Beranda / Romansa / Kadrun / Chapter 7

Share

Chapter 7

last update Tanggal publikasi: 2022-02-01 15:57:43

Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikenakan. Kadrun mengintip jam weker yang ada di atas nakas.

Jam 4 subuh!

Istrinya baru pulang sepagi ini setelah sepanjang malam di luar bersama laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Kadrun langsung merubah posisinya dengan duduk di pinggir dipan.

“Sepagi ini kau baru pulang, Siti?”

Suara Kadrun mengagetkan Siti yang hanya memakai celana dalam dan bra. Dia membalik badan menghadap Kadrun. Kedua gunung kembar Siti tampak menantang di balik bra yang tampak tidak sanggup menampungnya. Warna bibir merah Siti yang kontras dengan kulit kuning langsatnya benar-benar memancarkan kecantikan alami Siti. Kadrun menelan ludah.

“Maaf ya pulang terlalu larut, Bang.” suara Siti sangat mendesah melangkah mendekati Kadrun. Siti tampak sangat menawan hanya berbalut bra dan celana dalam berenda berwarna hitam. Paha dan betisnya yang jenjang mengkilap tertimpa sinar lampu kamar.

“Bisnis apa yang dibicarakan sampai selarut ini?” Kadrun masih menaruh curiga dan amarah pada Siti.

Siti tersenyum, dia tampak berpikir ketika melangkah mendekati Kadrun.

“Yaaa, bisnis karaoke, Bang. Dia akan memodali aku membuka karaoke.” Siti sudah berdiri di depan Kadrun. Dia menunduk menghadapkan mukanya langsung pada Kadrun. Jarak antara hidung mereka berdua hanya sekitar lima inci. Hal itu membuat Kadrun makin jelas melihat buah dada Siti yang sedang dalam posisi menunduk. Jakun Kadrun naik turun.

“Abang belum tidur?” Siti mendesah.

Kadrun tidak bisa menjawab. Wajah mereka terlalu dekat hingga napas Siti yang bau alkohol langsung merasuk ke lubang hidung Kadrun.

Siti menaiki paha Kadrun dan duduk di atasnya. Kedua lengannya digantungkan di leher Kadrun. Mata Kadrun tidak bisa lepas melihat dua buah dada Siti yang ranum di depan matanya begitu dekat.

“Ini bukannya masih Jumat ya?” Kadrun bertanya.

“Kenapa?” Siti mulai memangut leher Kadrun.

“Apakah memang sudah jadwalnya? Bukannya Selasa, Kamis, Sabtu?” Kadrun mulai menggelinjang menahan geli dan nafsu karena kuping dan lehernya terus dipangut Siti penuh gairah.

Siti tidak menjawab. Perempuan itu dengan lembut mendorong tubuh Kadrun hingga rebah di atas Kasur. Siti kembali memangut tubuh Kadrun inci demi inci dari bagian atas hingga ke bagian bawah. Kadrun tidak mampu menolak dan menikmati setiap jengkal kecupan dan pangutan Siti di tubuhnya. Pergulatan subuh itu memang sungguh luar biasa. Siti selalu bertindak aktif dan memenangkan pergulatan. Geliat tubuh sintal milik Siti dan erangan manjanya saja membuat Kadrun serasa melihat adegan film porno di layar televisi.  Kadrun benar-benar dibuat terbang ke langit ke tujuh hingga pertempuran selesai dan kedua tubuh mereka terlentang bersimbah peluh dan tertidur karena kelelahan.

Pagi harinya, Kadrun terbangun dan segera menuju ke dapur. Kadrun menyiapkan sarapan nasi goreng lengkap dengan telur ceplok sambil bersenandung riang. Setelah sepiring nasi goreng siap, Kadrun pun melakukan ritual mandi dengan tetap bersenandung. Ritual mandi selesai Kadrun mengenakan seragam kantor, menyisir rambut, dan memakai parfum. Kadrun ingin tampil necis dan rapi. Kadrun merasa sangat tampan pagi itu. Lelaki kurus itu tidak lelah bersiul. Dia kembali ke dapur untuk membuat plating nasi goreng. Kadrun telah menyiapkan telur ceplok, irisan timun, irisan tomat, dan potongan cabai rawit sebagai pelengkap. Selayaknya chef profesional Kadrun mulai beraksi menata hasil masakannya di atas sebuah piring putih. Setelah selesai, Kadrun meraih segelas susu yang disiapkannya sedari tadi dan meraih piring berisi nasi goreng untuk selanjutnya dibawa ke kamar tidur. Secarik kertas note berbentuk hati diambil Kadrun dari dalam nakas sebelah ranjang. Dia menulis dengan terus tersenyum.

“SAYANG, JANGAN LUPA SARAPAN YA. INI KUBUAT DENGAN CINTA. NANTI SEKITAR JAM 12, JANGAN LUPA DICEK REKENINGNYA, AKU AKAN MENTRANSFER 100 JUTA ITU SEBELUM JAM 12. LOVE KADRUN.”

Sebelum meletakkan di atas nakas di sebelah menu sarapan yang dia siapkan untuk istrinya, dia mencium tiga kali kertas note tersebut. Selanjutnya, mendapati tubuh istrinya  telanjang bulat dengan posisi telentang di atas kasur dalam kondisi tertidur, segera dia tutupi dengan selimut. Lalu lelaki kurus itu kembali ke dapur meraih kotak bekal nasi goreng yang dibuatnya tadi untuk dirinya sendiri, menarik kunci motor yang digantung di dekat pintu lalu mulai menyalakan motor bebek andalannya sebelum kemudian melaju meninggalkan kontrakan dengan terus bersiul.

 Kadrun bahagia. Penuh semangat dia mengabsen di kantor sebelum meluncur mengantri ke bank. Dia mencairkan depositonya sebesar 500 juta. Uang dari penjualan batik-batik yang dikumpulkan sedikit demi sedikit selama delapan tahun. Sempat sahabatnya menyarankan uang itu dipakai untuk berinvestasi saham saja dibandingkan cuma disimpan dalam deposito. Akan tetapi, Kadrun merasa terlalu kolot dan merasa tidak cukup paham tentang invetasi saham. Kadrun memandang lembar depositonya itu dan menghela napas. Kadrun mempunyai rencana membuat gerai bank batik yang sangat besar di Kota Seberang dengan mengumpulkan uang tersebut, dia berencana bahwa gerai itu adalah tempat peminjaman modal bagi pengrajin batik. Para pengrajin tersebut tidak perlu membayar pinjaman dengan uang, namun dengan batik yang mereka hasilkan. Namun mungkin Kadrun harus menunda mimpi tersebut. Walaupun saat ini dia tetap bisa menjadi pemodal untuk pengrajin batik di Kota Seberang dengan jumlah yang relatif tidak terlalu besar. Kadrun akan mencoba mencari cara lain untuk tetap mewujudkan mimpinya. Benar kata istrinya, bahwa dia adalah seorang suami sehingga tanggung jawab terbesarnya tentulah sang istri, bukan orang lain. Dia mengirimkan seratus juta ke rekening Siti, sisanya uang tersebut ditaruh di rekening tabungannya.

Dia kembali ke kantor dan bekerja hingga jam tujuh malam membuat desain batik. Kadrun penuh dengan semangat untuk menjadi lelaki yang kaya raya dan mampu memberikan kepuasan materi bagi istri tercinta. Dia bercita-cita ingin membuat rumah gedong seperti permintaan istrinya. Dia juga sudah menelpon Mak dan Bapak di kampung untuk meminta mobil hadiah perkawinannya kemarin.

“Awak minta maaf berkaitan dengan Wak Nur, Mak.” Kadrun membuka pembicaraan di telepon dengan Mak.

“Iya, dak apa-apa. Wak Nur juga maklum karena dia tidak paham cakap Siti. Sekarang dia sudah di rumah kita lagi. Dia tampak lebih senang di kampung, maklum lah Bahasa Indonesia Wak Nur kan juga tidak begitu lancar. Pasti masalah komunikasi yang buat hubungan Siti dan Wak Nur terganggu.” Mak Kadrun menimpali dengan santai.

