Share

MJM 46

last update publish date: 2026-06-12 12:19:36

Aula panti asuhan yang tadinya riuh kini kembali sepi, menyisakan deru kipas angin tua di sudut sana. Setelah anak-anak masuk ke ruangan masing-masing untuk tidur siang. Zein melangkah menuju ruang kantor kecil tempat Bu Halimah dan Aisyah akan merekap data donasi hari itu.

Zein mengeluarkan amplop cokelat yang tampak tebal dan meletakkannya di atas meja kayu yang sudah kusam.

"Ini ada tambahan untuk operasional panti, Bu Halimah," ujar Zein dengan nada rendah.

Bu Halimah menerima amplop itu d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (42)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
Alhamdulillah,,, semoga Allah selalu memberikan kesehatan pekerjaan dan rezeki yang halal mudah dan kehidupan yang barokah ya mas Zein,,, Aamiin YRA ... ehh,,, tetap misterius ini mas Zein 🫣
goodnovel comment avatar
⚘️ɛ.
silsilah keluarga Maria blm dijelasin detail ya, selain ayah kandungnya.. ini jgn² si Zein ada hubungannya ama keluarga kandung Maria, hahaha.. abis misterius amad siihh..
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
semua tergantung SM Maria ya...kembali SM mantan yg bakln keinget terus soal penghianat atau pilih salah satu laki2 yg ngajak ta'aruf atau m max Zein aja lah ..mas Zein sepertinya bos perkapalan atau yg punya peti kemas di pelabuhan ya...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   MJM 111

    "Dia orang pertama yang menolong dan menguatkan saya saat berada di titik paling terpuruk dan hancur saat saya baru tiba di Malang. Saya merasa sedih, Bu. Karena di antara orang-orang baik yang selama ini ada di sekitar saya, hanya Mas Zein yang sampai hari ini belum tahu kalau saya sudah memutuskan untuk rujuk dan kembali bersama Mas Rangga.""Kamu bisa mengirim pesan, Aisyah."Maria menggeleng. Mereka hampir tidak pernah berkomunikasi lewat telepon. Hanya waktu itu saja Zein mengirimkan pesan. Setelah itu tidak ada lagi. Maria tidak benar-benar tahu siapa Zein ini, jadi khawatir nanti kalau mengganggunya. 🖤LS🖤"Bunda, cepat mandikan A'im. A'im mau tunggu Papa di depan!" seru anak berumur tiga tahun itu dengan ketidaksabaran yang menggemaskan. Dia baru selesai disuapi sarapan oleh Maria. Kemarin malam mereka sudah sampai di Kediri. Dijemput oleh orang kepercayaannya Pak Ali. Maria pun kenal dengan lelaki yang sering mengantar bepergian orang tua angkatnya itu.Setelah didandani de

  • Mencari Jejak Maria   MJM 110

    Apalagi sekarang karier Rangga melesat bagai meteor. Bisa jadi sepulang dari Jepang nanti, posisi Rangga dipastikan akan naik kelas menjadi General Manager.Dalam kondisi kalut dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, Tamara akhirnya meraih ponselnya lalu menghubungi sang mama."Aku nggak bisa menghubungi Rangga, Ma. Sekretarisnya tadi sore begitu judes saat kutanya. Dia malah memperingatkanku supaya jangan mengganggu Rangga," keluh Tamara dengan kesal.Di seberang telepon Bu Arsi terdengar menghela napas panjang, sebelum akhirnya berbicara dengan nada mendesak. "Tam, dengarkan Mama. Makanya sejak kemarin Mama bilang apa? Ikuti saja saran Mama. Kamu datangi rumah orang tuanya Rangga, lalu pura-pura hamil anak Rangga. Cuma itu satu-satunya cara instan buat mengikat dia lagi sebelum masa iddahmu habis.""Nggak mungkin, Ma," bantah Tamara."Kenapa nggak mungkin? Tinggal pakai hasil tes palsu, beres," seru Bu Arsi gemas."Mama nggak tahu bagaimana Rangga," teriak Tamara frustrasi. "Dia itu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 109

    MARIA- 44 Sah"Mas, kalau memang nggak memungkinkan dan terlalu ribet, sebaiknya aku dan A'im nggak usah ikut ke Jepang saja. Toh, dua bulan lagi Mas juga sudah selesai training-nya," kata Maria dengan nada tenang saat menerima telepon dari Rangga malam itu. Setelah Rangga menceritakan beberapa kendala ketika hendak membawanya dan Ibrahim ke Jepang.Rangga sengaja menghubungi Maria kembali setelah putra kecil mereka sudah tidur. Supaya bisa ngobrol dengan lebih leluasa."Kamu jangan khawatir soal itu, Maria. Kebetulan aku punya kenalan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sini. Dia akan membantu mencarikan sewa apartemen harian yang nyaman untuk kamu dan A'im selama di Jepang nanti. Yang dekat dengan apartemen tempatku tinggal sekarang ini."Maria menghela napas. "Tapi sayang sekali dengan uangnya. Sudah berapa banyak biaya yang harus Mas keluarkan hanya untuk membawa kami ke Jepang selama beberapa hari. Mulai dari tiket pesawat, sewa tempat tinggal, biaya hidup di sana hingga

  • Mencari Jejak Maria   MJM 108

    Tiga belas tahun menikah, Pak Pradipta belum dikaruniai momongan. Makanya dia juga sayang pada Ibrahim. Kalau anak itu sakit, ia memberi kebebasan pada Maria untuk tidak masuk kerja atau bekerja dari panti. Istrinya ada sedikit masalah dengan indung telurnya. Untuk itu susah untuk mengandung. Pernah mencoba bayi tabung, tapi justru hampir merenggut nyawa istrinya. Itu bukan alasan bagi Pak Pradipta untuk meninggalkannya. Meski ingin sekali punya anak kandung. Sebab sekarang ia merawat anak dari adik iparnya yang sudah berusia enam tahun. "Baiklah, Aisyah," ucap Pak Pradipta akhirnya sambil mengangguk-angguk pasrah. "Saya akan selalu mendukung apa pun keputusan terbaikmu. Tapi saya harap kamu benar-benar mempertimbangkan matang-matang sebelum resmi rujuk nanti. Jangan sampai kamu sakit hati lagi."Andai saja saya punya saudara laki-laki yang masih single, saya ingin menjodohkanmu dengannya."Maria tersenyum dibalik cadarnya. Pak Pradipta juga memandangnya sambil tersenyum. Lelaki itu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 107

    "Duh, A'im Papa kangen sekali," gumamnya.Bayangan Ibrahim seketika menjelma di pelupuk mata. Rangga tersenyum mengingat momen manis saat anak itu memeluk lehernya erat-erat di bandara, juga kenangan lucu saat pertama kali Ibrahim mendekatinya di panti dengan memakai sandal yang terbalik. Kerinduan itu begitu menyiksa menjadi satu dengan rasa cemas yang tak berkesudahan tentang Maria. Ia teramat takut jika benteng pertahanan Maria goyah dan wanita itu akhirnya memilih menerima lelaki lain selama dirinya berada di seberang lautan.Rangga mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggal sementara yang disediakan oleh perusahaan. Kamar bertipe 1K dengan luas 25m² itu terasa sangat sunyi. Karena ia seorang manajer, perusahaan Jepang tempatnya bernaung memang sangat memuliakan fasilitas dan privasinya. Apartemen ini sudah dilengkapi dapur mini, kamar mandi prefab, kulkas, kasur, mesin cuci, microwave, hingga rice cooker. Semua biaya sewa ditanggung penuh oleh kantor.Bahkan Rangga memil

  • Mencari Jejak Maria   MJM 106

    MARIA- 43 Indonesia-Jepang Ibrahim duduk bersila di atas kasur, menatap lekat layar ponsel yang terpasang di tripod depannya. Wajah Rangga terpampang jelas di sana melalui panggilan video. Ibrahim terlihat bahagia sekali, senyumnya melebar hingga matanya menyipit."Papa, kapan pulang?" tanya Ibrahim dengan nada yang menggemaskan.Rangga yang berada di seberang sana terkekeh pelan, meski gurat rindu di matanya tidak bisa disembunyikan. Baru seminggu pergi, tiap hari kalau di telepon, Ibrahim bertanya kapan ia pulang. "Masih agak lama, A'im. Tapi dengar Papa, ya. Nanti begitu Papa pulang ke Indonesia, Papa akan langsung mengajak A'im dan Bunda pergi ke Jepang. Naik pesawat. Kita liburan ke sini. A'im, mau kan?""Mau mau," jawab Ibrahim antusias sambil menggut-manggut. Bocah itu langsung menoleh ke arah Maria yang duduk di sampingnya sambil merapihkan cadar. Kemudian baru menampakkan diri di layar ponsel. "Bunda, nanti kita ikut Papa, ya?"Melihat sang bunda hanya diam dan menatapnya l

  • Mencari Jejak Maria   MJM 69

    "Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 66

    "Sementara kamu sendiri pernah berada di posisi mereka. Bagaimana kamu bisa benar-benar sembuh dan bangkit kembali, kalau setiap hari makananmu adalah trauma-trauma yang serupa? Ibu takut, pekerjaan itu justru akan mempertebal traumamu dan membuatmu sulit melangkah maju."Kalimat Bu Halimah telak m

  • Mencari Jejak Maria   MJM 63

    "Iya, Bu," jawab Rangga sambil mengemudi. "Kenapa dulu Maria nggak mau ngomong kalau hamil. Malah sembunyi. Begitu kecewanya Dia sama kamu. Kasihan A'im." Bu Hasna belum bisa diam. Dia masih sedih mengingat Ibrahim sama Maria."Sudahlah, Bu. Memang jalannya sudah begini. Mau gimana lagi. Semua sud

  • Mencari Jejak Maria   MJM 65

    MARIA- 29 Jalan-jalan "Ulfa, panggilin Mbak Aisyah dan A'im, ya. Bilang kalau Pak Rangga datang." Bu Halimah menyuruh seorang anak kelas lima SD untuk memanggil Aisyah, setelah wanita itu mempersilakan Rangga masuk ke ruang tamu panti."Ya, Bu," jawab Ulfa terus berlari ke arah belakang."Mas Ran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status