LOGIN“Aku nggak mengerti apa yang kamu katakan, tapi aku tahu kalian sedang membicarakan aku,” ucap Nayaka.
“Benar. Kami memang sedang membicarakan Abang. Kami bilang sangat berterima kasih karena Abang bisa membuat anak-anak tertawa,” jawab Ujang dengan cepat.
“Ya, itu yang kami sedang bicarakan. Kami bahagia melihat Zahran dan Naffa tertawa bahagia,” Nisha melengkapi apa yang Ujang katakan.
“Aku tetap nggak percaya. Kalau kalian memb
Yaka memandang lekat putranya, seakan berat menyerahkan pada Ujang yang sejak anak itu lahir terbiasa mengasuhnya.“Kalau ada apa-apa bilang aku,” pinta Yaka.“Insya Allah nggak akan ada apa-apa,” ucap Ujang.“Apa dia besok boleh sekolah?” tanya Ujang. Esok adalah hari Selasa, hari sekolah Zahran.“Iya kalau dia mau, sekolah kan saja. Kalau nggak mau jangan dipaksa karena tak ada mommy dan tetehnya. Tapi daripada dia bengong di rumah lebih baik sekolah,” Yaka mengizinkan Zahran sekolah.“Jagoan besok mau sekolah?” tanya Yaka lembut.“Yes, I want Dadd,” jawabZahran.“Good job Son,kamu memang yang terbaik,” kata Yaka mengusap-nguasap puncak kepala Zahran dengan gemas.“Jangan nakal di sekolah ya?” nasehat Yaka.“Aku nggak pernah nakal,” jawab Zahran. Sejak berumur dua tahun dia sudah bel
“Daddy!” teriak Zahran dengan bahagia.“Jangan berlari Sayang. Nanti jatuh. Hati-hati,” teriak Yaka. Dia sudah memposisikan dirinya berlutut agar anaknya langsung bisa memeluknya.Zahran langsung memeluk daddynya serta menciumi wajah Yaka seakan-akan sudah bertemu tidak bertemu sangat lama, padahal baru hari Jumat kemarin mereka berpisah. Sekarang adalah hari Senin.“Jagoan Daddy sudah maem?” tanya Yaka.“Sudah. Tadi aku maem sama nini,” jawab Zahran.Nayaka mengangkat Zahran dalam gendongannya dia pun bersalaman dengan Raihana sebagai neneknya Zahran, sesudah itu dia bersalaman dengan Widya eninnya Zahran. “Bapak, Ibu, Naffa belum ada kemajuan. Dia masih di ICU. Kalau mau melihat bisa dari luar, tidak ada yang boleh masuk ke ruang ICU. Jadi kalau Bapak dan Ibu mau menunggu bisa ke ruang VVIP saja. Di sana ada Ujang,” kata Yaka.“Itu sebabnya saya tidak ingin Bapak dan Ibu ikut jaga di sini karena akan lelah. Tidak boleh masuk dan melihat Naffa. Hanya menunggu info perkembangan dari
”Kenapa belok sini?” tanya Nisha saat mereka akan masuk di parkiran rumah sakit.“Kita perlu beli tissue basah, juga sandal jepit untuk ke kamar mandi, serta beberapa hal lain seperti pembalut,” kata Yaka.‘Astagfirullah. Sampai pembalut pun dia perhatian. Padahal aku sampai lupa!’pikir Nisha. Kosentrasinya hanya pada kondisi Naffa.“Malam ini pasti Ujang belum antar keperluan mandi kita, setidaknya kita butuh sikat gigi untuk malam ini,” lanjut Yaka lagi.“Mommy mau turun atau Daddy saja yang beli?”“Aku saja yang beli. Kamu nggak tahu merk apa yang biasa aku pakai,” jawab Nisha.“Ya sudah, ayo kita turun saja,” Yaka keluar mobil.“Kamu ambil yang kamu butuh, aku enggak tahu sabunmu juga odolmu. Aku ambil yang aku butuh. Jadi kita menghemat waktu,” ucap Nisha.Tanpa banyak protes Yaka melakukan apa yang Nisha minta. D
“Wa’alaykum salam Bang,” kata Ujang saat mereka baru keluar rumah belum naik mobil. Ternyata Yaka menghubungi Ujang.“Jang tolong video call dulu, Abang ingin bicara sama Alan,” pinta Yaka.“Abang Alan, daddy telepon nih,” kata Ujang memberitahu Zahran kalau Yaka mencarinya.Zahran yang sudah siap mau naik mobil sang kakek langsung berlari menuju ke mobil bundanya yang akan dikendarai oleh Ujang.“Daddy!” teriak Zahran melihat sosok daddynya ada di layar ponsel.“Mana salamnya Sayang?” kata Yaka lembut.“Assalamu'alaykum Daddy aku,” kata Zahran dengan manisnya“Wa’alaykum salam gantengnya Daddy. Kamu mau ke mana?” tanya Yaka“Kata paman aku mau pulang, nanti aku bisa ketemu Daddy asal aku nggak rewel,” jelas Zahran.“Benar, kamu tidak boleh rewel. Jagoan Daddy tidak boleh rewel. Kamu nurut apa kata paman. Bes
“Sebaiknya kamu pulang Jang, ambil semua barang tetehmu, nanti kita langsung ketemu di Rumah Sakit Jakarta saja. Kalau bisa bawa Zahran ke rumah Jakarta, sehingga kita tidak sulit ketemu dia. Nanti sesekali Zahran bisa aku tengok atau dibawa ke rumah sakit untuk bertemu dengan mommynya. Mungkin kita bisa lihat di parkiran. Yang penting dia tidak dibawa masuk ke ruang rawat,” Nayaka langsung mengambil alih kepemimpinan agar semua berjalan baik.Dalam kondisi seperti ini memang harus ada yang bisa membuat keputusan, saat yang lain blank.“Benar, sebaiknya kami pulang saja,” jawab Lastyanto.“Nanti biar Bapak dan ambu juga ikut ke Jakarta. Kami juga harus packing dulu tentunya,” ucap lelaki itu memutuskan. Dia tak mau putrinya menghadapi kesulitan ini sendiri.“Kalau begitu kami pulang dulu Bang. Kita langsung bertemu di Jakarta saja. Saya akan taruh Zahran di rumah dulu baru ke rumah sakit ya,” ucap Ujang.“Kamu bawa mobil tetehmu,” ucap Lastyanto pada Ujang. Dia tahu Nisha akan bersama
“Teteh minum dulu, ini teh panasnya. Jangan sampai perut Teteh kosong. Nanti bisa bahaya,” Ujang memberikan teh hangat yang dia beli barusan.“Bagaimana kondisinya?” tanya seorang lelaki gagah saat tiba di IGD. Nisha mengangkat wajahnya mendengar suara itu suara yang dia hafal.“Bapak, ini Abang Yaka. Dia teman kami di Singapura dan buat Naffa dia adalah daddynya,” Ujang memperkenalkan Nayaka kepada bapaknya. Dengan takzim Nayaka langsung memberi salam pada orang tua tersebut.“Kapan kamu datang dari Singapura? Kok tiba-tiba sudah bisa di sini?” tanya Lastyanto.“Saya datang kemarin pagi Pak, saya cari ke rumahnya, kata orang rumah anak-anak belum kembali dari Singapura. Makanya saya bingung. Saya tidak tahu alamat di Banten sehingga saya hanya menunggu kabar dari Ujang saja. Dua jam lalu Ujang mengabari bahwa Naffa kecelakaan,” jawab Yaka.“Maaf saya bertemu dengan Shasi dulu,
“Kabarnya Pak Fajar sudah cerai ya sama istrinya?” rumpi seorang pegawai saat makan siang di warung makan depan kantor baru. Di kantor tak ada kantin. Saat itu beberapa karyawan Fajar sedang makan siang bersama.“Lalu kalau sudah cerai, kamu mau deketin dia begitu? Berhar
“Teteh ini nggak salah fasilitas yang dia kasih buat lawyernya? Dari tiket pesawat saja sudah bukan yang kelas ekonomi, hotelnya kayak begini. Seberapa besar sih usahanya dia? Belum lagi bayaran Teteh yang dia iya-in tanpa tawar padahal Teteh sengaja sudah kasih nominal jauh diluar angka bi
“Aku rasa untuk sidang pertama besok aku siap, semoga sidang berikutnya waktunya lebih fleksibel. Aku kalau harus pulang pergi terus rasanya tidak enak karena kamu terlalu besar beban biayanya. Aku ingin sidang marathon langsung selesai, beres. Besok aku akan usulkan pada hakim ketuanya biar bisa m
Widyawati ingat anak terbesar Dhani berumur 10 tahun yang bernama Hanum, dia sudah mencatat semuanya. Hanum berusia 10 tahun, Sekar berumur 8,5 tahun, lalu satu-satunya lelaki yaitu Rezky berumur 7 tahun lalu nomor empat Menik yang seumuran dengan Naffa 5,5 tahun dan terakhir si bungsu Pusp







