Share

Bab 66. Pergi.

Author: Zayn Z
last update publish date: 2026-06-28 22:32:18

Bab 66. Pergi.

Pagi yang tenang akhirnya menyelimuti Kota Shui setelah malam penuh pertumpahan darah itu berlalu.

Di ruang utama Kediaman Klan Xiao, para petinggi kedua klan telah berkumpul. Xiao Long duduk di kursi utama, didampingi Xiao Ling, Long Fang, serta beberapa tetua inti Klan Xiao dan Klan Long. Di sisi lain ruangan tampak pula rombongan Kerajaan Shui yang masih belum kembali ke ibu kota, yaitu Putri Shui Xian, Pangeran Shui Wen, dan Lu Tang.

Pembicaraan mereka sejak tadi hanya berput
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 68. Mulai Membuka Mulut.

    Bab 68. Mulai Membuka Mulut.Mu Rong berjalan paling depan memimpin jalan. Langkahnya ringan namun pasti, membawa Tian Fan dan Shin memasuki hutan yang semakin lebat. Semakin jauh mereka masuk, semakin sunyi suasana di sekitar. Cahaya matahari pagi hanya mampu menembus sela-sela dedaunan, membentuk garis-garis cahaya yang jatuh di atas tanah.Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah tanah lapang yang tersembunyi di tengah hutan. Begitu memasuki area itu, tatapan Tian Fan langsung tertuju pada dua sosok yang berada di bawah sebuah pohon besar.Xie Wang tergantung dengan kondisi yang mengenaskan. Kedua tangan dan kakinya yang telah remuk sebelumnya diikat menjadi satu menggunakan tali baja, lalu seluruh tubuhnya digantung beberapa jengkal dari tanah. Setiap kali tubuhnya bergoyang, luka-luka di tangan dan kakinya akan bergesekan dengan tali hingga membuat wajahnya terus dipenuhi keringat dingin.Tidak jauh darinya, Xie Ba berada dalam kondisi yang bahkan tidak kalah menyedihkan.Ia dipa

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 67. Dalang penculikan.

    Bab 67. Dalang penculikan.Setelah berpisah dengan Tang San di perbatasan menuju Lembah Kematian, Tian Fan dan Shin melanjutkan perjalanan berdua. Tampak sosok berjubah hitam yang dijuluki Pembunuh Bulan itu hanya menganggukkan kepala sebagai salam perpisahan sebelum tubuhnya menghilang di antara pepohonan lebat, seolah ditelan kabut pagi.Kini tujuan Tian Fan berikutnya adalah Kota Du, kota terbesar sebelum memasuki Ibukota Kerajaan Shui.Sepanjang perjalanan, keduanya berjalan santai melewati jalan pegunungan yang mulai ramai oleh para pedagang dan para cultivator pengembara.Beberapa saat kemudian, Tian Fan melirik Shin yang sejak tadi tampak tenang berjalan di sampingnya."Aku baru sadar, kau ternyata semakin pandai menghamburkan harta orang lain."Shin menoleh dengan wajah bingung."Maksud Pemimpin?"Tian Fan tersenyum tipis. "Masih pura-pura tidak tahu? Kau meninggalkan terlalu banyak hadiah untuk Klan Xiao."Shin baru menyadari apa yang dimaksud, lalu tersenyum kecil."Jadi Pe

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 66. Pergi.

    Bab 66. Pergi.Pagi yang tenang akhirnya menyelimuti Kota Shui setelah malam penuh pertumpahan darah itu berlalu.Di ruang utama Kediaman Klan Xiao, para petinggi kedua klan telah berkumpul. Xiao Long duduk di kursi utama, didampingi Xiao Ling, Long Fang, serta beberapa tetua inti Klan Xiao dan Klan Long. Di sisi lain ruangan tampak pula rombongan Kerajaan Shui yang masih belum kembali ke ibu kota, yaitu Putri Shui Xian, Pangeran Shui Wen, dan Lu Tang.Pembicaraan mereka sejak tadi hanya berputar pada satu hal—peristiwa semalam.Long Fang menjadi orang pertama yang memberikan laporan. Dengan nada tenang ia berkata bahwa seluruh urusan Klan Xie dan Klan Su telah diselesaikan."Xie Kang dan Su Jing sudah dieksekusi sesuai keputusan ayah. Adapun anggota keluarga mereka yang tersisa telah diusir keluar dari Kota Shui. Mulai hari ini, nama Klan Xie dan Klan Su resmi lenyap dari kota ini."Semua orang menganggukkan kepala.Xiao Ling kemudian melanjutkan penjelasan tersebut."Namun ada sedik

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 65. Akhirnya Diketahui.

