공유

Panik

작가: Anny Djumadi
last update 게시일: 2026-06-23 20:06:18

Alena berdiri kaku di depan Mira Mahardika.

Jujur saja ... ia lebih memilih menghadapi deadline mendadak daripada situasi seperti ini. Karena wanita di depannya adalah ibu Leon.

Dan entah kenapa ... fakta itu saja sudah cukup membuatnya gugup.

"Jangan tegang begitu."

Mira tersenyum kecil.

"Hah?"

"Kamu seperti sedang diwawancarai polisi."

"Ti-tidak kok, Bu."

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Mira langsung tertawa.

Lucu juga, anak ini benar-benar mudah dibaca.

Sementara di kejauhan ... Sisca yang
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
begini ciri-ciri emak2 ngebet punya cucu ahahahaha
goodnovel comment avatar
Nia Yenada
kasihan Alena kena serangan jantung hahaha
goodnovel comment avatar
Linawa Sumie
kacau banget emaknya Leon . pantas Leon takut wkwk
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Urusan Penting

    Leon mengernyit."Ibu?"Sekretarisnya mengangguk."Iya, Pak. Beliau terlihat sangat terburu-buru."Belum sempat Leon menjawab, pintu ruangannya kembali terbuka. Mira masuk dengan napas sedikit memburu. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kecemasan."Ibu."Leon segera berdiri dari kursinya."Ada apa?"Tatapan Mira langsung tertuju pada Leon, lalu bergeser kepada Alena yang berdiri tidak jauh dari Leon. Sesaat ia tampak ragu."Apa... Alena masih di sini?"Alena buru-buru melangkah ke arah pintu."Kalau begitu saya keluar dulu, Bu.""Jangan."Suara Mira menghentikannya."Kamu ikut mendengarkan saja."Alena menoleh bingung."Saya?""Iya."Nada suara Mira terdengar lebih serius daripada biasanya. Perasaan Leon mulai tidak enak."Ibu, sebenarnya terjadi apa?"Mira menarik napas panjang sebelum berkata pelan,"Ibu baru saja dari rumah sakit."Wajah Leon langsung berubah."Rumah sakit?""Iya.""Ada seseorang yang pingsan."Jantung Alena berdetak lebih cepat. Entah kenapa firasat buruk

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Aku Ingin Kamu Yakin

    "Aku belum berkata kalau kamu boleh pergi."Langkah Alena yang sudah hampir mencapai pintu langsung terhenti. Perlahan ia membalikkan badan. Tatapannya bergantian memandang Leon dan Cyntia."Maaf, Pak."Alena kembali berdiri di tempat semula. Sementara itu, Cyntia mengangkat sebelah alis. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, tetapi sorot matanya menunjukkan rasa heran."Leon."Pria itu mengalihkan pandangannya."Ada lagi yang ingin kau bicarakan?"Leon mengangguk singkat."Ada."Ia lalu menoleh kepada Alena."Duduk."Alena tampak ragu."Pak... kalau memang pembahasannya urusan pribadi, saya bisa menunggu di luar.""Tidak perlu."Jawaban Leon terdengar tenang, tetapi tegas."Kau tetap di sini."Alena semakin bingung. Ia akhirnya duduk kembali, meski perasaannya mulai tidak menentu. Di sisi lain, Cyntia memperhatikan semua itu tanpa berkedip."Leon," ucapnya pelan. "Aku rasa akan lebih baik kalau kita bicara berdua."Leon menyandarkan tubuhnya ke kursi."Kenapa harus berdua?"Pertanya

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Akibat Menggoda Bos

    Tatapan mereka masih bertemu. Alena buru-buru mengalihkan pandangan."Pak Leon...""Hm?""Jangan terus melihat saya seperti itu.""Kenapa?""Bikin gugup."Sudut bibir Leon kembali terangkat."Kalau gugup, berarti memang ada yang sedang kamu sembunyikan."Alena mendengus pelan."Tidak ada.""Bohong.""Benar."Leon menggeleng kecil sambil terkekeh."Aku belum pernah melihat orang yang wajahnya semerah ini kalau memang tidak sedang memikirkan sesuatu."Alena memejamkan mata sejenak."Ya Tuhan...""Om ini kenapa sih?""Biasanya pendiam.""Sekarang malah suka menggodaku."Leon kembali bertanya dengan suara lembut."Jadi...""Apa yang sedang kamu pikirkan?"Alena tetap menggeleng."Tidak mau bilang.""Ayo.""Tidak.""Sedikit saja.""Tidak."Melihat Alena yang terus menolak, Leon justru semakin geli. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak di antara mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter."Kalau begitu...""Aku akan menunggu sampai kamu mau cerita."Alena mendongak. Tatapan mata

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bos Cuma Cari Kesempatan

    Keesokan paginya, suasana kantor Mahardika Group kembali sibuk seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang sambil membawa map dan laptop masing-masing. Beberapa sibuk menyapa rekan kerja, sementara yang lain sudah tenggelam dalam tumpukan pekerjaan sejak pagi.Pintu lift terbuka.Alena melangkah keluar sambil membawa tas kerjanya. Langkahnya masih sedikit pelan karena pergelangan kaki kanannya belum benar-benar pulih."Alena!"Suara ceria itu membuat Alena menoleh. Sisca melambaikan tangan sambil berjalan cepat menghampirinya."Wah, akhirnya datang juga."Alena tersenyum."Pagi, Sis."Sisca bukannya membalas salam, malah langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada."Hayo, jujur.""Jujur apa?""Kemarin tugas ke mana sama Pak Leon?"Alena menjawab santai."Ya... kerja.""Kerja?"Sisca menyipitkan mata."Masa kerja menjelang sore?"Alena langsung gelagapan."Itu... karena permintaan clientnya sendiri yang harus didatangi.""Oh ya?"Sisca semakin mendekat."Lalu kenapa pulangnya mala

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Jangan Buat Dia Menunggu

    "Eh..."Bu Rina tiba-tiba menghentikan langkahnya. Alena yang sedang memandangi gantungan kunci beruang di tangannya langsung menoleh."Kenapa, Bu?"Bu Rina mengernyit sambil memandang putrinya dengan heran."Ibu baru sadar.""Tadi dari awal kamu memanggil bosmu..."Bu Rina berhenti sejenak."...Om?"Senyum di wajah Alena langsung membeku. Jantungnya berdegup semakin cepat. Ia benar-benar lupa. Sejak Leon datang mengantarnya pulang, ia sama sekali tidak memanggil pria itu dengan sebutan "Pak Leon".Yang keluar dari mulutnya hanyalah panggilan yang sudah terasa begitu akrab.Om."Ini kesempatan.""Ayo, Alena.""Jangan sembunyi lagi."Alena menarik napas panjang."Bu... sebenarnya Alena..."Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Bu Rina tiba-tiba mengangkat telunjuk."Eh, jangan bilang..."Alena ikut membelalak."Jangan bilang kamu mau jadi baby sugar bosmu itu.""Bu!"Wajah Alena langsung merah padam."Astaga! Bukan!""Awas saja, jangan bikin ibumu jantungan!""Jangan bikin ibumu p

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Om?

    Mobil Leon berhenti perlahan di depan rumah Alena.Meski perjalanan dari klinik tidak terlalu jauh, Leon beberapa kali melirik ke arah kursi penumpang. Alena terlihat berusaha menahan sakit, tetapi sesekali tetap meringis setiap kali mobil melewati jalan yang sedikit bergelombang."Masih sakit?" tanya Leon pelan.Alena langsung menggeleng."Sudah lebih baik, Om."Leon tahu gadis itu sedang berbohong.Sejak dokter mengatakan bahwa pergelangan kaki Alena hanya keseleo ringan, Alena terus berusaha terlihat baik-baik saja. Namun, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa nyeri yang masih ia rasakan.Mobil akhirnya benar-benar berhenti. Leon segera mematikan mesin, lalu turun lebih dulu. Ia memutar langkah menuju sisi penumpang dan membuka pintu."Ayo."Alena tersenyum kecil."Aku bisa turun sendiri."Leon hanya mengangguk, memberi ruang agar Alena mencoba berdiri. Namun, baru satu kaki menginjak tanah, Alena kembali meringis."Akh..."Refleks tubuhnya sedikit oleng. Untung Leon sigap m

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Mulai Paham

    Sore itu...Di rumah keluarga Mahardika. Cynthia baru saja selesai menceritakan pertemuannya dengan Leon. Ruang keluarga mendadak sunyi. Mira yang sejak tadi mendengarkan perlahan meletakkan cangkir tehnya."Aku sudah mencoba, Bu.""Mencoba apa?""Menemui Leon.""Lalu?"Cynthia tersenyum pahit."D

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bawa Dia ke Ruang Saya

    Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bayangan yang Mulai Mengganggu

    Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Anak Baru yang Menjadi Perhatian

    Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status