Masuk[Konten Dewasa] Hal gila yang dilakukan oleh wanita bersama Gea adalah mengajak pria untuk tidur dengannya. Setelah dia patah hati dikhianati kekasihnya. "Bercinta Denganku." Lebih parah lagi ketika dia mengetahui siapa orang yang tidur dengan dirinya. Pria yang seharusnya tidak dia sentuh. "Lupakan kejadian ini." **** Stefano pria tubuh kekar yang menatap kearah Gea dan mengangkat dugu milik Gea dengan lembut. "Kamu yakin ingin mengajakku menjauh?" Tangan pria itu menyentuh tubuhnya dengan sangat berani, membuat Gea melayang tidak tertahan ketika merasakan sentuhan manis itu. "Ah, Pak Dosen." Stefano membisikan sesuatu yang hangat pada telinga milik Gea. "Kamu yakin ingin berhenti, baby?" Benar-benar gila diluar nalarnya. Bagaimana mungkin dia harus berhubungan dengan orang itu? Bagaimana kehidupan dia selanjutnya? akankah semuanya terbongkar hubungan gelapnya bersama dengan Stefano?
Lihat lebih banyakDentuman musik memenuhi ruangan, lampu-lampu neon berkilau di antara orang-orang yang menari di bar hotel malam itu. Gea Andriana tersenyum kecil sambil memegang gelas koktailnya. Malam ini seharusnya menyenangkan. Teman-teman satu jurusannya merayakan kelulusan beberapa senior, dan Gea berniat melepas penat setelah satu minggu penuh tugas.
Awalnya, semuanya baik-baik saja. Hingga matanya menangkap sosok yang familiar. Langkah Gea terhenti. Napasnya membeku. Di sudut ruangan, seorang pria yang sangat ia kenal tengah memeluk pinggang seorang wanita berbaju seksi. Kepalanya menunduk, mencium bibir wanita itu dengan rakus tanpa rasa bersalah sedikit pun. Gea tidak percaya. Itu Marvel Kekasih yang selama satu tahun ini ia percaya mati-matian. Suhu di tubuh Gea seolah turun drastis. Tanpa berpikir panjang, dia menghampiri mereka dan mendorong tubuh Marvel . "Marvel!" Plak! Tamparan keras melayang menghantam pipi laki-laki itu. Suaranya begitu nyaring, sampai beberapa orang menoleh. Rasa sakit menguar di wajah Marvel, namun rasa sakit di dada Gea jauh lebih hebat. “Apa yang kamu lakukan… hah!?” suara Gea pecah, nyaris bergetar. Elgar terkejut, matanya membesar. “Gea? Kok kamu ada di sini?” Wanita seksi itu memeluk lengan Marvel semakin erat. “Sayang, siapa wanita ini?” Dan jawaban Marvel menghancurkan seluruh benteng pertahanan Gea. “Dia bukan siapa-siapa aku.” Gea merasakan jantungnya diremas. Seolah seluruh dunia berhenti hanya untuk memperlihatkan betapa bodohnya dia mempercayai pria yang sedang merendahkannya. “Kamu jahat, Marvel…” suara Gea melemah. Gea tidak kuat lagi berada di hadapan Marvel dan wanita itu. Nafasnya tercekat, matanya panas, dan dadanya terasa sesak. Tanpa menoleh lagi, Gea berbalik dan berjalan cepat menuju meja tempat teman-temannya berkumpul. Tangannya gemetar saat meraih gelas terdekat dan menenggaknya dalam sekali teguk, seolah alkohol bisa menghapus rasa sakit di dadanya. “Kamu yang sabar, ya, Gea.” Raya menepuk pundaknya lembut. Namun suara itu seperti angin lewat. Gea hampir tidak mendengar apa pun. Suara musik, suara orang-orang, semuanya samar. Yang jelas hanya satu: pengkhianatan yang masih membekas di pikirannya. Gea mengambil gelas kedua. Ketiga. Keempat. Setiap tegukan membuat pikirannya semakin melayang menjauh dari kenyataan. “Gea, jangan banyak minum. Nanti kamu mabuk,” peringatan Raya. "Benar kata Raya, memang Marvel aja yang berengsek," kata Nadia ikut membela. Tapi Gea tidak peduli. Dadanya masih terasa seperti diiris. Semakin banyak alkohol masuk, semakin ia berharap bisa lupa walau hanya beberapa menit. Setelah beberapa lama, tubuhnya mulai oleng. Gea memegang kepala, berdiri dengan susah payah. “Aku mau pulang…” “Mau kuantar?” tanya Nadia, wajahnya khawatir. Gea menggeleng dengan senyum kecil yang jelas hanya menutupi luka. “Nggak usah.” Dia menoleh lalu berjalan keluar dari bar. Langkahnya goyah, tapi dia memaksakan diri. Tangga hotel tampak berputar, tapi Gea tetap menuruni satu per satu, dengan hati yang semakin berat. Di tengah langkah yang tidak stabil, bruk! Gea menabrak seseorang, tubuhnya hampir terjatuh bila saja tangan kuat itu tidak cepat menangkap pinggangnya. “Pelan-pelan. Anda tidak apa-apa?” Suara seorang pria terdengar rendah dan berwibawa. Gea mendongak. Sosok pria tinggi berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya tajam, rahangnya tegas, dan tatapannya… memikat. Terlalu memikat untuk seseorang yang baru saja hancur hatinya. Gea terpaku beberapa detik. Alkohol di kepalanya membuat semua batasan hilang. Tanpa berpikir panjang, Gea menarik wajah pria itu dan menciumnya dengan berani. Laki-laki itu terkejut. Tubuhnya menegang sejenak, tapi hanya sejenak. Lidahnya kemudian merespons, lembut namun semakin menuntut, seolah menikmati aroma manis alkohol yang menempel di bibir Gea. “Bercinta denganku…” bisik Gea dengan suara serak sensual. Tatapan pria itu berubah. Ada api. Ada dorongan. Ada sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi. Tanpa kata tambahan, pria itu membungkuk dan menggendong Gea dengan mudah, seolah tubuhnya tidak berbobot. Gea tersenyum samar, menyandarkan kepalanya di bahunya. Mereka memasuki kamar hotel. Pintu tertutup di belakang mereka, memutuskan dunia luar. Pria itu menurunkan Gea di atas ranjang dengan perlahan. Gea langsung meraih dasi pria itu, menariknya dengan cepat dan berantakan. Nafasnya terengah, matanya setengah terbuka penuh rayuan. Pria itu menatapnya, sedikit terkejut sekaligus terpesona. Gea mengangkat kakinya dan menyentuhkan tumitnya ke dada bidang pria tersebut, menggodanya tanpa ragu. Sebuah aksi yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya pada pria itu. Pria tersebut memiringkan senyuman berbahayanya, namun penuh dengan menantang. Dengan perlahan, ia membuka kancing kemejanya satu per satu, membiarkan dada bidangnya terlihat di bawah cahaya lampu kamar. “Kamu sangat berani,” katanya dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Gea meremang. Pria itu memegang pinggang Gea, lalu mendorong tubuhnya ke atas kasur. Gea terbaring, napasnya tersengal. Dan tanpa memberi kesempatan Gea untuk berpikir, pria itu menindih tubuhnya, mencium bibirnya dengan kenikmatan yang membuat seluruh tubuhnya meleleh. Gea merasakan tubuh pria itu mendekat lebih erat.. Kulitnya merinding, bukan karena dingin, tapi karena sensasi yang mengalir begitu kuat hingga sulit digambarkan dengan kata-kata. “Ngg… ah…” Gea menggigit bibirnya, kedua tangannya meraih pundak pria itu, menariknya lebih dekat, seakan ingin menyatu dengannya sepenuhnya. Pria itu menahan pinggangnya, semakin menunduk hingga dahi mereka bersentuhan. Nafas mereka bercampur, panas, berat, dan memabukkan. “Lihat aku…” bisik pria itu, suaranya dalam dan menuntut. Gerakannya semakin kuat, namun tetap ritmis dan terkontrol, membuat Gea tersentak kecil di bawahnya. Setiap dorongan membawa sensasi baru yang membuat tubuhnya bergetar lemah. **** Pagi hari yang begitu sangat cerah, membangunkan sosok Gea yang masih terlelap dalam tidurnya. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, dia berusaha untuk bangun tetapi tubuhnya terasa sangat berat. Sampai dia melihat tangan kekar yang memeluk dirinya, membuat Gea langsung refleks menoleh kearah samping. Betapa terkejutnya dia ketika melihat pria asing yang sedikit tampan disampingnya. “Aduh, kenapa rasanya begini berat?” gumamnya lirih. Ia mengucek mata, mencoba meraih selimut, tapi tangannya justru menyentuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan keras. Tangan kekar. Detik itu juga Gea langsung menoleh. Jantungnya serasa meloncat keluar dari dada ketika mendapati pria asing dengan rahang tegas dan rambut sedikit berantakan, tertidur damai di sampingnya. Nafasnya stabil, badan telanjangnya terbalut hanya setengah selimut. “A-astaga…” Gea menutup mulutnya. “Apa yang aku lakukan?!” Panik, ia buru-buru melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. Ia bangun terlalu cepat, hingga rasa ngilu di antara pahanya membuatnya meringis. “Sialan, ini pertama kalinya,” desisnya kesal pada diri sendiri. Kamar itu berantakan, baju berserakan, sepatu terlempar jauh, bahkan kancing kemejanya hilang entah ke mana. Gea memijit pelipis, mencoba mengingat potongan semalam: Pria itu menangkapnya saat hampir jatuh kemarin. Dia mengingatnya sekarang dan itu sangat memalukan. Pandangan mereka bertemu, dan tiba-tiba dia malah mengajak pria asing itu. “Mari bercinta,” katanya sendiri… Gea menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Oh Tuhan, aku yang mulai duluan” Ia buru-buru memakai bajunya serabutan. Setiap gerakan memicu sedikit rasa sakit, tapi ia memaksa. Rasa malu bercampur frustasi membuatnya ingin menghilang dari muka bumi. Ketika dia hendak meraih dompet, pria di kasur itu menggeliat pelan. Napas Gea langsung tercekat. Refleks dia langsung menoleh kearah pria tersebut. Pria itu membuka mata, menatapnya dengan pandangan yang masih setengah sadar. Suaranya berat dan serak ketika bicara. “Hm, kamu mau pergi?” Gea tak sanggup menghadapi tatapannya. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh dompet, mengambil beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di meja samping. “Terima kasih untuk tadi malam,” katanya cepat, suaranya pecah karena gugup. “Saya harap Anda melupakan semuanya.” Hening. Pria itu menatap uang itu. Alisnya bergerak naik, antara bingung dan tersinggung. “Kamu pikir aku—” “Tolong, cukup. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.” Gea membungkuk singkat, lalu buru-buru keluar sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimat. Dia tidak mau bertemu dengan pria asing yang menyebalkan itu. Pintu tertutup. Pria itu duduk tegak sekarang, rambutnya sedikit acak, ekspresinya tidak bisa dibaca. Ia mengambil uang itu, memutarnya di tangan, lalu mendecak rendah. “Wanita aneh…” Namun sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis, senyum yang berbahaya. Ia mengusap wajah, mencoba mengingat jelas wanita itu. Mata itu, kulitnya, tubuhnya yang menggeliat membuat dia tertarik. "Seksi dan menarik," gumamnya. Pria tersebut memunguti baju yang berserakan, lalu dia mengingat kembali wanita tadi. "Namanya siapa yah?" BERSAMBUNGSemuanya sudah mendapatkan ganjaran terbaiknya. Raya datang ke penjara untuk bertemu dengan Nadia. Dia hanya ingin melihat kondisi wanita itu saja. "Hai, Nadia."Nadia yang sudah memakai baju orange dengan rambut yang sudah diikat acak, dia menoleh kearah Raya yang datang ke penjara. "Ngapain kamu ke sini? Kamu pasti menertawakan aku bukan?" ketus Nadia. Raya menggelengkan kepalanya, dia datang ke sini memang mempunyai tujuan untuk menjenguk Nadia sekaligus melihat kondisi wanita itu. "Aku datang ke sini ingin menjenguk kamu. Melihat kondisi kamu sekarang.""Gak usah sok pura-pura peduli!""Kamu kenapa sih Nad, sampai berubah seperti ini?" tanya Raya dengan baik-baik. Nadia menatap dengan nyalang. "Dunia tidak ada yang baik, semuanya jahat. Ayahku meninggalkan ibuku dan aku harus hidup dengan ibuku yang penuh dengan tekanan dan ambisi. Semua harus sesuai dengan keinginan dia. Kalau tidak, maka aku yang akan dibuang."Raya hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Nadia. Seberapa sa
