Share

50. Maya pergi

Penulis: Risya Petrova
last update Tanggal publikasi: 2026-07-30 23:54:34
Suara deru motor Wildan perlahan ditelan oleh bisingnya badai di luar. Kepergian Wildan di tengah cuaca buruk itu justru menjadi kesempatan emas yang sudah ditunggu Maya.

Didorong oleh rasa penasaran yang sudah tak terbendung dan menggerogoti akal sehatnya, Maya memastikan Wulan sedang sibuk di dapur. Dengan langkah mengendap-endap, Maya mengambil kunci cadangan rumah yang sempat ia lihat tergantung di sebelah rak piring.

Jantung Maya berdebar kencang saat ia melangkah menuju ruang kerja Wildan.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kuli Gagah Spesialis   54. Emosi

    Sementara Maya memulai pelariannya menembus hiruk-pikuk stasiun kereta pinggiran, kekacauan yang jauh lebih brutal justru sedang meluluhlantakkan kediaman mewah milik Indra.Di dalam ruang kerjanya yang luas dan elegan, buku-buku tebal hukum berserakan di atas karpet Persia. Asbak kristal pecah menghantam dinding. Indra mondar-mandir bagaikan iblis kesetanan yang kehilangan rantainya. Wajah jaksa terhormat itu tampak sangat mengerikan. Pelipisnya diperban, hidungnya dibebat akibat tulang yang remuk dihajar Wildan, dan ego maskulinnya hancur tak tersisa.Ia memegang ponsel mahal di telinganya dengan cengkeraman yang nyaris meremukkan benda tersebut."Kalian ini detektif atau sekumpulan orang cacat otak?!" maki Indra menggelegar ke arah kepala detektif sewaannya di ujung telepon. "Satu orang perempuan hamil! Cuma satu! Masa sampai sekarang kalian nggak bisa nemuin jejaknya?!""M-maaf, Pak Indra. Hujan badai semalam menghapus semua jejak fisik. Kami sudah menyisir—""Aku nggak butuh ala

  • Kuli Gagah Spesialis   53. Menghilang

    Cahaya matahari pagi yang keabu-abuan menyusup redup melalui celah jendela kaca yang berdebu tebal. Sinar pucat itu jatuh menimpa wajah Maya yang tertidur melingkar di atas Penginapan Kamboja, hanya beralaskan kardigan tipisnya yang sudah setengah mengering. Semalaman penuh ia tak sanggup naik ke atas kasur lapuk di sudut ruangan karena kakinya yang terluka dan kelelahan ekstrem sehabis menerobos badai.Namun tidur lelap akibat kelelahan itu tidak berlangsung lama.Tiba-tiba, perut Maya bergejolak hebat. Gelombang mual yang luar biasa agresif menghantam ulu hatinya tanpa ampun.Maya langsung membuka mata, tersentak bangun, dan berlari tertatih-tatih menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan."Huek! Uhukk ... huek!"Maya mencengkeram kuat pinggiran wastafel keramik yang penuh noda kecokelatan itu. Ia memuntahkan cairan bening berulang kali hingga kerongkongannya terasa sangat perih dan air mata keluar dari sudut matanya. Napasnya tersengal-sengal, bahunya bergetar hebat menahan siksaa

  • Kuli Gagah Spesialis   52. Akan kucari!

    Hujan badai masih menggila, namun deru motor Wildan memecah keheningan kompleks perumahan sepi itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ban motornya mendecit keras saat ia mengerem mendadak di depan gerbang rumah sewaan.Wildan melompat turun tanpa mematikan mesin. Jaket kulitnya basah kuyup. Dua penjaga Beno yang berdiri di teras depan terlihat pucat pasi ketakutan."Bos—"Wildan tidak memperdulikan suara yang memanggilnya. Ia berlari kesetanan masuk ke dalam rumah. Ruang tamu kosong. Kamar utama kosong. Wildan terus berlari hingga langkahnya terhenti secara paksa di ambang pintu dapur.Pemandangan di depannya sukses membuat darah di nadinya membeku seketika.Wulan sedang duduk berlutut di lantai keramik, menangis histeris sambil memegangi kepalanya. Tepat di depannya, terdapat pecahan gelas kaca yang berserakan, dan yang paling mengerikan, ada genangan dan ceceran darah segar yang mewarnai lantai putih tersebut. Darah yang menetes menuju pintu belakang yang terbuka."Mbak Wulan!

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 51

    Derasnya hujan badai seolah menelan sosok Maya yang rapuh di tengah kelamnya malam ibu kota. Setelah berhasil melompati pagar belakang dan mengelabui Wulan serta para penjaga, Maya terus berlari tertatih-tatih menembus gang-gang sempit yang mulai tergenang air keruh."Bertahanlah ... aku harus bertahan …," gumam Maya dengan gigi bergemeretak menahan dingin yang menusuk tulang.Rambut panjangnya lepek menempel di wajah. Kardigan tipis yang ia kenakan basah kuyup, menempel ketat di kulitnya. Telapak kaki kanannya yang sengaja ia gores dengan pecahan gelas kaca kini terasa sangat perih akibat gesekan dengan aspal kasar dan genangan air. Setiap pijakan meninggalkan jejak darah yang samar, yang dengan cepat langsung tersapu bersih oleh derasnya air hujan.Akan tetapi, rasa perih di kakinya itu sama sekali tidak sebanding dengan hancur leburnya hati Maya malam ini.Setiap kali ia mengedipkan mata, bayangan kertas usang bertuliskan nama Indra sebagai penuntut, dan nama ibu Wildan sebagai korb

  • Kuli Gagah Spesialis   50. Maya pergi

    Suara deru motor Wildan perlahan ditelan oleh bisingnya badai di luar. Kepergian Wildan di tengah cuaca buruk itu justru menjadi kesempatan emas yang sudah ditunggu Maya.Didorong oleh rasa penasaran yang sudah tak terbendung dan menggerogoti akal sehatnya, Maya memastikan Wulan sedang sibuk di dapur. Dengan langkah mengendap-endap, Maya mengambil kunci cadangan rumah yang sempat ia lihat tergantung di sebelah rak piring.Jantung Maya berdebar kencang saat ia melangkah menuju ruang kerja Wildan. Ia memasukkan anak kunci, memutarnya, dan pintu itu terbuka dengan bunyi klik pelan.Maya masuk dan menyalakan lampu. Ruangan itu hanya berisi sebuah meja kayu, kursi, dan lemari kecil. Dengan nafas tertahan, Maya mendekati meja kerja tersebut dan menarik laci utamanya. Matanya langsung tertuju pada sebuah map tebal usang yang tersimpan rapi di bawah tumpukan nota bengkel.Tangan Maya bergetar saat ia membuka map tersebut. Ia menarik selembar kertas yang sudah menguning, dan matanya langsung te

  • Kuli Gagah Spesialis   49. Bisa-bisanya!

    Hujan badai mengguyur ibu kota sejak sore, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Tetapi di dalam ruang kantor bengkel yang gelap dan sepi, keringat dingin justru mengucur deras di dahi Mario.Pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu, mondar-mandir bagaikan setrikaan rusak. Napasnya memburu tak beraturan, mencerminkan keputusasaan yang tengah menjepit lehernya. Ancaman dari kakak iparnya, Indra, terus berputar di kepalanya tanpa henti."Kalau kamu nggak bisa nemuin Wildan, aku yang akan cari celah hukum buat cabut izin usaha dan sita bengkelmu itu, Mario!"Kalimat mematikan sang jaksa korup itu menekan Mario tanpa ampun. Bengkel ini adalah harta satu-satunya, lambang kemandiriannya dari bayang-bayang kekuasaan Indra. Jika bengkel ini disita, ia akan kembali menjadi adik ipar benalu yang tak punya harga diri.Masalah utamanya adalah, Mario benar-benar tidak mengetahui di mana keberadaan Wildan saat ini. Jangankan soal rumah sewaan atau proyek gudang bengkel elite yang baru dirint

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status