分享

Bab 6

作者: Cheryl Cherie
last update publish date: 2026-07-15 22:44:44

Mia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian.

Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia.

Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya.

Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya.

Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur.

"Kau pasti Mia?"

Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda itu, ia mengangguk pelan. "Iya, aku sudah membawa beberapa barang yang kau inginkan," ucapnya sembari mengangkat beberapa paper bag ditangannya.

"Aku Julia," ucap wanita muda itu lagi, tangannya berusaha menutupi area lehernya yang terdapat tanda merah dengan rambutnya. "Boleh aku melihat dulu barangnya?" tanyanya.

"Tentu."

"Kalau begitu, ayo masuk."

Mia hanya mengangguk dan mengikuti kedua pasangan itu, sembari berusaha mengalihkan pandangannya.

"Maaf, tapi aku perlu membersihkan diri dulu, kau tidak keberatan menunggu?" Julia berbalik menatap Mia.

"Tidak masalah."

"Kalau begitu kau bisa duduk di sofa sana, anggap saja rumah sendiri."

Mia melirik sekilas sofa putih di ruang tengah, lalu kembali menatap Julia yang tersenyum hangat padanya. "Terima kasih," ujar Mia seraya tersenyum samar.

Julia melirik Killian di sampingnya yang sedari tadi terus memperhatikan Mia, tatapannya datar tanpa emosi dan sulit mengartikannya. Dan jelas ia tidak menyukainya.

"Ayo," ajaknya.

Killian menoleh dan menaikkan alisnya sebelah, seolah bertanya 'ke mana?'.

"Kau juga harus membersihkan dirimu." Julia menarik lagi Killian menuju kamarnya, dan pria itu hanya menurut.

Sedangkan Mia yang sedari tadi menunduk karena enggan melihat kemesraan keduanya, terutama tatapan Killian yang membuatnya tak nyaman, perlahan berjalan pelan menuju sofa. Ia meletakkan barang-barang bawaannya di meja, lalu setelahnya berjalan menuju jendela. Menatap ke arah taman di depan sana, dimana orang-orang berkeliaran dan anak-anak yang berlarian ke sana ke mari di taman itu.

Melihat anak-anak itu membuat Mia merasa ingin kembali menjadi seusia mereka lagi, dimana yang ia pikirkan hanya makan, main, sekolah dan tidur siang setelahnya. Dimana di masa itu ia tidak akan memikirkan beban hidup seperti sekarang ini. Keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang sering bertengkar, dan sekarang kondisi keuangan yang menurun drastis—sedangkan ia tidak bekerja sama sekali.

Di tengah-tengah lamunannya itu, tiba-tiba sepasang tangan kekar yang berhias tato mengunci pergerakannya. Tubuh Mia terdorong ke depan dan setengah tubuhnya menekan meja kayu di depannya, ia menatap ke bawah dimana kedua tangan kekar itu bertumpu di meja.

Mia menelan ludahnya, dadanya berdegup cepat. Hanya melihat bentuk tangan dan tato itu saja ia sudah bisa menebak siapa si pemilik lengan itu, belum sempat ia berucap dan menoleh kebelakang, suara berat seseorang menyapa telinga sebelah kirinya.

"Jatuh miskin ya." Killian, pria itu menyeringai menatap ekspresi wajah tegang Mia dari samping. "Setelah dibuang olehku dulu, apa sekarang kau juga dibuang oleh ayahmu sendiri?"

Dalam sekejap Mia merasa seperti kehilangan kendali atas raganya, tubuhnya melemas begitu saja dan hampir luruh ke lantai. Dan entah keberuntungan atau kesialan karena Killian dengan cekatan menahan tubuhnya, pria itu memeluk pinggang rampingnya.

Perkataan menyakitkan Killian benar-benar membuatnya kehilangan rasa percaya diri, dia terang-terangan menghina dan menertawakan nasibnya yang semakin menyedihkan sekarang.

"Tubuhmu jadi sedikit kurus ...," ucap Killian lagi, ia meraba pergelangan tangan Mia yang terlihat kecil dan sedikit menonjolkan tulangnya. "Kau kelaparan?" tanya Killian diiringi seringaiannya.

Baiklah, sekarang Mia merasa kesulitan menghirup oksigen. Lehernya seperti tercekik sesuatu, dan itu adalah kalimat hinaan Killian.

Sekuat tenaga Mia mencoba mengembalikan kendali atas dirinya sendiri. Kedua tangannya mengepal kuat, tatapannya berubah tajam, ia menegakkan kembali tubuhnya.

"Lepas!" pinta Mia menatap pada kedua lengan kekar milik Killian yang masih memeluknya.

Killian tersenyum, senyum yang tak bisa diartikan maksudnya. "Ingin dilepas? Boleh saja, dengan syarat memohon dengan sungguh-sungguh dulu ... seperti waktu itu." Dan bukannya melepaskan, Killian justru semakin erat memeluk Mia. Wajahnya kian dekat dengan sisi kiri wajah Mia, membuat wanita itu memalingkan wajahnya.

"Killian, aku tidak ingin wanitamu salah paham karena melihat kita seperti ini."

"Hm? Seperti apa?"