    Bab 65. Akhirnya Diketahui.Tian Fan, Tang San, dan Shin berjalan berdampingan menuju aula utama Kediaman Klan Xiao. Di belakang mereka, Shui Xian sempat hendak mengikuti. Namun baru beberapa langkah berjalan, Shui Wen segera menahan lengan adiknya."Dari raut wajah mereka saja sudah terlihat kalau mereka akan membicarakan urusan penting. Kita sebaiknya tidak ikut," ucap Shui Wen pelan.Shui Xian sedikit mengerucutkan bibirnya. "Kenapa? Bukankah aku juga bisa mendengarkan?"Shui Wen hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Karena ada beberapa pembicaraan yang lebih nyaman dilakukan di antara mereka sendiri."Sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Sebelumnya Lu Tang telah diam-diam memperingatkannya."Kedua pria berjubah hitam itu bukan kultivator biasa. Bahkan sampai sekarang aku sama sekali tidak bisa melihat ranah mereka. Sebaiknya jangan mengganggu pembicaraan mereka."Mengingat perkataan itu, Shui Wen akhirnya memilih menarik adiknya kembali.Shui Xian sempat menoleh ke arah Tia

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 64. Tidak menoleh lagi

    Bab 64. Tidak menoleh lagiSuasana di depan Kediaman Klan Xiao masih dipenuhi keheningan setelah pernyataan Shui Xian yang mengejutkan semua orang. Tak seorang pun menyangka gadis bercadar yang masih misterius identitasnya itu itu akan mengumumkan di hadapan seluruh Kota Shui bahwa Tian Fan adalah tunangannya.Xiao Ling akhirnya melangkah mendekat. Ia menatap Tian Fan dengan senyum bangga sebelum berkata dengan lembut."Fan'er, urusan di sini biarkan Kakekmu dan para tetua yang menyelesaikannya. Kau sudah melakukan lebih dari cukup malam ini."Tian Fan menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara. "Baik, Bibi."Setelah itu ia berbalik memasuki Kediaman Klan Xiao. Di sampingnya, Shui Xian masih saja merangkul lengannya seolah tidak memiliki niat sedikitpun untuk melepaskannya. Tang San dan Shin berjalan santai mengikuti dari belakang, sementara Shui Wen dan Lu Tang ikut masuk bersama rombongan.Di belakang mereka, Su Yi hanya mampu berdiri terpaku.Tatapannya terus mengikuti punggung

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 63. Penyesalan yang Terlambat

    Bab 63. Penyesalan yang TerlambatSuasana masih dipenuhi keheningan setelah hukuman yang diterima Xie Kang dan Xie Wang. Jeritan mereka yang menggema beberapa saat lalu masih terngiang di telinga semua orang. Di atas gerbang, Tang San tetap duduk santai tanpa sedikit pun menunjukkan emosi. Namun kali ini tekanan auranya perlahan bergeser dan mengarah kepada Su Jing.Seketika wajah Patriark Klan Su memucat. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Ia buru-buru melangkah maju sambil menangkupkan kedua tangan."Senior, mohon tunggu. Aku tidak ikut menawar ataupun menghina Senior. Semua perkataan tadi adalah keputusan Xie Kang dan putranya. Aku sama sekali tidak terlibat dalam urusan itu."Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa, seolah takut terlambat menjelaskan. Melihat ayahnya berada dalam situasi berbahaya, Su Yi akhirnya memberanikan diri melangkah keluar dari kerumunan. Wajahnya dipenuhi kecemasan saat menatap Tian Fan."Tian Fan... aku tahu Ayah telah melakukan banyak kesalahan. K

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 05. Dimulai.

    Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

    Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 03. Tamu?

    Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.

    Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status