مشاركة

BAB 6

مؤلف: MasYB
last update تاريخ النشر: 2026-06-14 20:00:09

Suasana di dalam kamar rawat VIP Rumah Sakit Pusat Jiangnan mendadak hening senyap, seolah waktu telah berhenti berputar. Bunyi teratur dari monitor jantung yang kembali normal menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan tersebut.

Su Zhengqi, seorang triliuner yang biasanya tak pernah goyah oleh badai bisnis apa pun, berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka. Air mata yang sempat mengalir di pipinya belum sempat mengering, namun sepasang matanya menatap tak percaya ke arah putri tunggalnya yang baru saja melewati gerbang kematian.

"Qing... Qingxue?" suara Su Zhengqi tercekat di tenggorokan saat dia melangkah mendekati ranjang.

Su Qingxue berkedip pelan. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih dari dinginnya kegelapan maut, namun hawa hangat yang mengalir di dadanya terasa begitu nyata dan nyaman. Tatapannya tertuju pada sepasang mata di depannya—sepasang mata yang sedalam samudra dan setajam pedang, memancarkan aura yang begitu asing namun sangat dominan.

Namun, sebelum Su Qingxue sempat mencerna siapa sosok di depannya, Chen Fan dengan sangat cepat menarik kembali jarinya dari dada sang CEO. Gerakan tubuhnya kembali melar dan membungkuk, sepasang matanya yang tajam langsung meredup, digantikan oleh ekspresi wajah yang panik, canggung, dan penuh keluguan seorang kuli proyek.

"Ah... Syukurlah! Ramuan desa nenek saya ternyata benar-benar manjur!" seru Chen Fan dengan suara yang sengaja dibuat agak cempreng dan gemetar, seolah-olah dia sendiri terkejut dengan keajaiban yang baru saja terjadi. Dia buru-buru memasukkan kembali botol bambu kosongnya ke dalam tas ransel usangnya.

Melihat transformasi instan itu, Tabib Sun hampir saja mengira matanya sendiri sedang bermasalah. Aura agung bak master abadi yang dipancarkan pemuda itu beberapa detik lalu lenyap tanpa bekas, menyisakan sosok kuli bangunan berpakaian pudar yang tampak ketakutan di sudut ruangan.

"Ini... ini tidak mungkin! Keajaiban macam apa ini?!" Tabib Sun berlari mendekati ranjang, mengabaikan Chen Fan, dan langsung memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Su Qingxue.

Begitu jarinya menyentuh kulit Su Qingxue, mata tua Tabib Sun melebar drastis. Hawa es yang biasanya mengamuk menghancurkan meridian wanita itu kini telah mundur sepenuhnya, bersembunyi di sudut terdalam tubuhnya seolah-olah baru saja dihantam oleh kekuatan tirani yang tak tertandingi. Denyut nadinya mengalir dengan sangat kuat, stabil, dan penuh vitalitas.

"Bagaimana bisa...? Cairan apa yang baru saja kamu berikan, hah?!" Tabib Sun berbalik dan menatap Chen Fan dengan pandangan antara tidak percaya, iri, dan serakah. Dia tahu betul bahwa formula obat yang sanggup membalikkan kondisi Defisiensi Yin Mutlak dalam hitungan detik adalah resep suci yang nilainya tak terukur oleh uang!

Chen Fan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum bodoh, dan menjawab dengan logat desa yang kental. "Itu... itu cuma perasan sari rumput liar yang tumbuh di dekat sumur tua desa saya, Tabib Tua. Nenek saya bilang kalau badan kaku karena kedinginan setelah masuk angin di sawah, minum air itu pasti langsung sembuh. Saya tidak tahu kalau ramuan murah itu bisa dipakai di rumah sakit mewah begini."

"Rumput liar katanya?! Kamu—" Tabib Sun hampir saja menyemburkan darah karena geram mendengar penjelasan yang terkesan meremehkan ilmu medisnya tersebut.

"Cukup, Tabib Sun!"

Su Zhengqi memotong perkataan Tabib Sun dengan tegas. Dia tidak peduli apakah itu ramuan desa atau rumput liar; yang dia tahu pasti adalah pemuda di depannya ini baru saja menyelamatkan nyawa putrinya ketika para profesor medis dan tabib terkenal menyerah.

