LOGINSepanjang perjalanan pulang, Zea duduk diam di kursi penumpang, pikirannya berkecamuk. Bisikan Marco tadi sore terus terngiang di kepalanya, membuat dirinya gugup setengah mati.
Pria itu benar-benar tidak ada kapoknya.Zea menghela napas pelan, sambil membayangkan berbagai skenario buruk yang bisa terjadi malam ini.Kalau sampai Zavian tahu Marco nekat datang ke kamarnya lagi, bukan cuma Marco yang akan menanggung akibatnya. Sanksi berat sudah pasti menanti, bahkan kemungkinan beMarco terdiam sejenak. Sorot matanya melembut di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.“Nggak akan,” jawabnya pelan, suaranya serak tapi tegas. “Aku nggak akan pergi sekarang. Aku bisa temani kamu sampai kamu tidur nyenyak.”Ia mengusap pelan rambut Zea yang berantakan. “Tapi nanti subuh, aku harus pergi. Sebelum orang rumah bangun. Oke?”Zea terdiam. Pipinya memanas, tapi ada rasa lega yang menyelinap di dadanya. Marco mau menemaninya sampai ia tertidur. Bukan hanya datang untuk mengambil apa yang ia butuhkan, lalu pergi.“Oke …” bisiknya pelan yang masih malu.Marco mengangguk. Lalu dengan gerakan hati-hati, ia menyingkap baju tidur Zea ke atas. Zea membantu membuka bra-nya pelan dengan tangan gemetar. Kedua payudaranya yang sudah penuh dan sedikit bengkak terbebas di udara malam yang sejuk.Marco berbaring di sampingnya, tubuh mereka saling berhadapan. Ia menarik Zea lebih dekat hingga dada gadis itu menempel di wajah pria itu.Lalu ia mulai meng
Marco melonggarkan pelukannya perlahan, tapi tangannya masih bertahan di pinggang Zea, seolah enggan melepaskan sepenuhnya. Pria itu memandang wajah gadis itu lekat-lekat di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Matanya berhenti pada jejak sembab di sekitar mata Zea. Rahangnya langsung mengeras. "Tadi kamu abis nangis," katanya datar. Bukan pertanyaan. Zea buru-buru menggeleng dan mengusap pipinya sendiri, meski air matanya sudah lama kering. "Nggak, kok." Marco tidak menjawab. Ia hanya menatap Zea lama, seolah tidak percaya, lalu tangannya terangkat mengusap kasar pipi gadis itu dengan ibu jari, seperti mencoba menghapus sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada. "Aku benci lihat kamu kayak gini," gumamnya akhirnya, suaranya rendah dan sedikit kaku, seperti kalimat itu susah payah keluar dari mulutnya. Zea mengerjap. "Kayak gini gimana?" Marco tidak menjawab langsung. Ia malah mendengus pelan dan mengalihkan pandangan ke jendela, seolah kalimatnya barusan sudah lebih dari cukup
Zea meremas ujung serbet di pangkuannya. "Tadi ketemu tetangga lama, Kak." "Siapa?" Zavian langsung menyahut cepat, alisnya terangkat. "Tante Moara," jawab Zea akhirnya, berusaha terdengar sewajar mungkin. "Ketemunya di toilet tadi, nggak sengaja." Mendengar nama itu, ketegangan di wajah Zavian sedikit mengendur. "Oh, Tante Moara? Udah lama juga nggak denger kabarnya. Gimana keadaannya?" "Baik, Kak. Katanya kangen sama Mama, pengin ketemu lagi kapan-kapan." Zavian mengangguk, mulai menyendok pastanya. Namun gerakan itu terhenti sesaat ketika Zea melanjutkan, suaranya sedikit lebih pelan. "Selena juga ada, lagi makan bareng Tante Moara." Sendok di tangan Zavian berhenti di udara. Ia tidak langsung berkomentar, hanya menatap piring makan di depannya cukup lama, seolah sedang memikirkan sesuatu. Keheningan itu justru membuat Zea kembali dilanda kegugupan. Lalu Zavian menghela napas dan memilih menyimpan pikirannya sendiri. Malam ini ia hanya ingin melihat adiknya tersenyum, bukan
Moara tersenyum lebar, kemudian merangkul bahu Zea dengan penuh kehangatan. "Sel, ini yang pernah Tante ceritain dulu, namanya Zea. Anak tetangga Tante dulu, sekaligus teman kecilnya Marco. Kebetulan ketemu di sini, lagi makan malam sama kakaknya." Selena mengerutkan dahi tipis. Senyumnya tetap terjaga, meski sorot matanya menyiratkan keterkejutan. "Oh ... jadi Zea teman kecil Marco, ya? Aku baru tahu.” Wanita itu menatap Zea sejenak, seolah sedang menyusun ulang informasi baru di kepalanya. "Pantas saja," gumamnya pelan. Nada suaranya tetap ramah, tetapi ada penekanan tipis di setiap katanya. "Tadi siang di pusat pelatihan, Marco kelihatan cukup perhatian sama Zea. Sekarang aku jadi ngerti kenapa." Selena lalu menoleh kepada Moara dengan senyum manis. "Tante ..." ujarnya pelan. "Marco memang dari dulu seperti itu, ya? Aku baru tahu dia bisa seprotektif itu sama seseorang.” Selena tetap tersenyum manis, seolah tidak sedang menanyakan sesuatu yang berarti. Namun justru sikap itula
"Ya Tuhan … ini kamu, kan, Zea?"Moara mengerjap dengan ekspresi masih terkejut. Beberapa detik ia hanya memandangi Zea, seolah tak percaya gadis kecil tetangganya dulu kini sudah tumbuh dewasa.Wanita itu segera menghampiri Zea dan memegang kedua lengannya dengan hangat, matanya menyapu wajah Zea dari atas ke bawah."Astaga, kamu udah besar banget sekarang. Makin cantik," ucap Moara sambil tersenyum, meski ada sesuatu yang terasa berat di baliknya.Zea membungkuk kecil dan mencium punggung tangan Moara sebagai bentuk hormat. "Tante Moara apa kabar? Udah lama banget nggak ketemu.”"Baik, baik." Moara mengangguk sambil masih menggenggam lengan Zea. "Mama sama Kakakmu gimana kabarnya? Masih sehat semua?""Baik, Tante. Mama di rumah, Kak Zavian lagi sama aku, kebetulan lagi makan malam berdua di sini."Moara mengangguk-angguk mendengarnya, tapi senyumnya perlahan meredup. Zea memperhatikan mata Moara sedikit sembab, dan setiap kali wanita itu tersenyum,
Sepanjang perjalanan pulang, Zea duduk diam di kursi penumpang, pikirannya berkecamuk. Bisikan Marco tadi sore terus terngiang di kepalanya, membuat dirinya gugup setengah mati.Pria itu benar-benar tidak ada kapoknya.Zea menghela napas pelan, sambil membayangkan berbagai skenario buruk yang bisa terjadi malam ini. Kalau sampai Zavian tahu Marco nekat datang ke kamarnya lagi, bukan cuma Marco yang akan menanggung akibatnya. Sanksi berat sudah pasti menanti, bahkan kemungkinan besar Marco akan langsung diberhentikan dari klub.Belum lagi soal Selena. Wanita itu adalah jembatan penting bagi klub Zavian untuk berhubungan dengan banyak sponsor besar. Kalau Marco kehilangan tempat di klub, bukan tidak mungkin hubungan dengan para sponsor ikut terganggu dan Zavian yang menanggung akibatnya.Kepalanya mulai berdenyut memikirkan semua kemungkinan itu. Zea benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.“Zea …” Suara Zavian tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil







