Share

My Game Boyfriend
My Game Boyfriend
Penulis: Melati Lu

Startegi Awal

Penulis: Melati Lu
last update Tanggal publikasi: 2026-05-12 18:49:08

Bab 1

Jam di dinding terus berdetak. Menunjukkan bahwa sudah hampir tengah malam. Melati melirik pintu kamar Arthur yang tertutup rapat.

Cahaya biru redup dari monitornya sesekali mengintip lewat celah pintu, disertai bunyi notifikasi yang tak henti berbunyi. Melati sudah menjalin hubungan selama dua tahun, dan ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini sepanjang waktu itu. Arthur, seorang streamer yang punya ribuan penggemar, kini sedang tenggelam dalam dunianya sendiri.

Dulu, perhatiannya yang penuh semangat terasa begitu istimewa. Namun kini, sebagian besar waktunya ia curahkan hanya untuk papan ketik dan layar komputer. Rasa bosan mulai menyeruak. Melati bangkit berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Mungkin perlu sedikit 'gangguan' untuk membangkitkan sisi posesif yang tersembunyi di balik ketenangan seorang pemain profesional.

Di sudut ruangan, Melati bisa melihat tumpukan barang dagangan game berjejer rapi — bukti nyata popularitas pacarnya itu yang tak terbantahkan. Namun malam ini, ia bertekad menjadi pusat perhatian Arthur, bukan sekadar pengagum setia di layar obrolan. Melati melangkah pelan menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa membuat Arthur mengalihkan pandangannya dari kemenangan gemilang dalam permainan.

Mungkin aroma kopi yang kental? Atau cukup suara langkah kakinya yang sengaja dibuat agak keras di lantai kayu? Senyum tipis tersungging di bibirnya. Saatnya menguji seberapa besar 'rasa cinta' yang masih tersisa di balik layar monitor itu.

Ia kembali ke kamarnya, bersiap menjalankan rencana yang akan membuat pacarnya itu mau beranjak dari depan komputer.

Membuka lemari pakaian, ia mengambil dua potong baju renang. Dengan senyum mungil yang menghiasi wajahnya, ia kembali menuju kamar Arthur, mengetuk pintu pelan sebelum memanggil.

“Arthur, bisakah kamu ke sini sebentar?” ucapnya sambil duduk di ruang tamu menunggu pacarnya itu datang.

Di dalam kamar, jari-jari Arthur berhenti bergerak di udara. Matanya beralih ke arah pintu. Ia mendengarkan saksama, berusaha mengenali suara yang memanggilnya. Sebuah suara yang akrab terdengar, suara milik orang yang paling ia sayangi.

Bibirnya melengkung membentuk senyum nakal saat ia mengenali nada suara itu, yang terdengar sedikit tidak sabar.

“Ah, kekasihku,” gumam Arthur dalam hati, matanya berbinar penuh godaan. “Selalu saja tidak sabaran.”

Ia bersandar di kursi, meregangkan tubuh yang kaku sebelum bangkit berdiri. Gerakannya sengaja dibuat lambat, seolah ingin memperlama rasa penasaran. Saat berjalan menuju pintu, ia bertanya-tanya ide apa lagi yang sedang disiapkan kekasihnya kali ini.

“Apa yang begitu mendesak sampai tak bisa menunggu sampai aku selesai main?” tanya Arthur sambil tersenyum menggoda begitu membuka pintu.

Melati menatap Arthur yang baru saja muncul. Ia berdiri sambil membawa barang yang ingin ditunjukkannya.

“Aku mau minta pendapatmu soal baju renang ini,” katanya sambil menunjukkan dua potong baju renang itu kepada Arthur.

“Yang mana yang paling bagus?” tanyanya lagi sambil menatap lurus ke mata Arthur. “Besok aku mau pakai, soalnya teman-teman mengajak pergi ke kolam renang.”

Mata Arthur sedikit melebar saat melihat baju renang yang dipegang Melati. Pandangannya beralih dari satu ke yang lain, meneliti dengan tatapan tajam. Ia melangkah mendekat, tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan Melati saat ia memeriksa kedua pilihan itu.

“Wah, wah,” gumam Arthur pelan, suaranya terdengar berat dan lembut. “Sepertinya ada yang diam-diam merencanakan pesta kolam renang tanpa mengajakku ya?”

Ia mengulurkan tangan dan mengambil salah satu baju renang dari tangan Melati, mengangkatnya lebih tinggi untuk dilihat lebih jelas. Itu adalah baju renang berwarna merah cerah yang modelnya cukup terbuka.

“Yang ini,” kata Arthur dengan tegas, sifat posesifnya mulai terlihat jelas. “Ini… sangat menarik perhatian orang.”

Ia melemparkan baju itu kembali ke arah Melati, lalu beralih melihat pilihan kedua — baju renang berwarna hitam yang modelnya lebih sopan dan tertutup.

“Dan yang satu ini…” Arthur terdiam sejenak, jari-jarinya menyentuh kain itu seolah sedang berpikir. “Ini juga bagus. Sederhana, tapi tetap terlihat berkelas.”

Arthur menatap Melati dengan tajam, matanya berkilat menyimpan hasrat yang tak terucapkan. “Tapi Sayang…”

“Apa?” tanya Melati dengan wajah sedikit bingung.

Senyum Arthur makin melebar, matanya berbinar jenaka melihat wajah bingung itu. Ia melangkah semakin dekat, menembus batas ruang pribadi Melati, lalu membungkuk sedikit dan berbisik tepat di telinganya.

“Yang mau aku bilang adalah,” bisik Arthur, napasnya terasa hangat menyentuh kulit telinga Melati. “Buat apa kamu pakai salah satu dari itu, kalau kamu tahu aku sama sekali tidak suka kamu pergi ke sana?”

Ia mundur sedikit, namun pandangannya tetap tajam dan penuh keinginan menatap wajah kekasihnya. Tangannya terulur, lalu dengan lembut mengangkat dagu Melati agar wajahnya berhadapan tepat dengan wajahnya.

“Tapi kalau kamu sudah bertekad ingin pergi ke kolam renang,” lanjut Arthur, suaranya terdengar tegas dan penuh rasa memiliki. “Kalau begitu pakai yang warna merah itu saja. Biar semua orang di sana tahu siapa yang memilikimu.”

Ibu jarinya menyentuh bibir Melati dengan lembut, baru kemudian ia melepaskan pegangannya dan mundur selangkah.

“Jadi,” kata Arthur dengan nada santai sambil melipat kedua tangannya di dada. “Jadi bagaimana? Kamu tetap mau pergi?”

Melati membalas dengan senyum kecil di bibirnya, lalu bertanya balik. “Jadi… aku boleh pergi dong? Kamu tidak keberatan kan?”

Mata Arthur sedikit menyipit mendengar nada bicara Melati yang seolah-olah santai itu. Rasa posesifnya kembali bangkit membayangkan kekasihnya pergi bersenang-senang tanpa dirinya. Ia menurunkan lengannya dan melangkah maju lagi, menutup jarak di antara mereka berdua.

“Boleh pergi?” ulang Arthur, suaranya terdengar seolah tersinggung tapi hanya bercanda. “Sayang, kamu itu tidak perlu minta izin untuk melakukan apa saja. Kamu bukan anak kecil yang harus minta izin dulu kan?”

Namun tangannya langsung bergerak, menggenggam pergelangan tangan Melati dengan erat namun tetap lembut, lalu menariknya mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan.

“Tapi biar kita sama-sama paham ya,” lanjut Arthur, genggamannya makin erat di pergelangan tangan itu saat ia membungkuk sampai bibirnya tinggal beberapa senti saja dari bibir Melati. “Besok kalau kamu pakai baju renang merah itu… pastikan semua orang yang melihat tahu bahwa kamu milikku.”

Tangan kirinya bergerak naik, menyisir rambut Melati ke belakang lalu memegang tengkuknya, mendongakkan sedikit kepala itu agar menatap tepat ke matanya yang penuh gairah.

“Dan kalau ada yang menatapmu terlalu lama atau berani mendekat,” geram Arthur pelan dan rendah, “Kamu ingatkan saja mereka, siapa sebenarnya pasanganmu.”

Melati yang mendengar nada suaranya berubah dan tahu betul pacarnya sedang dalam mode posesif, hanya mengangguk patuh. “Baiklah.”

Mata Arthur bersinar puas bercampur hasrat mendengar jawaban itu. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Melati, dan lekuk tubuh kekasihnya yang menempel rapat padanya. Genggamannya di pergelangan tangan itu mengerat sebentar, sebelum akhirnya ia melepaskan dengan berat hati, jari-jarinya seolah enggan melepas kulit halus itu.

“Bagus,” gumam Arthur, suaranya terdengar berat karena menahan gairah yang hampir meledak. “Senang sekali kita sepaham.”

Ia mundur selangkah, memberi jarak di antara mereka berdua supaya ia bisa sedikit menenangkan diri. Arthur mengacak-acak rambutnya dengan tangan, gerakan yang justru membuatnya makin terlihat tampan dan menarik.

“Kamu harus tidur sekarang,” katanya, nada bicaranya kini lebih lembut namun tetap terdengar memerintah. “Besok harimu pasti akan panjang dan melelahkan.”

Arthur berbalik hendak kembali ke ruang gamenya, tapi berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh ke belakang dan menatap Melati lewat bahunya. “Dan Sayang?” tambahnya sambil tersenyum nakal.

“Kenakan baju tidur yang cantik dan manja ya. Nanti aku mungkin akan menyusul ke kamarmu,” katanya dengan nada menggoda.

Dengan ucapan terakhir itu, ia menghilang kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Melati sendirian dengan hati yang berdebar dan rasa hangat yang masih tersisa di tempat tangannya tadi memegang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • My Game Boyfriend   Permainan Yang Berakhir Menjadi Selamanya

    Bab 111Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah, membawa wangi melati yang mekar sempurna—wangi yang tak pernah berubah, sama seperti perasaan yang mengikat hati mereka berdua, dan kini hati ketiga nyawa yang melengkapi segalanya. Di teras depan, Melati duduk di kursi rotan yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sementara Arthur duduk di sebelahnya, membiarkan kepala putri kecil mereka yang kini sudah berusia tiga hari bersandar tenang di dadanya. Cahaya matahari senja yang keemasan menyelimuti mereka bertiga, seolah ingin mengabadikan momen damai ini dalam ingatan waktu yang tak akan pernah pudar. Melati menatap wajah suaminya, lalu menatap wajah mungil Bunga Melati Anindya yang terlelap damai dalam dekapan ayahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang terasa begitu penuh hingga tak sanggup lagi menampung segala rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali bagaimana semuanya bermula—dari sebuah tantangan permainan

  • My Game Boyfriend   Melati Kecil Yang Datang Membawa Cahaya

    Bab 110 Matahari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar rumah sakit, menyentuh permukaan selimut putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur, Melati masih terbaring lemah namun matanya terbuka lebar, tak pernah sekalipun beralih dari wajah mungil yang kini terlelap damai di pelukannya. Bunga Melati Anindya—nama yang sudah mereka pilih dengan penuh harapan, kini menjadi nyata dalam genggaman. Kulitnya kemerahan halus, rambut hitamnya tipis namun lembut, dan setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya yang mungil, seolah ada getaran bahagia yang menjalar ke seluruh hati kedua orang tuanya. Arthur duduk di tepi tempat tidur, tak berani bergerak terlalu banyak, tak berani bersuara terlalu keras, seolah takut merusak keindahan momen ini. Matanya masih berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa gadis kecil yang selama ini ia nantikan, kini benar-benar ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap pelan ujung jari mungil putrinya, dan setiap kali jari kecil itu

  • My Game Boyfriend   Saat Waktu Menjembatkan Rindu

    Bab 109 Malam itu terasa berbeda sejak awal. Angin yang biasanya berhembus lembut menyapa jendela, kali ini membawa udara yang sedikit lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu yang sudah lama dinanti tak lagi jauh jaraknya. Melati terbangun berulang kali, bukan karena tak nyaman, melainkan karena rasa kencang yang datang dan pergi dengan jeda yang makin teratur—tidak terlalu menyakitkan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Arthur yang tidur dengan posisi selalu setengah sadar seketika terjaga setiap kali Melati bergerak. Tanpa perlu banyak bicara, ia langsung duduk di sampingnya, menopang punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk, lalu mulai mengusap punggung Melati dengan gerakan memutar yang tenang dan teratur. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Melati, namun ia menahan napas dan berusaha tersenyum setiap kali menatap wajah Arthur yang tampak begitu cemas namun berusaha tetap

  • My Game Boyfriend   Jalan Menuju Pertemuan

    Bab 108 Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk pelan atap rumah seolah irama pengantar tidur yang lembut dan berirama. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah yang khas, berpadu dengan wangi melati yang tumbuh merambat di dinding samping kamar. Di dalam kamar yang remang diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan, Melati terbangun perlahan. Awalnya ia hanya merasa tidak nyaman, namun lama-kelamaan rasa pegal yang samar mulai menjalar dari pinggang belakang hingga ke bagian bawah perutnya. Ia mencoba memutar tubuh perlahan agar tidak mengganggu tidur Arthur, namun rasa itu kembali muncul dengan jeda yang teratur. Belum sempat ia menarik selimut lebih tinggi atau memanggil pelan, sebuah tangan hangat langsung bergerak mencari tangannya di bawah selimut. Arthur ternyata sudah terbangun, seolah instingnya selalu terjaga setiap kali ada sesuatu yang sedikit saja mengganggu istrinya. Ia segera mengan

  • My Game Boyfriend   Satu Harapan Di Bawah Langit Yang Sama

    Bab 107 Matahari baru saja naik setinggi jengkal di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh permukaan tanah yang masih lembap sisa embun semalam. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma wangi bunga melati yang merambat di dinding luar kamar, bercampur dengan harum rumput basah yang segar. Di dalam kamar yang remang namun perlahan terang oleh cahaya matahari pagi, Melati terbangun perlahan. Ia tidak terbangun karena suara bising atau rasa tidak nyaman, melainkan karena rasa hangat yang begitu nyaman melingkar rapat di pinggangnya—rasa perlindungan yang selalu ia temukan setiap hari di samping Arthur. Arthur masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Satu lengannya melingkar lembut di perut Melati yang kini semakin membulat, sementara telapak tangannya menumpu persis di sana, seolah bahkan dalam tidurnya ia tak ingin kehilangan momen berdekatan dengan calon putra atau putri mereka. Wajahnya yang biasanya tegas dan t

  • My Game Boyfriend   Rasa Cinta Yang Baru Berbentuk

    Bab 106   Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga cempaka yang tumbuh di sudut halaman, menyusup lembut lewat celah jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalam. Melati terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda—badannya terasa lebih berat, namun hatinya terasa begitu penuh hingga sesak karena kebahagiaan. Ia memiringkan tubuh perlahan, melihat Arthur yang sedang duduk di tepi tempat tidur, sedang melipat handuk kecil berwarna putih bersih dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kain sutra paling rapuh. "Kau sudah bangun?" tanyanya lembut saat menyadari Melati bergerak. Ia segera meletakkan handuknya, lalu berjalan mendekat untuk membantu istrinya duduk. "Tadi aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Kau menyebutkan nama 'Bunga' berulang kali. Apakah kau memimpikan sesuatu?" Melati tersenyum samar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang kini terlihat jelas membulat, menandakan usia kehamilan yang memasuki perte

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status