Beranda / Romansa / Kadrun / Chapter 6

Share

Chapter 6

last update Tanggal publikasi: 2022-02-01 10:35:50

Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan membalut kaki jenjangnya yang mulus. Siti mengambil lipstik di atas meja rias dan memulas lipstik merah menyala itu di atas bibirnya yang selalu terlihat penuh. Riasan lain sudah lengkap pula di wajahnya.

“Mau kemana?” Kadrun menunjukkan rasa penasarannya. Dia sedang menyetrika baju yang sudah kering dijemurnya pagi tadi.

“Mau ketemuan sama kawan.”

“Kawan? Siapa?”

“Dikasih tahu juga kau dak tahu.”

“Aku mau tahu. Lagi pula aku harus tahu. Aku ini suamimu.”

Siti mengambil botol parfum dan menyemprotkan ke leher dan pergelangan tangannya. 

“Janjian dengan siapa?” Kadrun kembali mengajukan rasa penasarannya.

“Teman.” Jawab Siti datar sambil membuka lemari memilih salah satu koleksi tas yang cocok dengan busananya malam itu.

“Kenapa harus seperti itu dandanannya?”

“Kenapa memangnya?”

“Terlalu cantik.”

Siti langsung melemparkan tatapan dingin ke arah Kadrun, “Hei, Drun! Aku ini memang sudah cantik dari asalnya. Mau dikayak apakan juga tetap cantik.”

“Iya, aku tahu. Tapi berdandan begitu, mau kemana? Ini juga sudah jam 7 malam? Kau mau kencan dengan laki-laki?”

Siti meletakkan tas yang dipilihnya dari lemari ke pergelangan tangan sambil berkaca.

“Tadi kan sudah aku bilang mau ketemu teman.”

“Iya teman kan bisa juga laki-laki.”

Siti tertawa, “Kalau iya kenapa? Apa masalahnya kalau orang yang mau kutemui ini laki-laki?”

Kadrun langsung meletakkan setrikaannya di tatakan. Dia mendekati Siti dengan tatapan dingin.

“Kurang ajar betul laki-laki itu mau ketemu istri orang dengan dandanan seperti ini!”

“Eh, Drun. Jangan salahkan orang itu, yang mau berdandan seperti ini ya aku sendiri. Tidak ada hubungannya sama orang itu. Lagi pula jangan mudah menilai orang negatif, belum tentu cara berpikirnya sama dengan cara berpikirmu.”

“Hei, Siti. Aku ini laki-laki. Sebagai laki-laki aku tahu bagaimana rasanya melihat perempuan yang setengah telanjang di depanku. Aku tahu ke mana arah pikiran laki-laki itu, sebab kami laki-laki. Otak kami terbuat dari bahan yang sama!”

“Dia tidak serendah pikiranmu!”

Kadrun tertawa sumbang, “Kalau begitu, serendah apa dia?”

“Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat”

“Kenapa kau berdandan seperti ini? Kau ingin menggodanya? Di rumah saja jarang-jarang kau berdandan seperti ini.” Kadrun tidak terima dengan sikap istrinya. Dia segera meraih sweater tebal dari tumpukan kain yang dia setrika.

“Iya, nanti sekali-kali aku dandan seperti ini.” Siti meraih handphone yang tergeletak di atas meja rias. Tangan lentiknya mulai mengetik teks di telpon gengamnya tersebut.

“Tukar baju dan hapus dandanannya.” Kadrun memberi perintah.

Siti menatap Kadrun tajam, “Tidak!”

“Paling tidak lipstiknya diganti yang warna pucat.”

“Tidak!”

“Ya, kalau begitu kau pakai sweater ini dan jangan kau lepaskan ketika bertemu dengan kawanmu itu.” Kadrun langsung menggantungkan sweater yang dipegangnya ke bahu Siti.

“Apa sih!” Siti segera menepis dan melempar sweater tersebut.

“Kadrun! Aku ini punya tujuan pakai baju ini. Aku akan ketemu rekan kerja penting.”

Kadrun mengerutkan kening, “Urusan apa?”

“Bisnis. Aku mau buat bisnis.”

“Bisnis apa?”

“Itu tidak penting untukmu. Kau tidak perlu tahu.”

“Sudah kubilang dari tadi, aku ini suamimu. Aku harus tahu apapun tentangmu.”

