Share

Bab 258

Author: Millanova
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-20 21:12:54

Dua inang Sulur Pati yang tersisa meraung, mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti gesekan dahan kering. Insting gaib di dalam wadah mati itu menyadari bahwa mangsa di hadapan mereka adalah predator puncak di ranah spiritual. Namun, kendali mutlak dari sang majikan dari jauh memaksa tubuh-tubuh itu untuk terus menyerang.

Keduanya melesat maju secara bersamaan dari arah berlawanan, mencoba menjepit Kukuh. Akar-akar berduri merangsek keluar dari pori-pori mereka layaknya tentakel berbisa,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 263

    Setelah Nyonya Dian kembali bisa meraup oksigen dengan rakus dan rona wajahnya berangsur normal, Ratih menghembuskan napas lega. Namun, kelegaan itu hanya berumur hitungan detik. Sisa-sisa kepanikan di dada sang pewaris Rajah Wangi itu seketika mengkristal menjadi amarah yang mendidih.Gadis bermata abu-abu itu memutar tubuhnya. Ia menatap cangkir keramik yang sudah hancur berkeping-keping di atas karpet, lalu mengangkat wajahnya, menyapu seluruh tamu di area VVIP tersebut dengan tatapan sedingin pedang eksekusi."Siapa tadi yang memberikan minuman wedang uwuh ini kepada Mama saya?!"Suara Ratih menggelegar keras dan tajam, membelah hiruk-pikuk alunan musik klasik di ballroom tersebut. Otoritas mutlak dari seorang pewaris utama Aji Saka mendadak menekan udara di sekitar mereka.Seluruh ruangan itu seketika terdiam. Denting gelas champagne yang beradu terhenti. Para kerabat, konglomerat, dan tamu undangan saling pandang dengan raut wajah kebingungan bercampur tegang. Tidak ada satu pun

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 262

    Nyonya Dian bahkan tidak punya sisa tenaga untuk membalas hinaan Clarissa. Bibirnya perlahan mulai membiru.Kali ini, Kukuh tidak berniat menggunakan alibi "ceroboh" atau berpura-pura bodoh. Situasinya terlalu genting, dan arogansi lalat-lalat pengganggu di depannya ini butuh ditampar keras.Dengan langkah tegap dan raut wajah sedingin es, Kukuh melangkah maju, memotong jarak antara Clarissa dan Ratih. Ia meraih sebuah gelas kristal berisi air mineral murni dari atas meja buffet."Tih, lepas liontin galih kelormu sekarang," perintah Kukuh dengan nada mutlak tak terbantahkan.Ratih yang sedang panik sama sekali tidak membantah. Instingnya sudah sepenuhnya percaya pada pria ini. Dengan gerakan cepat, ia melepas liontin kayu hitam legam yang mengalung di lehernya dan menyerahkannya ke telapak tangan Kukuh.Di depan mata semua orang, Kukuh memasukkan liontin pusaka yang tampak seperti potongan arang itu ke dalam gelas berisi air putih. Diam-diam, ia mengalirkan setetes tenaga murni Rajah

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 261

    Ratih menatap punggung Handoko yang semakin mengecil dan menghilang ditelan kerumunan tamu undangan. Gadis bermata abu-abu itu lalu memutar tubuhnya, beralih menatap Kukuh yang masih berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana."Apa yang baru saja kau katakan padanya sampai dia lari ketakutan seperti itu, Kuh?" tanya Ratih dengan suara pelan namun sarat akan rasa penasaran.Kukuh tersenyum tipis. "Aku tidak mengatakan apa-apa yang menakutkan, Tih. Hanya mengingatkan dia pada kenangan lama yang mungkin ingin dia lupakan. Orang yang banyak dosa biasanya paling takut pada cermin masa lalunya."Ratih mendengus pelan, matanya menyipit menilai suaminya. "Kau ini... selalu saja punya cara untuk membuat orang-orang sombong itu terlihat konyol tanpa kau harus mengangkat tangan sedikit pun.""Itu karena mereka sendiri yang menelanjangi kelemahan mereka," balas Kukuh datar. Dagunya kemudian menunjuk ke arah sudut meja hidangan penutup yang agak sepi. "Tapi sepertinya kita punya masal

