Share

Chapter 59

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-06-01 22:38:41

Di tengah pesta yg megah, pandangan mata Rafael masih tidak lepas dari Anindya. Banyak perasaan yang bercampur aduk dalam hati Rafael yang belum bisa ia proses. Rafael bahkan tidak sadar bahwa ayahnya datang ke sampingnya hingga menepuk bahunya.

“Kau menangani situasi tadi lumayan.”

Rafael menoleh. “Ayah.”

“Bagus kau putuskan kerja sama sekarang. Orang yang tak bisa menjaga etika akan merusak nama perusahaan.”

Rafael mengangguk singkat. Namun ayahnya menambahkan, “Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Jangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 117

    Hangat. Itulah hal pertama yang dirasakan Anindya ketika perlahan membuka matanya. Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menerangi kamar yang masih diselimuti suasana tenang.Beberapa detik, Anindya hanya memandangi langit-langit kamar. Lalu perlahan kenangan semalam kembali memenuhi benaknya. Pipinya langsung memanas. Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi bibirnya. Perlahan ia memiringkan tubuh.Di sisi ranjang, Arkana ternyata sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu. Laki-laki itu tidak sedang membaca buku ataupun memainkan ponselnya. Ia hanya duduk bersandar di kepala ranjang, memandang Anindya yang masih terlelap sejak tadi.Tatapan Arkana begitu lembut. Begitu damai. Seolah ia tidak ingin melewatkan sedetik pun wajah perempuan yang kini berada di sisinya. Melihat bulu mata Anindya mulai bergerak, senyum tipis langsung menghiasi wajahnya."Morning." Suara Arkana terdengar pelan.Anindya tersenyum malu. "Morning."Belum sempat ia mengatakan apa pun lagi, Arkana

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 116

    Arkana masih terpaku. Bibir Anindya baru saja meninggalkan bibirnya. Namun laki-laki itu sama sekali belum bergerak.Tatapannya hanya tertuju pada perempuan yang masih duduk di pangkuannya, menatapnya dengan mata yang jernih tanpa sedikit pun penyesalan.Keheningan menyelimuti lorong menuju kamar tamu. Begitu sunyi hingga suara napas mereka terdengar jelas. Anindya mulai merasa gugup. Keberanian yang tadi mendorongnya mencium Arkana perlahan berubah menjadi rasa cemas. Apakah ia terlalu terburu-buru? Apakah ia justru membuat Arkana semakin menjauh?"Arkana..." panggil Anindya lirih.Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokannya ketika Arkana perlahan mengangkat tangan. Jemarinya bergerak sangat pelan. Begitu pelan hingga Anindya nyaris tidak merasakannya, seolah Anindya adalah porselain rapuh yang mudah pecah. Ujung jarinya menyentuh pipi perempuan itu. Hangat. Lembut.Arkana seperti sedang memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar nyata. Tatapan Arkana mulai berubah. Tak

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 115

    Malam semakin larut. Rumah keluarga Pratama yang biasanya masih menyisakan kesibukan kini mulai tenggelam dalam keheningan. Sebagian besar lampu telah dipadamkan, menyisakan cahaya hangat dari beberapa sudut koridor.Di ruang keluarga, Arkana dan Anindya masih duduk berdampingan. Setelah tangisan, permintaan maaf, dan pengakuan hati mereka beberapa saat lalu, suasana di antara keduanya berubah begitu banyak.Tidak lagi canggung. Tidak lagi dipenuhi prasangka. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, mereka bisa saling memandang tanpa ada beban yang mengganjal di dada.Arkana tersenyum kecil. "Aku baru sadar...""Apa?""Kita ternyata bisa mengobrol selama ini."Anindya ikut tertawa pelan. "Padahal beberapa hari lalu kita bahkan sama-sama nggak mau bicara.""Berarti kita memang keras kepala.""Kamu lebih keras kepala.""Kamu juga."Anindya tersenyum geli. "Aku belajar dari siapa?"Arkana menggeleng sambil terkekeh pelan. Suasana yang sempat begitu menyesakkan kini perlahan

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 114

    Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman kediaman keluarga Pratama.Begitu mobil berhenti, salah seorang petugas keamanan langsung mengenali pengemudinya."Nona Anindya?"Anindya tersenyum tipis. "Maaf sudah malam. Apa Arkana masih belum tidur?""Masih, Nona. Tuan Muda ada di ruang keluarga.""Terima kasih."Beberapa menit kemudian, seorang asisten rumah tangga mempersilakan Anindya masuk. Saat itu Arkana sedang sendirian di ruang keluarga, sebuah buku terbuka di pangkuannya. Namun sejak beberapa menit tadi, ia bahkan tidak benar-benar membaca. Pikirannya terus mengembara.Ketika mendengar langkah kaki mendekat, Arkana mengangkat wajah. Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya... Ia membeku."Anin..." Suara itu terdengar hampir tidak percaya. "Kamu..."Anindya berdiri beberapa langkah di depannya. "Aku boleh masuk?"Arkana baru tersadar. "Iya... tentu."Arkana buru-buru memberi isyarat kepada asisten rumah tangga. "Kam

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 113

    Rumah keluarga Wijaya terasa begitu sunyi malam itu. Di atas meja kerja, laptop Anindya masih menyala. Lembar demi lembar revisi skripsi terbuka di layar, tetapi sejak hampir satu jam yang lalu, tidak satu pun kalimat berhasil ia baca. Pikirannya terus kembali pada percakapannya dengan Arkana.'Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran... aku akan melepaskanmu.' Kalimat itu masih terdengar jelas di telinganya. Anindya memejamkan mata. Seminggu telah berlalu sejak mereka bertemu di taman. Selama seminggu itu, Arkana benar-benar menepati janjinya. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada bunga. Tidak ada kejutan kecil seperti yang biasa dilakukan laki-laki itu.Anindya tahu... Bukan karena Arkana tidak peduli. Justru karena Arkana terlalu menghargai permintaannya. Seharusnya ia merasa lega. Bukankah memang itu yang ia inginkan?Namun anehnya... Semakin lama Arkana tidak muncul, semakin kosong pula perasaannya. Anindya menghela napas panjang."Kenapa jadi begini..."Ia bangkit da

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 112

    Chapter 109 – Tanpa KehadirannyaHari pertama sejak Anindya meminta waktu. Arkana masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa Anindya hanya membutuhkan waktu. Bukankah Anindya sendiri yang mengatakan mereka tidak putus? Ia hanya meminta waktu untuk menenangkan diri. Kalimat itu terus diulang Arkana di dalam kepalanya. Namun, mengetahui alasannya dan benar-benar menjalaninya adalah dua hal yang berbeda.Pagi itu, seperti biasa mobil keluarga Pratama memasuki area Universitas Garuda Nasional. Sopir membuka pintu mobil dan membantu Arkana turun ke kursi rodanya."Terima kasih, Pak.""Sama-sama, Tuan Muda."Biasanya, setelah sampai di kampus, Arkana akan langsung menuju gedung Manajemen Strategis. Bukan karena kelasnya di sana. Melainkan karena ia tahu Anindya hampir selalu datang lebih awal. Mereka akan sarapan bersama sebelum masing-masing masuk ke kelas. Sudah hampir empat tahun rutinitas itu berjalan. Hari ini... Arkana hanya memandang ke arah gedung itu dari kejauhan. Lalu mengembuskan n

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 56

    Perayaan lima puluh tahun perusahaan Mahendra berjalan semakin ramai. Musik berganti lebih hangat. Para tamu mulai berpindah dari meja formal ke kelompok-kelompok kecil. Bisnis dibicarakan sambil tersenyum. Aliansi lama diperkuat dengan gelas anggur. Dan gosip sosial mulai bergerak sama cepatnya de

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 1

    Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status