LOGINNurul terpaku di ambang pintu, memindai penampilan pria yang dibawa Suci ke rumahnya dari ujung rambut hingga kaki. Pria itu tampak begitu tampan, tinggi, bersih, dan terawat dengan sempurna. Auranya tidak seperti pria-pria yang biasa ditemui Nurul di lingkungan mereka. Namun, siapa? Kenapa pria itu datang bersama Suci ke rumahnya?“Kita ngobrol di teras atau di dalam, Te?” tegur Suci memecah keheningan di antara mereka. Nurul pasti terkejut karena Suci datang bersama pria seperti Arif. Tidak hanya tantenya, tetangga yang melihatnya datang bersama Arif juga tampak terperangah. “Oh … masuk!” ujar Nurul berbalik masuk dengan cepat dan duduk lebih dulu di sofa panjang. “Bawa siapa kamu, Ci?” tanyanya menunjuk Arif yang baru duduk di sofa tunggal di samping Suci.“Om Bahlil ke mana?” tanya Suci mencari pria yang tidak tampak batang hidungnya. “Aku mau bicara sama Om juga soalnya.”“Yaaah!” panggil Nurul setengah berteriak, tetapi matanya tidak lepas dari Arif yang sejak tadi tampak be
“Itu Bapak,” ujar Suci menowel paha Arif yang duduk di sebelahnya. Ia menatap datar pada Ginanjar yang tampak bertanya-tanya ketika melihat pria asing yang duduk di sebelahnya. Arif mengangguk sopan lalu berdiri untuk menyambut kedatangan mertuanya. Bagaimanapun juga, pria itu tetaplah orang tua Suci hingga Arif harus menghormatinya. “Selamat siang, Pak,” sapa Arif mengulurkan tangan lebih dulu. “Perkenalkan, saya Arif.”“Aku Ginanjar,” ujarnya menyambut jabat tangan pria itu dengan erat. Mulai curiga, jika pria itu adalah kekasih anak perempuannya. Ia memindai penampilan pria tampan tetapi tampak sederhana itu. Tidak terlihat benda apa pun yang melekat di tubuhnya kecuali kaos oblong dan celana panjang berbahan kain. “Siapa kamu?”“Maaf kalau telat berkunjung dan memberitahu,” ujar Arif setelah mengurai jabat tangannya lalu kembali duduk, “saya suami Suci.”“Suami?” Tatapan tanya Ginanjar langsung berpindah pada Suci. Lama tidak bertemu, ternyata putrinya sudah menikah dan tidak me
“Ini juga bagus, Mas!” Suci kembali menatap takjub pada rumah kedua yang mereka kunjungi hari ini. “Halaman depannya luas, terus ada jalan kecil di samping, sama ada halaman belakangnya juga.” “Jadi, kamu suka yang ini?” tanya Arif sambil melihat kamar mandi di kamar utama. “Suka semuanya,” jawab Suci ikut memasuki kamar mandi bersama Arif. “Tapi, harganya pasti em-eman kayak yang tadi, kan?”Arif mengangguk dengan senyum tipis. Matanya tertuju pada bathtub di sudut ruangan, yang ukurannya mengingatkan pada bathtub di hotel tempat mereka menginap.“Semua foto sama video rumah yang dikirim kemarin harganya di atas satu M,” balas Arif lalu menunjuk bathtub di sudut ruang. “Bathtub-nya pas! Sesuai dengan mauku, jadi nggak perlu renovasi.”Suci mengernyit dengan bibir yang mengerucut. Padahal, mereka sedang serius membahas masalah rumah, tetapi pikiran Arif ternyata tidak sama dengannya. “Mas, mikirnya jangan ke mana-mana dulu,” pinta Suci geleng-geleng. “Fokus!”“Mana bisa fokus,” jaw
“Ini … kenapa rumahnya besar-besar semua?” ujar Suci menggeser layar ponsel Arif dengan perlahan. Ia melihat beberapa foto dan video yang dikirim oleh bagian marketing perusahaan milik istri Bias. “Karena ada kita, Sahli, sama Hadi,” jawab Arif santai. Ia menyandarkan tubuh di kepala ranjang dan memeluk tubuh Suci yang bersandar nyaman di dadanya. “Ke depannya juga ada ART buat bersih-bersih rumah.”“ART?” Suci sedikit menggeser tubuhnya lalu mendongak. “Aku punya ART buat bersih-bersih rumah?”Arif mengangguk. Mengecup puncak kepala Suci. “Nggak mungkin kamu bersihin rumah sendirian, kan?”Suci tersenyum simpul. Ia kembali bersandar nyaman, lalu menggeser layar untuk melihat foto-foto yang ada di galeri ponsel sang suami. Tidak pernah sekali pun terlintas di benak Suci, bahwa suatu hari nanti ia akan memiliki kehidupan seperti sekarang. Memiliki seorang suami yang bukan hanya tampan dan mapan, tetapi juga menyayanginya sepenuh hati.“Lusa kita keliling lihat rumahnya,” lanjut Arif
Pagi itu, Arif terjaga lebih dulu. Matanya menyipit, menyesuaikan diri dengan bias cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah tirai kamar.Selama beberapa saat, Arif hanya berbaring diam dan menikmati keheningan yang menyelimuti ruangan. Perlahan, senyum tipis mengembang di wajahnya saat kenangan semalam kembali memenuhi kepala.Arif lalu memiringkan tubuh, menatap wajah Suci yang masih terlelap nyaman di atas lengannya. Napas istrinya terdengar teratur, sementara wajahnya memancarkan ketenangan yang belum pernah Arif lihat sebelumnya. Dengan hati-hati, Arif mengusap lembut pipi Suci dengan ujung jarinya, lalu menyelipkan rambut yang menghalangi wajah sang istri di belakang telinga. Cantik.Suci bukanlah tipe gadis yang bisa membuat pria jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, semakin lama mengenalnya, semakin sulit pula mengalihkan hati darinya. Di balik wajah yang sederhana itu, ada ketulusan, keberanian, dan kelembutan yang perlahan berhasil merebut hati Arif. Hingga
“Sorry,” ucap Arif begitu melihat Suci sudah duduk manis di ruang tengah. Sebuah koper juga telah siap di samping sofa. “Aku pulang agak telat.”Suci tersenyum. Menyimpan rasa gugupnya dalam-dalam. “Kan, Mas tadi juga sudah nelpon karena ada kerjaan mendadak. Jadi, nggak usah minta maaf.”Arif mengangguk. Menarik handle koper dan bersiap menariknya dengan terburu. “Sudah siap semua? Atau masih ada yang harus dibawa? Koper lain?”Suci menggeleng sambil berdiri. “Semua baju sudah di koper. Nggak ada yang ketinggalan.”“Lingeri?”“Mas!” Arif lantas tertawa. Akhirnya, hari itu datang juga. Hari di mana mereka akan menikmati malam pergantian tahun berdua, sekaligus menghabiskan waktu yang telah lama ia nantikan sebagai pasangan suami istri.“Aku cuma memastikan,” ujar Arif tersenyum jahil.“Nggak usah dipastikan.”“Berarti ada?”Wajah Suci seketika memerah. Ia buru-buru meraih tas selempangnya di sofa lalu berjalan lebih dulu menuju lift. “Ayo, berangkat. Nanti kena macet.”“Duh … yang su
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko
“Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan







