberapa saat kemudian, Tian Fan melirik Shin yang sejak tadi tampak tenang berjalan di sampingnya."Aku baru sadar, kau ternyata semakin pandai menghamburkan harta orang lain."Shin menoleh dengan wajah bingung."Maksud Pemimpin?"Tian Fan tersenyum tipis. "Masih pura-pura tidak tahu? Kau meninggalkan terlalu banyak hadiah untuk Klan Xiao."Shin baru menyadari apa yang dimaksud, lalu tersenyum kecil."Jadi Pe
Bab 66. Pergi.Pagi yang tenang akhirnya menyelimuti Kota Shui setelah malam penuh pertumpahan darah itu berlalu.Di ruang utama Kediaman Klan Xiao, para petinggi kedua klan telah berkumpul. Xiao Long duduk di kursi utama, didampingi Xiao Ling, Long Fang, serta beberapa tetua inti Klan Xiao dan Klan Long. Di sisi lain ruangan tampak pula rombongan Kerajaan Shui yang masih belum kembali ke ibu kota, yaitu Putri Shui Xian, Pangeran Shui Wen, dan Lu Tang.Pembicaraan mereka sejak tadi hanya berputar pada satu hal—peristiwa semalam.Long Fang menjadi orang pertama yang memberikan laporan. Dengan nada tenang ia berkata bahwa seluruh urusan Klan Xie dan Klan Su telah diselesaikan."Xie Kang dan Su Jing sudah dieksekusi sesuai keputusan ayah. Adapun anggota keluarga mereka yang tersisa telah diusir keluar dari Kota Shui. Mulai hari ini, nama Klan Xie dan Klan Su resmi lenyap dari kota ini."Semua orang menganggukkan kepala.Xiao Ling kemudian melanjutkan penjelasan tersebut."Namun ada sedik
Bab 23. Duel dan Harga Sebuah Permintaan maaf.Xiao Long menatap Tian Fan dalam diam sambil memegang kedua lengan cucunya itu erat.Sorot mata lelaki tua tersebut perlahan berubah.Ada keterkejutan yang samar terlihat di wajahnya. Bagaimana tidak? Ia bisa merasakan jika otot di lengan Tian Fan teras
Bab 22. Batu, Gunting, dan Kerajaan.Tian Fan segera memasuki kediaman keluarga Xiao.Begitu melewati gerbang utama, aroma khas ramuan obat langsung menyambut penciumannya. Halaman luas keluarga Xiao masih sama seperti di ingatan masa kecilnya. Rak-rak pengering ramuan berjajar rapi di beberapa sud
Bab 20. Wanita dan perhitungannya.Dua hari berlalu.Pintu ruangan pembuatan ramuan milik Klan Long perlahan terbuka. Tian Fan melangkah keluar sambil menghembuskan napas panjang.Raut wajahnya terlihat cerah dan sumringah yang menandakan proses pemurnian pilnya berjalan sukses.Long Fang dan Xiao
Bab 19. Xie Wang dan Su Yi.Paman, dari sini biar aku yang mengambil alih!” ujarnya pada Long Zhi dengan santai sambil menghampiri Tetua Su Wen dan yang lainnya.Long Zhi tak berkata apa apa, ia hanya menatap Tian Fan dengan keheranan. Bagaimana tidak? Sikapnya saat ini benar benar berbeda dengan s







