LOGINSudah dua hari sejak pertengkaran itu Ica lebih suka menghabiskan waktu di kamar, dia hanya keluar pagi hari membantu Bu Mirah yang baru saja sembuh untuk masak dan bersih-bersih rumah setelah itu dia lebih memilih kembali ke kamar. Bahkan saat Saka masuk kamar dan bertanya ini itu, jawaban Ica hanya singkat saja. Bukan dia tidak takut dosa mengabaikan suaminya sendiri, tapi hatinya sedang kesal. Bahkan setelah tahu Farah bohong padanya, Saka sama sekali tidak berkeinginan untuk menghubungi wanita itu dan mencercanya. Sikap Saka yang seolah melindungi Farah itu makin membuatnya kesal. Meski Saka sudah membelikan banyak jajanan dan juga camilan untuknya tapi Ica masih enggan berbaikan dengan suaminya. Biar saja pria itu kalau mau menganggapnya kekanak-kanakan. Ica sama sekali nggak peduli. Ngomong Ica kenakan-kanakan tapi dia sendiri yang labil suka termakan fitnah orang lain. Terdengar bunyi motor Saka yang masuk ke halaman rumah. Ica sama sekali tak beranjak dari duduknya. D
Saka memang pandai sekali menjungkir balikkan perasaan Ica.Baru kemarin dia merasa disayang dan diperhatikan meski bukan cinta yang dia harapkan tapi tetap saja dia sudah bahagia apalagi pernikahan mereka masih tahap awal. Atapi hari ini, semuanya menjadi kacau hanya karena masalah yang tak jelas. “Sudahlah aku hanya ingin mengingatkanmu saja untuk lebih sopan pada para tetangga kita hidup di desa, aku kira kamu juga tahu karena kamu juga berasal dari desa.” Ica menatap Saka dengan pandangan kecewa, tapi sama sekali tak mengatakan apapun, membuat Saka melanjutkan kalimatnya “Dulu mungkin hanya bapak dan ibu yang bersosialisasi dengan tetangga, tapi sekarang kamu istriku, nyonya rumah ini bukan anak-anak lagi.” Saka mengambil nasi di dua piring sekaligus, satu dia berikan pada Ica satu lagi untuk dirinya sendiri. Tapi Ica masih diam, dia tidak ingin makan. Usahanya sampai terpeleset jatuh ke kolam terasa sia-sia. Menjelaskan juga percuma kalau Saka lebih percaya orang lain dar
Dengan susah payah Ica bangkit berdiri sambil mempertahankan satu ikan yang berhasil dia dapat dan memasukkannya ke dalam ember besar yang sudah dia siapkan. Satu ikan sudah dia dapat. Meski dengan tubuh basah kuyup. Ica kembali beraksi menangkap ikan yang seolah mempermainkannya. “Segitunya kamu ingin menarik perhatian Saka.”Ica nggak membalas ucapan Farah, bahkan menoleh pun tidak. Dia menganggap wanita itu hanya makhluk tak kasat mata.Silakan saja ngomong semaunya, Ica akan pura-pura budeg, lagian nggak penting juga untuk meladeni wanita ini. Hampir satu jam Ica baru bisa mengambil tiga ekor ikan ukuran sedang ditemani ocehan Farah yang sama sekali tidak ditanggapi.Ica hanya melirik sekilas saat Farah menghentakkan kakinya kesal pergi entah kemana. Siapa suruh juga berdiri sambil ngoceh di pinggir kolam. “Ica! Astaga kamu kenapa?!”Ica menoleh ke arah jam dinding. Belum jam 12 tapi suaminya kok sudah pulang dari pasar. “Mas nggak ke pasar?” Bukannya menjawab Saka malah
“Jangan kaget gitu, sejak awal memang aku tidak pernah serius.” Ica menatap suaminya jengkel. Setelah lulus kuliah berarti Saka sudah dewasa dong kok bisa pacaran tapi nggak serius. “Mas sejak dulu suka gonta-ganti pacar pasti.” Secara wajah Saka itu tampan dan dari keluarga yang berkecukupan, juga pembawaannya yang mudah membaur dengan orang. Tidak mungkin tidak ya. “Hanya tiga kali termasuk Sita dan Farah.” “Yakin? kok dikit, bohong ya,” tuduh Ica. Saka yang melihat Ica melotot bukannya takt malah tambah gemas, tanpa sadar dia mencubit pipi sang istri. “Ih mas ngapain nyubit-nyubit.” “Gemas saja, kamu suka nggak percayaan.” Lah gimana mau percaya, Saka saja cuma berdiri diam saat acara pernikahan mereka sudah menghebohkan satu desa, apalagi jaman pria itu muda. Apalagi setelah tinggal di sini, Ica tahu kalau Saka itu pandai mencari peluang meski dalam urusan kerja, tapi bisa saja kan keahlian itu dia terapkan dalam menggaet wanita yang dia sukai. “Habisnya di desa ini saj
“Mas punya fotonya.” “Punya.” “Aku mau lihat boleh.” “Boleh tapi harus cari dulu.” “Ya sudah ayo kita cari.” Pokoknya Ica mau mengorek keterangan sejelas-jelasnya dari Saka. Ini kesempatan bagus. Semoga saja Saka nggak kumat nyebelinnya. Amin. Dengan langkah ringan Ica mengikuti Saka ke ruangan yang dijadikan ruang kerja pria itu. Ini pertama kalinya Ica masuk ke sana. Biasanya dia hanya mengintip dari depan pintu saja. Ruang kerja ya isinya begitu-begitu saja. Paling juga isinya peralatan pertanian dan juga kertas-kertas bon. Ica tidak mau ya tangannya gatal untuk membereskan kertas-kertas yang pasti berserakan itu, dan nanti Saka akan menyalahkan nya kalau ada salah satu bon penting yang ilang. Makanya lebih baik dia tak masuk dan hari ini dia harus menahan diri untuk tidak membersihkan apapun yang berserakan di sana. “Nanti aku rapikan,” kata Saka saat menyadari Ica melirik kertas-kertas yang berserakan di atas meja kayu besar itu.Ica hanya menghela napas. Jangan sa
Ica nggak nyangka ya kalau hari ini akan tiba. Saka mengusirnya. Ica yakin dia tak bersalah. Ica hanya pergi untuk menghindari KDRT. Dia memang bukan lulusan luar negeri kayak Saka ya, tapi kalau ada orang yang mau pukul kamu dan sekiranya kamu nggak mampu melawan ya jalan satu-satunya adalah lari. Karena teriak juga percuma, semua orang di sini terlalu memuja Saka. Bisa-bisa Ica yang dimusuhi satu desa. Apalagi dengan gosip yang mengatakan kalau dia adalah orang ketiga dalam hubungan Saka dan Farah. Mungkin memang sudah nasibnya menjadi janda perawan setelah sebelumnya ditinggal selingkuh mantan calon suaminya. Ica hanya melirik saat kursi di sebelahnya digeser dan Saka duduk di sana. “Siapa yang mau ngusir kamu.” Ica tak menjawab dia menyuapkan nasi ke mulutnya. Kesal pada Saka membuatnya lapar. Ica tak menjawab percuma saja mau jawab, nanti dia malah sakit hati padahal nasinya sudah habis dan dia segan meminta bu Mirah masak nasi lagi, apalagi sepertinya Saka akan mengan
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga
“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere







