MasukMia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan.
Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia melirik nama yang tertera di layar. Ibu. Dengan lemah ia raih ponselnya lalu mengangkat panggilan. “Iya Ibu, aku akan kembali—” “Maaf, saya ingin memberitahukan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan tunggal.” Deg! *** Satu tahun kemudian… Mia Ruby, gadis itu berdiri didepan sebuah rumah dan toko bunga pinggir jalan. Kedua tangannya menggenggam erat beberapa paper bag berisi barang-barang bermerek miliknya—yang sebentar lagi akan dijual. Ya, karena Mia tidak bekerja dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang ini, ia tak punya pilihan lain selain menjual beberapa aset dan barang-barang mewah miliknya, memang tidak seberapa tapi itu semua sedikit cukup untuk membayar setiap minggunya perawatan sang ibu yang entah sampai kapan akan terus tertidur dan tak ada kepastian untuk kembali membuka matanya. Mia tidak pernah menyangka bahwa kecelakaan yang menimpa ibunya satu tahun yang lalu, akan mengakibatkan ibunya itu koma hingga sekarang. Dan Mia paling menyesali momen terakhir kebersamaan mereka yang dipenuhi amarah hari itu, hanya karena seorang Killian. Yang membuatnya bisa sampai di titik ini, dimana masa-masa kesulitan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya terjadi, setelah pertengkarannya dengan Killian. Dan sekarang kondisinya benar-benar menyedihkan. Harta yang perlahan habis, ibu yang terbaring di rumah sakit, pendidikannya yang terhenti ditengah jalan, dan ayah yang memilih kembali untuk tinggal bersama ibu dari Nancy. Mengingat semua itu membuat Mia memejamkan kedua matanya sejenak, seolah tengah mengusir jauh-jauh ingatan-ingatan menyakitkan itu. Kedua tangannya menggenggam erat tali paper bag yang dijinjingnya. "Ibu, maaf," gumamnya. Mia sempat pernah menemui ayahnya untuk meminta belas kasihannya karena ia yang cukup frustasi memikirkan kondisi ibunya. Namun apa yang ia dapat? Ayahnya secara terang-terangan mengusirnya tanpa memberi apa pun, dan lebih menyakitkannya lagi ibu dan adik tirinya melihat dan memberinya senyuman mengejek. Bukan hanya senyum mengejek nasib malang Mia, tapi juga senyum kepuasan karena dua wanita itu berhasil mengambil alih satu-satunya usaha milik ibunya. Ya, butik milik Miranda sudah menjadi milik istri baru ayahnya itu. Dan tentu saja ayahnya sendiri yang melakukan semua itu. Mia menghela napasnya, ia sedikit tersenyum tipis guna menyembunyikan kondisinya yang menyedihkan. Ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan orang yang menjadi pembeli barang-barangnya. Tangannya terangkat untuk menekan bel rumah, menunggu beberapa saat sampai akhirnya pintu terbuka. Baru saja hendak berucap untuk menyapa, tiba-tiba saja Mia terdiam kaku, senyumannya lenyap begitu saja saat mendapati sosok pria yang tak asing dalam hidupnya muncul dibalik pintu. Killian Ludovic. Pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta sekaligus terluka, pria yang cukup memiliki andil paling besar dalam membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sudah satu tahun berlalu sejak Killian mecampakkan dirinya waktu itu, sekarang takdir mempertemukannya kembali. Dan yang membuatnya kembali merasa sesak adalah, menyadari jika Killian tampak baik-baik saja tanpa dirinya sampai detik ini. Tidak seperti dirinya yang setiap saatnya merasa sakit mengingat semua luka dan deritanya setelah dibuang begitu saja olehnya satu tahun yang lalu, tanpa alasan yang jelas. Lihat saja penampilannya sekarang ini, dia hanya mengenakan celana hitam panjang tanpa atasan, yang memperlihatkan tato-tato di beberapa bagian tubuhnya, terutama tato bergambar bibir seorang wanita berwarna merah tepat di dada kirinya. Itu ... miliknya, gambar bibir merah itu miliknya. Seketika Mia tertegun, ingatannya kembali ke masa lalu. Di mana saat itu ia yang sering cemburu pada Killian karena banyak disukai dan didekati wanita lain. Dan untuk menghiburnya, Killian membuat tato yang dijiplak langsung dari bibir miliknya. Mia memejamkan matanya sejenak, menghalau pikirannya tentang itu. Namun ia tak langsung mengalihkan pandangan, tapi justru semakin memindai penampilan Killian dari kepala sampai kaki. Rambutnya berantakan, aroma alkohol menguar menusuk penciumannya, dan Mia bisa tahu pasti jika pria ini baru saja bangun dari tidurnya. Lalu kedua matanya tak sengaja menatap beberapa tanda merah di bagian leher dan dada bidangnya. Dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri kala menyadari tanda apa itu, ia bukan gadis polos yang belum mengerti apa-apa tentang hal yang berbau dewasa. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tepat dari arah belakang Killian. "Killian! Pakai baju—""Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, Mia." Julia yang tengah melihat dan memeriksa beberapa tas itu menatap lekat pada Mia, ada senyum tipis penuh makna saat megatakannya. Mia mendongak sembari mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum. "Banyak orang yang datang dihidupku lalu pergi begitu saja." Kedua matanya melirik sekilas pada Killian, lalu kembali berucap, "Jadi maaf, aku tidak terlalu mengingatmu. Mungkin kau mengingatku, tapi aku tidak." Killian yang mendengarkan dari kejauhan tersenyum geli lalu berguman, “pembohong.""Oh ... begitu, ya." Julia berusaha tersenyum meski hatinya tak puas dengan jawaban dan sikap Mia yang tenang, tapi ia tak berhenti mencari celah untuk mengusik perasaan wanita itu. "Mungkin juga aku salah orang, kau mirip dengan seseorang yang pernah datang ke toko ku bersama seorang pria dua tahun yang lalu."Mia melunturkan senyumannya, dalam hati ia mengumpati gadis dihadapannya. Dilihat dari tampilan luarnya memang terlihat polos dan seperti gadis bai
Mia tersentak, ia menoleh cepat dan membuat kedua hidung mancung mereka bersentuhan. Napas keduanya beradu, Mia bisa mencium aroma mint segar dari napas Killian. Sepertinya pria itu baru saja membersihkan diri bersama Julia tadi. Dan entah kenapa perasaan tidak nyaman itu hadir, dia tidak suka, dia marah membayangkan apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar mandi. Kedua mata Mia yang basah menatap tajam Killian, dadanya naik turun karena napasnya yang tak beraturan menahan amarah. "Kurang ajar," ucapnya penuh penekanan.Killian menaikkan sebelah alisnya—yang dimana itu bagi Mia seperti ekspresi wajah yang menantang dirinya. Killian seperti meremehkan kemarahannya. "Aku? Kurang ajar?""Ya! Dan bukan itu saja, kau pria menjijikan dan tidak bermoral!"Mimik wajah Killian perlahan berubah datar, kedua matanya berkilat tajam. "Menjijikan katamu? Baiklah, jika aku menjijikan maka kau lebih menjijikan dariku. Tahu kenapa?" Mia hanya diam dan tetap mempertahankan ekspresi wajah angkuhny
Mia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian. Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia. Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya. Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya. Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur. "Kau pasti Mia?" Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda
Mia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan. Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia meliri
"Mia! Kau mau ke mana Sayang?!" Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu. Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia. "Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya. Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang." "Aku tidak peduli!" sentak Mia. "Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya. "Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!" Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang." "Aku tidak masalah
Damon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak. "Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. "Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—" "Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan." "Damon!" pekik Miranda. Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!" "Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar. Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang. Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu. "Kau har