Su Zhengqi menatap Chen Fan dengan pandangan yang sangat rumit. Keangkuhan seorang triliuner di dalam dirinya perlahan mencair, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam terhadap pemuda misterius ini. "Anak muda... siapa namamu?"

"Nama saya Chen Fan, Ketua Su. Orang-orang di proyek biasanya memanggil saya Xiao Chen," jawab Chen Fan sambil menundukkan kepalanya, menunjukkan kepatuhan seorang buruh kecil.

"Chen Fan... Xiao Chen..." Su Zhengqi mengangguk pelan, mengingat nama itu baik-baik di dalam benaknya. Dia kemudian melirik ke arah Direktur Li yang berdiri gemetaran di dekat pintu. "Li, kamu melakukan pekerjaan dengan baik hari ini karena membawa Xiao Chen kemari. Bonus tahunanmu akan digandakan."

Direktur Li yang tadinya mengira karirnya akan hancur dan panti asuhan akan terseret, langsung bernapas lega hingga hampir jatuh terduduk. "Te-Terima kasih banyak, Ketua Su! Terima kasih!"

"Dan untukmu, Xiao Chen..." Su Zhengqi kembali menatap Chen Fan, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan ukiran emas dari saku jasnya dan menyerahkannya kepada Chen Fan. "Ini kartu nama pribadi saya. Siapa pun yang memegang kartu ini di Kota Jiangnan, berarti dia adalah tamu kehormatan Keluarga Su. Mengenai imbalan karena telah menyelamatkan putriku, katakan saja... berapa puluh juta Yuan yang kamu inginkan?"

Mendengar kata "puluhan juta Yuan", mata Direktur Li dan para dokter di ruangan itu langsung berbinar serakah. Itu adalah jumlah uang yang tidak akan pernah bisa dikumpulkan oleh seorang kuli bangunan bahkan jika dia bekerja selama sepuluh kehidupan!

Namun, di luar dugaan semua orang, Chen Fan justru melambaikan kedua tangannya dengan wajah panik dan menolak kartu tersebut dengan sopan.

"Ah! Tidak, tidak, Ketua Su! Saya tidak berani menerima uang sebanyak itu! Nenek saya selalu berpesan, kalau menolong orang tidak boleh meminta imbalan yang aneh-aneh, nanti ramuannya tidak manjur lagi di masa depan," ucap Chen Fan dengan akting keluguan yang sangat alami. "Lagipula, saya hanya kuli bangunan biasa. Membawa uang sebanyak itu justru akan membuat saya tidak bisa tidur nyenyak karena takut dirampok preman."

Su Zhengqi tertegun. Di dunia yang materialistis ini, di mana semua orang rela saling membunuh demi uang, pemuda di depannya ini justru menolak puluhan juta Yuan dengan alasan yang sangat polos. Rasa kagum Su Zhengqi terhadap karakter Chen Fan langsung melonjak drastis.

‘Pemuda ini... meskipun penampilannya miskin dan lugu, tapi hatinya sebersih kristal fana. Dia tidak serakah,’ batin Su Zhengqi dengan penuh rasa hormat. Dia tidak tahu saja bahwa bagi seorang kultivator sakti seperti Chen Fan, uang fana puluhan juta Yuan tidak lebih dari sekadar tumpukan kertas mainan yang tidak bisa membantunya menembus ranah kultivasi berikutnya.

"Baiklah, kalau kamu tidak mau menerima uang itu sekarang, aku tidak akan memaksamu. Tapi simpan kartu nama ini. Dan juga... panti asuhan tempat asalmu tidak akan pernah diganggu oleh siapa pun di kota ini. Aku, Su Zhengqi, yang menjaminnya!" ucap Ketua Su dengan nada penuh otoritas.

"Terima kasih banyak, Ketua Su! Terima kasih!" Chen Fan membungkuk berkali-kali dengan wajah gembira, seolah-olah jaminan untuk panti asuhan adalah hadiah terbesar baginya. Memang benar, jaminan keselamatan panti asuhan dari orang nomor satu di Su Group adalah alasan utama mengapa Chen Fan repot-repot mengeluarkan esensi pilnya hari ini.

"Li, antar Xiao Chen kembali ke tempat kerjanya. Berikan dia libur tiga hari dengan gaji penuh agar dia bisa beristirahat," perintah Su Zhengqi.

"Baik, Ketua Su!"

Chen Fan melirik sekali lagi ke arah Su Qingxue yang kini sedang dibantu minum oleh perawat. Wanita itu masih menatap ke arahnya dengan pandangan yang penuh tanda tanya dan kecurigaan yang mendalam. Chen Fan tersenyum lugu ke arah sang CEO sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar ruangan mengikuti Direktur Li.

‘Su Qingxue... energi Yang-ku yang tersisa di dadamu hanya bisa menahan hawa es itu selama satu bulan. Dalam waktu tiga puluh hari, kamu pasti akan datang mencariku sendiri untuk memohon bantuan kultivasi ganda,’ batin Chen Fan penuh kemenangan saat pintu lift tertutup.

Sementara itu, di lokasi proyek pembangunan gedung Su Group di pinggiran Kota Jiangnan.

Siang hari yang terik membuat udara terasa sangat membakar. Mandor Wang duduk di dalam kantor direksinya yang ber-AC sambil menikmati segelas es teh manis dan menghitung lembaran uang hasil pemotongan gaji para kuli hari ini. Di atas mejanya, terdapat daftar nama pekerja kasar, dan nama "Xiao Chen" dicoret dengan tinta merah yang tebal.

"Cih, dasar anak haram sialan," gumam Mandor Wang sambil meludah ke lantai lantai keramik kantornya. "Gara-gara kerjanya yang jorok kemarin, aku hampir saja kena semprot Direktur Li. Jam segini dia belum kembali dari rumah sakit... Pasti sudah diseret ke kantor polisi atau dipukuli sampai mati oleh pengawal Keluarga Su."

Mandor Wang tersenyum licik. Di dalam laci mejanya, masih ada sisa upah milik Chen Fan selama dua minggu terakhir yang belum dibayarkan, total sekitar satu juta Rupiah (jika dikonversikan dari mata uang lokal proyek). "Karena dia sudah mampus, uang sisa gajinya ini resmi jadi milikku untuk taruhan judi bola malam nanti! Lumayan!"

Tepat saat Mandor Wang sedang tertawa senang membayangkan uang haram tersebut, pintu kantor direksi tiba-tiba dibuka dari luar dengan sangat keras.

Brak!

Mandor Wang tersedak es teh manisnya dan langsung berdiri dengan marah. "Siapa yang berani—"

Kata-katanya langsung tertelan kembali ke dalam tenggorokan ketika dia melihat siapa yang melangkah masuk. Pria berjas abu-abu yang mengikutinya dengan wajah penuh senyum ramah adalah Direktur Li! Dan di samping Direktur Li, berjalan seorang pemuda berpakaian singlet pudar dan bercelana penuh noda semen... Chen Fan!

"Di-Direktur Li?! Anda sudah kembali?" Mandor Wang buru-buru memasang wajah menjilat, namun matanya menatap Chen Fan dengan pandangan tidak percaya. ‘Kenapa bocah ini bisa kembali hidup-hidup?! Dan kenapa pakaiannya tidak ada bekas pukulan sedikit pun?!’

Direktur Li tidak membalas sapaan Mandor Wang dengan ramah. Sebaliknya, wajah Direktur Li langsung berubah menjadi sangat dingin dan tegas begitu menatap Mandor Wang.

"Wang! Berlutut!" bentak Direktur Li dengan suara menggelegar.

Mandor Wang gemetaran, lututnya langsung lemas. "Ma-Maaf, Direktur Li? Kenapa saya harus berlutut? Apa salah saya? Apakah bocah kuli sialan ini membuat masalah lagi di rumah sakit?!" Mandor Wang menunjuk Chen Fan dengan jari gemuknya yang gemetar.

"Kurang ajar! Kamu masih berani menghina Adik Chen?!"

Direktur Li maju satu langkah dan langsung melayangkan tamparan keras tepat ke wajah berminyak Mandor Wang.

Plak!!!

Tamparan itu begitu kuat hingga membuat tubuh tambun Mandor Wang terhuyung dan menabrak meja kerjanya, membuat gelas es teh manisnya pecah berantakan di lantai. Mandor Wang memegangi pipinya yang langsung membengkak merah, matanya dipenuhi rasa syok dan ketakutan yang amat sangat.

"Di-Direktur Li... kenapa Anda memukul saya...?" ratap Mandor Wang dengan suara merengek.

"Kenapa aku memukulmu?! Karena kamu adalah sampah serakah yang hampir membuatku dan seluruh proyek ini hancur!" teriak Direktur Li dengan napas memburu. "Kamu tahu siapa Adik Chen Fan ini?! Dia adalah Penyelamat Nyawa Nona Besar Su! Ramuan tradisional milik Adik Chen baru saja membangkitkan Nona Su dari koma maut ketika semua dokter menyerah! Ketua Su sendiri yang memberikan jaminan kehormatan kepadanya!"

DEG!!!

Mendengar kata-kata "Penyelamat Nyawa Nona Besar Su" dan "Jaminan Kehormatan Ketua Su", pikiran Mandor Wang mendadak kosong. Kepalanya terasa seperti dihantam oleh gada besi raksasa. Seluruh tubuhnya gemetaran hebat hingga keringat dingin mengucur deras membasahi kemeja safarinya.

Dia menoleh dengan kaku ke arah Chen Fan.

Pemuda berpakaian lusuh itu masih berdiri di sana dengan kepala yang sedikit tertunduk dan senyum lugu yang terkesan tak berdaya. Namun, di mata Mandor Wang saat ini, senyum lugu itu tidak lagi terlihat bodoh. Sebaliknya, itu terlihat seperti senyuman seorang malaikat pencabut nyawa yang sedang menatap seekor semut di bawah sepatunya.

"Wang," Direktur Li berkata dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Mulai hari ini, jabatanmu sebagai mandor proyek resmi dicopot! Seluruh aset dan bonusmu di perusahaan ini dibekukan untuk penyelidikan korupsi pemotongan gaji kuli! Dan sekarang... berlututlah di depan Adik Chen Fan dan mohon ampunan darinya! Jika Adik Chen tidak memaafkanmu hari ini, aku pastikan kamu tidak akan bisa melihat matahari esok hari di Kota Jiangnan!"

Mandor Wang tidak lagi memiliki sisa keangkuhan sedikit pun. Ketakutan yang teramat sangat merenggut seluruh energinya. Dengan suara tangisan yang pecah, pria tambun itu merangkak di atas pecahan kaca dan tumpahan es teh manis di lantai, lalu bersujud di depan sepasang sepatu bot kuli milik Chen Fan yang dipenuhi debu semen.

"Xiao Chen... tidak! Master Chen! Saya salah! Saya mata duitan! Saya anjing yang tidak punya mata karena telah menindas Anda selama ini!" Mandor Wang memukul-mukul wajahnya sendiri dengan keras hingga hidungnya berdarah. "Tolong ampuni saya, Master Chen! Tolong bicarakan dengan Direktur Li agar tidak memenjarakan saya! Saya punya anak dan istri yang harus diberi makan! Tolong belas kasihan Anda yang lugu, Master Chen!!!"

Chen Fan menatap kepala Mandor Wang yang terus membentur lantai semen dengan pandangan yang sangat datar dan dingin di balik poni rambutnya. Di dalam hatinya, Chen Fan sama sekali tidak merasakan kasihan. Jika bukan karena dia seorang kultivator yang harus menjaga penyamaran fana, Mandor Wang sudah lama dia ubah menjadi pupuk tanaman di panti asuhan.

Namun, untuk menjaga aktingnya di depan Direktur Li, Chen Fan langsung memasang wajah panik dan buru-buru berjongkok untuk memegang pundak Mandor Wang yang gemetaran.

"A-Aduh, Mandor Wang! Jangan begini! Berdirilah! Saya tidak berani menerima sujud dari Anda!" ucap Chen Fan dengan suara yang dibuat cemas dan gugup. Dia menoleh ke arah Direktur Li dengan pandangan memohon. "Direktur Li... Mandor Wang sebenarnya orang baik, dia hanya agak tegas saat mendidik saya kerja. Tolong jangan pecat dia atau memenjarakannya... Saya sudah memaafkannya kok. Lagipula, saya tidak ingin panti asuhan saya mendapat sial karena membuat orang lain kehilangan pekerjaan."

Mendengar kata-kata Chen Fan yang begitu "pemaaf dan suci", Direktur Li langsung mendesah kagum di dalam hatinya. ‘Adik Chen Fan ini benar-benar seorang pemuda yang luar biasa jujur dan berhati mulia! Sudah ditindas sedemikian rupa, masih saja memikirkan nasib keluarga orang yang menindasnya!’