“Iya, Mak.”

“Tidak kau carikan lagi istrimu pembantu?”

“Belum, Mak. Nanti biar dia saja yang kusuruh cari sendiri, sesuai seleranya.”

“Oh iya, bagus juga begitu.”

“Ngomong-ngomong, Mak,” Kadrun ragu bicara.

“Apa, Nak?”

“Eh, itu, Mak, kendaraan kemarin yang Mak hadiahkan,”

“Iya, kau perlu mobil. Istrimu yang cantik itu tidak pantas kau bawa dengan motor bebek bututmu keliling kemana-mana.” Mak memotong sambil tertawa. “Seharusnya kau tidak perlu sungkan untuk memintanya, Drun.”

“Iya, Mak.”

“Nanti Bapak kirimkan mobil itu ke Jambi.”

“Terima kasih ya, Mak. Sebenarnya awak dak enak sama Mamak dan Bapak.”

“Ah, kau macam bukan anak Mak dan Bapak saja. Kenapa kau jadi banyak sungkannya sekarang?”

Kadrun nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Kau tidak pindah kontrakan? Atau kau sudah beli rumah untuk istrimu?”

“Rencananya begitu, Mak. Aku akan beli rumah cicilan.”

“Ah, biar Mak kirimkan uang buat kau bangun rumah. Ada tanah Mak dan Bapak di Jambi, lokasi tanah itu rasanya dekat dengan tempat kerjamu.”

“Ah, dak usahlah, Mak.”

“Kenapa pula tidak usah. Bagaimana menantuku bisa nyaman dan segera punya anak kalau dia tidak hidup enak.”

“Aku belum punya uang untuk bangun rumah.”

“Lah, Mak kan tadi ngomong kalau akan mengirimi uang untuk bangun rumah.”

“Nanti saja lah, Mak.”

“Kalau begitu, pindah kontrakan saja dulu yang lebih besar dan halamannya luas. Bagaimana kau taruh mobilmu kalau tidak ada halaman parkir dan jalan yang memadai.”

“Untuk sementara awak titip di bengkel Bang Somad dulu, Mak.”

“Oh, begitu. Jangan lama-lama, nanti merepotkan Bang Somad.”

“Sebenarnya awak juga tidak ingin pindah dari kontrakan itu. Awak sudah nyaman bertetangga di sana.”

“Jadi?”

“Rencananya awak mau membeli saja kontrakan yang sekarang itu.”

“Oh, bagus juga. Tinggal kau rehab. Cuma sayang di gang itu kan tidak muat buat masuk mobil, Drun.”

“Bisa lah nanti awak pikir, Mak. Tapi dak usah Mak ikut berpikir. Kalau memang butuh bantuan Mak dan Bapak, pasti awak hubungi.”

“Iya lah, Drun. Jaga kesehatanmu dan titip salam sama Siti.”

“Iya, Mak.”

Telepon pun ditutup.

Kadrun kembali ke rumah dan mendapati kontrakan dalam kondisi kosong. Sebuah pesan ditempel di atas layar televisi. Pesan itu dari Siti.

“AKU PULANG AGAK MALAM, SAYANG. MAKASIH BANYAK ATAS UANG TRANSFERANNYA. AKU URUS BISNIS DULU. JANGAN LUPA BESOK MALAM PERTEMPURAN KITA YA, SAYANG. LOVE SITI.”

Kadrun mengambil handphone untuk menghubungi istrinya. Akan tetapi tidak ada jawaban. Hingga lebih dari sepuluh kali tidak ada tanggapan. Kadrun terduduk di satu-satunya sofa di ruang kontrakannya itu.

Di tangannya baru saja dia beli lingerie motif macam tutul dari mall yang dihampirinya sebelum sampai ke rumah. Dia ingin Siti mencoba hadiah itu. Kadrun berniat untuk memberikan sebanyak mungkin perhatian untuk Siti. Kadrun akan membanjiri Siti dengan hadiah. Kadrun akan menyajikan masakan kesukaan Siti. Kadrun akan mengurus semua pekerjaan rumah tanpa membiarkan Siti kerepotan. Kadrun bersedia menjadi babu atau apapun asalkan Siti tetap berada di sisinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kadrun   Chapter 36

    Hari sudah menjelang petang ketika Kadrun kembali ke kontrakannya. Sisa hujan pagi masih menetes dari ujung atap, jatuh satu per satu ke dalam ember bekas cat yang diletakkan di sudut teras.Tik. Tik. Tik.Suara itu menyambutnya bersama aroma tanah basah dan wangi tumisan bawang dari rumah Mak Tijah. Beberapa anak berlarian tanpa alas kaki di lorong kontrakan. Salah seorang di antara mereka hampir menabrak Kadrun sebelum berbelok sambil tertawa keras.Kadrun tiba di depan kontrakannya. Ia membuka pintu perlahan.Ruangan di dalam kontrakan terasa lebih hangat. Tirai jendela dibiarkan terbuka sehingga cahaya senja berwarna keemasan menyelinap masuk dan jatuh di atas lantai semen. Di atas meja kecil tersedia dua piring yang ditutup tudung saji, sedangkan pakaian yang sebelumnya menumpuk di kursi telah dilipat rapi.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kontrakan sempit itu kembali terasa seperti rumah.Kadrun melepaskan sepatu, lalu berjalan menuju kamar.Siti sedang berbaring menya

  • Kadrun   Chapter 35

    Hujan semalam meninggalkan genangan di halaman parkir depan rumah panggung Sentra Batik Seberang Kota Jambi. Air berwarna kecokelatan memenuhi lubang-lubang kecil di tanah. Sesekali permukaannya bergetar tertimpa tetesan air yang masih jatuh dari ujung atap seng.Udara pagi terasa lembap. Aroma tanah basah bercampur dengan bau malam dari tungku pembatik yang menyala sejak subuh.Mobil dinas berpelat merah berhenti tidak jauh dari tangga rumah panggung. Kadrun membuka pintu, lalu turun sambil berhati-hati agar sepatu pantofelnya tidak menginjak genangan. Ia merapikan baju batik berwarna cokelat dengan motif angso duo yang dikenakannya.Brewok turun dari sisi lain sambil mengempit map berisi data pengrajin binaan.“Aku makin curiga dengan pengusaha itu,” katanya tanpa basa-basi.Kadrun tidak menjawab. Ia berdiri di samping mobil dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.Suasana kampung di Seberang Kota Jambi pagi itu berbeda dari biasanya. Sentra batik yang umumnya hanya ramai oleh suara

  • Kadrun   Chapter 34

    Di ruang kerja Bram Wijaya, pendingin udara terasa lebih dingin daripada biasanya. Tirai-tirai tinggi menutupi sebagian jendela, menyisakan garis cahaya yang jatuh tepat di atas meja kayu berwarna hitam.Eko berdiri tegak di depan meja itu dengan kedua tangan bertaut di belakang tubuhnya.“Lapor, Bos. Siti sudah mulai bekerja.”Bram tidak segera menanggapi. Ia masih membaca dokumen di tangannya, seolah kabar tentang Siti tidak lebih penting daripada angka-angka yang tercetak di sana.“Bagus,” jawabnya akhirnya.“Tapi bukan di tempat Jay.”“Aku tahu.”Eko mengangkat wajah. Alisnya sedikit bertaut.“Bos sudah tahu?”Bram meletakkan dokumen itu dengan tenang. Tatapannya beralih kepada Eko, membuat lelaki bertubuh kekar tersebut buru-buru menundukkan kepala.“Bukankah aku yang menyuruh Jay mengarahkannya ke sana?”Eko terdiam.Barulah ia memahami bahwa pertemuan Siti dengan Jay, tawaran pekerjaan, bahkan tempat karaoke baru itu bukanlah rangkaian kebetulan. Semuanya sudah diatur Bram deng

  • Kadrun   Chapter 33

    Kadrun: Bab 33 — Jalan PulangPagi itu Siti sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja lebih awal. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding kamar kos.Seragam barunya membungkus tubuhnya dengan cukup pas—kemeja merah marun dan rok hitam selutut. Tidak semewah pakaian yang pernah dikenakannya ketika menemani Bram menghadiri berbagai acara, tetapi setidaknya masih terlihat rapi. Lebih penting lagi, seragam itu ia dapatkan dari pekerjaannya sendiri.Siti baru hendak menyisir rambut ketika telepon genggamnya berdering.Nama yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya menegang.Bram Wijaya.Jarinya membeku di udara. Ia hanya memandangi layar hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya.Kamar kembali sunyi.Siti mengembuskan napas lega. Ia meletakkan telepon genggamnya di atas kasur, lalu mengambil sepasang sepatu yang baru dikeluarkan dari kotaknya.Kriingg!Siti terlonjak.Seharusnya nada dering ini segera kugant

  • Kadrun   Chapter 32

    Rumah kontrakan itu gelap meski matahari sudah meninggi.Beberapa gelas kopi masih tergeletak di lantai. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruang tamu. Tirai jendela tertutup rapat hingga udara di dalam rumah terasa pengap.Sudah lima hari Kadrun tidak ke kantor.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban.Tok! Tok! Tok!"Drun!"Masih sunyi.Brewok mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Kadrun bertahun-tahun lalu."Kalau nanti kau marah, marah saja," gerutunya.Kunci diputar.Klik.Pintu terbuka.Brewok langsung menutup hidung."Ya Allah... rumah apa kandang kambing?"Di sofa tua, Kadrun baru bangun dari tidurnya sambil mengucek mata. Janggutnya mulai tumbuh tidak beraturan. Tatapannya kosong menghadap televisi yang bahkan tidak menyala."Heh."Brewok melempar bungkusan nasi ke pangkuannya."Makan, jok!”Brewok melihat sekeliling. “Kemana Beuti? Kau pecat?”Kadrun menggeleng. “Dia pulang kampung, terkait urusannya kawin dengang Bang Somad.”“Jadi, sekara

  • Kadrun   Chapter 31

    Siti berdiri cukup lama di depan tempat karaoke milik Jay. Beberapa kali dia berniat masuk, tetapi langkahnya selalu terhenti sebelum mencapai pintu. Rasa malu menahan kedua kakinya.Dahulu dia datang ke tempat itu dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan tubuh penuh wangi parfum. Sekarang dia hanya mengenakan baju longgar yang dibelinya di pasar, sandal datar, serta membawa tas berisi beberapa lembar pakaian. Perutnya yang baru berusia 4 bulan mulai membesar tidak lagi dapat disembunyikan sepenuhnya.Beberapa orang yang mengenalnya memperhatikan dari kejauhan. Ada yang berbisik, ada pula yang sengaja membuang muka.Siti menarik napas panjang.Malu tidak akan memberinya makan.Dia akhirnya melangkah masuk.Jay sedang duduk di balik meja dekat kasir sambil memeriksa catatan pengeluaran. Begitu melihat Siti, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Tatapannya turun sebentar ke perut Siti sebelum kembali mengarah pada wajah perempuan itu.“Kau?”Siti tersenyum kaku. “Apa kabar, Bang?”Jay me

  • Kadrun   Chapter 8

    Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit

  • Kadrun   Chapter 6

    Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan

  • Kadrun   Chapter 5

    Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha

  • Kadrun   Chapter 4

    Iya Sayang, harus sabar. Aku kan juga sedang berusaha menjual batik seperti arahanmu. Aku tidak lagi menyumbang untuk para pengrajin. Semua penghasilan batikku akan kuberikan padamu. Cuma sekarang, pembeli batik sedang sepi. Jadi, jangan lagi berpikiran aku akan menelantarkanmu.” Kadrun mey

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status