Mag-log inSatu kata untuk hari pertama kuliah Keira: Bencana Satu kata untuk makan malam keluarganya: Kiamat Dijodohkan dengan Arkana Adhitama adalah mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Keira. Arkana itu sedingin kutub utara dan sekaku kanebo kering, sangat bertolak belakang dengan jiwa Keira yang meletup-letup. Keira mencoba segala cara untuk kabur, namun Arkana justru mengunci langkahnya dengan alasan "bakti". Di antara dinding dingin yang dibangun Arkana dan sikap bar-bar Keira yang tak terduga, akankah muncul sebuah rasa? Ataukah pernikahan ini hanya akan menjadi medan tempur tanpa akhir?
view moreSuara alarm dari ponsel Keira Olivia sudah menjerit untuk yang kesepuluh kalinya, sebuah melodi bising yang akhirnya berhasil memaksanya meloncat dari tempat tidur. Matanya membelalak melihat angka 07.45 di layar. Hari ini adalah hari pertama semester baru, dan jadwal pertamanya adalah kelas dari dosen yang rumornya sanggup membuat mahasiswa paling berani sekalipun gemetar: Arkana Adhitama.
Dengan gerakan tangkas, Keira bersiap secepat kilat. Meski dikenal sebagai gadis yang ceria dan sedikit "bar-bar"—sering bertindak tanpa pikir panjang dan punya energi yang meledak-ledak—Keira tetaplah gadis yang tahu cara menempatkan diri. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang dipadukan dengan celana kain rapi. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, disisir rapi hingga berkilau. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Jalanan Jakarta yang kacau membuatnya tiba di depan ruang aula Fakultas Ekonomi saat pintu kayu besar itu sudah tertutup rapat. Keira mengatur napasnya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia mengetuk pintu dengan sopan sebanyak tiga kali. Setelah mendengar gumaman rendah yang dingin dari dalam, ia mendorong pintu itu perlahan. Seluruh ruangan mendadak senyap. Puluhan pasang mata menatapnya dengan pandangan ngeri. Di depan kelas, berdiri Arkana Adhitama. Kemeja hitamnya yang rapi dan tatapan tajam di balik kacamata peraknya menciptakan aura intimidasi yang pekat. "Maaf, Pak. Saya terlambat," ucap Keira lembut namun tegas, matanya menatap lantai sebagai bentuk hormat. Arkana tidak menjawab. Ia perlahan melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Keira. Keheningan itu berlangsung selama sepuluh detik yang terasa seperti satu jam. "Pukul berapa sekarang?" Suaranya rendah, tanpa nada marah, namun sangat menekan. "Pukul delapan lewat lima belas, Pak. Saya minta maaf, tadi ada kendala—" "Saya tidak bertanya alasan Kamu," potong Arkana tajam. Ia meletakkan spidolnya di meja dengan bunyi tak yang menggema. "Di kelas saya, keterlambatan lebih dari sepuluh menit berarti kehilangan hak untuk mengikuti materi. Silakan keluar." Keira tersentak, ia mendongak tidak percaya. "Tapi Pak, ini hari pertama. Saya benar-benar ingin mengikuti kelas ini—" "Keluar, Saudari...?" Arkana menggantung kalimatnya, menanti nama. "Keira Olivia, Pak." "Saudari Keira, saya tidak suka mengulang perintah. Silakan keluar sekarang juga. Pintu ada di belakang kamu. Jangan membuang waktu mahasiswa lain yang sudah bersusah payah datang tepat waktu." Wajah Keira memerah padam. Malu dan marah bercampur jadi satu. Ia bisa mendengar bisik-bisik kasihan dari teman-temannya. Tanpa sepatah kata lagi, Keira membungkuk singkat, berbalik, dan keluar dari ruangan dengan langkah yang dihentakkan. Ia bersumpah dalam hati bahwa pria itu adalah manusia paling kaku dan tidak punya perasaan yang pernah ia temui. Sore harinya, suasana di rumah terasa berbeda. Mamanya, Maya, menyambut Keira dengan senyum cerah, seolah tidak tahu putri kesayangannya baru saja dipermalukan di kampus. "Keira, sayang, syukurlah kamu sudah pulang. Mandi dan bersiap ya, malam ini kita ada tamu spesial untuk makan malam," ujar Maya sambil merapikan helai rambut Keira yang sedikit berantakan. "Tamu siapa, Ma? Tumben sekali sampai harus resmi begini," tanya Keira heran. "Teman lama Papa, Om Baskara dan Tante Rosa. Kamu pakai gaun yang sudah Mama siapkan di atas tempat tidur ya. Berikan kesan yang baik, oke?" Keira hanya mengangguk patuh. Sebar-bar apa pun dia di luar, ia tidak pernah membantah keinginan orang tuanya jika itu menyangkut etika menerima tamu. Ia mandi dan mengenakan gaun sutra berwarna peach yang sederhana namun elegan. Ia merias wajahnya tipis-tipis, hanya sekadar agar tidak terlihat pucat. Pukul tujuh malam, tamu yang ditunggu pun tiba. Keira berdiri di samping kakaknya, Nara, untuk menyambut mereka di ruang tamu. Saat pintu dibuka, Keira memasang senyum terbaiknya. Namun, senyum itu membeku seketika saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri di belakang Om Baskara dan Tante Rosa. Pria itu mengenakan kemeja batik bermotif elegan yang sangat pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tetap datar, kaku, dan matanya setajam tadi pagi saat mengusirnya. "Bapak?" bisik Keira nyaris tak terdengar. Dunia rasanya berputar. Kenapa harus dosen killer itu yang ada di sini?Malam hari pun akhirnya tiba. Keira kini tinggal sendirian di rumah mereka yang terasa begitu sepi dan lengang tanpa kehadiran Arkana. Sebelum berangkat tadi, Arkana sebenarnya sudah berulang kali menyuruhnya untuk menginap di rumah orang tua Keira saja agar tidak sendirian, namun Keira menolak mentah-mentah usulan itu. Dengan percaya diri, Keira berkata bahwa ia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik selama tiga hari ke depan.Lagipula, setelah Arkana berpamitan dan pergi bersama rombongan kampus siang tadi, Keira memang tidak langsung pulang ke rumah. Untuk menghilangkan rasa sepi dan menyalurkan rasa kesalnya, ia memilih untuk pergi bersama teman-teman kampusnya. Mereka nongkrong dan menghabiskan waktu di sebuah kafe hits hingga tak terasa hari sudah berganti gelap.Sekitar jam tujuh malam, barulah Keira melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Sepanjang sore di kafe tadi, Keira bahkan sengaja mengabaikan beberapa pesan masuk dari Arkana di ponselnya. Pikir
Akhirnya esok hari yang penuh kecemasan bagi Keira pun tiba. Pagi itu, matahari baru saja muncul ketika mereka berdua berangkat ke kampus bersama. Sebelum pergi tadi, Arkana sudah menyiapkan semua keperluannya untuk tiga hari ke depan dengan sangat rapi dan cekatan, memasukkan pakaian serta dokumen penting ke dalam sebuah tas travel berukuran sedang.Sesampainya di ruang kerja Arkana di gedung dosen, Keira memilih untuk langsung duduk di mejanya sendiri. Pandangannya tak lepas, terus menatap lurus ke arah tas travel milik suaminya yang tergeletak di sudut meja kerja Arkana. Keira duduk bersandar dengan raut wajah yang sangat sedih dan bibir yang mengerucut pasrah. Bayangan harus berpisah selama tiga hari—terutama mengetahui ada Sarah di dalam rombongan dinas tersebut—benar-benar membuat suasana hatinya hancur sejak pagi.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Arkana yang baru saja selesai menghadiri rapat singkat bersama jajaran dekanat melangkah masuk. Begitu ia menutup pintu, pan
Akhirnya waktu kepulangan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Begitu mereka berdua melangkah masuk ke dalam mobil sedan hitam milik Arkana dan pintu terkunci rapat, Arkana sudah tidak sanggup lagi menahan rasa gemas yang membuncah di dadanya sejak sore tadi. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia langsung memajukan tubuhnya dan memeluk Keira dengan sangat erat, menenggelamkan tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya yang hangat dan posesif. "Aduh, Mas! Lepas! Sesak tahu!" protes Keira dengan nada kesal, tangannya menepuk-nepuk lengan tegap suaminya yang melingkar kuat di dadanya. "Nanti kemejaku kusut lagi!" Arkana hanya tersenyum lebar melihat Keira mengomel dengan wajah yang memerah. Bukannya melepaskan, ia justru makin gemas. Dengan tangan kanannya, Arkana mencubit hidung dan kedua pipi Keira yang sedikit bengkak itu secara bergantian. "Aww! Sakit, Mas Arkana!" pekik Keira sambil mengusap pipinya. Muach! Tanpa aba-aba, Arkana mendaratkan sebuah kecupan manis dan sedikit lama di b
Keira menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai detak jantungnya yang sempat berdegup kencang. Ia memantapkan langkah kakinya, kembali berjalan menyusuri koridor dengan pandangan lurus ke depan. Ia sama sekali tidak memedulikan keberadaan Sarah yang kini sudah membalikkan badan dan sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin dan menusuk. Keira juga menolak keras untuk mengingat kembali kejadian menyakitkan beberapa waktu lalu saat ia dan Sarah terlibat pembicaraan tegang di koridor ini. Baginya, Sarah adalah masa lalu yang tidak perlu diberi panggung lagi. Dengan dagu terangkat, Keira berjalan melewati Sarah begitu saja, menganggap wanita modis itu tak lebih dari embusan angin lalu. Beruntung bagi Keira, kelas siang itu dimulai dengan sangat tenang. Dosen pengganti yang masuk langsung memberikan materi tanpa membahas desas-desus yang sempat heboh pagi tadi. Keira bisa sedikit bernapas lega dan fokus mencatat penjelasan di papan tulis. Begitu jam kuliah selesai dan kelas
Hari Senin tiba, dan Keira merasa jantungnya hampir copot saat ia harus berangkat ke kampus dari rumah yang sama dengan pria yang kini memimpin kelas di jam pertama. "Saya berangkat duluan. Jangan sampai Bapak terlihat keluar dari gerbang ini di saat yang hampir bersamaan dengan saya," perintah K
Puncak dari kiamat kecil itu tiba di hari Sabtu, saat fitting baju pengantin. Keira dipaksa mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet indah karya desainer ternama. Saat ia keluar dari ruang ganti, ia melihat Arkana sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan beskap dengan warna senada
Keesokan paginya, Keira sudah duduk di pojok kafe dengan gelisah. Ia sengaja datang lebih awal untuk menata argumennya. Saat pintu kafe berdenting, sosok tegap itu muncul. Arkana mengenakan kemeja biru tua yang sangat rapi, auranya masih sama; dingin dan berjarak. Ia duduk di hadapan Keira tanpa se
Arkana Adhitama hanya mengangguk kecil sekali, hampir tidak terlihat sebagai sapaan. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa beberapa jam yang lalu."Loh, kalian sepertinya sudah saling kenal?" tanya Baskara tertawa ramah."Pak Arkana adalah dosen saya di kampus, Om," jawab Keira, sua












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu