Home / Romansa / Kadrun / Chapter 34

Share

Chapter 34

last update publish date: 2026-08-01 21:38:26

Di ruang kerja Bram Wijaya, pendingin udara terasa lebih dingin daripada biasanya. Tirai-tirai tinggi menutupi sebagian jendela, menyisakan garis cahaya yang jatuh tepat di atas meja kayu berwarna hitam.

Eko berdiri tegak di depan meja itu dengan kedua tangan bertaut di belakang tubuhnya.

“Lapor, Bos. Siti sudah mulai bekerja.”

Bram tidak segera menanggapi. Ia masih membaca dokumen di tangannya, seolah kabar tentang Siti tidak lebih penting daripada angka-angka yang tercetak di sana.

“Bagus,” j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kadrun   Chapter 36

    Hari sudah menjelang petang ketika Kadrun kembali ke kontrakannya. Sisa hujan pagi masih menetes dari ujung atap, jatuh satu per satu ke dalam ember bekas cat yang diletakkan di sudut teras.Tik. Tik. Tik.Suara itu menyambutnya bersama aroma tanah basah dan wangi tumisan bawang dari rumah Mak Tijah. Beberapa anak berlarian tanpa alas kaki di lorong kontrakan. Salah seorang di antara mereka hampir menabrak Kadrun sebelum berbelok sambil tertawa keras.Kadrun tiba di depan kontrakannya. Ia membuka pintu perlahan.Ruangan di dalam kontrakan terasa lebih hangat. Tirai jendela dibiarkan terbuka sehingga cahaya senja berwarna keemasan menyelinap masuk dan jatuh di atas lantai semen. Di atas meja kecil tersedia dua piring yang ditutup tudung saji, sedangkan pakaian yang sebelumnya menumpuk di kursi telah dilipat rapi.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kontrakan sempit itu kembali terasa seperti rumah.Kadrun melepaskan sepatu, lalu berjalan menuju kamar.Siti sedang berbaring menya

  • Kadrun   Chapter 35

    Hujan semalam meninggalkan genangan di halaman parkir depan rumah panggung Sentra Batik Seberang Kota Jambi. Air berwarna kecokelatan memenuhi lubang-lubang kecil di tanah. Sesekali permukaannya bergetar tertimpa tetesan air yang masih jatuh dari ujung atap seng.Udara pagi terasa lembap. Aroma tanah basah bercampur dengan bau malam dari tungku pembatik yang menyala sejak subuh.Mobil dinas berpelat merah berhenti tidak jauh dari tangga rumah panggung. Kadrun membuka pintu, lalu turun sambil berhati-hati agar sepatu pantofelnya tidak menginjak genangan. Ia merapikan baju batik berwarna cokelat dengan motif angso duo yang dikenakannya.Brewok turun dari sisi lain sambil mengempit map berisi data pengrajin binaan.“Aku makin curiga dengan pengusaha itu,” katanya tanpa basa-basi.Kadrun tidak menjawab. Ia berdiri di samping mobil dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.Suasana kampung di Seberang Kota Jambi pagi itu berbeda dari biasanya. Sentra batik yang umumnya hanya ramai oleh suara

  • Kadrun   Chapter 34

    Di ruang kerja Bram Wijaya, pendingin udara terasa lebih dingin daripada biasanya. Tirai-tirai tinggi menutupi sebagian jendela, menyisakan garis cahaya yang jatuh tepat di atas meja kayu berwarna hitam.Eko berdiri tegak di depan meja itu dengan kedua tangan bertaut di belakang tubuhnya.“Lapor, Bos. Siti sudah mulai bekerja.”Bram tidak segera menanggapi. Ia masih membaca dokumen di tangannya, seolah kabar tentang Siti tidak lebih penting daripada angka-angka yang tercetak di sana.“Bagus,” jawabnya akhirnya.“Tapi bukan di tempat Jay.”“Aku tahu.”Eko mengangkat wajah. Alisnya sedikit bertaut.“Bos sudah tahu?”Bram meletakkan dokumen itu dengan tenang. Tatapannya beralih kepada Eko, membuat lelaki bertubuh kekar tersebut buru-buru menundukkan kepala.“Bukankah aku yang menyuruh Jay mengarahkannya ke sana?”Eko terdiam.Barulah ia memahami bahwa pertemuan Siti dengan Jay, tawaran pekerjaan, bahkan tempat karaoke baru itu bukanlah rangkaian kebetulan. Semuanya sudah diatur Bram deng

  • Kadrun   Chapter 33

    Kadrun: Bab 33 — Jalan PulangPagi itu Siti sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja lebih awal. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding kamar kos.Seragam barunya membungkus tubuhnya dengan cukup pas—kemeja merah marun dan rok hitam selutut. Tidak semewah pakaian yang pernah dikenakannya ketika menemani Bram menghadiri berbagai acara, tetapi setidaknya masih terlihat rapi. Lebih penting lagi, seragam itu ia dapatkan dari pekerjaannya sendiri.Siti baru hendak menyisir rambut ketika telepon genggamnya berdering.Nama yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya menegang.Bram Wijaya.Jarinya membeku di udara. Ia hanya memandangi layar hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya.Kamar kembali sunyi.Siti mengembuskan napas lega. Ia meletakkan telepon genggamnya di atas kasur, lalu mengambil sepasang sepatu yang baru dikeluarkan dari kotaknya.Kriingg!Siti terlonjak.Seharusnya nada dering ini segera kugant

  • Kadrun   Chapter 32

    Rumah kontrakan itu gelap meski matahari sudah meninggi.Beberapa gelas kopi masih tergeletak di lantai. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruang tamu. Tirai jendela tertutup rapat hingga udara di dalam rumah terasa pengap.Sudah lima hari Kadrun tidak ke kantor.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban.Tok! Tok! Tok!"Drun!"Masih sunyi.Brewok mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Kadrun bertahun-tahun lalu."Kalau nanti kau marah, marah saja," gerutunya.Kunci diputar.Klik.Pintu terbuka.Brewok langsung menutup hidung."Ya Allah... rumah apa kandang kambing?"Di sofa tua, Kadrun baru bangun dari tidurnya sambil mengucek mata. Janggutnya mulai tumbuh tidak beraturan. Tatapannya kosong menghadap televisi yang bahkan tidak menyala."Heh."Brewok melempar bungkusan nasi ke pangkuannya."Makan, jok!”Brewok melihat sekeliling. “Kemana Beuti? Kau pecat?”Kadrun menggeleng. “Dia pulang kampung, terkait urusannya kawin dengang Bang Somad.”“Jadi, sekara

  • Kadrun   Chapter 31

    Siti berdiri cukup lama di depan tempat karaoke milik Jay. Beberapa kali dia berniat masuk, tetapi langkahnya selalu terhenti sebelum mencapai pintu. Rasa malu menahan kedua kakinya.Dahulu dia datang ke tempat itu dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan tubuh penuh wangi parfum. Sekarang dia hanya mengenakan baju longgar yang dibelinya di pasar, sandal datar, serta membawa tas berisi beberapa lembar pakaian. Perutnya yang baru berusia 4 bulan mulai membesar tidak lagi dapat disembunyikan sepenuhnya.Beberapa orang yang mengenalnya memperhatikan dari kejauhan. Ada yang berbisik, ada pula yang sengaja membuang muka.Siti menarik napas panjang.Malu tidak akan memberinya makan.Dia akhirnya melangkah masuk.Jay sedang duduk di balik meja dekat kasir sambil memeriksa catatan pengeluaran. Begitu melihat Siti, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Tatapannya turun sebentar ke perut Siti sebelum kembali mengarah pada wajah perempuan itu.“Kau?”Siti tersenyum kaku. “Apa kabar, Bang?”Jay me

  • Kadrun   Chapter 8

    Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit

  • Kadrun   Chapter 7

    Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikena

  • Kadrun   Chapter 6

    Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan

  • Kadrun   Chapter 5

    Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status