LOGIN”Lady Marielle… semoga pemberian gelar pahlawan Anda hari ini berjalan dengan lancar ya,” ucap Diana sambil merapikan gaun yang Marielle kenakan untuk acara hari ini.“Terima kasih Diana,” balas Marielle ramah.Ia melihat dirinya mengenakan balutan gaun simple namun elegan. Sudah tiga hari ia berada di istana semenjak kedatangannya. Dan hari ini adalah hari dimana ia akan mendapatkan gelar kehormatan sebagai pahlawan Minerva atas kontribusinya selama perang.Aula Agung Agung Istana telah dipenuhi oleh para bangsawan, menteri, dan jajaran ksatria tertinggi. Riuh rendah bisikan gembira sekaligus penasaran menggema di bawah langit-langit emas ruangan megah tersebut.Di barisan depan tahta, Ratu Elira duduk dengan anggun. Ia menatap lurus ke depan, bersiap menunjukkan pada seisi istana siapa pemilik sah hati sang Raja.Terompet kerajaan ditiup dengan lantang, seketika membungkam seluruh aula. Pintu ganda aula agung terbuka lebar.Marielle melangkah masuk dengan perlahan namun pasti.
“Saya harap Anda lebih lembut pada Ratu. Bagaimanapun juga, beliau adalah istri sah Anda.” Aldric sekali lagi mengingatkan.“Aku tahu,” balas Cassian singkat.Cassian langsung meminta beberapa ksatria untuk memanggil para jenderal untuk mendiskusikan waktu yang tepat untuk mengeksekusi para pengkhianat. Setelah rapat berjalan hampir satu jam, akhirnya mereka mendapat hasil jika eksekusi akan dilakukan minggu depan tepat di alun-alun kota.“Baiklah, kalau begitu rapat selesai. Silahkan kalian istirahat. Aku tahu kalian sangat lelah.” Cassian mengakhiri rapat tergesa.Sang Raja langsung bergegas keluar dari ruangan rapat untuk menemui istrinya yang baru saja ia bentak tadi.Langkah kaki Cassian terasa begitu berat saat ia menyusuri lorong panjang menuju kamar pribadi Ratu. Jubah kebesarannya yang megah kini terasa seperti beban yang menghimpit pundaknya. Sejak menginjakkan kaki di ibukota sehabis menempuh perjalanan jauh dari Valerante, dilanjutkan dengan rapat cepat yang menguras pik
“Selama Anda di istana, Anda bisa memakai kamar Paviliun ini sesuka hati Anda.” Ronald, kepala pelayan mempersilahkan Marielle masuk ke kamar utama di paviliun tersebut.“Kau sungguh aku memakai kamar ini?” Marielle terlihat tidak percaya.“Benar Lady. Semoga Anda betah saat tinggal di istana ini. Saya pamit, karena masih banyak yang harus saya kerjakan.” Ronald akhirnya undur diri.Marielle mengangguk. Setelah pintu tertutup kembali, Mariella melihat sekeliling dengan wajah kagum. Ia masih ingat kamar selama dirinya menjadi selir Cassian tidak semewah kamar ini.“Lady, akhirnya kita kembali ke istana lagi. Wah… aku sangat merindukan kasur empuk seperti ini.” Diana langsung berbaring di ranjang utama kamar tersebut. Tangannya mengelus-elus bagaimana lembutnya sprei yang tengah ia tiduri.Marielle tertawa kecil melihat tingkah pelayan pribadinya. Rasa lelah akibat perjalanan panjang seolah sedikit menguap melihat antusiasme Diana. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di tepinya
“Yang Mulia Ratu… hormat saya pada Anda, sang Rembulan Minerva.” Marielle langsung membungkuk memberi hormat bersamaan dengan Diana di sampingnya.Tangan Elira langsung meremas sisi samping gaunnya. Hal yang selama ini ia takutkan akhirnya terjadi. Elira sudah menduga Marielle tidak lama lagi akan menginjakan kaki di istana lagi, mengingat bagaimana kedatangannya kesini secara tiba-tiba saat meminta memberitahu terjadinya perang di Valerante tempo hari lalu.“Elira, sambutlah Marielle dengan hangat. Bagaimanapun dia adalah salah satu pahlawan dalam perang yang baru saja aku menangkan.” Cassian mendekati istrinya dan bicara dengan nada yang dingin.Tangan Ratu Elira bergetar hebat di balik remasan kain gaun beludrunya. Kalimat dingin yang dilontarkan Cassian di hadapan para pelayan dan ksatria pengawal terasa bagai tamparan yang menjatuhkan martabatnya sebagai Ratu.Elira menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mempertahankan topeng keanggunannya meski suaranya tidak dapat menyembu
”Kita akan istirahat di penginapan untuk malam ini Lady,” ucap Claude saat baru saja membuka pintu kereta kuda yang Marielle tumpangi.Marielle mengangguk. Ia langsung dibantu Diana untuk keluar. Matahari telah lama tenggelam, digantikan oleh hamparan langit malam yang pekat saat rombongan besar dari Valerante akhirnya memutuskan untuk menepi. Mengingat perjalanan menuju ibu kota memakan waktu hampir seharian penuh dan kondisi fisik Marielle belum sepenuhnya pulih, Cassian memerintahkan pasukan untuk bermalam di sebuah desa persinggahan.Sebuah penginapan kecil yang cukup bersih telah dikosongkan seluruhnya demi kenyamanan sang Raja dan rombongan.Di sudut halaman penginapan yang temaram, Aldric tampak berdiri menyendiri di bawah naungan pohon rindang. Pria Utara itu sengaja menjaga jarak, membiarkan para ksatria Valtore yang mengurus perimeter luar. Mata hitamnya bergerak lambat, sekadar mengamati keadaan sekitar dengan waspada, namun pandangannya sesekali tertuju pada jendela l
"Bagaimana jika aku katakan..." bisik Cassian dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan sekaligus penekanan. "Jika kau ikut bersamaku ke ibukota, aku akan membuka kembali kasus lama itu. Aku akan memimpin penyelidikan ulang dan membersihkan nama Enzo secara resmi, mengembalikan kehormatannya sebagai ksatria sejati, bukan sebagai seorang pengkhianat beracun."Deg!Mata perak Marielle seketika membelalak sempurna. Tubuhnya menegang, dan nafasnya seolah terhenti di tenggorokan. Ia langsung menoleh tajam, menatap lurus ke dalam mata Cassian yang dipenuhi ambisi untuk membawanya pulang.Nama Enzo. Cassian benar-benar menggunakan satu-satunya kelemahan terbesar di hatinya untuk meruntuhkan tembok pertahanannya.“Apa?!”“Kau bisa memegang kata-kataku. Aku akan membersihkan nama Enzo untukmu.”Marielle terdiam, dadanya naik turun menahan gemuruh emosi yang mencuat. Ia menatap Cassian dengan tatapan yang sulit diartikan. Perpaduan antara rasa sakit yang mendalam dan keputusasaan.
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem
Kereta kuda yang memiliki lambang serigala Valerante berhenti tepat di pelataran utama Istana Eldora.Derap kuda mulai mereda. Istana kekaisaran Eldora berdiri megah di hadapan Aldric Valtore yang baru saja tiba. Menara-menara menjulang tinggi, pilar marmer raksasa kokoh berdiri, serta bendera ungu
Sore itu, halaman latihan kembali dipenuhi suara benturan pedang. Marielle berdiri dengan nafas memburu, rambutnya diikat seadanya, tangan kanan menggenggam pedang kayu yang mulai licin oleh keringat. Luka kecil di hatinya akibat serangan malam itu belum sembuh, tapi tubuhnya memaksa untuk terus be
Cahaya pagi masuk perlahan melalui tirai tipis yang bergerak lembut tertiup angin laut. Suasana kamar masih hangat oleh sisa semalam. Begitu tenang. Berbeda jauh dari ketegangan yang sempat mengisi hubungan mereka sebelumnya.Elira terbangun lebih dulu. Matanya terbuka perlahan, menyesua







