Share

Bab 4

Penulis: Cheryl Cherie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 21:02:36

"Mia! Kau mau ke mana Sayang?!"

Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu.

Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia.

"Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya.

Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang."

"Aku tidak peduli!" sentak Mia.

"Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya.

"Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!"

Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang."

"Aku tidak masalah dengan itu selama Killian bersamaku."

"Astaga ... Mia, kenapa kau ...." Miranda menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mia menoleh ke seberang, dan melihat Killian yang sudah masuk ke dalam mobil dan melaju pergi. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali berlari namun kembali ditahan sang ibu.

"Tidak, kau tidak boleh pergi!" ucap Miranda tegas.

Mia tak menghiraukan dan malah mendorong kasar ibunya itu hingga tersungkur, kemudian berlari menyeberang jalan.

Mia menengok ke sekelilingnya mencari cara untuk menyusul pria itu. Hingga saat sebuah mobil taksi tampak melaju ke arahnya, segera saja ia hadang.

"Astaga, Mia!" Miranda menutup mulut saat melihat aksi berbahaya putrinya yang tiba-tiba menghadang sebuah mobil taksi.

Mia membuka pintu kemudi, lali menarik kasar sopir didalamnya.

"Nona—"

"Keluar!"

Sopir taksi itu jatuh tersungkur ke jalanan setelah Mia menyeretnya ke luar.

"Mia berhenti!"

Terlambat, putrinya sudah masuk dan melajukan mobil taksi itu dengan cepat mengejar Killian.

"Astaga ...," gumam Miranda. Tak mau membuang waktu, segera ia berbalik menuju mobilnya untuk menyusul putrinya itu.

***

Mia berhasil menghadang mobil Killian setelah cukup lama mengejarnya, ia keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat menghampiri Killian yang sudah keluar dari dalam mobilnya.

Mereka kini berada di sebuah jalanan yang cukup sepi, hanya ada mereka berdua di sana.

"Kau!" Mia mencengkeram kerah jaket Killian, kedua matanya memerah dan berlinang. "Kau keterlaluan! Kenapa? Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku, hah? Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan itu? Kau menyakitiku! Kau menghancurkanku!"

Mia terus menghujani Killian dengan pertanyaan, emosinya meluap seketika, gadis itu menangis dan berteriak tepat di depan wajah Killian.

Sedangkan Killian tampak tenang, ia tak terganggu atau merasa iba pada kekasihnya yang sedang kacau itu.

"Kau mempertanyakan hal yang sudah jelas kau tahu alasannya," ujar Killian akhirnya.

Mia terdiam, isakannya terhenti.

"Kau masih menganggap semua tuduhanmu itu benar? Kau benar-benar menganggapku berkhianat?"

Killian hanya diam dan melepas paksa kedua tangan Mia dari kerah jaketnya, lalu mendorongnya kasar untuk menjauh.

"Lian, aku bisa jelaskan. Semua itu tidak benar, tuduhanmu padaku—"

"Cukup! Aku tidak perlu penjelasan apa pun darimu." Killian menyela, kedua matanya berkilat tajam. "Aku bukan orang bodoh, Mia. Semua yang aku simpulkan selalu tepat dan benar. Jadi ... semua omong kosong yang ingin kau katakan padaku itu tidak akan mengubah pemikiranku terhadapmu."

"Tapi Lian, kau harus mendengarkanku dulu ...." Mia masih terus berusaha, ia harus memperbaiki semua kesalahpahaman ini.

Killian mendengus kasar, tangannya dengan cepat mencekik Mia hingga membuat gadis itu terkejut dan kesakitan.

"Ekh!" pekik Mia saat lehernya dicekik.

"Kenapa aku harus mendengarmu?"

Mia jelas tidak bisa menjawab karena dirinya tengah berusaha melepas tangan kekar Killian di lehernya. Ia mulai kesulitan bernapas, air matanya semakin deras karena rasa sakit akibat cekikan Killian.

"Kil ... li ... an—akh!"

Melihat wajah Mia yang mulai memucat, tanpa belas kasihan—Killian mendorong kekasihnya itu hingga tersungkur ke jalanan.

Mia memegangi lehernya yang terasa sakit, dengan rakus ia menghirup udara.

Sedangkan Killian yang melihat itu tak peduli, ia berbalik hendak masuk kembali ke dalam mobil—namun kakinya tertahan sesuatu. Ia menoleh dan mendapati Mia yang kini sudah merangkak dan memeluk kakinya.

Benar-benar terlihat menyedihkan.

Dengan wajah basah oleh air mata, Mia terus memohon pada Killian untuk tetap bersamanya dan mendengarkan semua penjelasannya.

"Lian aku mohon, tolong jangan pergi ... jangan tinggalkan aku," mohon Mia. "Dengarkan dulu penjelasanku."

"Kau memang keras kepala," desis Killian.

"Baiklah jika kau bersikeras dan yakin dengan pemikiranmu tentang aku yang berkhianat padamu," ujar Mia akhirnya, ia benar-benar lelah jika terus-terusan berusaha membuat Killian mau mendengar penjelasan dan pembelaannya.

Tidak ada pilihan lain selain membiarkan Killian merasa menang dengan membenarkan segala tuduhan tidak benar itu tentangnya.

Karena itu, Mia harus mengalah.

"Iya, aku selingkuh." Mia menelan ludahnya, tenggorokannya terasa sakit saat mengucapkan sebuah pengakuan atas kesalahan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan. "Maaf ... karena sudah megkhianatimu."

"Tapi ... aku mohon jangan tinggalkan aku, tetap bersamaku ... ya?" pintanya. "Kita bisa memulai kembali semuanya, aku berjanji tidak akan ... mengkhianatimu lagi." Meski merasa sakit sendiri saat mengucapkan semua itu, Mia berusaha tersenyum sebaik mungkin untuk Killian.

Senyum penuh ketulusan untuk permohonannya yang tidak mau ditinggalkan, dan senyum penuh kepalsuan untuk memulai kembali hubungan mereka.

Karena memang seharusnya tidak ada 'pengulangan' dalam hubungan mereka yang tidak pernah ia kotori dengan perbuatan menjijikan itu.

Killian terdiam. Ia tatap lama kekasihnya yang tampak sangat menyedihkan—sebelum akhirnya ia tendang tubuh rapuh itu hingga terlepas dari kakinya.

Pelan ia melangkah mendekati Mia yang tersungkur kembali, kali ini lebih parah dari sebelumnya. Keningnya yang menghantam aspal jalanan itu mengeluarkan darah segar, membuatnya meringis kesakitan.

Killian berjongkok dan menjambak rambut Mia hingga membuat gadis itu mendongak menatap Killian.

"Akh!" pekik Mia. Air matanya kembali mengalir deras, rasa sakitnya bukan lagi di kepala, kening, atau bagian tubuhnya yang lain. Tapi juga di hati. Hatinya benar-benar terasa remuk dengan perubahan drastis pria yang dicintainya.

Kasar dan tidak berperasaan.

Meski begitu, Mia tetap memohon. "Aku mohon, jangan tinggalkan aku...."

"Diam jalang! Aku muak mendegar ocehanmu!"

Hening.

Air mata penuh kesakitan itu terhenti.

Mia terdiam kaku, ia menatap tak percaya pada pria yang dicintainya. "Lian ...," kata Mia gemetar, "kau ... kau mengataiku? Apa kau sadar?"

"Sangat sadar, kenapa? Kau tersinggung?" Killian tersenyum miring, ia semakin mendekatkan wajahnya.

"Kau memang ... jalang."

Killian tersenyum puas setelah mengucapkan kata-kata penuh hinaan itu pada kekasihnya sendiri. "Jadi, Mia Ruby ... selamat tinggal."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 8

    "Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, Mia." Julia yang tengah melihat dan memeriksa beberapa tas itu menatap lekat pada Mia, ada senyum tipis penuh makna saat megatakannya. Mia mendongak sembari mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum. "Banyak orang yang datang dihidupku lalu pergi begitu saja." Kedua matanya melirik sekilas pada Killian, lalu kembali berucap, "Jadi maaf, aku tidak terlalu mengingatmu. Mungkin kau mengingatku, tapi aku tidak." Killian yang mendengarkan dari kejauhan tersenyum geli lalu berguman, “pembohong.""Oh ... begitu, ya." Julia berusaha tersenyum meski hatinya tak puas dengan jawaban dan sikap Mia yang tenang, tapi ia tak berhenti mencari celah untuk mengusik perasaan wanita itu. "Mungkin juga aku salah orang, kau mirip dengan seseorang yang pernah datang ke toko ku bersama seorang pria dua tahun yang lalu."Mia melunturkan senyumannya, dalam hati ia mengumpati gadis dihadapannya. Dilihat dari tampilan luarnya memang terlihat polos dan seperti gadis bai

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 7

    Mia tersentak, ia menoleh cepat dan membuat kedua hidung mancung mereka bersentuhan. Napas keduanya beradu, Mia bisa mencium aroma mint segar dari napas Killian. Sepertinya pria itu baru saja membersihkan diri bersama Julia tadi. Dan entah kenapa perasaan tidak nyaman itu hadir, dia tidak suka, dia marah membayangkan apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar mandi. Kedua mata Mia yang basah menatap tajam Killian, dadanya naik turun karena napasnya yang tak beraturan menahan amarah. "Kurang ajar," ucapnya penuh penekanan.Killian menaikkan sebelah alisnya—yang dimana itu bagi Mia seperti ekspresi wajah yang menantang dirinya. Killian seperti meremehkan kemarahannya. "Aku? Kurang ajar?""Ya! Dan bukan itu saja, kau pria menjijikan dan tidak bermoral!"Mimik wajah Killian perlahan berubah datar, kedua matanya berkilat tajam. "Menjijikan katamu? Baiklah, jika aku menjijikan maka kau lebih menjijikan dariku. Tahu kenapa?" Mia hanya diam dan tetap mempertahankan ekspresi wajah angkuhny

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 6

    Mia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian. Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia. Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya. Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya. Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur. "Kau pasti Mia?" Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 5

    Mia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan. Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia meliri

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 4

    "Mia! Kau mau ke mana Sayang?!" Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu. Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia. "Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya. Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang." "Aku tidak peduli!" sentak Mia. "Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya. "Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!" Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang." "Aku tidak masalah

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 3

    Damon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak. "Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. "Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—" "Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan." "Damon!" pekik Miranda. Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!" "Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar. Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang. Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu. "Kau har

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status