Se connecterKeramaian pasar tahunan semakin ramai menjelang petang.mLampion-lampion mulai menyala satu per satu, menghiasi setiap sudut jalan yang dipenuhi deretan pedagang.Alena berjalan di samping Leon dengan senyum yang sejak tadi tak pernah benar-benar menghilang. Matanya sibuk memperhatikan setiap lapak yang mereka lewati."Om...""Hm?""Lihat."Alena menunjuk sebuah kios yang menjual gantungan kunci berbentuk boneka rajut."Lucu sekali."Leon mengikuti arah telunjuk Alena."Kalau suka, beli saja."Alena langsung menggeleng."Enggak.""Kenapa?""Aku cuma lihat-lihat."Leon mengangkat sebelah alis."Barusan bilang lucu.""Iya.""Terus?""Belum tentu harus dibeli."Leon tersenyum tipis."Kamu ini..."Alena tertawa kecil."Om, nanti uangku habis.""Tidak ada yang menyuruhmu memakai uangmu."Alena menoleh."Maksud Om?"Tanpa banyak bicara, Leon mengambil salah satu gantungan kunci berbentuk beruang kecil yang sejak tadi diperhatikan Alena."Yang ini."Penjual langsung tersenyum."Pilihan pacarn
Leon masih memegang beberapa map di tangannya ketika ia dan Alena memasuki ruang kerja. Alena buru-buru menerima kembali map-map itu."Maaf, Pak. Saya merepotkan Bapak."Leon meletakkan map tersebut di atas meja kerjanya."Lain kali jangan membawa berkas sebanyak itu sendirian."Alena tersenyum canggung."Saya sudah terbiasa, Pak."Leon menggeleng pelan."Terbiasa bukan berarti harus memaksakan diri."Alena terdiam. Leon melanjutkan sambil menatapnya dengan tenang."Kalau memang terlalu banyak, minta bantuan Sisca atau staf yang lain.""Tapi saya masih sanggup.""Sanggup bukan berarti harus dikerjakan sendiri."Nada suara Leon tetap datar seperti biasanya. Namun entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa begitu hangat di telinga Alena. Belum pernah ada yang menegurnya karena hal seperti itu.Sejak kecil, ia terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri agar tidak merepotkan orang lain.Melihat Alena hanya diam, Leon kembali berkata,"Aku tidak ingin kamu kelelahan hanya karena pekerjaan."
Siang itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi Mahardika Group. Cyntia mematikan mesin mobilnya, lalu mengambil sebuah map biru dari kursi sebelah. Map itu berisi dokumen kerja sama antara Wijaya Group dan Mahardika Group yang harus segera diserahkan kepada Leon. Ayahnya mendadak mendapat jadwal rapat dengan investor dari luar kota, Cyntia langsung mengajukan diri untuk melakukan tugas itu. Akhirnya ayahnya mempercayakan tugas itu padanya. "Ayah percaya kamu bisa mengurusnya," ucap ayahnya sebelum berangkat pagi tadi. Begitu memasuki lobi, beberapa karyawan yang cukup mengenalnya langsung menyapa dengan sopan. "Selamat siang, Bu Cyntia." "Selamat siang." Cyntia membalas dengan senyum ramah. Sikapnya tetap anggun seperti biasanya. Resepsionis segera berdiri. "Selamat siang, Bu Cyntia. Apakah sudah membuat janji dengan Pak Leon?" "Aku mengantarkan dokumen kerja sama dari Wijaya Group." "Baik, Bu. Namun saat ini Pak Leon masih berada di ruang rapat." Cyntia meng
Mira berdiri dari sofa."Aku pulang dulu."Leon ikut berdiri."Biar aku antar sampai bawah, Bu.""Enggak usah."Mira menggeleng pelan sambil tersenyum."Kamu masih banyak pekerjaan."Leon tetap mengantar ibunya hingga ke depan pintu ruangannya."Kalau sudah sampai rumah, kabari aku.""Iya."Mira menepuk pelan lengan putranya."Kamu juga jangan terlalu sibuk."Leon hanya mengangguk sambil memperhatikan ibunya berjalan menuju lift. Begitu pintu lift tertutup, Leon baru kembali masuk ke ruangannya.---Sementara itu...Mira tidak langsung menuju parkiran. Entah mengapa, langkahnya justru berhenti di koridor yang menghadap ke area kerja para karyawan.Tatapannya perlahan menyapu ruangan. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya.Alena.Gadis itu sedang duduk di mejanya. Sesekali tertawa bersama Sisca sambil kembali menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada sikap dibuat-buat. Tidak pula berusaha menarik perhatian siapa pun.Senyumnya terlihat begitu tulus. Mira me
Alena baru saja duduk di kursinya. Belum sempat menyalakan komputer... Sisca sudah menyeret kursinya hingga nyaris menempel."Nah...""Akhirnya calon menantu balik juga."Alena langsung menoleh."Hah?"Sisca menyeringai lebar."Gimana?""Wawancara calon mertua lancar?"Alena hampir saja menjatuhkan map yang baru diletakkannya di atas meja."Kamu ngomong apa, sih?""Lho, jangan pura-pura.""Tadi yang datang itu, kan, ibunya bos kita.""Terus beliau ngajak kamu masuk ke ruang Pak Leon.""Kalau bukan calon mertua, terus siapa?"Alena menepuk dahinya pelan."Ya ampun, Sisca.""Kamu kebanyakan nonton drama."Sisca mengangkat kedua bahunya."Terus?""Ditanya apa saja?"Alena terdiam beberapa detik."Ya... ditanya soal kerja."Sisca langsung mendecak."Cuma itu?""Iya.""Bohong.""Beneran."Sisca menyipitkan matanya."Kalau cuma ditanya soal kerja...""...kenapa pipimu merah begitu?"Refleks, Alena menyentuh kedua pipinya."Merah, ya?""Banget.""Malah dari tadi enggak hilang."Alena hanya b
Leon terdiam. Tatapan Mira masih mengarah ke arah Leon, menunggu jawaban putranya."Nah, kan?" ujar Mira sambil menghela napas. "Kamu sendiri masih bingung menjawab pertanyaan Ibu."Leon menggeleng pelan."Aku enggak bingung, Bu.""Lalu?""Pertanyaan Ibu terlalu mendadak.""Aku cuma sedang berpikir bagaimana menjelaskannya supaya Ibu mengerti."Mira menyandarkan tubuhnya ke sofa."Kalau begitu Ibu ganti pertanyaannya."Leon mengangguk."Ibu bingung.""Alena baru bekerja di Mahardika Group beberapa bulan.""Ibu juga baru tahu kamu menyukainya belum lama ini.""Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu kalian sudah saling jatuh cinta?"Leon hanya tersenyum tipis. Namun sebelum sempat menjawab, Mira kembali melanjutkan."Justru itulah yang membuat Ibu semakin tidak mengerti.""Dulu...""Kamu hidup bertahun-tahun bersama Cyntia.""Kalian menikah.""Tinggal serumah.""Tapi entah kenapa...""Ibu tidak pernah melihat tatapan seperti yang barusan kamu tunjukkan saat membicarakan Alena."Le
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek
“Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria







