INICIAR SESIÓNMalam yang dipenuhi kehangatan itu akhirnya berlalu, berganti pagi yang membawa derap kesibukan baru.Hari ini menjadi kali pertama Ellena kembali berkantor usai menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, di Gedung NTV, seluruh jajaran redaksi dan tim produksi juga tengah bersiap menyambut rutinitas, berbekal angin segar dari kesuksesan siaran perdana Kenzo sehari sebelumnya.Seperti biasa, Mahesa mengambil alih kemudi untuk mengantar istrinya terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke perusahaannya sendiri.Di belahan kota yang lain, dalam selisih waktu yang tak jauh berbeda, Halim dan Kenzo berada di dalam mobil yang sama menuju arah kantor NTV. Sayangnya, keberuntungan pagi ini enggan menempel pada mereka.Arus lalu lintas di jalur protokol mendadak lumpuh total. Deretan kendaraan mengular kaku sejauh mata memandang. Raung klakson bersahutan bising, membelah riuh kota yang baru saja terbangun.Halim melirik jam di pergelangan tangannya. Gurat cemas mulai tercetak je
Mahesa tetap menunjukkan pembawaan yang tenang. Dengan gerakan terukur, ia meletakkan kembali gelasnya ke meja, lalu melemparkan tatapan hangat dan senyum tipis ke arah Ellena. "Kenapa, Sayang?" tanyanya santai. "Mas cuma minum air. Memangnya ada yang aneh?" Meski bibirnya mengulas senyum, binar di matanya sempat redup selama sepersekian detik sebelum akhirnya kembali normal. Ellena memiringkan kepalanya sedikit, masih merasa ada gestur yang janggal. "Why?" Akhirnya Mahesa menyerah, ia mengembuskan napas pelan. "Baiklah... Maaf, Sayang. Mas cuma agak kesal saja sebenarnya." "Kesal? Kok bisa?" "Kamu kan baru saja keluar dari rumah sakit, El," ucap Mahesa lembut sembari menggenggam jemari istrinya di atas meja. "Belum juga sempat istirahat total di rumah, sekarang sudah dijejali lagi kabar-kabar dari kantor yang bikin pusing. Mas cuma cemas kondisimu bakal drop lagi." Raut curiga di wajah Ellena seketika luruh, tergantikan gurat tersentuh. "Mas..." Ellena balas meremas je
Agus menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Wajahnya pias, sementara kedua tangannya tak berhenti meremas celana di atas pangkuan. Ia tampak berada di ambang pergulatan batin yang hebat.Di hadapannya, Halim dan Damar menanti dalam ketegangan yang tertahan. Namun, hingga belasan detik menguap begitu saja, tidak ada satu patah kata pun yang lolos dari bibir Agus.Damar menggelengkan kepala, helaan napas kecewa meluncur dari mulutnya. "Gus..." desahnya lirih. "Saya benar-benar tidak habis pikir kamu bisa jadi orang yang serendah ini. Kamu bikin malu saya!"Agus hanya bisa menunduk pasrah.Damar menoleh ke arah Halim. "Lim, tidak ada gunanya lagi mempertahankan orang seperti ini. Sekali dia berani berkhianat, dia pasti bakal mengulanginya lagi. Pecat saja langsung."Ruangan kerja itu kembali diselimuti keheningan yang berat.Halim menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Ia memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang demi menetralkan kepalanya sebelum akhirnya mengambil keputusan akh
"Jawab sebelum kesabaran saya habis, Gus."Agus menarik napas pendek yang terasa berat. Jemarinya saling bertautan, meremas satu sama lain di atas pangkuan."S-saya... melakukannya atas keinginan saya sendiri, Pak," cicitnya dengan suara yang kentara bergetar. "Saya cuma kesal karena hak saya tidak kunjung diberikan."Halim tidak langsung menyahut. Tatapannya tetap terkunci pada Agus, menelisik setiap kedutan halus dan perubahan mikro pada ekspresi wajah pria di hadapannya. Beberapa detik menguap dalam keheningan yang menyiksa.Entah mengapa, pembelaan diri Agus sama sekali tidak terdengar meyakinkan di telinganya."Saya tahu kamu sedang tidak jujur, Gus. Kamu masih menyembunyikan sesuatu dari saya."Agus menggeleng cepat, gesturnya tampak terlalu defensif. "Tidak, Pak. Sungguh.""Kamu bohong." Nada suara Halim tetap datar dan tenang, namun justru karena itulah tekanannya terasa berkali-kali lipat lebih berat. "Kita sudah bekerja bersama bertahun-tahun. Saya tahu betul kapan kamu seda
Suasana di dalam ruang kerja Halim terasa begitu sunyi. Dengung halus dari pendingin ruangan yang terpasang di sudut langit-langit seolah menjadi satu-satunya suara yang tersisa, namun entah mengapa, butiran keringat dingin tetap nekat mengembun di pelipis Agus. Padahal, sejak melangkah masuk dan duduk di kursi, Halim belum melontarkan satu pun pertanyaan tajam.Halim berdeham pendek, memecah keheningan yang mulai mencekam. "Gus."Agus refleks menegakkan posisi duduknya, menumpu punggungnya dengan kaku. "Iya, Pak?"Halim menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi kerja. Tatapannya lurus dan mengunci pria di hadapannya tanpa ampun. "Kamu sudah ikut membesarkan NTV lebih dari tujuh tahun, kan?"Agus hanya mengangguk pelan, tenggorokannya mendadak terasa kering."Selama durasi yang tidak sebentar itu, saya selalu mengenal kamu sebagai kru yang telaten, disiplin, dan yang paling penting... bisa dipercaya.""Terima kasih, Pak.""Bahkan ketika badai krisis melanda perusahaan ini be
Siaran perdana berdurasi tiga puluh menit itu akhirnya tuntas tanpa ada satu pun kendala berarti. Tidak ada lidah yang terpeleset, tidak ada gangguan teknis pada grafis, dan yang paling krusial: seluruh materi berita tersampaikan utuh sesuai rundown yang sudah dipulihkan semalam.Begitu lampu indikator merah di atas kamera padam, ketegangan yang sempat menyelimuti studio seketika mencair.Beberapa kru langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Sebagian saling melempar senyum, sementara yang lain bertepuk tangan pelan—sebuah apresiasi spontan untuk sebuah debut yang berjalan mulus."Syukurlah... aman," gumam salah seorang kameramen sembari melepas headset dari telinganya."Anak baru, tapi pembawaannya tenang sekali. Macam anchor senior yang sudah jam terbang tinggi," sahut kru properti di sebelahnya dengan nada kagum.Di atas panggung siaran, Kenzo baru benar-benar merasa beban berat di pundaknya menguap. Ia mengembuskan napas panjang, lalu diam-diam menyapukan telapak tangannya ya







