LOGINStefano dan Fadlan datang ke sebuah tempat yang memang diyakini kalau ini adalah tempat persembunyian Ratih dan Nadia. Stefano melihat rumah yang nampak kecil dan tidak yakin kalau dua orang itu mau tinggal di tempat kecil seperti ini. "Kamu yakin Fadlan, kalau ini adalah tempat tinggal mereka?" tanya Stefano nampak ragu. "Anak buahku yang bilang sendiri kalau ini adalah tempatnya, tidak usah diragukan lagi kalau tentang ini," kata Fadlan. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam, memeriksa sekitaran sana, tetapi sayang sekali, mereka tidak menemukan orang dan hanya barang-barangnya saja. "Barang-barangnya masih ada di sini, mereka tetapi tidak ada," ujar Stefano setelah memastikan sendiri. "Sepertinya mereka berdua memang sekarang sedang ada di tempat lain. Apa mungkin di tempat penculikan Nadia," kata Fadlan. "Maksud kamu, mereka mempunyai tempat terpisah begitu?" "Ada kemungkinan sih iya. Untuk saat ini timku sedang melacak keberadaan Gea, tetapi memang kebetu
"Bu Ratih."Gea terkejut ketika melihat orang yang kini ada dihadapannya adalah Ratih. Ibu tiri Stefano yang ternyata adalah ibunya Nadia. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui tentang hal ini. Ratih menoleh kearah Gea karena namanya dipanggil. Lalu dia tersenyum dengan licik ketika melihat Gea dalam keadaan diikat. "Hai, Gea.""Bu Ratih, lepaskan!" teriak Gea. "Jangan mimpi, aku sengaja menyuruh Nadia membawa kamu ke sini untuk memancing Stefano datang," kata Ratih. "Kalian? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" tanya Gea dengan kebingungan. Nadia langsung tertawa dan mencekal dagu Gea dengan sedikit keras. "Tentu saja ingin memberikan pelajaran pada Stefano. Membuat dia memberikan hartanya kembali padaku," kata Nadia sambil tertawa seperti orang gila. Gea bahkan tidak mengerti ketika mendengar hal ini. "Jadi kalian berdua melakukan ini karena menginginkan harta Stefano!""Tentu saja."Ratih menjawab dengan nada yang sedikit bangga. Sebelum akhirnya ponsel Nadia yang tiba-ti
Andin menoleh kearah Fadlan dengan pandangan yang sedikit khawatir. Takut terjadi sesuatu dengan laki-laki itu sekarang. "Kak Stefano kenapa menghubungi?" tanya Andin. "Dia mengatakan kalau Gea diculik oleh adik tiri kamu. Aku yakin kalau pasti ini adalah suruhan Ratih.""Wanita licik itu pasti menggunakan Gea untuk mengendalikan Kak Stefano," dengus Andin dengan nada tidak suka. "Iya, sepertinya memang begitu," jawab Fadlan. "Apa yang akan Nak Fadlan lakukan selanjutnya?" tanya Hendra. "Aku pamit dulu, aku akan menghubungi temanku yang jago dalam bidang IT untuk menemukan keberadaan mereka, tidak usah khawatir karena semuanya baik-baik saja setelah ini.""Baiklah, semuanya akan baik-baik saja."Dia merasa lega karena semua yang dia lakukan sudah jadi lebih baik. Terlebih dia tahu kalau ini adalah jalan yang dia pilih."Kamu hati-hati," kata Andin. Fadlan hanya mengangguk dan tersenyum tipis, sebelum akhirnya dia kembali berdiri dan memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Dia ak
Stefano berdiri di dekat jendela ruang tamu sambil sesekali melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Langit sore perlahan berubah menjadi jingga, menandakan hari hampir berakhir. Namun, hingga saat itu Gea belum juga pulang ke rumah.Biasanya wanita itu akan mengabari jika ada kegiatan tambahan di kampus atau sekadar memberi pesan singkat bahwa dirinya terlambat. Akan tetapi, kali ini tidak ada satu pun kabar yang masuk.Perasaan tidak nyaman mulai merayapi hati Stefano.Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi nomor Gea. Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum akhirnya terputus."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."Stefano mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras menahan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi."Kenapa nomornya tidak aktif?" gumamnya kesal.Ia mencoba menelepon sekali lagi, berharap hasilnya berbeda. Namun suara operator yang sama kembali terdengar. Kini pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang tidak ingin ia bayangkan.St
Gea baru saja menghubungi temannya, dia tidak menyangka kalau keadaan Nadia tengah dalam bahaya. Dia harus menolong wanita itu, dia yakin kalau memang ini ada hubungannya dengan keluarga wanita itu. "Tunggu, Gea," cegah Raya yang merasa khawatir karena Nadia meminta Gea untuk datang sendiri tanpa ditemani oleh dirinya. "Kenapa Raya?" tanya Gea yang kini menoleh pada wanita itu. Raya nampak ragu ketika hendak akan mengatakan semuanya. Tetapi dia diam sejenak. "Aku khawatir kalau kamu ke sana sendirian. Kita tidak tahu situasi yang tengah dialami oleh Nadia seperti apa."Gea meyakinkan temannya. "Kamu dengar sendiri bukan tadi? Nadia meminta hanya aku yang datang. Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja."Raya tahu kalau Gea mempunyai sifat yang sedikit keras kepala, dia tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri. Bahkan dia tidak yakin kalau semuanya akan jadi seperti ini. "Jika terjadi sesuatu dengan kamu, jangan lupa hubungi aku," saran Raya. Gea hanya mengangguk sambil tersenyu
Gea sudah mulai masuk ke kampusnya kembali, dia kali ini bersama dengan Raya yang kebetulan membawa rujak. Kebetulan Gea tiba-tiba rindu apa yang dibuat ibunya Raya. "Ini pesanan kamu," kata Raya. "Maaf yah merepotkan jadinya," kata Gea. Raya menggelengkan kepalanya, "justru aku senang membawakan ini untuk sahabat terbaikku," puji Raya sambil memeluk Gea. "Kamu bisa saja, aku juga senang dengan semuanya," jelas Gea. Raya kemudian teringat akan sesuatu. Dia baru saja mendapatkan pesan dari Nadia kalau wanita itu tidak masuk sekarang. "Nadia bilang hari ini dia tidak ke kampus, katanya dia lagi ada masalah keluarga," kata Raya memberitahu Gea. "Masalah keluarga?""Dia sih gak menjelaskan lebih detailnya," jelas Raya. Gea yang mendengar itu pun malah khawatir dengan Nadia. Nomornya juga sedikit sulit untuk dihubungi. Dia ingin mengunjungi rumah Nadia, tetapi wanita itu sedikit tertutup dan misterius. Bahkan dia sebagai sahabatnya pun tidak tahu. "Hei, kamu malah melamun, Gea. M
"Itu sangat memalukan!"Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri. "Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"G
Gea di depan pintu ruangan pribadi milik Stefano. Ada rasa perasaan gelisah ketika dia handak akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan. Tok tok tok..."Masuk."Mendengar suara maskulin itu membuat Gea sedikit ragu, sampai akhirnya dia memberan
Gea sudah mulai melupakan kejadian yang terjadi padanya. Dia tidak tahu pria asing yang tidur dengan dirinya semalam. Gea duduk di kursi kampusnya, berusaha terlihat tenang di antara mahasiswa lain. Tapi pikirannya terus berputar. Ia menatap kosong halaman catatan yang belum disentuh sama sekali.“
Dentuman musik memenuhi ruangan, lampu-lampu neon berkilau di antara orang-orang yang menari di bar hotel malam itu. Gea Andriana tersenyum kecil sambil memegang gelas koktailnya. Malam ini seharusnya menyenangkan. Teman-teman satu jurusannya merayakan kelulusan beberapa senior, dan Gea berniat mel







