LOGIN"Makasih, Bud." Rangga mengangguk. Kemudian melangkah ke arah mobilnya. Budi juga masuk ke kendaraannya sendiri dan langsung pergi.Seperti biasa, sampai di rumah ia disambut pelukan hangat dari putranya. Ibrahim selalu berlari memeluknya dengan erat. "Bunda mana?" tanya Rangga sambil mencium pipi sang anak."Bunda ngaji, Pa." Ibrahim menunjuk ke arah ruang salat di lantai rumah mereka.Rangga melangkah ke sana. Ia melihat Maria yang masih memakai mukena, duduk menghadap mushaf di depannya. Suaranya merdu melantunkan ayat-ayat Al Qur'an dengan irama rost. Rangga mematung cukup lama di depan pintu. Ibrahim pun diam memandang kedua orang tuanya bergantian. Kemudian Ibrahim minta turun. "Papa, A'im mau ngaji sama Bunda.""Oke. Papa mau mandi dulu. Nanti Papa susul ke sini." Rangga mengecup pipi sang anak, kemudian menurunkan Ibrahim. Bocah itu menghampiri bundanya. Maria menoleh memandang Rangga."Mas mau mandi dulu," kata Rangga sambil tersenyum. Lantas melangkah cepat menaiki tangga un
Kalimat-kalimat jujur yang keluar dari bibir Rangga laksana belati yang menghujam tepat ke jantung Tamara. Perempuan itu membeku sempurna di bawah dinginnya kabut sore yang menyelinap masuk ke kafe. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa sesak yang luar biasa saat menyadari sebuah kenyataan pahit, bahwa Rangga sekarang hanya mencintai Maria secara mutlak. Segala pesona fisik yang dulu diagung-agungkan Tamara terbukti tidak ada artinya. Tamara menyadari bahwa dengan sikapnya sendiri, lewat ego, sifat keras kepala, sikap buruknya terhadap perintah suami, dan keserakahannya di masa lalu, ia telah membunuh seluruh rasa hormat dan kasih sayang yang pernah Rangga miliki untuknya. Mereka yang dulu pernah berbagi ranjang dan saling mengecap kebahagiaan semu, kini telah bertransformasi menjadi musuh yang saling melempar tatapan kebencian."Ular akan tetap menjadi ular, Tam. Dia hanya berganti kulit, tapi kadar bisanya di dalam tubuh tetap sama saja, beracun. Seharusnya setelah kamu memutuska
MARIA- 63 Tidak Main-main "Aku ingin bicara denganmu," suara Rangga begitu dingin, memecah keheningan area parkir sore ituTubuh Tamara bergetar hebat menerima tatapan menusuk dari Rangga. Dadanya bergemuruh oleh kepanikan yang luar biasa, membuat lidahnya mendadak kelu bahkan untuk sekadar menyapa. Tanpa menunggu persetujuan, Rangga membalikkan badan dan melangkah tegap menuju area terbuka di pinggir jalan raya, agak menjauh dari lobi gedung. Rangga tahu betul di sudut-sudut luar kantor itu terpasang kamera CCTV yang aktif. Sebagai pria yang berpikiran taktis, dia tidak ingin ada rekaman yang bisa berpotensi memicu kesalahpahaman hukum di kemudian hari. Dia kenal Tamara seperti apa, jadi tidak ingin ada celah sedikitpun yang digunakannya untuk playing victim terhadap pertemuan sore itu."Kita bicara di kafe seberang saja," ajak Rangga.Dengan langkah berat dan takut, Tamara melangkah mengikuti di belakang punggung tegap itu. Namun ia kembali terkejut, ternyata Rangga tidak datang
Maria diam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya. "Menurutku kamu sedang sakit dan perlu berobat ke psikiater. Buruan sebelum terlanjur gila."Tawa Tamara di seberang sana mendadak terhenti, digantikan dengkus tidak suka. "Kamu nggak usah sok menasihatiku. Lihat bagaimana dia akan kembali meninggalkanmu. Bilang saja kamu kepanasan melihat seberapa mesranya Mas Rangga padaku.""Sama sekali tidak," potong Maria cepat dan tenang. "Nggak ada gunanya kamu memanas-manasiku dengan hal usang begitu. Perlu kamu tahu, hubunganku dengan Mas Rangga jauh lebih romantis, sehat, dan indah sekarang ini. Aku nggak perlu menceritakan kepadamu bagaimana mesranya hubungan kami setiap hari, hingga sekarang aku sedang mengandung anak kami yang nomer dua."Termasuk bagaimana kami menikmati indahnya musim semi di Jepang waktu itu. Mas Rangga membawaku dan A'im berbulan madu ke sana. Menebus semua waktu yang dulu sempat hilang. Aku nggak perlu pamer atau mengirimkan bukti foto atau videonya kepadamu karena ma
"Mas sudah merencanakan perceraian sebelum bertemu denganmu," bantah Rangga. Maria terus meluapkan segala kekesalan, rasa lelah, dan rasa tidak amannya malam itu. Sementara Rangga hanya bisa diam membisu, mendengarkan dengan sabar setiap kata amarah yang keluar dari bibir sang istri. Pria itu menahan diri untuk tidak memotong atau mendebat. Percuma, Maria hanya ingin didengar, bukan didebat.Rangga sekarang paham psikologi wanita, kalau mereka butuh mengomel untuk mengeluarkan seluruh racun di dalam hatinya hingga tuntas. Terlebih lagi ia sadar bahwa saat ini Maria sedang mengandung. Di mana gejolak hormon membuat mood-nya naik turun dengan drastis dan tidak menentu. Rangga tahu, sebagai konsekuensi masa lalunya ia harus siap jika sewaktu-waktu masalah ini kembali diungkit, lagi dan lagi sampai kapan pun.Seperti halnya Tamara dulu, tiap kali marah, akan mengungkit kebersamaan Rangga dan Maria.Setelah Maria mulai tenang, Rangga menarik napas panjang dan dalam. Ia merapatkan tubuhnya
MARIA - 62 Bukan Maria yang Dulu"Aku nggak ingin membahasnya, Mas. Aku tahu itu semua foto dan video lama," ucap Maria, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai merebak, membuat sepasang matanya berkaca-kaca di bawah pendar lampu kamar. Ia tahu semua itu cerita lama. Tapi jujur, ada rasa sakit dan kecewa dalam dada. Padahal beberapa waktu ini suasana sudah anteng. Eh, tiba-tiba saja Tamara muncul lagi dan berusaha menyerang mentalnya."Aku hanya ingin diam sekarang ini. Aku butuh waktu untuk kembali berdamai dengan kenyataan, bahwa ketika aku memutuskan untuk menerima Mas kembali, maka hal-hal seperti inilah yang harus siap kujadikan konsekuensinya." Maria berusaha melepaskan cekalan kuat jemari Rangga di pergelangan tangannya. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah pengakuan jujur menyeruak dengan begitu perih. Ternyata memang tidak pernah mudah untuk mencintai seorang Rangga. Sebab ada wanita lain yang masih ingin memilikinya.Ujian di
Rangga menggedong Ibrahim masuk ke dalam rumah. Mereka duduk ngobrol di ruang tengah. Namun tak lama kemudian, Pak Ali pamit masuk kamar karena sudah mengantuk. Bu Hasna masih menemani mereka. Namun wanita itu ke kamar mandi sejenak."Maria, berapa nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uang bulanan u
Keputusan baru saja diketuk oleh hakim di ruang sidang. Sidang kedua berjalan jauh lebih lancar dari yang dibayangkan. Tanpa perdebatan panjang, tanpa drama tuntutan harta yang berarti. Sebab Rangga tak mengambil bagiannya. Biar saja. Yang penting sidang lancar dan cepat selesai.Palu hakim telah m
Hening. Rangga mendengar isakan lirih di seberang. Walaupun tak pernah mengabari, ibu dan bapaknya tak pernah sakit hati atau membenci Maria. Mereka selalu bilang kalau terus mendoakan Maria."Dia nggak akan pulang karena menganggap Tamara pasti akan tetap menjadi menantu di rumah ini. Sekuat-kuat
"Mbak Aisyah, Pak Rudi mungkin bisa meyakinkan keluarganya," hibur Bu Halimah.Aisyah yang saat itu tak bercadar, tersenyum samar. Sejenak ruangan itu mendadak hening. Bu Halimah memang mengenal Rudi sudah lama. Sebagai donatur yang dermawan dan pria yang baik, tapi ia memang tidak tahu bagaimana d