Direktur Li tidak tahu saja bahwa Chen Fan sengaja membiarkan Mandor Wang bebas dari penjara agar pria serakah itu tetap berada di luar, menjadi pion yang bisa dia manfaatkan atau hancurkan dengan cara yang lebih kejam secara perlahan di masa depan tanpa menarik perhatian publik.

"Baiklah! Karena Adik Chen yang berhati besar memohon untukmu, aku tidak akan menjebloskanmu ke penjara hari ini!" Direktur Li mendengus ke arah Mandor Wang. "Tapi kamu diturunkan pangkat menjadi kuli panggul biasa di proyek ini! Mulai besok, kamu yang harus memanggul semen menggantikan posisi Adik Chen! Dan seluruh sisa gaji Adik Chen yang kamu tahan harus dikembalikan sepuluh kali lipat saat ini juga!"

"I-Iya! Baik, Direktur Li! Terima kasih, Master Chen! Terima kasih!" Mandor Wang menangis tersedu-sedu, buru-buru mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan seluruh uang tunai yang ada di dalamnya—sekitar sepuluh lembar uang pecahan besar—kepada Chen Fan dengan tangan yang gemetar.

Chen Fan menerima uang itu dengan senyum lugu yang sangat lebar. "Terima kasih, Mandor Wang. Eh, maksud saya, Rekan Kerja Wang. Besok kita panggul semen sama-sama ya!"

Mendengar kata-kata itu, Mandor Wang hampir saja pingsan karena menahan rasa malu dan ketakutan yang mendalam. Kuli yang selama ini dia injak-injak, kini telah bertransformasi menjadi sosok terhormat yang berada di atas kepalanya hanya dalam waktu setengah hari.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 61

    Fajar menyingsing di langit ibu kota dengan sapuan warna merah darah yang mengerikan di ufuk timur. Kabut pagi yang tebal berputar-putar di sekitar gerbang besi setinggi lima meter milik kediaman megah Keluarga Zhao. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti seluruh area Distrik Naga Utara. Tidak ada kicau burung, tidak ada suara kendaraan fana yang melintas; hanya ada aura ketegangan yang begitu padat hingga sanggup membuat manusia biasa sesak napas.Di dalam pekarangan luar kediaman, tiga sosok pria paruh baya mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman sebilah pedang perak di punggung mereka berdiri melayang samar beberapa sentimeter di atas permukaan rumput. Mereka adalah tiga Utusan Pedang dari Klan Pedang Surgawi wilayah utara—Utusan Satu, Dua, dan Tiga—yang semuanya telah mencapai puncak Ranah Transendensi Fana Tingkat 6. Hawa pedang (Sword Qi) yang memancar dari tubuh mereka begitu tajam hingga memotong helai-helai daun yang jatuh sebelum sempat menyentuh tanah.

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 60

    Matahari kian meninggi di atas langit ibu kota pusat, memancarkan sinar benderang yang kontras dengan kabut ketakutan yang kini mencekik leher para penguasa kota. Eksekusi mati Marsekal Lu di tengah lapangan upacara markas militernya sendiri, disusul dengan pengambilalihan instan Komando Sektor Barat oleh Pasukan Bayangan Naga, menjadi pukulan telak yang meruntuhkan sisa-sisa kewarasan klan bangsawan kuno. Jaringan pertahanan modern dan hukum fana yang selama ini menjadi tameng absolut mereka, terbukti pecah berkeping-keping di bawah injakan kaki Chen Fan.Siang itu, di dalam aula pertemuan tersembunyi di bawah kediaman megah Keluarga Zhao—salah satu dari tiga klan bangsawan agung yang mengendalikan sektor perbankan dan pasokan energi nasional—suasananya dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Aula yang dilapisi marmer putih dan pilar-pilar berlapis emas itu biasanya menjadi tempat pesta mewah para elit. Namun kini, ruangan itu berubah menjadi ruang rapat darurat yang bising ol

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 59

    Kompleks Komando Militer Sektor Barat ibu kota berdiri bagaikan benteng baja yang tak tertembus di balik perbukitan granit kelabu. Dikelilingi oleh pagar kawat berduri tiga lapis yang dialiri listrik tegangan tinggi, serta menara pengawas yang dilengkapi senapan mesin kaliber berat, markas pribadi Marsekal Lu ini dirancang untuk menahan gempuran perang konvensional skala penuh.Di dalam ruang strategi bawah tanah benteng tersebut, atmosfernya mencekam. Layar monitor raksasa yang terpasang di dinding hanya menampilkan sinyal statis abu-abu. Tiga titik hijau yang merepresentasikan jet tempur siluman dan dua titik helikopter serbu Thunderbolt kebanggaan divisi perbatasan mendadak lenyap dari radar pemantau semenit yang lalu.Marsekal Lu, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan seragam militer hijau tua bertabur bintang emas di pundaknya, mencengkeram tepi meja komando hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang tegas kini dipenuhi guratan kecemasan yang mendalam.

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 58

    Gemuruh mesin helikopter taktis hitam milik Tianlong-Su Group membelah keheningan fajar di atas Pegunungan Shanhai. Di dalam kabin, atmosfer terasa sangat tenang namun sarat akan tekanan spiritual yang tak kasat mata. Chen Fan duduk bersila dengan mata terpejam. Mantel abu-abu gelapnya berbau samar hawa es gua, namun di balik kemeja hitamnya, sirkulasi Dantiannya telah bertransformasi total.Cairan spiritual yang tadinya mengalir bebas di Tingkat 6, kini telah mengental dan membentuk fondasi pilar emas setengah langkah Foundation Establishment. Setiap kali napas raga Chen Fan berembus, molekul udara di dalam kabin helikopter seolah-olah bergetar, tunduk pada resonansi energi naga yang kian mendekati kesempurnaan ranah atas.Di depannya, Su Qingxue duduk dengan takzim. Rona wajahnya tampak sangat segar, memancarkan aura Yin murni yang kian matang setelah menjadi media penyaring obat spiritual semalam. Jemari lentiknya dengan cekatan menggeser beberapa dokumen intelijen di lay

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 57

    Hening yang mencekam seketika mengunci pelataran batu es di depan mulut gua. Serpihan kapak baja milik Tetua Tujuh yang hancur masih berdenting pelan di atas batuan beku, sementara jasad pria kekar itu tertanam di dalam dinding tebing dengan kondisi tulang yang remuk total. Darah segar yang mengalir dari tubuhnya langsung membeku akibat hawa dingin ekstrem, menciptakan gumpalan merah tua yang kontras dengan putih murninya kristal es gua. Belasan murid dan tetua Sekte Tengkorak Hitam mundur selangkah secara serentak. Pegangan mereka pada senjata masing-masing mendadak melonggar karena telapak tangan yang dibanjiri keringat dingin. Di dunia kultivasi sesat wilayah barat daya, Tetua Tujuh adalah monster berkekuatan fisik luar biasa yang sanggup membelah kereta baja dengan kapak kembarnya. Namun di hadapan pemuda bermantel abu-abu ini, dia tewas hanya dalam satu gerakan santai. Master Sekte Mo mencengkeram tongkat kayu berkepala tengkorak bayinya hingga ur

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 56

    Tubuh-tubuh mereka meluncur membelah kepekatan kabut merah keunguan bagaikan meteor yang jatuh dari langit malam. Di bawah perlindungan kubah energi emas murni yang diciptakan oleh Chen Fan, gesekan udara dengan partikel korosif lembah menciptakan suara mendesis yang konstan, melontarkan percikan api spiritual ke segala arah.BRUK! BRUK!Chen Fan mendarat terlebih dahulu dengan sangat ringan di atas tanah lembah yang becek dan berlumut hitam. Sepatu bot kulitnya sama sekali tidak menimbulkan cipratan lumpur. Sesaat kemudian, Su Qingxue mendarat dengan anggun tepat di sisi kanannya, disusul oleh Long Yi dan sepuluh petarung Pasukan Bayangan Naga yang langsung membentuk formasi lingkaran taktis dengan senjata api laras pendek yang telah dimodifikasi menggunakan peluru inti perak.Suasana di dasar Lembah Kabut Darah jauh lebih mengerikan daripada yang terlihat dari atas jurang. Udara di sini terasa sangat pekat, pengap, dan berbau amis seperti darah busuk yang telah mengend

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status