LOGIN"Hi hi hi. Jangan kau tumpahkan kemarahan pada pohon itu, Cah!" ejek Perempuan Pengumpul Bangkai. Di ujung salah satu daun tetumbangan pohon kamboja, nenek sakti itu sudah bersila. Lagi-lagi pamer kehebatan ilmu peringan tubuh!
Pendekar Sinting tak banyak melonggarkan waktu untuk serangan berikutnya. Dia siap menerjang kembali dengan keganasan sepuluh ekor banteng kedaton!
Sebelum itu, tangannya membentuk bentangan seperti sayap seekor burung raksasa perkasa. Berselang dengan ge
"Aku memang ingin menuntut balas atas kemusnahan kaumku. Aku juga datang ingin mengambil kembali Cambuk Sakti Naga intan milik Harimau Setan." Terang Mata Bara mulai terpancing hingga berkurang kewaspadaannya.Adipati cepat menyeka air matanya. Tidak terduga dia mengambil cambuk rampasan yang tergelung di pinggangnya. Adipati julurkan tangan, angsurkan cambuk ini."Aku mohon maaf atas semua kejadian di masa lalu. Cambuk ini sekarang kukembalikan. Ambillah, kalau kau merasa tidak puas kau juga boleh mengambil nyawaku," Kata adipati Seta Kurana.Laki-laki itu kemudian jatuhkan diri berlutut di atas lantai. Laki-laki itu menangis tersedu sedangkan cambuk dia biarkan tergeletak dilantai yang dingin. Sikap adipati yang berubah menjadi baik sudah barang tentu membuat heran para pengawalnya. Sedangkan Si Mata Bara nampaknya tambah percaya bahwa adipati yang sangat dia benci benar-benar telah insyaf.Maka tanpa keraguan dia melangkah mendekati adipati itu. Meliha
"Kalian cuma kurcaci tidak berguna. Aku ingin bertemu adipati Seta Kurana, bukan cecunguk seperti kalian," Sahut laki-laki itu.Karuan saja ucapan Mata Bara membuat para pengawal dan wakil senopati menjadi sangat marah."Kau memang manusia terkutuk keparat. Kau tak mengenal tata karma. Kau berani menyebut gusti adipati secara sembrono, kau juga telah berlaku lancang menghina kami para pengawal adipati. Aku yakin adipati tak mau menemuimu," Kata Soma Prawira sambil mencabut pedang besar yang tergantung di punggungnya.Dikatakan sebagai Manusia Terkutuk mendidih darah si Mata Bara. Sekali tangannya bergerak. Tahu-tahu Soma Prawira kena dicekalnya. Wakil senopati meringis kesakitan ketika tangan kanannya yang memegang pedang besar dipuntir ke belakang sedang pedangnya dirampas Mata Bara. Sambil memiting tangan Soma Prawira, pedang besar ditimang lalu dibolang baling ke udara. Sebentar dengan sikap mengancam dia berkata."Cukup sudah kalian menghina dan meren
"Ah, kurang ajar," Maki senopati.Secepat kilat dia coba jatuhkan diri. Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek."Akh.."Senopati keluarkan suara seperti tercekik. Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental. Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya. Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami.Senopati itu hanya bisa belalakkan mata."Kk... kau..." Katanya terputus-putus.Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah. Tubuhnya lalu bergetar. Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.Harimau Setan tersenyum dingin. Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati."Sekarang aku yang