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 260

    "Masa sudah putus, Mas Han?" tanya Kukuh. Nadanya terdengar sangat ringan, namun sarat akan sarkasme tajam yang merobek udara. Kukuh mendecakkan lidahnya pelan, memasang raut wajah prihatin yang dibuat-buat. "Kan sayang banget, Mas... apalagi wanita itu keponakan Jenderal Satya, lho."Udara di sudut ruangan itu seolah tersedot habis.Wajah Handoko yang beberapa detik lalu dipenuhi keangkuhan, kini memucat seputih kain kafan. Rahangnya jatuh, dan matanya membelalak menatap Kukuh dengan horor yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya mendadak kaku, sementara tangan kanannya secara refleks bergetar hebat. Tanpa sadar, Handoko menyembunyikan tangan kanannya itu ke balik punggungnya, seolah ada rasa ngilu imajiner yang kembali menusuk tulang-tulangnya.Ucapan Kukuh barusan dengan sukses menarik paksa ingatan Handoko pada insiden paling memalukan seumur hidupnya di pameran perhiasan beberapa waktu lalu.Saat itu, Handoko merasa berada di atas angin. Ia ingin memamerkan kekuasaan dan maskulinita

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 259

    "Dari mana saja kamu, Kuh?"Suara lembut namun sarat kekhawatiran itu langsung menyambut Kukuh begitu ia melangkah kembali ke dalam ballroom yang benderang. Ratih menatap suaminya dengan lekat, matanya menyapu seragam pelayan Kukuh dari atas ke bawah, memastikan tidak ada yang tergores."Aku dari taman belakang tadi," jawab Kukuh dengan nada datar dan santai, seolah ia baru saja selesai membuang sampah, bukan menghancurkan sukmanya seorang dukun ilmu hitam. "Ada 'saudara jauhmu' yang berniat membuka dan menghancurkan pagar gaib keluarga Cokro."Mata Ratih sedikit membesar. Tangannya secara refleks menyentuh liontin Galih Kelor di dadanya yang terasa menghangat. Ia tahu betul siapa "saudara jauh" yang Kukuh maksud, dan fakta bahwa suaminya mengatakannya dengan wajah tanpa dosa membuat Ratih menyadari satu hal: ancaman itu pasti sudah dihabisi tanpa sisa.Belum sempat Ratih menanyakan detailnya, tatapan Kukuh beralih ke ujung ruangan, menembus kerumunan tamu. Mata elangnya menangkap seb

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 258

    Dua inang Sulur Pati yang tersisa meraung, mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti gesekan dahan kering. Insting gaib di dalam wadah mati itu menyadari bahwa mangsa di hadapan mereka adalah predator puncak di ranah spiritual. Namun, kendali mutlak dari sang majikan dari jauh memaksa tubuh-tubuh itu untuk terus menyerang.Keduanya melesat maju secara bersamaan dari arah berlawanan, mencoba menjepit Kukuh. Akar-akar berduri merangsek keluar dari pori-pori mereka layaknya tentakel berbisa, sementara Keris Tulang diayunkan lurus menuju leher dan jantung pemuda itu.Kukuh hanya mendengus pelan. Ia bahkan tidak repot-repot merogoh senjata apa pun.Dengan gerakan yang sangat santai, Kukuh memiringkan tubuhnya. Keris Tulang dari inang di sebelah kanan meleset hanya satu milimeter dari telinganya. Bersamaan dengan itu, telapak tangan kiri Kukuh yang sudah memerah oleh energi Rajah Getih menghantam dada inang tersebut.DUAAR!Bukan suara daging terpukul, melainkan ledakan energi murni.

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 26

    Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 15

    Kukuh masih duduk terpaku di kursi lobi rumah sakit yang dingin. Pandangannya kosong menatap lorong tempat Dokter Harsha menghilang. Pikirannya berputar cepat.Anggap saja seperti rumah sendiri. Kalimat itu terus menggaung di telinganya. Kukuh bukanlah orang bodoh. Ia sangat yakin ucapan dokter tua

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 13

    "Heh! Tata yang rapi!"Bentakan tajam itu memecah udara pagi yang masih basah oleh embun. Di dalam garasi raksasa kediaman Aji Saka yang berlantai marmer, Dian Ayu Aji Saka berdiri berkacak pinggang. Sepasang mata wanita aristokrat itu menatap tajam layaknya elang. Ia sudah mengenakan gaun desainer

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 11

    Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status