LOGIN"Masa sudah putus, Mas Han?" tanya Kukuh. Nadanya terdengar sangat ringan, namun sarat akan sarkasme tajam yang merobek udara. Kukuh mendecakkan lidahnya pelan, memasang raut wajah prihatin yang dibuat-buat. "Kan sayang banget, Mas... apalagi wanita itu keponakan Jenderal Satya, lho."Udara di sudut ruangan itu seolah tersedot habis.Wajah Handoko yang beberapa detik lalu dipenuhi keangkuhan, kini memucat seputih kain kafan. Rahangnya jatuh, dan matanya membelalak menatap Kukuh dengan horor yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya mendadak kaku, sementara tangan kanannya secara refleks bergetar hebat. Tanpa sadar, Handoko menyembunyikan tangan kanannya itu ke balik punggungnya, seolah ada rasa ngilu imajiner yang kembali menusuk tulang-tulangnya.Ucapan Kukuh barusan dengan sukses menarik paksa ingatan Handoko pada insiden paling memalukan seumur hidupnya di pameran perhiasan beberapa waktu lalu.Saat itu, Handoko merasa berada di atas angin. Ia ingin memamerkan kekuasaan dan maskulinita
"Dari mana saja kamu, Kuh?"Suara lembut namun sarat kekhawatiran itu langsung menyambut Kukuh begitu ia melangkah kembali ke dalam ballroom yang benderang. Ratih menatap suaminya dengan lekat, matanya menyapu seragam pelayan Kukuh dari atas ke bawah, memastikan tidak ada yang tergores."Aku dari taman belakang tadi," jawab Kukuh dengan nada datar dan santai, seolah ia baru saja selesai membuang sampah, bukan menghancurkan sukmanya seorang dukun ilmu hitam. "Ada 'saudara jauhmu' yang berniat membuka dan menghancurkan pagar gaib keluarga Cokro."Mata Ratih sedikit membesar. Tangannya secara refleks menyentuh liontin Galih Kelor di dadanya yang terasa menghangat. Ia tahu betul siapa "saudara jauh" yang Kukuh maksud, dan fakta bahwa suaminya mengatakannya dengan wajah tanpa dosa membuat Ratih menyadari satu hal: ancaman itu pasti sudah dihabisi tanpa sisa.Belum sempat Ratih menanyakan detailnya, tatapan Kukuh beralih ke ujung ruangan, menembus kerumunan tamu. Mata elangnya menangkap seb
Dua inang Sulur Pati yang tersisa meraung, mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti gesekan dahan kering. Insting gaib di dalam wadah mati itu menyadari bahwa mangsa di hadapan mereka adalah predator puncak di ranah spiritual. Namun, kendali mutlak dari sang majikan dari jauh memaksa tubuh-tubuh itu untuk terus menyerang.Keduanya melesat maju secara bersamaan dari arah berlawanan, mencoba menjepit Kukuh. Akar-akar berduri merangsek keluar dari pori-pori mereka layaknya tentakel berbisa, sementara Keris Tulang diayunkan lurus menuju leher dan jantung pemuda itu.Kukuh hanya mendengus pelan. Ia bahkan tidak repot-repot merogoh senjata apa pun.Dengan gerakan yang sangat santai, Kukuh memiringkan tubuhnya. Keris Tulang dari inang di sebelah kanan meleset hanya satu milimeter dari telinganya. Bersamaan dengan itu, telapak tangan kiri Kukuh yang sudah memerah oleh energi Rajah Getih menghantam dada inang tersebut.DUAAR!Bukan suara daging terpukul, melainkan ledakan energi murni.
"Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin asisten rendahan itu bisa memberikan barang pusaka peninggalan raja-raja kepada putri kita?!" bisik Adiwangsa dengan suara bergetar. Wajahnya yang masih pucat pasi kini menegang karena syok, menatap lurus ke arah panggung."Aku... aku tidak tahu, Mas. Jangan-jangan selama ini kita salah menilainya?" balas Nyonya Dian tak kalah gemetar, tangannya meremas lengan jas suaminya dengan kuat.Di sudut ruangan itu, rasa malu kedua orang tua Ratih telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kebingungan dan rasa segan yang teramat sangat. Menantu yang selama ini mereka anggap sebagai benalu tak berguna baru saja membalikkan keadaan dan menyelamatkan wajah keluarga mereka di depan seluruh klan Cokro.Keheningan yang sempat membekukan ballroom perlahan pecah, digantikan oleh gemuruh bisik-bisik yang merayap liar di antara para tamu. Namun kali ini, arah angin telah berbalik mutlak. Tatapan merendahkan yang sebelumnya menghujani Ratih kini berubah menjadi bisi
Satu jam sebelum acara puncak Arisan Keluarga Besar Cokro dimulai, Ratih baru saja menutup pintu kamarnya. Ia melangkah keluar ke lorong lantai dua, mengenakan gaun malam hitam elegan yang memancarkan pesona aristokrat. Namun, di balik balutan kemewahan itu, ada gurat kecemasan di wajahnya mengingat insiden sesak napas Eyang Putri siang tadi.Tepat di luar kamarnya, di bawah pendaran lampu dinding lorong yang temaram, Kukuh sudah berdiri menunggunya. Ia mengenakan seragam pelayan yang rapi sebuah instruksi keras dari Nyonya Dian yang masih bersikeras menyembunyikan statusnya dari kerabat lain.Melihat Ratih keluar, Kukuh melangkah maju dan menahan langkah istrinya. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang terlihat usang."Pakai ini, Ratih," ucap Kukuh tenang, menyodorkan kotak itu ke tangan Ratih di tengah lorong yang sepi.Ratih membukanya. Di dalamnya tergeletak sebuah liontin kayu berwarna hitam legam yang diikat dengan tali perak sederhana. Permu
"Sayang sekali..."Gumam pelan itu memotong makian Clarissa. Suaranya terdengar sangat polos dan nyaris seperti bisikan, namun anehnya mampu membelah ketegangan di ruang makan utama mansion Cokro yang luas tersebut.Kukuh masih menunduk sambil memegang nampan kosong. Ia tidak memohon ampun atau menunjukkan kepanikan seperti pelayan pada umumnya. Ia justru menghela napas pelan, menatap lurus ke perhiasan di dada wanita itu dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat."Nona Clarissa marah-marah karena gaun yang sangat mahal," lanjut Kukuh dengan nada tanpa dosa. "Padahal Tuan Dion baru saja ditipu habis-habisan oleh kolektor itu. Safir hitam yang Nona banggakan itu ternyata cuma barang tambalan."Hening.Ruang makan utama bergaya Eropa klasik itu mendadak senyap. Wajah Clarissa yang tadinya merah padam karena amarah, kini berkerut bingung.Dion mendengus kasar, memaksakan sebuah tawa arogan yang terdengar sumbang. "Apa kau bilang, gembel?! Kau pikir asisten rendahan sepertimu tahu apa s
Kukuh masih duduk terpaku di kursi lobi rumah sakit yang dingin. Pandangannya kosong menatap lorong tempat Dokter Harsha menghilang. Pikirannya berputar cepat.Anggap saja seperti rumah sendiri. Kalimat itu terus menggaung di telinganya. Kukuh bukanlah orang bodoh. Ia sangat yakin ucapan dokter tua
"Heh! Tata yang rapi!"Bentakan tajam itu memecah udara pagi yang masih basah oleh embun. Di dalam garasi raksasa kediaman Aji Saka yang berlantai marmer, Dian Ayu Aji Saka berdiri berkacak pinggang. Sepasang mata wanita aristokrat itu menatap tajam layaknya elang. Ia sudah mengenakan gaun desainer
Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara
Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m