Mia geram sendiri mendengar Killian yang terlalu tenang, berbanding terbalik dengan dirinya yang merasa gelisah sendiri.

"Killian—"

"Kau tahu sendiri aku tidak akan berhenti berbuat sesuatu sebelum mendapat yang aku inginkan," ujar Killian.

Mia membuang napasnya kasar, ia paham maksud Killian sekarang. Pria itu menginginkan jawaban yang sudah dia ketahui pasti sendiri, tapi tetap ingin mendengar langsung darinya karena itu sangat membuatnya mendapat kepuasan hati dalam menghinanya.

Namun Mia yang memiliki ego yang cukup tinggi enggan menjawab, ia memilih berusaha melepas sendiri lilitan lengan kekar itu dari tubuhnya. Namun nihil, tenaganya yang tak seberapa dibanding Killian membuatnya lelah dan kesal sendiri karena tidak mendapat hasil apa pun.

"Berhenti memberontak dan turunkan egomu itu. Karena kau tahu sendiri Mia, dalam hal apa pun kau akan tetap kalah jika dihadapkan denganku. Kau tidak lupa dengan kejadian satu tahun yang lalu, bukan?"

Mia terdiam, ia jelas ingat hal itu. Mustahil ia lupakan begitu saja.

"Mau aku ingatkan kembali?"

Mia masih diam, ia menatap kosong ke depan. Dan Killian yang menyadarinya merasa senang, ia seperti meraih banyak kemenangan dalam permainannya.

"Waktu itu kau memohon—"

"Berhenti!" Mia yang kembali tersadar dengan cepat memotong kalimat Killian, dan tanpa sadar ia mencengkeram kuat tangan Killian hingga kuku-kuku panjangnya menancap dan menimbulkan luka.

Killian hanya menata datar kedua lengannya yang mulai mengeluarkan darah, ia tidak meringis sedikit pun. Lalu tatapannya kembali pada wajah cantik Mia, dalam hati ia menghitung mundur.

"Tiga ... dua ... satu."

Lagi-lagi Killian tersenyum penuh kepuasan ketika melihat air mata Mia mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya, dan ia juga bisa merasakan cengkeraman wanita itu di lengannya semakin terasa menusuk.

Perlahan Killian semakain mendekatkan diri, bibirnya mengarah pada sebelah pipi Mia, lalu lidahnya terjulur dan menjilat buliran air mata itu.

Mia tersentak, ia menoleh cepat dan membuat kedua hidung mancung mereka bersentuhan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 8

    "Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, Mia." Julia yang tengah melihat dan memeriksa beberapa tas itu menatap lekat pada Mia, ada senyum tipis penuh makna saat megatakannya. Mia mendongak sembari mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum. "Banyak orang yang datang dihidupku lalu pergi begitu saja." Kedua matanya melirik sekilas pada Killian, lalu kembali berucap, "Jadi maaf, aku tidak terlalu mengingatmu. Mungkin kau mengingatku, tapi aku tidak." Killian yang mendengarkan dari kejauhan tersenyum geli lalu berguman, “pembohong.""Oh ... begitu, ya." Julia berusaha tersenyum meski hatinya tak puas dengan jawaban dan sikap Mia yang tenang, tapi ia tak berhenti mencari celah untuk mengusik perasaan wanita itu. "Mungkin juga aku salah orang, kau mirip dengan seseorang yang pernah datang ke toko ku bersama seorang pria dua tahun yang lalu."Mia melunturkan senyumannya, dalam hati ia mengumpati gadis dihadapannya. Dilihat dari tampilan luarnya memang terlihat polos dan seperti gadis bai

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 7

    Mia tersentak, ia menoleh cepat dan membuat kedua hidung mancung mereka bersentuhan. Napas keduanya beradu, Mia bisa mencium aroma mint segar dari napas Killian. Sepertinya pria itu baru saja membersihkan diri bersama Julia tadi. Dan entah kenapa perasaan tidak nyaman itu hadir, dia tidak suka, dia marah membayangkan apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar mandi. Kedua mata Mia yang basah menatap tajam Killian, dadanya naik turun karena napasnya yang tak beraturan menahan amarah. "Kurang ajar," ucapnya penuh penekanan.Killian menaikkan sebelah alisnya—yang dimana itu bagi Mia seperti ekspresi wajah yang menantang dirinya. Killian seperti meremehkan kemarahannya. "Aku? Kurang ajar?""Ya! Dan bukan itu saja, kau pria menjijikan dan tidak bermoral!"Mimik wajah Killian perlahan berubah datar, kedua matanya berkilat tajam. "Menjijikan katamu? Baiklah, jika aku menjijikan maka kau lebih menjijikan dariku. Tahu kenapa?" Mia hanya diam dan tetap mempertahankan ekspresi wajah angkuhny

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 6

    Mia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian. Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia. Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya. Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya. Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur. "Kau pasti Mia?" Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 5

    Mia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan. Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia meliri

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 4

    "Mia! Kau mau ke mana Sayang?!" Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu. Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia. "Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya. Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang." "Aku tidak peduli!" sentak Mia. "Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya. "Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!" Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang." "Aku tidak masalah

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 3

    Damon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak. "Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. "Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—" "Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan." "Damon!" pekik Miranda. Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!" "Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar. Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang. Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu. "Kau har

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status