Gea tidak tahu harus melakukan apa, sekarang dia sudah yakin atas dirinya sendiri. Stefano mengobati luka dari tubuh Gea. "Sakit?" tanya Stefano dengan pandangan yang memang sedikit khawatir. "Pelan-pelan," ujar Gea. "Ini juga pelan-pelan, kamu jangan manja," ledek Stefano. "Menyebalkan, kenapa datangnya telat, aku berharap kamu cepat datang. Kalau tidak tadi Marvel sudah melakukan hal buruk padaku," jelas Gea menceritakan semuanya. Stefano malah tertawa dengan bahagia. "Aku sudah datang tepat waktu. Kamu tidak lihat aku sampai berkelahi dengan dia.""Iya sih, telat sedikit saja bisa berabe.""Yang penting aku sudah menyelamatkan kamu."Stefano mengatakan itu dengan tenang. Setelah itu dia menatap kembali kearah Gea. Ada pandangan yang tidak bisa dia jelaskan. Bahkan dia tidak yakin atas dirinya sendiri. "Aku baru mengetahui satu fakta, kalau Marvel anak wanita jahat itu.""Aku pun baru mengetahui inu, jadi dari awal memang semuanya rencana mereka. Bahkan aku masih tidak percaya
Gea panik ketika melihat Marvel yang kini sudah membuka baju atasnya, pria itu malah sudah hampir bertelanjang dada dan itu membuat dia panik. "Marvel, kamu jangan kurang ajar!"Gea khawatir kalau sampai laki-laki itu malah melakukan sesuatu diluar kendali dirinya. Dia tidak mau kalau sampai hal ini terjadi dengan dirinya. "Sialan."Rasanya tidak mungkin kalau harus jadi begini. Lalu dia memikirkan semuanya dengan matang. Dia tidak boleh kalah hanya dengan hal ini. "Kita akan bersenang-senang sayang."Marvel mengatakan itu dan dia hendak akan menyentuh Gea, tetapi ketika dia hendak akan mencium pipi Gea, tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras, membuat Marvel terkejut. "Suara apa itu?" tanya Marvel bingung. Gea seketika langsung berteriak meminta tolong, dia tidak peduli ada yang mendengar atau tidak sekarang. Apalagi Marvel hendak akan melakukan sesuatu yang membuat dia sakit. "Tolong!"Dia berteriak, berharap akan ada orang yang memanggil namanya. Dia sudah berusaha sekuat
Marvel akhirnya datang menghampiri ibu dan saudaranya. Dia datang ke sini karena ingin melihat kondisi dari Gea. Tentu saja untuk memastikan keadaan wanita itu. "Aku sudah menyuruh orang untuk mengambil barang-barang milik kalian," kata Marvel. "Apa semuanya sudah aman? Kamu bilang kalau di sana ada Fadlan dan Stefano?" tanya Ratih. "Tenang saja Mah, aku sudah memastikan semuanya akan aman kali ini," ujar Marvel. "Awas saja kalau kita gagal hanya karena kamu, Marvel. Anak yang tidak berguna," sindir Nadia. "Diam kamu," dengus Marvel. Nadia hanya mencebikan bibirnya saja, dia jadi engan untuk melihat Marvel sekarang. "Sudah, kalian jangan ribut," lerai Ratih pada kedua anaknya. "Aku mau melihat keadaan Gea," kata Marvel yang ingin melihat keadaan Gea. "Awas jangan melakukan hal aneh," kata Nadia sebagai peringatan. "Memangnya kenapa kalau aku buat hal yang aneh, tidak akan terjadi sesuatu juga. Lagian Stefano pasti juga lama menemukan keberadaan kita," jawab Marvel dengan ten
Rumor tentang Gea berada di perpustakaan bersama dengan Stafano kini kian menyebar. Semuanya karena Satpam itu yang membicarakan ini pada penjaga lainnya. Bahkan mahasiswa lain juga ada yang ikut mendengar rumor tersebut. "Tidak menyangka yah, Gea orang yang seperti itu.""Demi nilai, dia merenda
Gea langsung panik ketika melihat satpam itu memergoki dirinya dengan Stefano, bahkan dengan posisi mereka sekarang yang sulit sekali untuk diartikan. "Pak Stefano, anda dengan mahasiswa itu! Astaga."Satpam itu langsung pergi dengan begitu saja setelah melihat Gea dan Stefano dengan posisi Stefa
Perpustakaan Gea berada di sebuah perpustakaan dan mencari buku tentang sistem digital. Kebetulan sekali dia adalah seorang mahasiswa tehnik elektro. Dia mencari di tumpukan buku. "Mana sih, gak ada," umpat Gea dengan kesal. Dia tidak menemukan buku yang dia cari, padahal ini sudah hampir larut
"Itu sangat memalukan!"Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri. "Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"G


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan