Beranda / Romansa / Kadrun / Chapter 5

Share

Chapter 5

last update Tanggal publikasi: 2022-01-31 16:59:10

Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak hanya satu atau dua tahun bersama. Kadrun ingin hidup bersama selamanya dengan Siti Majenun, walaupun Kadrun sendiri tidak cukup yakin perasaan yang sama dimiliki sang istri. Kadrun berharap dengan waktu yang diulur-ulurnya, maka dia akan mempunyai cukup waktu untuk membuat pikiran Siti berubah. Kadrun ingin Siti benar-benar mencintainya seperti dirinya yang tulus mencintai Siti. Kadrun tidak pernah merasa keberatan dengan sifat-sifat asli Siti, bagi Kadrun semua perempuan memang ditakdirkan menjadi cerewet dan menjengkelkan. Apalagi setelah berumah tangga. Kadrun melihat kenyataan itu pada Nenek, Mak, dan kakak-kakak perempuan sepupu yang dekat dengannya. Kadrun jadi memaklumi keadaan Siti.

Bagi Kadrun, Siti adalah perempuan baik dan tulus. Sebab ketulusan dan kebaikan perempuan itu sempat dirasakan Kadrun di awal-awal kedekatan mereka. Kadrun berharap waktu akan membuat kebaikan Siti muncul kembali. Kadrun sungguh-sungguh tidak ingin bercerai semudah itu dengan Siti.

Sebelum jam empat Kadrun sudah kabur dari kantor, sebab jadwalnya menerima jatah dari Siti mengalami perubahan. Biasanya malam hari, tetapi tadi Siti menelponnya karena dia harus pergi bertemu kawan yang sudah lama tidak dia temui. Jadi Siti meminta agar jadwal pemberian jatahnya dipercepat menjadi sore hari sebelum dia bersiap-siap berangkat menemui temannya. Tentu saja Kadrun bergegas seperti kesetanan mengendarai motornya melaju pulang ke kontrakan. Siti sudah terlihat duduk manis di sofa rumah membaca sebuah majalah kecantikan. Wajahnya seolah memiliki bohlam sekian watt, karena cahaya dari tubuh Siti terasa begitu menyilaukan di mata Kadrun, sehingga membuat Kadrun tersandung di depan pintu. Padahal dia tahu betul pintu kontrakannya mempunyai palang bekas penghuni kontrakan dulu yang punya anak balita dan palang itu tidak pernah Kadrun lepaskan. Otomatis Kadrun terjerembab ke lantai dan membuat Siti terkejut.

“Alamak! Kenapa, Drun?”

Kadrun meringis dan segera berdiri menahan rasa sakit dan sekaligus rasa malu. Dia mengelus-elus tulang keringnya.

“Tidak apa-apa, tadi aku sedikit lupa kalo ada palang di pintu kita itu.”

“Lah, bukannya barang itu memang dari dulu ada di situ?” Siti menatap Kadrun bingung.

“Iya. Sudah lama di situ, tetapi kan Yayang Siti belum lama di sini. Jadi aku merasa palang itu jadi tidak pernah ada karena ada Siti di situ.”

Siti tanpa ekspresi menatap Kadrun sebentar. Lalu kembali menekuri majalahnya.

Kadrun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Siti cantik sekali. Itu yang dipakai apa namanya, Yang?”

Siti menatap pakaiannya, “Lingerie,” tambah Siti acuh tak acuh.

“Kok, bisa merah begitu ya.”

“Iya merah. Memangnya kenapa kalau merah? Cepat sana mandi. Jangan buat aku berubah pikiran!” Siti membanting majalahnya di atas meja. Dia mulai merasa kesal dengan basa-basi Kadrun.

“Iya. Iya, Sayang. Di balik lenjernya kok menul-menul gitu?.”

“Dasar norak! Lingerie,” ralat Siti kembali mengambil majalahnya di atas meja.

“Iya, lingerie. Lingerie menul-menul. Maknyus!” Kadrun nyengir sambil terus mengulang-ulang kata tersebut.

Siti menatap Kadrun dengan mata memipih, “Mandi!”

“Oh iya, siap! Mandi! Tapi boleh tanya satu hal lagi, Yang?”

Siti tanpa ekspresi. Matanya tertuju penuh pada halaman majalah yang dia bolak-balik.

“Mahal ya bajunya? Rasanya kok Abang belum pernah belikan.”

“Iya mahal banget, sampai dak cukup belinya dengan gajimu, Drun!”

“Oh, jadi siapa yang belikan?”

“Aku beli sendiri!”

“Wah, banyak duit ya, Sayang.”

“Kalau banyak memang kenapa? Jadi kau senang tidak perlu mensubsidi uang belanja bulanan lagi buatku?”

Kadrun tersindir.

“Kenapa masih di situ? Cepatlah kau mandi!”

“Oh, iya. Iya.” Kadrun bergegas ke kamar mandi dan segera menghapus pikiran macam-macam yang mengacaukan mood bagusnya hari itu.

Sore itu, seperti minggu-minggu sebelumnya, setiap hari Kamis merupakan jadwal Kadrun memperoleh jatah dari Siti. Kadrun tidak mungkin melewatkan jadwal tersebut, karena service yang diberikan Siti memang tiada duanya. Di atas ranjang, Siti selalu melayani Kadrun dengan sepenuh hati, tanpa cela. Membuat Kadrun merasa menjadi seorang sultan yang berkuasa atas perempuan. Semua fantasi nakal Kadrun dipenuhi Siti tanpa ragu-ragu. Kadrun dibuat mabuk kepayang. Kadrun dibuat makin jatuh cinta pada Siti berkat kepiawaiannya di atas ranjang. Semakin kuat keinginan Kadrun untuk mempertahankan Siti dengan cara apapun untuk terus berada di sisinya.

 “Bisakah jadwal ini kita tambah, sayang? Aku ragu kalau cuma satu kali seminggu, pembuahan ini tidak cukup cepat terjadi.” Kadrun menyarankan setelah mereka menyelesaikan ronde yang begitu panas di atas ranjang. Bulir-bulir keringat masih tertinggal di pelipis Siti, napasnya pun masih terlihat naik turun. Posisi Kadrun dan Siti masih rebahan di atas ranjang dengan mata yang terpejam. Kedua tubuh telanjang mereka ditutupi selimut.

Siti tidak menoleh ke arah Kadrun, dengan mata masih tertutup bibirnya mengukir senyum sinis.

“Kenapa harus jadwalnya yang ditambah? Sebaiknya kau minum jamu atau obat yang bisa membuat cairanmu benar-benar berkualitas!”

“Menurut dokter tidak cukup seperti itu, Sayang. Intensitas juga penting.”

Siti menghela napas lalu membuka matanya menatap Kadrun di sebelahnya, “Jadi?”

“Kalau Sayang tidak percaya, nanti kita temui dokterku sama-sama.”

“Ck, tak usahlah. Aku percayakan saja padamu.” Siti kembali memejamkan mata.

Tangan Kadrun hendak meremas gunung padat Siti yang setengah menyebul dari balik selimut. Namun sebelum sampai ke tujuan, tangan Kadrun sudah ditepis Siti. Perempuan itu menarik selimutnya.

“Jadi bagusnya jadwal kuda-kudaan kita ditambah lagi, Yang?”

Siti belum menjawab. Matanya masih terpejam. Bisa jadi perempuan itu pura-pura tertidur.

Pikiran Kadrun saling berdebat. Untuk sesaat Kadrun jadi ragu-ragu atas permintaannya barusan. Dia cemas kalau Siti keburu hamil, berarti semakin cepat Siti harus pergi darinya. Dia lebih rela menahan syahwatnya dibandingkan harus buru-buru berpisah dengan Siti. Seminggu sekali sebenarnya jadwal yang cukup buat Kadrun. Toh dulu, dia menahan diri selama 40 tahun, kalaupun kepeleset dia cukup melakukan segalanya secara mandiri. Bisa jadi, cara mandiri akan cukup ideal mengisi jadwalnya yang dirasa kurang.

“Ah, sudahlah, Sayang. Tidak usaha dipikirkan permintaan Abang tadi. Biarlah seperti ini. Seminggu sekali saja. Sudah cukup, biar aku saja yang berusaha lebih keras.”

“Tidak apa-apa kalau mau nambah jadwal. Tapi aku minta perjanjian kita dirubah.”

Kadrun seolah-olah tidak percaya dengan pendengarannya. Dia langsung duduk di ranjang, “Apa, sayang?”

“Intensitas kerja rodi kita ditambah. Biar kemungkinan punya anak lebih cepat, seperti maumu.”

“Iya, Sayang.” Kadrun menjawab ragu-ragu antara sangat kepengen dan takut Siti segera kabur. Tapi Hasrat tampaknya lebih jujur dari rasa takut.

“Kita bisa setiap hari ya, Sayang?”

“Memang kau sanggup. Ukur kemampuanmu dulu kalau bicara.”

Kadrun menelan ludah pahit.

“Kita rubah jadi tiga kali seminggu.”

Kadrun tersenyum senang, dia ingin sekali meremas gunung Siti. Kalau biasanya cuma satu minggu sekali, sekarang dalam seminggu dia bisa melakukannya tiga kali. Kadrun bersorak riang dalam hati.

“Selasa, Kamis, Sabtu untuk jadwalnya. Terserah, kau mau malam atau siang hari.”

“Bisa dua-duanya, Yang?”

“Aku kan sudah bilang, ukur dulu kemampuanmu baru bicara.”

Kadrun mengatup mulutnya rapat-rapat.

“Aku mengajukan penawaran baru.” Siti kemudian bangkit dari rebahannya. Dia mengambil sesuatu dari nakas di sebelah ranjangnya. Selembar kertas dan sebuah pulpen disodorkan di dada Kadrun.

Kadrun meraihnya. Sebuah perjanjian tertulis dengan rapi di kertas tersebut.

“Lima ratus juta?” Kadrun tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya melihat angka yang diminta Siti. 

“Tiga hari. Full service. Dalam jangka waktu yang tidak terduga, bisa satu tahun, dua tahun, bahkan entah berapa tahun. Tapi aku yakinkan bahwa sampai tiga tahun aku tidak juga hamil. Maka perjanjian itu batal. Aku akan pergi dengan tangan kosong.”

Kadrun masih memandangi kertas yang disodorkan Siti.

“Aku juga minta uang muka sebesar seratus juta.”

“Uang muka?”

“Aku berikan dua pilihan, beri aku uang seratus juta sebagai uang muka perjanjian ini atau biarkan aku kembali bekerja.”

“Bekerja? Untuk apa?”

“Ya, untuk memenuhi kebutuhan aku lah. Uang bulananmu tidak cukup.”

Kadrun menghela napas.

“Helaan napas itu kuanggap kau lebih sanggup membiarkan aku kembali bekerja.”

“Tidak! Kau tidak perlu bekerja. Akan kusediakan uang mukanya.”

Siti tersenyum, “Tolong tanda tangani perjanjian itu dan uangnya ditransfer ke rekeningku. Ingat, uang muka ini tidak akan dikembalikan apabila ternyata aku gagal memberimu seorang anak. Anggap saja itu biaya service yang kuberikan. Kau tidak akan menyesal membayarnya, karena kau tidak akan pernah menemukan service ranjang dari seorang istri yang profesional sepertiku.”

Kadrun merasa tidak punya pilihan, lagi pula perjanjian tersebut cukup saling menguntungkan. Si lelaki memutuskan menoreh tanda tangan di atas lembar perjanjian tersebut. Setelah bagiannya selesai, giliran Siti mengukir tanda tangannya dengan senyum simpul. Perempuan itu merasa bahagia sekarang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kadrun   Chapter 32

    Rumah kontrakan itu gelap meski matahari sudah meninggi.Beberapa gelas kopi masih tergeletak di lantai. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruang tamu. Tirai jendela tertutup rapat hingga udara di dalam rumah terasa pengap.Sudah lima hari Kadrun tidak ke kantor.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban.Tok! Tok! Tok!"Drun!"Masih sunyi.Brewok mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Kadrun bertahun-tahun lalu."Kalau nanti kau marah, marah saja," gerutunya.Kunci diputar.Klik.Pintu terbuka.Brewok langsung menutup hidung."Ya Allah... rumah apa kandang kambing?"Di sofa tua, Kadrun baru bangun dari tidurnya sambil mengucek mata. Janggutnya mulai tumbuh tidak beraturan. Tatapannya kosong menghadap televisi yang bahkan tidak menyala."Heh."Brewok melempar bungkusan nasi ke pangkuannya."Makan, jok!”Brewok melihat sekeliling. “Kemana Beuti? Kau pecat?”Kadrun menggeleng. “Dia pulang kampung, terkait urusannya kawin dengang Bang Somad.”“Jadi, sekara

  • Kadrun   Chapter 31

    Siti berdiri cukup lama di depan tempat karaoke milik Jay. Beberapa kali dia berniat masuk, tetapi langkahnya selalu terhenti sebelum mencapai pintu. Rasa malu menahan kedua kakinya.Dahulu dia datang ke tempat itu dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan tubuh penuh wangi parfum. Sekarang dia hanya mengenakan baju longgar yang dibelinya di pasar, sandal datar, serta membawa tas berisi beberapa lembar pakaian. Perutnya yang baru berusia 4 bulan mulai membesar tidak lagi dapat disembunyikan sepenuhnya.Beberapa orang yang mengenalnya memperhatikan dari kejauhan. Ada yang berbisik, ada pula yang sengaja membuang muka.Siti menarik napas panjang.Malu tidak akan memberinya makan.Dia akhirnya melangkah masuk.Jay sedang duduk di balik meja dekat kasir sambil memeriksa catatan pengeluaran. Begitu melihat Siti, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Tatapannya turun sebentar ke perut Siti sebelum kembali mengarah pada wajah perempuan itu.“Kau?”Siti tersenyum kaku. “Apa kabar, Bang?”Jay me

  • Kadrun   Chapter 30

    Malam telah larut ketika mobil yang disetir Zulaikah berhenti di halaman sebuah rumah bergaya kolonial di kawasan perumahan elit Kota Jambi. Zulaikah baru tiga bulan lalu membeli rumah itu. Dan dia baru menempati rumah itu kurang lebih satu bulan.Rumah itu sunyi.Dari luar, lampu ruang tamu masih tampak menyala redup, sementara taman yang biasanya dipenuhi bunga kamboja tampak lengang tanpa seorang pun.Zulaikah mematikan mesin mobilnya.Entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Kadrun terus memenuhi pikiran Zulaikah. Ini sudah pertemuan ke sekian dengan Kadrun setelah dia menetap di rumah barunya tersebut. Tapi dia belum pernah mengajak Kadrun ke kediamannya.Zulaikah tersenyum kecil.Lelaki itu masih sama. Masih tertawa dengan suara yang keras. Masih menggaruk rambut kribonya setiap kali gugup. Masih berbicara seolah hidup tak pernah memberinya beban."Aneh..." gumamnya pelan. "Setelah bertahun-tahun, kau masih sama."Zulaikah melangkah masuk ke dalam rumah.Asisten

  • Kadrun   Chapter 29

    Mobil SUV hitam itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bengkel di pinggiran Kota Jambi dengan plang besar bertulis “BENGKEL BANG SOMAD”.Mesinnya masih menyala.Siti termangu dari dalam mobil memandangi lorong di samping bengkel tersebut. Dadanya mendadak sesak."Bukalah."Suara Eko terdengar datar dari kursi depan.Siti tidak bergerak, "aku tidak mau turun."Eko menoleh melalui kaca spion."Itu bukan permintaan.""Aku mau bertemu Pak Bram.""Tidak bisa.""Kalau begitu antarkan aku ke hotel.""Tidak bisa."Siti menggenggam erat test pack yang masih berada di dalam tasnya."Dia bilang akan bertanggung jawab...."Eko menghela napas pendek, lalu turun membuka pintu mobil."Bu Siti."Nada suaranya tetap sopan, tetapi dingin. "Pak Bram tidak pernah mengulang ucapannya dua kali."Jantung Siti berdegup semakin cepat. "Dia pembohong!""Hubungan bisnis Ibu dan Pak Bram sudah selesai."Siti menggeleng kuat-kuat."Tidak mungkin. Bram bilang dia mencintai aku." Siti mulai men

  • Kadrun   Chapter 28

    Bram Wijaya berdiri bertelanjang dada dengan hanya sehelai handuk putih melilit pinggang di depan cermin besar kamar mandi sebuah hotel bintang lima di Bali. Wajah Bram dipenuhi busa cukur, sementara tangan kanannya dengan tenang menggerakkan pisau cukur menyusuri garis rahangnya yang tegas. Setiap gerakan yang ia buat tampak santai dan presisi.Sudah hampir sebulan Siti selalu berada di sisinya.Perjalanan bisnis itu dimulai dari Pekanbaru, berlanjut ke Jakarta, Batam, hingga akhirnya berakhir di Bali. Selama mengikuti Bram, Siti bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Saat Bram sibuk menghadiri rapat, bertemu relasi bisnis, atau menghadiri jamuan makan dengan para kliennya, Siti menghabiskan waktu dengan berbelanja, menikmati spa, atau menjelajahi berbagai tempat wisata. Semua kebutuhannya dipenuhi tanpa pernah ditanya ke mana ia pergi atau apa yang dilakukannya.Sejak meninggalkan kontrakan Kadrun, Siti mengikuti Bram ke mana pun pria kaya itu melangkah. Kemewahan yang selama in

  • Kadrun   Chapter 27

    Kadrun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Dia tidak melanjutkan bertanya apapun.Sedangkan Zulaikah, dia tampak kembali mendekati salah satu ibu pembatik yang dengan hati-hati mengguratkan canting di atas kain mori.“Ini kain premium, Bu?” tunjuk Zulaikah pada kain yang sedang dikerjakan si Ibu.“Iya, kalau untuk batik tulis kita pakai kain katun premium atau kadang pakai sutra juga.”“Satu lembar ini selesai berapa lama dengan Ibu?” tanya Zulaikah.“Ya, setengah bulan lah, Bu. Tergantung motif, kalau rumit, ya harus lebih hati-hati jadinya butuh waktu lebih lama, bisa 1 bulan sendiri.” “Ibu yang buat desain ini sendiri?”Ibu itu tertawa, “saya bagian yang melukis saja, Bu.”“Siapa yang buat desain ini?” tanya Zulaikah lagi.“Ada, si Udin. Dia sudah sejak SMP diajarkan Bang Kadrun mendesain,”“Motif apa ini, bu?”“Riang-riang,” kali ini Kadrun yang menjawab, “ia terinspirasi dari serangga tonggeret yang melambangkan semangat dan kehidupan.”Kadrun melambaikan tangan ke arah

  • Kadrun   Chapter 3

    Perempuan seperti Cinderella memang tidak pernah ada di dunia nyata, begitu pun Snow White, Rapunzel, Aurora Sleeping Beauty, dan Mulan. Perempuan yang ada di muka bumi ini kebanyakan adalah semacam Siti Majenun. Setelah pesta kondangan usai digelar, acara adat selesai dilaksana

  • Kadrun   Chapter 2

    Pesta pernikahan Kadrun dan Siti Majenun pun digelar di kampung. Alasannya karena Siti tidak lagi punya keluarga dan atas permintaan Mak Kadrun. Meriah sekali pesta kondangan yang digelar keluarga Kadrun. Sebagai petani yang punya banyak kebun sawit dan anak buah, tentu pesta yang digelar tok

  • Kadrun   Chapter 1

    Kadrun terlalu bahagia. Budak melayu kampung itu menyapa siapapun sepanjang gang masuk kontrakan rumahnya. Dia tidak menurunkan satu inci pun senyum di bibir sejak dia menemukan rasa bahagia yang fantastis dahsyat itu. Dia mencium tangan setiap perempuan yang berpapasan dengannya. Tua, m

  • Kadrun   Chapter 8

    Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status