“Jangan kolot lah!”

“Kolot? Maksudmu?”

“Jangan kuno! Biasa aja. Biasakan diri dengan kehidupan masa kini. Perempuan juga butuh eksistensi diri.”

“Bukannya aku akan mentransfer 100 juta itu padamu.”

“Makanya, dengan uang itu aku akan memulai bisnisku.”

“Ok. Kalau begitu aku akan mengantarmu menemui rekan bisnis itu.”

Siti tertawa, “Tidak usah. Tidak perlu repot!”

“Bahaya keluar malam-malam begini dengan pakaian seperti itu.”

“Nanti ada yang jemput.”

“Siapa?” nada suara Kadrun langsung meninggi.

Terdengar suara klakson motor di depan kontrakan. Siti langsung bergegas keluar kamar menuju pintu depan dan membukanya. Kadrun menyusul dan menemui seorang lelaki bak artis Bollywood sedang bertengger di atas motor di depan kontrakan mereka. Baju lelaki itu tidak terkancing sempurna memperliatkan otot-ototnya yang kotak-kotak. Kulitnya berwarna tembaga dan mengkilap. Sungguh-sungguh terlihat perkasa. Ukuran kepalan tangannya jauh beda dengan Kadrun.

“Hayo, kita berangkat Siti?” Lelaki itu menyapa Siti tanpa menganggap keberadaan Kadrun.

“Eh, kau siapa?” Kadrun langsung menghardik lelaki di atas motor tersebut.

“Halo, Kadrun. Saya Jay. Saya izin menjemput Siti.” jawab lelaki itu membuat Kadrun semakin kesal karena menyebut namanya.

“Aku pergi dulu.” Siti langsung melompat ke boncengan Jay.

“Eh, Siti,” Kadrun kecewa melihat sikap isterinya.

“Kami pergi dulu, Kadrun.” Jay menyahut lagi membuat darah Kadrun makin mendidih.

“Sayang, kira-kira pulang jam berapa nanti?” Kadrun menanyakan isterinya sebelum motor bergegas pergi.

“Setelah meeting-nya kelar. Tidak usah ditunggu. Aku bawa kunci serep. Tidur saja yang nyenyak. Aku pulang tidak akan mengganggumu.”

“Ok, Drun. Tidak ada lagi yang perlu dibahas kan? Kami pergi dulu ya.” Jay memotong pembicara Siti dan Kadrun. Tanpa menunggu reaksi Kadrun, Jay langsung tancap gas memacu motornya menelusuri gang dan menghilang dari tatapan Kadrun.

Kadrun termenung di muka rumahnya yang sudah sepi. Di bagian tertentu dari sisi hatinya terasa kosong dan nyeri.

“Aku tidak akan sakit hati, Siti.” Kadrun berceloteh dengan dirinya sendiri. "Aku sungguh-sungguh tidak sakit hati, Siti! Kau dengar perkataanku kan? Aku baik-baik saja, Siti!" Kadrun berteriak. Dia meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, sesak dan kehabisan oksigen.

“Siti, Kau lihat, kau lihat baik-baik, aku Kadrun suamimu baik-baik saja!” nada suara Kadrun mulai serak, dia terduduk lemas di teras kontrakannya.

Mak Tijah tampak mengintip dari jendela rumahnya.

“Kau pikir hatiku ini terbuat dari baja? Beton? Rangka besi? Aku manusia, Siti! Hatiku terbuat dari gumpalan darah. Cuma seonggok daging, Siti," terdengar pelan suara Kadrun. "Jadi, bohong kalau aku bilang aku sedang baik-baik saja. Aku sakit, Siti. Sakit keras!” Kadrun akhirnya meraung. Pertahanannya jebol, dia tersedu-sedu jatuh terduduk di depan teras rumahnya.

“Hei, Drun! Tidur sana. Sudah malam ini!” suara Bang Somad terdengar dari sebelah kanan.

“Baru jam 7 malam ini, Bang Somad. Tolong kasih aku ruang buat meluapkan perasaan. Sakit hatiku dibuat Siti, Bang!” Kadrun membalas dengan raungan yang semakin tinggi.

“Sudah jam 7.30 malam, Kadrun! Tidurlah! Kalau tidak aku kawani kau main domino.” Bang Somad yang hanya terdengar suaranya saja kembali menyahut.

“Aku tidak mau main domino sekarang ini, Bang. Aku ingin mencekik leher orang, Bang!” Kadrun kembali meraung.

“Jangan begitu, Kadrun. Aku ambilkan domino biar kita main. Jangan lupa kau ajak Mak Tijah. Pasti dia belum tidur.”

Bang Somad beberapa saat kemudian muncul di teras Kadrun.

“Sudah kubilang tadi, Bang. Aku sedang tidak ingin main domino.”

Mak Tijah ikut muncul karena memang sedari tadi dia mengintip dari balik jendela rumahnya.

“Woi, Bujang Lapuk! Sudah kubilangkan padamu sejak awal, paling juga istrimu sama anehnya denganmu. Lihat, kau dibikinnya meraung seperti balita. Nanti bangun pula cucuku kau buat! Daripada kau meraung macam orang gila sampai pagi, bagusnya kita main domino sampai kau mengantuk.”

“Mak Tijah, janganlah begitu. Aku ini sedang bersedih. Kasih aku ruang.”

“Sudahlah. Tidak baik terlalu larut dalam kesedihan. Bisa mengikis badan,” kali ini Bang Somad yang menyahut. Dia sudah membawa kartu domino dan kursi lipat kesayangannya.

“Ayolah kita main di dalam. Tidak bagus udara malam untuk kesehatan.” Mak Tijah mencangking lengan kurus Kadrun.

“Aku tidak mau main domino.” Kadrun menolak keras tarikan Mak Tijah.

“Lalu kau mau bunuh diri? Gara-gara isterimu kurang ajar? Bodoh namanya!” Mak Tijah kembali berusaha menarik Kadrun.

“Kali ini aku sepakat dengan Mak Tijah. Perempuan itu memang begitu. Kurang ajar kalau dicintai.” Bang Somad ikut mencangking lengan lain milik Kadrun.

“Kenapa menyalahkan perempuan? Ini bukan masalah perempuan. Ini masalah oknum yang mencemarkan nama baik perempuan.”

Kadrun pasrah saja di bawa ke dalam rumahnya dan didudukkan di sofa.

“Perempuan memang begitu. Sesuka-suka udelnya kalau bercakap dan bertindak. Pantas saja ada orang ngomong kalau otak perempuan itu cetek. Cuma sedengkul.” Bang Somad meneruskan pendapatnya.

“Eh, jangan begitu, Bang Somad. Sebagai perempuan aku tidak terima.” Mak Tijah tidak kalah sengit mendebat.

“Makanya kalau perempuan itu otaknya tidak cetek. Mereka bisa berpikir jernih dan tidak hanya menggunakan asumsi. Bahaya sekali kalau cara pikir kita selalu dipengaruhi asumsi.”

“Eh, Bang Somad,..” perdebatan keduanya makin panas berlanjut.

Kadrun jadi ingat Siti. Dia segera mengambil handphone yang tergeletak di buffet kamarnya. Dia menelpon Siti. Akan tetapi nadanya sibuk. Kadrun kembali berusaha menghubungi istrinya terus menerus. Akhirnya Siti mengangkat dengan suara ketus.

“Ada apa menelponku terus?”

“Iya, aku cemas kau pergi malam-malam sendiri.”

“Aku kan dengan Jay.”

“Aku tidak kenal Jay. Dia itu siapa.?”

“Iya, dia temanku. Kau tidak perlu cemas, Kadrun. Kau ingat saja perjanjian kita. Aku tidak akan melanggarnya selama kau menepati janji.”

“Bisa aku minta satu hal sebelum memberimu uang muka?”

“Apa itu?”

“Aku minta kau jangan menemui Jay lagi atau lelaki manapun.”

“Kau tidak perlu cemburu berlebihan seperti itu. Aku tahu menjaga diri.”

“Bisa kau penuhi permintaanku itu?”

“Ck, iya. Gampang itu.”

“Jawab yang benar, bisa atau tidak untuk tidak lagi menemui laki-laki yang tidak aku inginkan.”

“Iya, bisa! Puas sudah dengan jawabanku.”

“Jam berapa kau pulang?”

“Nanti aku kabari ya, orang yang akan kutemui sudah datang.”

“Lah, bukan Jay yang membuat janji bertemu denganmu?”

“Bukan, dia anak buah orang yang akan kutemui.”

“Siapa dia, Sayang?”

“Oh iya, Drun. Sudah dulu ya. Aku kabari kau lagi nanti.”

Hubungan telepon pun diputus.

Hati Kadrun semakin berkecambuk. 

Sementara perdebatan di ruang depan malah bertambah alot dan belum mencapai titik jenuh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kadrun   Chapter 32

    Rumah kontrakan itu gelap meski matahari sudah meninggi.Beberapa gelas kopi masih tergeletak di lantai. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruang tamu. Tirai jendela tertutup rapat hingga udara di dalam rumah terasa pengap.Sudah lima hari Kadrun tidak ke kantor.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban.Tok! Tok! Tok!"Drun!"Masih sunyi.Brewok mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Kadrun bertahun-tahun lalu."Kalau nanti kau marah, marah saja," gerutunya.Kunci diputar.Klik.Pintu terbuka.Brewok langsung menutup hidung."Ya Allah... rumah apa kandang kambing?"Di sofa tua, Kadrun baru bangun dari tidurnya sambil mengucek mata. Janggutnya mulai tumbuh tidak beraturan. Tatapannya kosong menghadap televisi yang bahkan tidak menyala."Heh."Brewok melempar bungkusan nasi ke pangkuannya."Makan, jok!”Brewok melihat sekeliling. “Kemana Beuti? Kau pecat?”Kadrun menggeleng. “Dia pulang kampung, terkait urusannya kawin dengang Bang Somad.”“Jadi, sekara

  • Kadrun   Chapter 31

    Siti berdiri cukup lama di depan tempat karaoke milik Jay. Beberapa kali dia berniat masuk, tetapi langkahnya selalu terhenti sebelum mencapai pintu. Rasa malu menahan kedua kakinya.Dahulu dia datang ke tempat itu dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan tubuh penuh wangi parfum. Sekarang dia hanya mengenakan baju longgar yang dibelinya di pasar, sandal datar, serta membawa tas berisi beberapa lembar pakaian. Perutnya yang baru berusia 4 bulan mulai membesar tidak lagi dapat disembunyikan sepenuhnya.Beberapa orang yang mengenalnya memperhatikan dari kejauhan. Ada yang berbisik, ada pula yang sengaja membuang muka.Siti menarik napas panjang.Malu tidak akan memberinya makan.Dia akhirnya melangkah masuk.Jay sedang duduk di balik meja dekat kasir sambil memeriksa catatan pengeluaran. Begitu melihat Siti, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Tatapannya turun sebentar ke perut Siti sebelum kembali mengarah pada wajah perempuan itu.“Kau?”Siti tersenyum kaku. “Apa kabar, Bang?”Jay me

  • Kadrun   Chapter 30

    Malam telah larut ketika mobil yang disetir Zulaikah berhenti di halaman sebuah rumah bergaya kolonial di kawasan perumahan elit Kota Jambi. Zulaikah baru tiga bulan lalu membeli rumah itu. Dan dia baru menempati rumah itu kurang lebih satu bulan.Rumah itu sunyi.Dari luar, lampu ruang tamu masih tampak menyala redup, sementara taman yang biasanya dipenuhi bunga kamboja tampak lengang tanpa seorang pun.Zulaikah mematikan mesin mobilnya.Entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Kadrun terus memenuhi pikiran Zulaikah. Ini sudah pertemuan ke sekian dengan Kadrun setelah dia menetap di rumah barunya tersebut. Tapi dia belum pernah mengajak Kadrun ke kediamannya.Zulaikah tersenyum kecil.Lelaki itu masih sama. Masih tertawa dengan suara yang keras. Masih menggaruk rambut kribonya setiap kali gugup. Masih berbicara seolah hidup tak pernah memberinya beban."Aneh..." gumamnya pelan. "Setelah bertahun-tahun, kau masih sama."Zulaikah melangkah masuk ke dalam rumah.Asisten

  • Kadrun   Chapter 29

    Mobil SUV hitam itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bengkel di pinggiran Kota Jambi dengan plang besar bertulis “BENGKEL BANG SOMAD”.Mesinnya masih menyala.Siti termangu dari dalam mobil memandangi lorong di samping bengkel tersebut. Dadanya mendadak sesak."Bukalah."Suara Eko terdengar datar dari kursi depan.Siti tidak bergerak, "aku tidak mau turun."Eko menoleh melalui kaca spion."Itu bukan permintaan.""Aku mau bertemu Pak Bram.""Tidak bisa.""Kalau begitu antarkan aku ke hotel.""Tidak bisa."Siti menggenggam erat test pack yang masih berada di dalam tasnya."Dia bilang akan bertanggung jawab...."Eko menghela napas pendek, lalu turun membuka pintu mobil."Bu Siti."Nada suaranya tetap sopan, tetapi dingin. "Pak Bram tidak pernah mengulang ucapannya dua kali."Jantung Siti berdegup semakin cepat. "Dia pembohong!""Hubungan bisnis Ibu dan Pak Bram sudah selesai."Siti menggeleng kuat-kuat."Tidak mungkin. Bram bilang dia mencintai aku." Siti mulai men

  • Kadrun   Chapter 28

    Bram Wijaya berdiri bertelanjang dada dengan hanya sehelai handuk putih melilit pinggang di depan cermin besar kamar mandi sebuah hotel bintang lima di Bali. Wajah Bram dipenuhi busa cukur, sementara tangan kanannya dengan tenang menggerakkan pisau cukur menyusuri garis rahangnya yang tegas. Setiap gerakan yang ia buat tampak santai dan presisi.Sudah hampir sebulan Siti selalu berada di sisinya.Perjalanan bisnis itu dimulai dari Pekanbaru, berlanjut ke Jakarta, Batam, hingga akhirnya berakhir di Bali. Selama mengikuti Bram, Siti bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Saat Bram sibuk menghadiri rapat, bertemu relasi bisnis, atau menghadiri jamuan makan dengan para kliennya, Siti menghabiskan waktu dengan berbelanja, menikmati spa, atau menjelajahi berbagai tempat wisata. Semua kebutuhannya dipenuhi tanpa pernah ditanya ke mana ia pergi atau apa yang dilakukannya.Sejak meninggalkan kontrakan Kadrun, Siti mengikuti Bram ke mana pun pria kaya itu melangkah. Kemewahan yang selama in

  • Kadrun   Chapter 27

    Kadrun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Dia tidak melanjutkan bertanya apapun.Sedangkan Zulaikah, dia tampak kembali mendekati salah satu ibu pembatik yang dengan hati-hati mengguratkan canting di atas kain mori.“Ini kain premium, Bu?” tunjuk Zulaikah pada kain yang sedang dikerjakan si Ibu.“Iya, kalau untuk batik tulis kita pakai kain katun premium atau kadang pakai sutra juga.”“Satu lembar ini selesai berapa lama dengan Ibu?” tanya Zulaikah.“Ya, setengah bulan lah, Bu. Tergantung motif, kalau rumit, ya harus lebih hati-hati jadinya butuh waktu lebih lama, bisa 1 bulan sendiri.” “Ibu yang buat desain ini sendiri?”Ibu itu tertawa, “saya bagian yang melukis saja, Bu.”“Siapa yang buat desain ini?” tanya Zulaikah lagi.“Ada, si Udin. Dia sudah sejak SMP diajarkan Bang Kadrun mendesain,”“Motif apa ini, bu?”“Riang-riang,” kali ini Kadrun yang menjawab, “ia terinspirasi dari serangga tonggeret yang melambangkan semangat dan kehidupan.”Kadrun melambaikan tangan ke arah

  • Kadrun   Chapter 7

    Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikena

  • Kadrun   Chapter 5

    Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha

  • Kadrun   Chapter 4

    Iya Sayang, harus sabar. Aku kan juga sedang berusaha menjual batik seperti arahanmu. Aku tidak lagi menyumbang untuk para pengrajin. Semua penghasilan batikku akan kuberikan padamu. Cuma sekarang, pembeli batik sedang sepi. Jadi, jangan lagi berpikiran aku akan menelantarkanmu.” Kadrun mey

  • Kadrun   Chapter 3

    Perempuan seperti Cinderella memang tidak pernah ada di dunia nyata, begitu pun Snow White, Rapunzel, Aurora Sleeping Beauty, dan Mulan. Perempuan yang ada di muka bumi ini kebanyakan adalah semacam Siti Majenun. Setelah pesta kondangan usai digelar, acara adat selesai dilaksana

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status