Share

Perasaan Ini

last update publish date: 2026-04-09 17:18:46

Keheningan mendadak jatuh di antara mereka, membuat suara jangkrik di kejauhan terdengar begitu nyaring.

Sera merasa wajahnya memanas hebat, seolah seluruh pasokan darah di tubuhnya naik ke pipi. Pertanyaan impulsif itu menggantung di udara, menciptakan kecanggungan yang luar biasa.

Evan, yang berdiri beberapa langkah di belakang Rendra, tak mampu menahan diri. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menutupi mulutnya dengan satu tangan untuk menyembunyikan getaran tawa yang hampir meledak. Pem
Adinasya Mahila

like komen dan gem ya geng 🥰🥰

| 32
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (17)
goodnovel comment avatar
Diah Ramayanti
perasaan dr sejak tidur bareng sampe sekarang g ada perkembangan apa2 , cium bhkan skinship aja g ada , ampunnn
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
ayooo donk jjur aj sih sm prsaan kleyan Mao smpe kpn cba RT kek gni??
goodnovel comment avatar
Adeena
mulai ada bunga2 tumbuh di hati Sera dan Rendra....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Memegang Senjata

    Pagi-pagi sekali, udara dingin posko militer langsung menyergap kulit. Sera dan Rendra sudah sibuk di samping mobil jip berkabin ganda. Sera membungkuk di dekat bagasi terbuka, memeriksa tumpukan kardus berisi obat-obatan dan bahan makanan, memastikan sendiri tidak ada barang yang tertinggal. Langkah kaki terdengar mendekat. Rendra berdiri di belakangnya, memegang sehelai jaket tebal berbulu. Tanpa bicara, Rendra menyampirkan jaket itu ke bahu Sera, menyelimuti tubuh istrinya dengan cermat. "Kamu harus memakai ini, dingin," kata Rendra pelan, merapikan kerah jaket di leher Sera. Sera menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik, melemparkan senyum tipis. "Makasih, Mas." Sera meraih kedua tangan Rendra yang terasa kaku, lalu mengaitkan jemari mereka. Ia menggosok-gosokkan telapak tangan Rendra di antara genggamannya, berusaha mengalirkan hangat. "Sebentar lagi kita berangkat, kamu cepat sarapan dulu," ujar Rendra sembari menatap wajah Sera. Sera mendongak, menghentikan gosokan tan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pria Tua Yang Dihormati

    Sera mengangguk pelan saat menyadari adanya kilat kecemasan yang tertangkap jelas di sepasang mata suaminya. Ia memaksakan sebuah senyuman riang, tidak ingin membuat pikiran Rendra semakin terbebani dengan hal-hal yang tidak pasti. "Iya, Mas. Aku janji tidak akan jauh-jauh dari Mas Rendra," sahut Sera sembari merapatkan duduknya. Ia kemudian dengan sengaja mengubah topik pembicaraan. "Oh ya, Mas, bagaimana kalau Mas ceritakan saja padaku tentang bagaimana awal mula Mas bisa berteman dekat dengan Mayor Naka?" Rendra tampak sedikit terkejut, namun sedetik kemudian senyumnya mengembang. Ia mulai bercerita tentang masa-masa remaja mereka dulu, sesekali diselingi tawa renyah saat mengingat kejadian konyol yang pernah mereka lalui bersama. Obrolan hangat itu terus mengalir, mengikis ketegangan di antara mereka hingga akhirnya deru mesin pesawat perintis mulai melambat dan roda-rodanya menyentuh landasan pacu yang dikelilingi oleh barisan pepohonan tinggi. Pintu pesawat akhirnya dibuka. B

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Harus Bersama Sepanjang Waktu

    Pak Kepala Desa sempat tersentak dengan tubuh yang sedikit menegang, namun dengan sangat cepat ia menarik napas dalam dan mencoba mengendalikan riak wajah serta perasaannya. Ia memaksakan sebuah senyuman kaku di bibirnya yang pucat sebelum menunduk hormat ke arah Rendra. "Maaf, Pak Presiden," ucap Kepala Desa dengan suara yang sedikit bergetar namun diusahakan tetap terdengar tenang. "Nura, anak ini hanya mengatakan agar Ibu Negara selalu berhati-hati selama perjalanan. Dia juga mendoakan keselamatan untuk Anda dan seluruh rombongan." Rendra tidak langsung merespons. Ia hanya mengangguk lambat, menyilangkan kedua tangan di dada. Sepasang matanya yang tajam tampak menyipit, memancarkan sorot tidak percaya yang sangat kentara setelah sempat menangkap ketakutan di wajah para penduduk tadi. Namun, ia memilih untuk menahan diri dan tidak mendebat penjelasan tersebut di depan umum. Di sampingnya, Sera justru tidak menyadari ketegangan yang sempat menggantung. Begitu mendengar arti ucapan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pesan Seorang Gadis Kecil

    Hari berikutnya, Evan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Jadwal rencana perjalanan menuju Amartapura terpaksa harus mundur beberapa jam dari waktu yang sudah ditentukan semula.Dari posisinya yang berdiri di samping mobil di halaman istana, Evan melihat Rendra dan Sera berjalan bersisian keluar dari pintu utama. Langkah kaki keduanya tampak santai, dengan Rendra yang sesekali menundukkan kepala untuk membisikkan sesuatu hingga membuat Sera tersenyum lebar dan memukul pelan lengan suaminya.Evan menghela napas panjang, lalu bergumam di dalam hati. “Apa liburan mereka kemarin masih belum cukup juga? Astaga, Pak Rendra dan Nona Sera itu setiap hari benar-benar sudah seperti pengantin baru saja.”Evan segera menepis pikiran usilnya saat jarak kedua orang itu semakin dekat. Ia menegakkan tubuh, lalu memasang senyum profesionalnya sembari memberikan salam hormat."Selamat siang, Pak, Nona Sera.""Selamat pagi menjelang

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mas Rendra, Jangan Nakal!

    Pintu kamar mandi itu berderit, menyisakan celah sempit di sana. Sera mengintip dari balik pintu, rambutnya yang basah menggumpal dan menempel di pelipisnya. Uap hangat mengepul keluar dari ruangan, membawa aroma sabun yang lembut."Mas, aku sedang mandi," ucap Sera cepat, matanya membelalak saat mendapati Rendra berdiri tepat di depan pintu.Rendra tidak segera berbalik. Ia justru menyunggingkan senyum tipis, sudut bibirnya terangkat satu sisi. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah maju dan mendorong pintu itu dengan telapak tangannya.Sera tidak punya pilihan selain melangkah mundur. Ia merapatkan handuk putih yang melilit tubuhnya, menutupi dadanya erat-erat dengan kedua tangan. Wajahnya seketika merona merah, kontras dengan warna kulitnya yang putih."Mas Rendra, membuatku malu saja," gumam Sera, menunduk untuk menghindari tatapan suaminya.Rendra terkekeh pelan. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan satu sentakan ringan. "Untuk apa malu? Aku sudah melihat semuanya

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pernikahan Di Atas Segalanya

    Istana Presiden. Malam Hari Rendra merapikan beberapa berkas terakhir di atas meja kerjanya, lalu mengembuskan napas panjang. Jam dinding sudah menunjukkan waktu yang cukup larut ketika ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya malam itu. Pria itu bangkit berdiri, mematikan lampu meja kerja, dan melangkah keluar menuju kamar. Langkah kakinya yang teratur bergema pelan di sepanjang lorong sunyi. Tepat saat jemarinya menyentuh gagang pintu kamar, benda persegi di saku celananya bergetar dibarengi sebuah nada dering. Rendra meraba saku, mengeluarkan ponselnya, dan menatap layar yang menyala. Nama Sintia tertera di sana. Rendra seketika mengernyitkan dahi. Ibu jari tangannya tertahan di atas layar. Ada rasa enggan yang mendadak melingkupi dadanya. Ia sedang lelah, dan ia sangat khawatir jika sang mama menghubungi hanya untuk membahas hal-hal rumit yang akan semakin menguras energinya. Namun, di sisi lain, Rendra juga tersadar bahwa sudah cukup lama ia tidak bertukar kabar atau b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status