MasukArkana Adhitama hanya mengangguk kecil sekali, hampir tidak terlihat sebagai sapaan. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa beberapa jam yang lalu.
"Loh, kalian sepertinya sudah saling kenal?" tanya Baskara tertawa ramah. "Pak Arkana adalah dosen saya di kampus, Om," jawab Keira, suaranya sedikit bergetar karena menahan emosi sekaligus rasa canggung yang luar biasa. "Wah, kebetulan sekali! Mari, mari kita ke meja makan," ajak Aditya, sang papa. Makan malam berlangsung dengan tenang dan damai, setidaknya bagi para orang tua. Keira hanya menunduk, sesekali menyuapkan makanan tanpa benar-benar merasakannya. Hingga akhirnya, Baskara meletakkan sendoknya dan berdeham pelan. "Aditya, Maya... sesuai dengan apa yang sudah kita bicarakan selama ini. Kami datang ke sini untuk menyampaikan maksud serius kami. Kami ingin melamar Keira untuk putra kami, Arkana." Keira tersentak hingga garpunya berdenting keras di atas piring porselen. Ia menatap orang tuanya dengan mata tidak percaya. "Ma... Pa... ini maksudnya apa?" "Keira," panggil Aditya dengan nada tenang namun berwibawa. "Kami sudah mengenal keluarga Arkana sejak lama. Kami percaya Arkana adalah pria yang tepat untuk menjagamu dan membimbingmu." "Tapi Pa, Keira baru mulai kuliah! Dan dia... dia dosen yang tadi pagi mengusir Keira dari kelas!" seru Keira, akhirnya emosinya meluap. Keira menatap Arkana yang duduk tepat di hadapannya. Pria itu tetap tenang, bahkan saat dikonfrontasi. "Pak Arkana, Bapak tahu sendiri saya mahasiswi yang Bapak anggap tidak disiplin. Kenapa Bapak tidak menolak perjodohan ini?" Arkana menatap Keira dengan netra hitamnya yang pekat. "Pernikahan bukan soal perasaan sesaat, Keira. Bagi saya, ini adalah bentuk bakti dan penghormatan saya kepada keinginan orang tua. Jika mereka percaya ini yang terbaik, maka saya akan menjalankannya sebagai kewajiban saya." Keira tertegun. Bakti? Kewajiban? Jawaban itu terdengar sangat kaku, khas seorang Arkana Adhitama. Dengan perasaan sesak, Keira menoleh ke arah kakaknya. "Kak Nara, tolong bicara..." bisiknya lirih. Nara hanya bisa menghela napas, menatap adiknya dengan tatapan penuh simpati. "Maafkan Kakak, Kei. Tapi kamu tahu, aku pun ada di posisi yang sama dulu. Keputusan Papa bukan sesuatu yang bisa kita tawar dengan mudah." Keira merasa seluruh jalan keluarnya tertutup rapat. Ia terjebak di antara tembok dingin bernama Arkana dan prinsip keluarga yang begitu kuat. Di depan orang-orang tua itu, Keira hanya bisa tertunduk lesu, menyadari bahwa hidupnya yang bebas baru saja berakhir di tangan pria yang paling ingin ia hindari di kampus. "Jadi," suara Baskara kembali terdengar, memenuhi ruangan yang terasa makin sempit bagi Keira, "kapan kita bisa menentukan tanggal baiknya?" Keira meremas serbet di pangkuannya. Hari ini dimulai dengan diusir dari kelas, dan diakhiri dengan "diusir" dari kebebasannya. Malam itu, setelah tamu-tamu pulang, rumah keluarga Aditya terasa sangat asing bagi Keira. Biasanya, suasana rumah selalu hangat dan penuh tawa, namun kini udara seolah dipenuhi oleh tekanan yang tak kasatmata. Keira berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah taman bawah yang diterangi lampu temaram. Pikirannya melayang pada wajah datar Arkana. Bagaimana mungkin seorang pria bisa setuju untuk menikahi seseorang yang baru saja ia marahi habis-habisan di kelas? Tanpa cinta, tanpa pendekatan, hanya demi sebuah kata bernama "bakti". Keira tidak bisa tinggal diam. Ia harus bicara dengan pria itu. Dengan nekat, ia mencari nomor telepon Arkana melalui grup W******p kelas yang baru saja dibuat oleh ketua tingkatnya sore tadi. Setelah menemukan profil dengan foto siluet hitam-putih yang sangat formal, Keira mengirim pesan singkat. “Bisa kita bertemu sebentar? Saya