LOGINSuasana ruang tamu terasa hangat. Namun kehangatan itu lebih banyak berasal dari Nyonya Pradikusuma.Beliau sesekali bertanya tentang keluarga Anindya, tentang persiapan kuliah, bahkan memuji pilihan warna gaun yang dikenakan Anindya. Sebaliknya... Tuan Adipati Pradikusuma hampir tidak berbicara.Tuan Adipati hanya mengamati. Mengamati cara Anindya duduk. Cara ia menjawab pertanyaan. Cara ia sesekali menoleh kepada Arkana. Bahkan cara ia mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang menuangkan teh.Tak lama kemudian, kepala pelayan mendekat. "Makan malam sudah siap, Tuan.""Baik."Keempatnya berjalan menuju ruang makan. Meja makan panjang itu sebenarnya mampu menampung lebih dari sepuluh orang. Namun malam itu hanya diisi empat orang.Arkana dan Anindya duduk berdampingan. Di seberang mereka duduk Tuan dan Nyonya Pradikusuma. Makan malam dimulai dengan tenang. Tidak ada pembicaraan berat.Nyonya Pradikusuma lebih banyak bercerita tentang kegiatan berkebunnya. Anindya mendengarkan denga
Hari yang dijanjikan akhirnya tiba. Menjelang sore, Anindya berdiri di depan cermin kamarnya. Ia memilih gaun sederhana berwarna krem dengan potongan yang anggun. Tidak terlalu mencolok, tetapi juga tidak terlalu santai.Ibunya memperhatikan dari belakang. "Sudah siap?""Hampir.""Ayahmu sudah menunggu di bawah."Anindya mengangguk. Hari ini, ayahnya sendiri yang mengantar sampai gerbang kediaman keluarga Pratama, tempat Arkana telah menunggu untuk menjemputnya menuju kediaman keluarga Pradikusuma.Sebelum turun, Anindya mengambil sebuah pot keramik berwarna putih. Di dalamnya tumbuh satu rumpun anggrek bulan dengan bunga-bunga putih yang sedang mekar sempurna.Ibunya tersenyum. "Memilih bunga?""Iya.""Kenapa anggrek?"Anindya hanya tersenyum tipis. "Rasanya... beliau akan menyukainya."Ibunya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. "Tidak usah memikirkan bagaimana membuat mereka menyukaimu. Cukup jadi dirimu sendiri.""Baik, Bu."Namun jauh di dalam hati... Anindya tahu alasan sebenar
Malam itu, setelah Tuan Adipati mengundang Anindya makan malam. Kediaman keluarga Pradikusuma tampak tenang seperti biasanya.Tapi di ruang kerja, Tuan Adipati Pradikusuma duduk sambil memandang halaman belakang yang diterangi lampu taman. Di atas meja masih tergeletak map mengenai Anindya Wijaya.Map itu sudah selesai beliau baca sejak beberapa hari lalu. Namun belum sekali pun beliau membukanya lagi. Karena yang ingin beliau nilai... bukan lagi data.Pintu ruang kerja diketuk pelan."Masuk."Nyonya Pradikusuma masuk sambil membawa dua cangkir teh. "Kamu belum tidur.""Tidak mengantuk."Wanita itu duduk di sofa di seberang suaminya. "Kamu sedang memikirkan cucumu."Bukan pertanyaan. Tuan Adipati mengangguk pelan. "Ya.""Kamu bilang, besok Arkana membawa pacarnya.""Hm.""Lalu?"Tuan Adipati menghela napas pelan. "Anak itu tidak buruk.""Anindya?""Ya.""Kamu sudah menyelidikinya.""Bukan menyelidiki.""Mencari tahu."Nyonya Pradikusuma terkekeh kecil. "Kamu selalu memakai istilah yan
Beberapa hari kemudian... Kesibukan menjelang masuk kuliah semakin padat. Grup mahasiswa baru mulai ramai. Jadwal orientasi telah dibagikan. Anindya dan Arkana beberapa kali bertemu di kampus untuk menyelesaikan administrasi terakhir.Suasana kampus jauh berbeda dengan sekolah. Gedung-gedung tinggi. Mahasiswa berlalu-lalang tanpa mengenakan seragam. Dosen yang berjalan terburu-buru. Semuanya terasa baru."Rasanya aneh," kata Anindya sambil memandang halaman kampus. "Baru beberapa minggu lalu kita masih pakai seragam SMA."Arkana mengangguk. "Hidup memang cepat berubah."Sore itu, setelah semua urusan administrasi selesai, Arkana mengantar Anindya sampai ke gerbang kampus."Besok masih ada jadwal?" tanya Arkana."Tidak. Kamu?""Ada rapat di perusahaan."Anindya mengangguk. "Penerus perusahaan memang sibuk.""Aku masih belajar.""Kamu rendah hati atau sedang pamer?""Menurutmu?""Dua-duanya."Arkana tersenyum kecil. Senyum yang kini semakin sering muncul jika bersama Anindya.***Malam
Liburan kelulusan berlalu lebih cepat dari yang dibayangkan. Tanpa terasa, surat-surat dari universitas mulai berdatangan. Jadwal daftar ulang. Pengambilan kartu mahasiswa. Tes kesehatan. Pengenalan kampus. Semua menandakan satu hal. Masa SMA benar-benar telah berakhir dan babak baru akan segera dimulai.***Suatu siang, Arkana dan Anindya bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus tempat mereka akan kuliah.Di atas meja berserakan map berisi dokumen. Fotokopi ijazah. Pas foto. Bukti pembayaran. Hingga daftar perlengkapan yang harus dipersiapkan sebelum masa orientasi.Anindya menghela napas panjang. "Aku baru sadar... masuk kuliah ternyata banyak sekali berkas."Arkana menyesap kopinya. "Lebih baik sekarang daripada nanti.""Aku kira setelah lolos ujian semuanya selesai.""Itu baru awal."Anindya mengerucutkan bibir. "Kamu menyebalkan.""Aku hanya realistis."Mereka kembali memeriksa daftar dokumen. Sesekali saling mengingatkan jika ada berkas yang belum lengkap. Hubungan mer
Acara perpisahan telah usai. Gerbang sekolah yang selama tiga tahun menjadi tempat mereka datang setiap pagi kini tertutup lebih lama dari biasanya. Seragam SMA digantung rapi di lemari. Grup angkatan berubah dari membahas ujian menjadi penuh dengan foto-foto perpisahan.Liburan akhirnya tiba. Namun bagi sebagian orang, libur bukan berarti benar-benar beristirahat. Arkana kembali disibukkan oleh perusahaan keluarga Pratama. Rapat. Laporan. Kunjungan ke beberapa anak perusahaan. Sesekali menemani direksi.Sebagai pewaris tunggal, libur sekolah justru berarti lebih banyak waktu untuk belajar memimpin. Sementara itu, Anindya juga kembali membantu usaha keluarganya sambil sesekali mempersiapkan diri memasuki kehidupan sebagai mahasiswa. Meski tidak lagi bertemu setiap hari, hubungan mereka tetap berjalan dengan tenang.Panggilan telepon di malam hari. Pesan singkat setiap pagi. Dan kebiasaan Arkana yang selalu bertanya, "Sudah makan?"Yang hampir selalu dibalas Anindya dengan, "Sudah... s
Gerakan Arkana barusan membuat wajah Anindya memerah, jantungnya berdegup sangat kencang hingga Anindya merasa bisa mendengar detak jantungnya. Hal yang lucu sebenarnya, mengingat Anindya sebetulnya sudah menikah dengan Arkana di kehidupan sebelumnya. “Kamu merah,” kata Arkana tenang.“Kamu juga.”
Di sisi lain kota, Rafael membaca kabar dari grup chat.'ANINDYA LOLOS GARUDA!!!''Gila sih dia.''Satu kampus sama Arkana fix.'Rafael mematikan layar perlahan. Dulu ia pikir Anindya hanya keras kepala sesaat. Kini gadis itu membuktikan keseriusannya dengan cara yang tak bisa ditertawakan siapa pu
Setelah Rafael pergi, Anindya mengambil ponsel lalu mengirim pesan singkat pada satu orang.'Hari ini Rafael datang bikin kesal.'Balasan datang beberapa menit kemudian. 'Mau aku tabrak?'Anindya tertawa keras sendirian. 'Kamu kan di kursi roda.'Balasan kedua masuk. 'Tetap bisa. Strategis.'Anindy
Musim pendaftaran universitas akhirnya datang. Seluruh siswa kelas XII seperti hidup dalam dua dunia sekaligus. Di pagi hari mereka masih memakai seragam sekolah. Di malam hari mereka berubah menjadi mesin latihan soal, pemburu passing grade, dan ahli menghitung peluang masuk kampus.Nama-nama univ