Gagak Panangkaran mendengus nafasnya memburu, wajah merah padam sedangkan sepasang mata tampak merah dilamun amarah. Dengan tangan terkepal gigi bergemeletukan dia membentak. "Perempuan terkutuk. Kaulah yang menjadi pangkal sebab dari semua kegilaanku. Kau habisi anak buahku dengan cara sekeji itu. Apakah kau pikir aku akan memberi ampun?!" Geram senopati meledak-ledak.Harimau Setan tersenyum dingin. Dengan sinis dia menjawab. "Siapa yang hendak minta ampun pada manusia keparat kaki tangan pencuri. Kau dan adipatimu itu sama saja. Tidak ada nilainya dimataku. Dan aku tidak punya waktu melayanimu lebih lama senopati. Lihat serangan!!" Teriak si nenek.Begitu si nenek berteriak, Gagak Panangkaran langsung dongakkan kepala menatap ke depan. Senopati ini tercengang saat melihat sosok si nenek mendadak raib, sementara dari arah depan senopati melihat sedikitnya tiga larik cahaya berbentuk kipas berwarna merah, biru dan hitam menderu menebar ke arahnya."Jahanam! ilm
Tak ayal lagi bahu, perut dan punggung Harimau Setan terkena satu bacokan dan dua tusukan. Darah terlihat menyembur dari tiga luka ditubuhnya. Sementara mata si nenek membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dialaminya."Kk..kalian...kalian ternyata sangat hebat..." Ucap nenek itu dengan tubuh terhuyung.Menyangka lawan dapat dilukai oleh perajuritnya. Senopati Gagak Panangkaran tertawa sinis "Hanya seperti itukah ilmu kesaktian yang kau miliki? Jika menghadapi anak buahku saja kau sudah tidak berdaya bagaimana kau bisa melawanku. Konon pula kau mau mengambil kembali senjatamu dari tangan adipati. Kau bisa menjadi potongan daging tak berbentuk.Ha ha ha!""Hi hi hi! Senopati lihat kemari pentang matamu lebar-lebar," Kata si nenek.Senopati katobkan mulut, dia menatap ke arah lawan. Dilihatnya Harimau Setan mengusap lukanya di tiga bagian. Luka itu lenyap seketika tak meninggalkan bekas terkecuali bagian pakaian yang robek di tiga bagian."Gil
"Lihat nenek aneh ini. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu seperti bulu Harimau. Pantas kuda kita jadi gelisah." Ujar salah seorang perajurit."Kuda kita menyangka dia harimau sungguhan, tidak tahunya cuma Harimau Setan!" Timpal perajurit lainnya. Terdengar suara tawa berderai.Sementara itu senopati tetap memperhatikan nenek di atas batu dengan tatapan curiga. "Melihat ciri-cirinya, aku yakin dialah orang yang biasa disebut Harimau Setan." Batin laki-laki itu.Dia pun lalu melompat turun dari atas kuda. Sambil menyeringai senopati itu berujar."Yang dicari susah ditemukan yang tidak diharap justru muncul sendiri. Ha... ha... ha."Melihat senopati tertawa terbahak-bahak, Harimau Setan keluarkan suara berdengus sekaligus ajukan pertanyaan."Apakah ada yang lucu senopati? Apa maksud ucapanmu?""Nenek renta tubuh berbulu seperti harimau. Bukankah kau orangnya yang bernama Marasati berjuluk Harimau Setan?""Kalau benar memangnya a
Terbayang-bayang kembali dalam otak tua yang nyaris tumpul milik Dongdongka, wajah Pertapa Sakti Gunung Sewu yang telah berpuluh tahun tak dijumpainya. Seorang yang dari waktu ke waktu tak pernah mengalami ketuaan pada wajahnya. Tampan dan bersih, dengan binar mata jenaka seorang bocah polos. Ada
Seorang bocah bau kencur telah melabrak kehormatan dan harga dirinya! Setelah berjumpalitan gesit beberapa kali menghindari kucuran serangan Pendekar Sinting yang tak terputus. Perempuan Pengumpul Bangkai mencapai jarak aman. Dia berdiri terbungkuk. Mengeram. Matanya menghujam tajam. Kemurkaannya
Ketajaman nalurinya, dan pengaruh gejolak tenaga sakti yang menyentak saraf-saraf kecerdasan di otaknya menyebabkan seluruh jurus-jurus yang pernah dipelajarinya teraduk menjadi satu seketika itu juga!Nini Jonggrang sebagai tokoh kawakan yang sudah kenal lama dengan Dedengkot Sinting, ten
"Hey, kau tak apa-apa?" tegur Dedengkot Sinting, tak yakin. Menurut perkiraannya, tentu orang itu telah mampus. Dia merasa berdosa sekali kalau sampai terjadi."Ya."Mendapat sahutan dari orang bercaping, Dongdongka malah jadi terperanjat."Bagaimana bisa kau belum mampus?" t







