تسجيل الدخولOliver masih duduk di tempatnya, menatap mereka bergantian. Suasana di kamar 504 sudah berubah sejak Benedict masuk—lebih berat dan lebih dingin, seperti udara sebelum hujan.
“Aku akan ke kamar,” katanya sambil berdiri dan mundur selangkah. “Kuenya dimakan, Lord Sterling. Ibuku akan sedih kalau tidak habis.”
Pintu tertutup pelan.
Henry akhirnya menyerahkan gelas itu.“Minumanmu.”Rosemary menerimanya. “Terima kasih.”“Maaf. Sudah tidak dingin.”“Kau memgangnya terlalu lama.”“Aku sibuk." Henry menoleh ke arah di mana Vane tadi berdiri, tempat yang sekarang sudah diisi oleh pasangan bangsawan yang sedang mengobrol seolah tidak ada yang terjadi beberapa menit lalu. “Membela dirimu di depan umum ternyata cukup menyita waktu.”Rosemary tersenyum dan menyesap minumannya. Alice dan Oliver muncul dari kerumunan. Alice langsung meraih lengan Rosemary. “Ratu membungkam Vane. Aku tidak akan melupakan ini seumur hidupku.” Ia mengempiskan pipinya. “Kau lihat wajahnya? Seringainya hilang. Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk melihat seseorang membuat Vane diam, dan ternyata itu Ratu.”“Secara teknis,” kata Oliver. “Ratu tidak membuatnya diam. Ratu mengangkat tangan. Itu gestur. Bukan kalimat.”“Oliver.”“Ya?”“Kau menyebalkan.”“Aku tahu. Tapi aku benar.”Rosemary tersenyum lagi. Alice menarik napas panjang, lalu meno
Suara tongkat yang dihentakkan ke lantai masih menggema di seluruh aula ketika nama Ratu disebut. Semua kepala menoleh. Semua lutut menekuk. Semua suara berhenti.Di tengah aula, kerumunan yang tadinya mengelilingi Rosemary membubarkan diri dalam hitungan detik. Tidak ada yang ingin terlihat berkerumun saat Ratu masuk. Tidak ada yang ingin terlihat sebagai bagian dari apa yang baru saja terjadi.Musik berhenti. Orkestra menurunkan alat musik mereka bersamaan. Para bangsawan yang tadinya berdansa kembali ke tepi lantai dansa dan menunduk. Henry masih berdiri di samping Rosemary. Dua gelas di tangannya belum sempat ia serahkan.“Sepertinya minumanmu harus menunggu,” bisiknya.Rosemary tidak menjawab. Matanya pada Ratu.Langkah Ratu tenang, sama seperti saat Rosemary melihatnya di ruangan kecil beberapa menit yang lalu. Tapi kali ini Ratu bukan sedang duduk di depan perapian dengan satu kursi tamu. Kali ini ia berjalan memasuki aula yang dipenuhi ratusan bangsawan, dan setiap orang di r
Benedict melangkah.Di sisi lantai dansa, Rosemary baru saja dilepas Oliver. Alice sudah menarik tangan Oliver kembali ke lantai dansa. Oliver menoleh sekilas ke arah Rosemary sebelum menghilang di antara pasangan-pasangan yang berputar.Rosemary berdiri sendiri di tepi lantai dansa.Dan Benedict sedang berjalan ke arahnya.Tidak ada yang menghalangi kali ini. Tidak ada Duke Harrington. Tidak ada pertanyaan yang menggantung. Hanya jarak yang semakin mengecil. Rosemary melihatnya datang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak merasa perlu melangkah lebih dulu ataupun berpura-pura sibuk. Ia hanya menunggu.“Benedict.”Suara itu datang dari samping. Duchess Harri
Benedict tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah kerumunan di mana ayahnya menghilang, lalu menggeleng pelan.“Aku juga tidak tahu.”Jawaban itu jujur. Karena tidak ada jawaban lain yang lebih benar dari itu.“Ia sulit ditebak,” lanjut Benedict. “Tapi kalau Ayah mengundang seseorang ke Harrington Manor, pasti ada alasan.”Itu bukan penjelasan. Justru membuat pertanyaan Rosemary semakin menggantung. Tapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut—“Aku hampir lupa bernapas.”Alice sudah berdiri di samping mereka. Oliver di belakangnya, mendorong kacamatanya.“Itu benar,” k
Beberapa detik setelah Benedict mengucapkan kata itu, tidak ada yang bicara.Duke Harrington menatap putranya. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kemarahan, tidak ada tanda bahwa kedatangan ini di luar perhitungannya. Hanya tatapan tenang yang sama seperti sebelumnya.Di sekitar mereka, para bangsawan masih berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Alice masih mencengkeram lengan Oliver. Oliver masih belum mengeluh.“Selesai berdansa?” tanya Duke Harrington akhirnya.“Ya.”Harrington mengangguk. Lalu ia mengalihkan pandangannya kembali ke Rosemary, seolah kedatangan Benedict tidak mengubah apa pun.Benedict tidak pergi.
Ashworth belum beranjak. Di depannya, Duke Harrington berdiri setenang sebelumnya.Rosemary berada di antara mereka. Henry tetap di sisinya.Para bangsawan di sekitar mereka tidak menoleh secara terang-terangan. Itu bukan cara orang-orang ini bereaksi terhadap sesuatu yang menarik. Cara mereka adalah dengan menurunkan gelas lebih pelan dari sebelumnya, memperlambat langkah tanpa tujuan yang jelas, memiringkan kepala ke arah yang secara kebetulan menghadap ke titik di mana dua Duke berdiri. Mereka sudah sangat terlatih untuk memperhatikan tanpa terlihat memperhatikan, dan malam ini semua keahlian itu digunakan sepenuhnya.Musik waltz masih mengalun. Tarian belum berhenti. Tapi perhatian sudah terbelah sejak langkah pertama Duke Ashworth mendekat.Ashworth yang
Pengumuman peringkat akhir semester baru saja ditempel, dan dalam waktu kurang dari lima menit seluruh koridor sudah penuh.Oliver Finch: peringkat 3.“PERINGKAT TIGA!
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
Benedict sudah berada di arena latihan anggar sebelum matahari terbit. Ini kebiasaannya—selalu begitu, bahkan sebelum Rosemary muncul dalam hidupnya dan mengacaukan segalanya. Arena yang kosong dan gelap, hanya diterangi beberapa lilin yang ia nyalakan sendiri. Lantai kayu yang din
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l







