LOGINSuara deru mesin mobil Rendra perlahan mereda di halaman rumah. Pintu depan terbuka, dan Rendra melangkah masuk dengan senyum yang sejak pagi itu tak pernah lepas dari bibirnya—senyum damai karena beban rahasia yang membelenggunya selama ini akhirnya luruh setelah ia berani jujur pada Rina. Ia meletakkan tas kerjanya di sudut ruangan, lalu menyambar tubuh istrinya yang menyambutnya di ambang pintu ke dalam pelukan hangat. "Aku pulang, Sayang. Rasanya hari ini perjalanan terasa lebih singkat dari biasanya, karena hatiku selalu rindu padamu," bisiknya lembut, mencium puncak kepala Rina. Namun pelukan itu tidak dibalas seerat biasanya. Rina hanya diam, kedua tangannya tergantung di samping tubuh, dan saat Rendra menurunkan pandangannya untuk menatap wajah istrinya, ia melihat sorot mata Rina yang biasanya teduh kini berubah dingin, ada kilatan luka yang samar namun terasa menyakitkan. "Ada apa, Rina? Kenapa wajahmu berubah begitu?" tanya Rendra cemas, segera melepaskan pelukannya dan
Uap air hangat masih mengepul di ruang mandi yang luas dan bersih, menyisakan aroma sabun lembut yang memenuhi udara. Rendra berdiri di dekat wastafel, wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak gundah dan penuh kegelisahan. Ia membasuh wajah berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak rasa bersalah yang menyesakkan dadanya. Di sebelahnya, Rina sedang mengeringkan rambut dengan handuk lembut, gerakannya tenang namun terlihat ada ketegangan halus yang menyelimuti raut wajahnya. Sejak tadi, ia menyadari perubahan sikap Rendra yang berubah hening dan berat, seolah ada beban berat yang tertahan di hati suaminya. Setelah selesai bersih-bersih, mereka berjalan berdampingan kembali ke kamar tidur. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kini terasa lebih terang, namun suasana di antara mereka terasa berat dan penuh keheningan yang menyakitkan. Rendra duduk di tepi tempat tidur, kedua tangannya meremas lutut dengan gugup. Ia menatap lantai, tak berani menatap manik mata
Sinar fajar baru saja menyelinap tipis dari celah tirai jendela kamar, menyisakan warna jingga pucat yang membelah kegelapan ruangan. Di atas tempat tidur yang empuk itu, Rendra masih memeluk tubuh Rina dengan sangat erat, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita di dekapannya itu akan lenyap begitu saja. Napas keduanya masih teratur, namun terasa berat, menyisakan kelelahan yang pekat setelah kebersamaan yang begitu hangat dan penuh gairah sepanjang malam tadi. Rina membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah ada beban berat yang menindihnya. Ia melirik jam dinding di sudut kamar—jarumnya sudah menunjuk tepat pukul lima pagi. Biasanya di jam segini mereka sudah mulai beranjak bangun, merapikan tempat tidur, dan bersiap untuk melaksanakan ibadah subuh. Namun pagi ini, tubuhnya terasa begitu lemas, setiap gerakan terasa berat, dan di sampingnya, Rendra masih terlelap pulas dengan wajah yang nampak begitu damai namun juga kelelahan yang me
Sisa-sisa gairah yang tadi memuncak perlahan berubah menjadi pertarungan batin yang hebat di dalam dada Rendra. Ia duduk kembali di kursi kerjanya, kedua telapak tangannya menekan meja hingga buku jarinya memutih, matanya menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampakkan pemandangan kota Bekasi yang mulai riuh. Di satu sisi, bayangan sosok Casandra masih terngiang jelas di kepalanya—keberaniannya, caranya memeluk, membelai, dan memuaskan setiap keinginan yang dulu pernah mereka bagi bersama di Amerika. Tak bisa ia pungkiri, ada perbandingan yang tak sengaja muncul di benaknya. Bersama Casandra, segalanya terasa bebas, liar, tanpa ragu sedikit pun. Wanita itu tahu persis apa yang diinginkannya, dan tak pernah segan untuk mengejarnya. Sedangkan dengan Rina, semuanya berjalan lebih lembut, penuh kehati-hatian, kadang masih diselimuti rasa takut dan malu. Rina adalah wanita yang tulus, polos, dan penuh kasih sayang—namun dalam hal keintiman, ia masih membutuhkan waktu untuk benar-
Belum sempat tangan Rendra meraih pinggangnya sendiri, layar ponsel yang tadi menampilkan wajah Casandra tiba-tiba tertutup sepenuhnya oleh nama besar yang membuat darahnya seketika berdesir hebat: Rina — Istriku. Jantung Rendra seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya melotot, napas yang tadi memburu karena gairah seketika tercekat di kerongkongan. Ia menoleh panik ke arah pintu ruangan—terkunci, syukurlah—lalu kembali menatap layar ponsel yang terus berkedip memanggil. Di ujung sana, Casandra masih tertawa pelan, suara merayunya terdengar samar, "Kenapa diam saja, Rendra? Angkat saja, nanti kita lanjutkan lagi. Aku tunggu kamu..." Tanpa berpikir panjang, Rendra menekan tombol merah untuk memutus panggilan dari Casandra terlebih dahulu. Gerakannya begitu kasar hingga ponsel itu terasa hampir terlepas dari genggamannya. Saat pandangannya kembali jatuh ke tubuhnya sendiri, wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi. Kancing kemeja kerjanya sudah terbuka sampai bagian dada, memper
Pagi itu, sinar matahari baru saja menembus celah tirai jendela mobil mewah yang melaju perlahan menuju kawasan pusat kota. Rina duduk di kursi belakang, bersandar lembut pada sandaran kursi dengan wajah yang sedikit pucat. Di sebelahnya, Ibu Widya duduk dengan tatapan penuh perhatian, sesekali menoleh ke arah menantunya itu dengan cemas. "Kamu yakin sanggup menemani saya sampai ke butik, Rina?" tanya Ibu Widya lembut sambil mengusap punggung tangan Rina. "Tadi pagi kamu sudah merasa mual, dan sepanjang jalan ini wajahmu terlihat tidak segar sama sekali. Kalau tidak kuat, lebih baik kamu istirahat saja di rumah atau berhenti sebentar dulu di klinik terdekat." Rina tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa perih yang bergulung di ulu hatinya. Ia mengelus perlahan perutnya yang masih terasa mual, namun tekadnya tetap kuat. "Saya baik-baik saja, Bu. Cuma sedikit rasa tidak nyaman saja, mungkin karena perubahan suasana pagi ini. Rapat dengan klien baru itu penting, Bu. Saya tidak
Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala
Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu
Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa
"Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,







