LOGINMalam yang semula diliputi kehangatan dan gelak tawa manis di dalam kamar rawat VIP itu mendadak berubah tegang dalam hitungan detik setelah ada panggilan telepon dari Cindy."Apakah anda kenal dengan pemilik ponsel ini? Saya mau memberikan informasi jika pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan!" suara seorang pria dari seberang telepon terdengar tergesa-gesa dengan latar belakang kebisingan sirene dan langkah kaki yang sibuk.Bayu sangat terkejut dan panik. Panggilan telepon itu tidak berlangsung lama. Pria itu memberikan informasi jika Cindy sudah dilarikan ke Rumah Sakit. Dan kebetulan, itu adalah rumah sakit yang sama tempat Maudy dirawat."Baik! Terima kasih! Saya akan langsung ke IGD!" tegas Bayu sebelum memutus panggilan secara sepihak.Melihat raut wajah suaminya yang mendadak pucat pasi dan berdiri terburu-buru, Maudy yang bersandar di tempat tidur seketika dilanda cemas. "Mas... ada apa? Ngapain kamu mau ke IGD?"Bayu memegang kedua pundak Maudy, menatap istrinya dengan
Malam kian larut di kamar rawat VIP rumah sakit. Jika di tempat lain Tasya dan orang tuanya sedang sibuk merangkai benang-benang ide licik dan diliputi kepahitan, di dalam ruangan yang hening ini justru tercipta sebuah dunia kecil yang dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan yang membuncah.Cahaya lampu kamar sengaja diredupkan oleh Bayu, menyisakan pendar kuning lembut yang hangat di sudut ruangan. Suasana terasa begitu intim dan damai. Mual yang sempat menyiksa Maudy sejak fajar tadi perlahan meluruh, berganti dengan rasa nyaman yang luar biasa berkat kehadiran Bayu yang tak beranjak sedikit pun dari sisinya.Bayu duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di samping Maudy. Salah satu lengan kokohnya melingkar protektif di bahu sang istri, sementara tangan satunya lagi terulur pelan, mengusap lembut perut Maudy yang terbalut selimut tipis.Meskipun perut itu masih terlihat datar dan belum menunjukkan tatanan benjolan kehamilan, fakta bahwa ada empat nyawa ke
Tasya melangkah keluar dari gedung rumah sakit dengan napas yang memburu dan dada yang bergemuruh hebat oleh amarah yang tertahan. Begitu melewati pintu kaca otomatis dan menginjakkan kaki di pelataran parkir, topeng kesantunan yang sejak tadi ia kenakan runtuh total.Tanpa peduli pada beberapa pengunjung rumah sakit yang melintas, Tasya menghentakkan kakinya kasar ke atas aspal, lalu melempar tas tangannya ke kursi penumpang saat ia membuka pintu mobilnya."Sialan! Kurang ajar sekali mereka!" Umpat Tasya sambil meremas kuat kemudi mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih.Rasa malu dan amarah bercampur menjadi satu, membakar habis sisa rasa percaya dirinya. Bayangan wajah Maudy yang menyindirnya secara halus di depan Bayu dan Ibu Maudy terus berputar-putar di otaknya bagai kaset rusak."Maudy bodoh! Perempuan tidak tahu diri! Dia sengaja melakukan itu untuk mempermalukanku di depan Pak Bayu! Dia berpura-pura kuat padahal tubuhnya ringkih begitu, hanya demi menggagalkan rencanaku
Maudy merebahkan kepalanya kembali ke tumpukan bantal empuk rumah sakit. Kelopak matanya perlahan-lahan memberat, lalu ia mengembuskan napas panjang yang terdengar teramat lelah. Wajahnya sengaja ia buat sedikit meredup, menyiratkan daya tahan tubuhnya yang seolah-olah sudah berada di batas paling bawah."Ibu... Tasya..." panggil Maudy dengan suara yang diatur sedemikian rupa. Terdengar serak, pelan, dan sarat akan rasa kantuk yang teramat sangat. "Maaf ya... sepertinya efek obat dari dokter mulai bekerja. Kepala Maudy mendadak terasa berat sekali dan mataku sangat mengantuk. Maudy mau tidur sebentar..."Mendengar ucapan putrinya, Ibu Maudy seketika memelankan pergerakannya. Wajah paruh baya itu diliputi rasa iba dan pengertian yang mendalam. Naluri keibuannya langsung mengambil alih."Astaga, iya, Nak... tidur dan istirahatlah," bisik Ibu Maudy pelan sembari mengusap dahi Maudy dengan penuh kasih sayang. Ia kemudian menoleh ke arah Tasya, mengisyaratkan keponakannya itu dengan ger
Mendengar penawaran manis yang berbalut ambisi terselubung dari mulut Tasya, Maudy yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Rasa mual dan lemas yang menggerogoti tubuhnya seolah menguap, berganti dengan keberanian yang mendadak membakar dadanya. Ia tidak sudi membiarkan ruangan rumah sakit ini, yang seharusnya menjadi tempat perayaan kabar bahagia kehamilannya—dijadikan panggung drama manipulasi oleh sepupunya.Maudy menegakkan punggungnya perlahan, melepaskan pegangan tangan Bayu lalu menatap Tasya lurus-lurus. Tatapan Maudy yang biasa lembut kini terpancar tajam, dingin, dan penuh penekanan."Tasya... terima kasih atas perhatianmu yang sangat berlebihan," ujar Maudy dengan suara yang tenang namun terdengar begitu lugas dan menggema di dalam kamar rawat.Tasya sedikit tersentak, tidak menyangka Maudy akan merespon secara terbuka di depan ibunya.“Ah, enggak kok Maudy. Biasa ajaa,” Sahut Tasya berusaha bersikap tenang."Kamu tidak perlu mengkhawatirkan
Tasya meletakkan keranjang buah yang dibawanya ke atas meja samping dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah barang itu adalah benda paling berharga di dunia. Ia memutar tubuhnya, menatap Maudy dengan raut wajah yang dipenuhi rasa prihatin yang amat dibuat-buat, lalu beralih menatap Ibu Maudy dengan senyuman paling santun yang bisa ia pamerkan."Tante... maaf kalau kedatangan Tasya mengganggu. Begitu mendengar kabar dari sekretariat kantor kalau Maudy mendadak harus dibawa ke rumah sakit, Tasya langsung kepikiran. Tasya tidak bisa fokus bekerja sebelum melihat sendiri bagaimana kondisi Maudy,” tutur Tasya, nada suaranya dilembutkan sedemikian rupa, memancarkan kesan sebagai sosok sepupu yang penuh perhatian. Bayu tidak beranjak dari posisinya di tepi ranjang. Jemarinya tetap menggenggam tangan Maudy, namun matanya yang tajam menatap Tasya dengan kilat dingin yang membekukan. Di sampingnya, Maudy hanya bisa diam menahan napas. Baik Bayu maupun Maudy sudah sangat mengenal tabiat
Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k