di kafe dekat kampus jam sepuluh pagi besok. Saya butuh bicara secara pribadi.” Butuh waktu hampir satu jam sampai ponselnya bergetar. Hanya ada satu kata balasan dari Arkana: “Baik.”Malam itu, mama Keira memutuskan untuk ikut menginap demi menemani putri tunggalnya. Kebersamaan mereka terasa begitu hangat, hingga keesokan harinya, sang mama berpamitan pulang setelah selesai menyajikan sarapan lezat di meja makan."Ingat pesan Mama ya, Keira. Jaga diri dan kesehatanmu baik-baik selama ditinggal Arkana," ujar sang mama lembut sambil memeluk Keira erat-erat di depan pintu."Iya, Ma... Keira bisa jaga diri kok. Mama juga hati-hati di jalan ya," sahut Keira pelan, mencium tangan ibunya sebelum melepas kepergian beliau.Namun, begitu pintu rumah tertutup rapat dan kepulangan sang mama menyisakan keheningan, hari-hari Keira mendadak terasa begitu hampa dan membosankan. Karena sedang tidak ada jadwal kuliah, ia bingung harus menghabiskan waktu dengan cara apa di dalam rumah yang terlampau sepi itu."Sepi banget sih ini rumah..." gumam Keira pada dirinya sendiri sambil berjalan lesu menuju ruang tengah. "Baru dua hari ditinggal Mas Arkana aja rasanya udah kayak seminggu."
Hari esoknya, Keira benar-benar disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat. Sejak pagi, pikirannya dipaksa untuk fokus menghadapi lembar-lembar soal ujian yang cukup menguras otak. Beruntung, Keira mampu menyelesaikan ujian tersebut dengan lancar meskipun semalam ia sempat sulit tidur karena merindukan Arkana. Selesai ujian, Keira dan Siska memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke taman kampus sebelum pulang untuk menyegarkan pikiran. Di sana, mereka duduk di salah satu bangku taman di bawah rindangnya pohon sambil mengobrol ringan. Di tengah-tengah obrolan, Siska mendadak menyinggung soal keberangkatan beberapa dosen ke luar kota. "Eh, Kei, kamu tahu nggak? Kata anak-anak kelas sebelah, ada beberapa dosen perwakilan fakultas kita yang berangkat dinas luar kota dari kemaren. Pak Arkana juga ikut katanya." Keira sempat tertegun sejenak, namun ia dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Ia menganggukkan kepala pelan, mengiyakan pertanyaan Siska dan menjawab sekenanya agar Siska t
Malam hari pun akhirnya tiba. Keira kini tinggal sendirian di rumah mereka yang terasa begitu sepi dan lengang tanpa kehadiran Arkana. Sebelum berangkat tadi, Arkana sebenarnya sudah berulang kali menyuruhnya untuk menginap di rumah orang tua Keira saja agar tidak sendirian, namun Keira menolak mentah-mentah usulan itu. Dengan percaya diri, Keira berkata bahwa ia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik selama tiga hari ke depan.Lagipula, setelah Arkana berpamitan dan pergi bersama rombongan kampus siang tadi, Keira memang tidak langsung pulang ke rumah. Untuk menghilangkan rasa sepi dan menyalurkan rasa kesalnya, ia memilih untuk pergi bersama teman-teman kampusnya. Mereka nongkrong dan menghabiskan waktu di sebuah kafe hits hingga tak terasa hari sudah berganti gelap.Sekitar jam tujuh malam, barulah Keira melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Sepanjang sore di kafe tadi, Keira bahkan sengaja mengabaikan beberapa pesan masuk dari Arkana di ponselnya. Pikir
Akhirnya esok hari yang penuh kecemasan bagi Keira pun tiba. Pagi itu, matahari baru saja muncul ketika mereka berdua berangkat ke kampus bersama. Sebelum pergi tadi, Arkana sudah menyiapkan semua keperluannya untuk tiga hari ke depan dengan sangat rapi dan cekatan, memasukkan pakaian serta dokumen penting ke dalam sebuah tas travel berukuran sedang.Sesampainya di ruang kerja Arkana di gedung dosen, Keira memilih untuk langsung duduk di mejanya sendiri. Pandangannya tak lepas, terus menatap lurus ke arah tas travel milik suaminya yang tergeletak di sudut meja kerja Arkana. Keira duduk bersandar dengan raut wajah yang sangat sedih dan bibir yang mengerucut pasrah. Bayangan harus berpisah selama tiga hari—terutama mengetahui ada Sarah di dalam rombongan dinas tersebut—benar-benar membuat suasana hatinya hancur sejak pagi.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Arkana yang baru saja selesai menghadiri rapat singkat bersama jajaran dekanat melangkah masuk. Begitu ia menutup pintu, pan
Akhirnya waktu kepulangan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Begitu mereka berdua melangkah masuk ke dalam mobil sedan hitam milik Arkana dan pintu terkunci rapat, Arkana sudah tidak sanggup lagi menahan rasa gemas yang membuncah di dadanya sejak sore tadi. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia langsung memajukan tubuhnya dan memeluk Keira dengan sangat erat, menenggelamkan tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya yang hangat dan posesif. "Aduh, Mas! Lepas! Sesak tahu!" protes Keira dengan nada kesal, tangannya menepuk-nepuk lengan tegap suaminya yang melingkar kuat di dadanya. "Nanti kemejaku kusut lagi!" Arkana hanya tersenyum lebar melihat Keira mengomel dengan wajah yang memerah. Bukannya melepaskan, ia justru makin gemas. Dengan tangan kanannya, Arkana mencubit hidung dan kedua pipi Keira yang sedikit bengkak itu secara bergantian. "Aww! Sakit, Mas Arkana!" pekik Keira sambil mengusap pipinya. Muach! Tanpa aba-aba, Arkana mendaratkan sebuah kecupan manis dan sedikit lama di b
Keira menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai detak jantungnya yang sempat berdegup kencang. Ia memantapkan langkah kakinya, kembali berjalan menyusuri koridor dengan pandangan lurus ke depan. Ia sama sekali tidak memedulikan keberadaan Sarah yang kini sudah membalikkan badan dan sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin dan menusuk. Keira juga menolak keras untuk mengingat kembali kejadian menyakitkan beberapa waktu lalu saat ia dan Sarah terlibat pembicaraan tegang di koridor ini. Baginya, Sarah adalah masa lalu yang tidak perlu diberi panggung lagi. Dengan dagu terangkat, Keira berjalan melewati Sarah begitu saja, menganggap wanita modis itu tak lebih dari embusan angin lalu. Beruntung bagi Keira, kelas siang itu dimulai dengan sangat tenang. Dosen pengganti yang masuk langsung memberikan materi tanpa membahas desas-desus yang sempat heboh pagi tadi. Keira bisa sedikit bernapas lega dan fokus mencatat penjelasan di papan tulis. Begitu jam kuliah selesai dan kelas
Hari Senin tiba, dan Keira merasa jantungnya hampir copot saat ia harus berangkat ke kampus dari rumah yang sama dengan pria yang kini memimpin kelas di jam pertama. "Saya berangkat duluan. Jangan sampai Bapak terlihat keluar dari gerbang ini di saat yang hampir bersamaan dengan saya," perintah K
Puncak dari kiamat kecil itu tiba di hari Sabtu, saat fitting baju pengantin. Keira dipaksa mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet indah karya desainer ternama. Saat ia keluar dari ruang ganti, ia melihat Arkana sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan beskap dengan warna senada
Keesokan paginya, Keira sudah duduk di pojok kafe dengan gelisah. Ia sengaja datang lebih awal untuk menata argumennya. Saat pintu kafe berdenting, sosok tegap itu muncul. Arkana mengenakan kemeja biru tua yang sangat rapi, auranya masih sama; dingin dan berjarak. Ia duduk di hadapan Keira tanpa se
Suara alarm dari ponsel Keira Olivia sudah menjerit untuk yang kesepuluh kalinya, sebuah melodi bising yang akhirnya berhasil memaksanya meloncat dari tempat tidur. Matanya membelalak melihat angka 07.45 di layar. Hari ini adalah hari pertama semester baru, dan jadwal pertamanya adalah kelas dari







