Home / Romansa / Kadrun / Chapter 8

Share

Chapter 8

last update publish date: 2022-02-02 13:24:50

Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Siti berusaha membukanya, deritnya tetap akan terdengar jelas. Kadrun terbangun. Siti segera meletakkan tas dan sepatunya ke dalam lemari lalu menutupnya kembali. Melihat Kadrun bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi dipan, Siti langsung membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Dengan tanpa sehelai benang pun, Siti langsung menghampiri Kadrun dan memangut Kadrun dengan liar. Kadrun tidak diberikan sedikit pun kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Kadrun pun tidak bisa berpikir apa-apa lagi, dia refleks membalas pangutan Siti dengan tak kalah liar, dia meremas buah dada Siti yang kenyal dan padat. Siti membiarkan tangan Kadrun yang lain meremas lembut selangkangannya dan menikmati permainan tangan Kadrun di selangkangannya.

Siti membalas remasan Kadrun dengan memangut selangkangan Kadrun. Merasakan kenikmatan maha dahsyat itu, Kadrun tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Dia melenguh seperti sapi di puncak kenikmatan. Dia pasrah membiarkan selangkangannya dibuat basah oleh air liur Siti, membuat Kadrun melupakan semua kemarahan dan rasa curiganya sepanjang malam yang sudah dia pupuk. Kadrun sempurna dibuat melayang-layang di langit lapis tertinggi oleh sentuhan, remasan, dan pangutan Siti yang seolah-olah tanpa jeda. Hingga semua pergulatan itu selesai dan keduanya kelelahan hingga terlelap tanpa sempat melakukan komunikasi satu sama lain.

Paginya, Kadrun terbangun dan tidak mendapati istrinya di sampingnya. Akan tetapi dia mendapati sepiring sarapan gado-gado dan segelas teh hangat di atas nakas di sisi ranjang dengan sebuah note.

“SARAPAN DULU YA, ABANG KADRUN SAYANG. AKU BELI GADO-GADO BU MEME. SEKARANG AKU MAU JOGGING. ENTAH KENAPA AKU MERASA AGAK GENDUTAN. JADI AKU KELILING GANG DULU SEBENTAR. SAMBIL BELANJA BUAT MASAK KITA HARI INI. LOVE SITI.”

Kadrun mengernyitkan dahinya, “Siti masak?”

Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu luar dibuka. Kadrun mendengar langkah Siti mendekat ke kamar tidur. Tidak berapa lama, wajah segar Siti yang natural tanpa make-up berbalut pakaian olah raga bersimbah keringat muncul di muka pintu kamar.

“Abang sudah bangun?” Siti menyapa suaminya.

Kadrun tersenyum, dia bangkit mengenakan celana pendek. “Iya, Yang.”

“Ma kasih ya lingerie-nya. Bagus banget. Jadi pengen dipakai buat bertarung. Warnanya kelihatan garang banget. Motif macan tutul. Ternyata selera Abang agak liar juga ya? Jadi minggu depan kita ala Tarzan dan Jane atau Tarzan Betawi dan Zaenab?” Siti menggoda Kadrun dengan kerlingan genit membuat Kadrun blingsatan. Dia langsung berdiri menghampiri Siti.

“Malam ini bisa ya dipakai, Sayang. Abang pengen jadi Tarzan.” Kadrun membujuk istrinya.

“Sorry ya. Kan tadi subuh sudah jatahnya.” Siti melangkah ke dapur meletakkan barang belanjaannya.

“Oh, aku kira subuh tadi itu gratis. Masa sudah dikasih uang muka dak dapat bonus.” Kadrun mengikuti isterinya.

“Ih, maunya. Memang sanggup kalau dikasih bonus? Jangan-jangan malah angkat bendera putih.”

 “Eh, sembarangan! Jangan suka meremehkan sebelum ada bukti.”

“Besok-besok aja lah, Bang. Jane mau masak dulu buat Tarzan.”

Kadrun memandangi pantat Siti yang terbalut training ketat. Bentuk bokong Siti jelas tercetak di training itu.

“Tadi keliling kampung pakai baju ini ya?”

Siti mengangguk sambil mengeluarkan belanjaannya.

“Besok kalau bisa jangan lagi ya.”

“Ih, Abang ini. Banyak banget sih pantangannya. Aku itu pede kalau olahraga pakai pakaian yang begini. Lagian aku disuruh pakai apa buat olahraga? Rata-rata baju olah raga ya begini ini. Masa aku harus pakai karung goni? Atau pakai kain kafan biar dikira pocong. Biar semua orang di gang ini kabur?”

“Pasti semua laki-laki melihat bokongmu.”

“Ih, bodoh amat! Mereka cuma bisa lihat tapi tidak bisa remas. Mereka cuma bisa punya khayalan. Kan khayalan orang tidak bisa dituntut!” Siti melanjutkan. “Jadi, Bapak Kadrun yang terhormat tidak perlu takut-takut amat! Siti Majenun ini perempuan kalangan atas, kalangan jetset, bukan kalangan bawah. Jadi, mana mungkin aku mau digrepe-grepe sama tukang sate, tukang bakso, tukang ayam atau uwak-uwak tuir di sepanjang gang ini? Iiih, amit-amit!” Siti bergidik sendiri.

Kadrun membenarkan ucapan istrinya dalam hati.

“Iya, Abang tahu itu, Sayang. Cuma kalau bisa cari baju olahraga yang rada sopan dan longgar. Keseksian Sayang itu buat Abang seorang saja lah.”

Siti langsung merangkul Kadrun, “Ya udah, aku olahraga pakai baju ini di atas kasur aja ya. Biar Abang Kadrun yang remas-remas. Satu, Uuuh. Dua-Aaah. Gitu, Bang?” Siti mulai mendesah lagi membuat Kadrun blingsatan.

“Ke kamar yuk, Sayang,” Kadrun menarik pinggang istrinya.

“Ngapain? Kita kan mau masak. Aku lapar gara-gara kerja keras tadi subuh.” Siti melepas rangkulannya dan mulai mencuci potongan ayam yang dia beli.

“Mau masak?” Kadrun bertanya karena penasaran.

“Iya lah. Soalnya Abang belum kasih asisten baru. Jadi ya, mau dak mau masak sendiri. Padahal kuku-kuku ini baru dari pedi medi kemarin.” Siti langsung memandangi kukunya nampak tidak rela.

“Udah, biar Abang yang masak. Siti duduk saja sana. Ambil remote di laci. Tonton acara gosip kesukaanmu.”

“A-ah, yang benar, Abang,” Siti kembali mendesah-desah.

“Iya.”

“Iiih, Abang A-ah! Aku olah raga dulu deh. Satu, u-uh. Dua a-ah. Tiga, Bang?” Siti meliuk-liuk menggoda. Tidak ada gerakan tubuh Siti yang tidak membangkitkan gairah Kadrun.

Kadrun langsung membatalkan meraih pisau dapur untuk memasak. Dia lebih memilih mengangkat tubuh Siti dan membawanya ke kamar tidur mereka. Siti meronta-ronta manja minta dilepaskan. Hal itu membuat Kadrun malah membanting pintu kamar dan merebahkan tubuh Siti di Kasur.

Lingerie untuk Jane belum dipakai, Bang.” Siti hendak bangkit dari kasur. Kadrun langsung menahannya.

“Tarzan udah tidak tahan. Tidak usah pakai lingerie. Tarzan suka yang polos.” Kadrun langsung membuka ritsleting baju training olahraga Siti dan membuat dua gunung kembar Siti kembali menyembul nakal.

Pagi itu pertempuran yang kedua berlangsung lebih ganas. Kali ini Kadrun tak ingin kalah liar. Dia langsung menerkam Siti bak harimau kelaparan. Kadrun memangut dan meremas tubuh sintal Siti hingga keduanya mencapai klimas dan terbaring kelelahan kembali di atas kasur.

“Ih, kalau gini terus dak jadi masak kita, Bang. Aku udah lapar banget. Cacing-cacing dalam perut sudah meronta-ronta.” Siti segera membereskan pakaiannya dan kembali ke dapur.

Kadrun menyusul istrinya di dapur setelah mengenakan pakaian.

“Kita makan di luar saja ya, Sayang. Kali ini kita tidak perlu masak.”

Siti mengerutkan kening.

“Selama ini aku memang jarang ngajak Sayang makan di luar.”

“Tapi aku sudah belanja, Yang.”

“Taruh di kulkas saja. Biar besok baru kita masak.”

Siti tersenyum girang, “Kalau gitu aku mandi dulu ya.”

“Abang ikut ya.”

“Iiih, jangan ah! Siti udah capek digarap dua ronde. Memang Abang yahud banget! Tiada duanya!” puji Siti membuat cuping hidung Kadrun kempas-kempis karena bangga.

“Abang masih sanggup ini, Yang.”

Siti segera masuk kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat, “Ogah ah. Siti minta ampun, Bang. Pasti Abang pakai obat kuat hari ini kan?”

“Sembarangan. Itu memang kekuatan Abang. Dijamin asli tanpa penguat. Sayang tuh yang selalu menganggap remeh kemampuan Abang selama ini. Lihat, baru dua ronde aja Sayang udah minta ampun! Padahal Abang masih sanggup lima ronde!”

“Ampun, Bang!” Siti menimpali dari kamar mandi.

“Terbuktikan siapa yang lebih kuat!”

Terdengar suara air yang diguyur ke lantai.

“Iya. Aku betul-betul minta ampun, Bang. Udah dak sanggup.”

Kadrun duduk dengan jumawa di sofa coklat andalannya. Dia menghidupkan televisi menonton siaran berita hari itu. Dia merasa sangat menjadi laki-laki.

Siti selesai mandi berbalut handuk pink. Dia berlari-lari kecil menuju kamar.

“Ih, apa ini, Bang?” suara Siti terdengar dari kamar.

“Uang belanja.” Kadrun menyahut tanpa melepas pandangannya dari televisi. Kadrun memang sengaja menaruh uang tersebut di atas nakas di sisi ranjang Siti sebagai kejutan pada saat Siti mandi.

Siti keluar dari kamar tidur dengan berbalut handuk sengaja menghampiri Kadrun untuk menciumnya.

“Lima juta?” Siti mengibaskan uang di wajahnya.

“Kan permintaannya segitu.”

“Memang boleh lebih?”

“Yaa, doakan saja jualan batikku lancar.”

“Aaah, Sayang.” suara manja yang penuh desahan kembali keluar dari mulut Siti.

“Udah ah, jangan ngomong dengan nada gitu dong. Nanti aku bopong lagi ke kamar.”

Siti tersenyum, “Ampun, Bang!”

Siti berlari kecil kembali ke kamar.

Kadrun tertawa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kadrun   Chapter 32

    Rumah kontrakan itu gelap meski matahari sudah meninggi.Beberapa gelas kopi masih tergeletak di lantai. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruang tamu. Tirai jendela tertutup rapat hingga udara di dalam rumah terasa pengap.Sudah lima hari Kadrun tidak ke kantor.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban.Tok! Tok! Tok!"Drun!"Masih sunyi.Brewok mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Kadrun bertahun-tahun lalu."Kalau nanti kau marah, marah saja," gerutunya.Kunci diputar.Klik.Pintu terbuka.Brewok langsung menutup hidung."Ya Allah... rumah apa kandang kambing?"Di sofa tua, Kadrun baru bangun dari tidurnya sambil mengucek mata. Janggutnya mulai tumbuh tidak beraturan. Tatapannya kosong menghadap televisi yang bahkan tidak menyala."Heh."Brewok melempar bungkusan nasi ke pangkuannya."Makan, jok!”Brewok melihat sekeliling. “Kemana Beuti? Kau pecat?”Kadrun menggeleng. “Dia pulang kampung, terkait urusannya kawin dengang Bang Somad.”“Jadi, sekara

  • Kadrun   Chapter 31

    Siti berdiri cukup lama di depan tempat karaoke milik Jay. Beberapa kali dia berniat masuk, tetapi langkahnya selalu terhenti sebelum mencapai pintu. Rasa malu menahan kedua kakinya.Dahulu dia datang ke tempat itu dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan tubuh penuh wangi parfum. Sekarang dia hanya mengenakan baju longgar yang dibelinya di pasar, sandal datar, serta membawa tas berisi beberapa lembar pakaian. Perutnya yang baru berusia 4 bulan mulai membesar tidak lagi dapat disembunyikan sepenuhnya.Beberapa orang yang mengenalnya memperhatikan dari kejauhan. Ada yang berbisik, ada pula yang sengaja membuang muka.Siti menarik napas panjang.Malu tidak akan memberinya makan.Dia akhirnya melangkah masuk.Jay sedang duduk di balik meja dekat kasir sambil memeriksa catatan pengeluaran. Begitu melihat Siti, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Tatapannya turun sebentar ke perut Siti sebelum kembali mengarah pada wajah perempuan itu.“Kau?”Siti tersenyum kaku. “Apa kabar, Bang?”Jay me

  • Kadrun   Chapter 30

    Malam telah larut ketika mobil yang disetir Zulaikah berhenti di halaman sebuah rumah bergaya kolonial di kawasan perumahan elit Kota Jambi. Zulaikah baru tiga bulan lalu membeli rumah itu. Dan dia baru menempati rumah itu kurang lebih satu bulan.Rumah itu sunyi.Dari luar, lampu ruang tamu masih tampak menyala redup, sementara taman yang biasanya dipenuhi bunga kamboja tampak lengang tanpa seorang pun.Zulaikah mematikan mesin mobilnya.Entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Kadrun terus memenuhi pikiran Zulaikah. Ini sudah pertemuan ke sekian dengan Kadrun setelah dia menetap di rumah barunya tersebut. Tapi dia belum pernah mengajak Kadrun ke kediamannya.Zulaikah tersenyum kecil.Lelaki itu masih sama. Masih tertawa dengan suara yang keras. Masih menggaruk rambut kribonya setiap kali gugup. Masih berbicara seolah hidup tak pernah memberinya beban."Aneh..." gumamnya pelan. "Setelah bertahun-tahun, kau masih sama."Zulaikah melangkah masuk ke dalam rumah.Asisten

  • Kadrun   Chapter 29

    Mobil SUV hitam itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan sebuah bengkel di pinggiran Kota Jambi dengan plang besar bertulis “BENGKEL BANG SOMAD”.Mesinnya masih menyala.Siti termangu dari dalam mobil memandangi lorong di samping bengkel tersebut. Dadanya mendadak sesak."Bukalah."Suara Eko terdengar datar dari kursi depan.Siti tidak bergerak, "aku tidak mau turun."Eko menoleh melalui kaca spion."Itu bukan permintaan.""Aku mau bertemu Pak Bram.""Tidak bisa.""Kalau begitu antarkan aku ke hotel.""Tidak bisa."Siti menggenggam erat test pack yang masih berada di dalam tasnya."Dia bilang akan bertanggung jawab...."Eko menghela napas pendek, lalu turun membuka pintu mobil."Bu Siti."Nada suaranya tetap sopan, tetapi dingin. "Pak Bram tidak pernah mengulang ucapannya dua kali."Jantung Siti berdegup semakin cepat. "Dia pembohong!""Hubungan bisnis Ibu dan Pak Bram sudah selesai."Siti menggeleng kuat-kuat."Tidak mungkin. Bram bilang dia mencintai aku." Siti mulai men

  • Kadrun   Chapter 28

    Bram Wijaya berdiri bertelanjang dada dengan hanya sehelai handuk putih melilit pinggang di depan cermin besar kamar mandi sebuah hotel bintang lima di Bali. Wajah Bram dipenuhi busa cukur, sementara tangan kanannya dengan tenang menggerakkan pisau cukur menyusuri garis rahangnya yang tegas. Setiap gerakan yang ia buat tampak santai dan presisi.Sudah hampir sebulan Siti selalu berada di sisinya.Perjalanan bisnis itu dimulai dari Pekanbaru, berlanjut ke Jakarta, Batam, hingga akhirnya berakhir di Bali. Selama mengikuti Bram, Siti bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Saat Bram sibuk menghadiri rapat, bertemu relasi bisnis, atau menghadiri jamuan makan dengan para kliennya, Siti menghabiskan waktu dengan berbelanja, menikmati spa, atau menjelajahi berbagai tempat wisata. Semua kebutuhannya dipenuhi tanpa pernah ditanya ke mana ia pergi atau apa yang dilakukannya.Sejak meninggalkan kontrakan Kadrun, Siti mengikuti Bram ke mana pun pria kaya itu melangkah. Kemewahan yang selama in

  • Kadrun   Chapter 27

    Kadrun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Dia tidak melanjutkan bertanya apapun.Sedangkan Zulaikah, dia tampak kembali mendekati salah satu ibu pembatik yang dengan hati-hati mengguratkan canting di atas kain mori.“Ini kain premium, Bu?” tunjuk Zulaikah pada kain yang sedang dikerjakan si Ibu.“Iya, kalau untuk batik tulis kita pakai kain katun premium atau kadang pakai sutra juga.”“Satu lembar ini selesai berapa lama dengan Ibu?” tanya Zulaikah.“Ya, setengah bulan lah, Bu. Tergantung motif, kalau rumit, ya harus lebih hati-hati jadinya butuh waktu lebih lama, bisa 1 bulan sendiri.” “Ibu yang buat desain ini sendiri?”Ibu itu tertawa, “saya bagian yang melukis saja, Bu.”“Siapa yang buat desain ini?” tanya Zulaikah lagi.“Ada, si Udin. Dia sudah sejak SMP diajarkan Bang Kadrun mendesain,”“Motif apa ini, bu?”“Riang-riang,” kali ini Kadrun yang menjawab, “ia terinspirasi dari serangga tonggeret yang melambangkan semangat dan kehidupan.”Kadrun melambaikan tangan ke arah

  • Kadrun   Chapter 7

    Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikena

  • Kadrun   Chapter 6

    Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan

  • Kadrun   Chapter 5

    Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha

  • Kadrun   Chapter 4

    Iya Sayang, harus sabar. Aku kan juga sedang berusaha menjual batik seperti arahanmu. Aku tidak lagi menyumbang untuk para pengrajin. Semua penghasilan batikku akan kuberikan padamu. Cuma sekarang, pembeli batik sedang sepi. Jadi, jangan lagi berpikiran aku akan menelantarkanmu.” Kadrun mey

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status