Mag-log in"Aku membasuh kakinya setiap hari, menjaga kehormatannya di depan dunia, namun ia membiarkanku mati kedinginan di peraduan kami sendiri." Dua tahun pernikahan seharusnya menjadi waktu yang paling indah bagi sepasang suami-istri. Namun bagi Almira, setiap malam adalah siksaan sunyi. Di balik kemewahan rumah dan perhatian Reza yang tampak sempurna, ada sebuah tembok besar yang tak pernah bisa ditembus. Almira masih suci, sebuah kenyataan pahit yang ia simpan rapat-rapat demi menjaga martabat suaminya yang berprofesi sebagai Chef ternama. Di saat Ibu mertuanya terus menghujaninya dengan tuntutan cucu dan ramuan-ramuan kesuburan yang menyakitkan hati, Reza justru memilih diam. Ia tak berusaha, tak pula jujur. Hasil medis menyatakan ia normal, namun di atas ranjang, ia hanyalah seorang pria asing yang tak pernah mampu menjangkau istrinya. Apa yang disembunyikan Reza? Rahasia gelap apa yang tertinggal di masa lalunya saat bekerja di kapal pesiar hingga membuatnya lumpuh secara psikologis? Ketika kesabaran Almira telah terkuras habis dan janji suci itu mulai terasa seperti jerat, ia dipertemukan dengan Ustadz Rayyan—sosok yang memberinya ruang untuk bernapas, juga bimbingan yang selama ini ia cari. Almira dihadapkan pada satu pilihan sulit: Bertahan dalam pernikahan yang membunuh jiwanya secara perlahan, atau pergi demi mengejar haknya untuk bahagia dan menjadi seorang ibu seutuhnya?
view more“Ustadz, suami saya impoten. Apa saya boleh mengajukan cerai karena permasalahan tersebut?”
*** Masjid Al-Ikhlas mulai lengang seiring berakhirnya kajian siang itu. Namun di salah satu pilar besar, Almira masih terpaku, dengan mata yang terus menatap ke arah pintu sayap kanan masjid bertuliskan “Bimbingan & Konsultasi Syariah”. “Mir, ayoo!! Namamu udah dipanggil petugas dari tadi,” ajak Selina sambil menyentuh bahu Almira. Padahal tadi Almira begitu bersemangat untuk mengkonsultasikan hal ini. Tapi kini dia justru mendadak ragu lagi, seperti sebelum-sebelumnya yang dia lakukan. Maju mundur. “Duh, gimana ya, Sel? Apa nggak jadi aja ya? Pulang aja yuk!” “Tuh, kan, gini lagi. Kita sudah sampai di sini, lho, Mir. Tinggal selangkah lagi supaya semua ini jadi jelas. Biar kamu tau, apa keputusan yang harus kamu ambil selanjutnya,” balas Selina tak sabaran. “Apa nggak apa-apa?” Air mata Almira mulai menggenang di pelupuknya. “Ini... ini aib suamiku. Mas Reza itu lelaki baik, dia menjaga kehormatanku di depan semua orang. Apa nggak keterlaluan kalau aku justru menceritakan kekurangan fisiknya pada orang lain? Aku malu, Sel... aku takut ini jadi dosa besar karena mengumbar urusan ranjang.” Selina memegang kedua bahu Almira, memaksa sahabatnya itu untuk menatapnya. “Dengar, Mir. Mengumbar aib itu kalau kamu ceritain ke tetangga sambil bergosip. Tapi ini konsultasi. Kamu lagi cari solusi dan obat serta kejelasan hukum supaya kamu nggak berdosa karena terus-menerus menyimpan rasa keselmu sama suamimu di hati. Islam itu adil, Mir. Kamu punya hak untuk bahagia, dan Mas Reza punya hak untuk dibantu sembuh. Ustadz Rayyan itu profesional, dia udah biasa menangani masalah berat seperti ini,” jelasnya panjang lebar, dan untuk lebih meyakinkannya lagi, ia juga menambahkan, “aku yakin nggak akan ada yang akan menghakimi kamu. Pasti mereka justru kasihan sama kamu kalau kamu menceritakannya. Sebaliknya, hati kamu juga bakal lebih plong nantinya.” Almira menarik napasnya yang mendadak terasa sesak. “Tapi tetep aja... menyebutkan kata itu di depan Ustadz... rasanya bibirku kelu.” “Ada aku, Mir. Aku temenin. Atau mungkin kalau nantinya kamu mendadak kesulitan buat ngejelasin masalahnya, aku bisa bantu. Percaya sama aku. Okay?” Dengan sisa keberanian yang ada, Almira akhirnya mengangguk. Mereka melangkah menuju ruangan tersebut. Setelah mengetuk pintu, seorang asisten staf masjid mempersilakan mereka masuk. Pintu sengaja dibiarkan terbuka sepertiga bagian, dan staf tadi duduk di meja sudut luar, memastikan pertemuan itu tetap profesional dan terjaga dari fitnah. Di dalam ruangan yang tenang, Ustadz Rayyan duduk di balik meja kerja yang dipenuhi kitab-kitab. Ia memberikan gestur sopan agar mereka duduk, namun tetap menjaga pandangannya tetap rendah. “Silakan duduk, Mbak Almira, Mbak Selina,” sapa Ustadz Rayyan teduh. Keheningan sempat menyergap selama beberapa detik. Almira menunduk dalam, pipinya memanas karena rasa malu yang amat sangat. Namun saat teringat dinginnya pernikahan mereka di hampir setiap malamnya, keberanian itu akhirnya muncul juga. “Ustadz...” suara Almira nyaris tak terdengar, tertahan di kerongkongan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa malu yang membakar pipinya. “Saya... saya datang membawa beban yang sebenarnya sangat memalukan untuk saya bagi. Tapi, saya nggak punya pilihan lain ke selain datang ke sini.” Almira menjeda kalimatnya, matanya berkaca-kaca. “Mengenai suami saya, beliau... Beliau mengalami gangguan dalam menunaikan kewajiban biologisnya. Sudah lama kami hidup bersama dan saya masih suci, Ustadz. Apakah... apakah berdosa jika seorang istri seperti saya mengajukan cerai karena alasan tersebut?”Enam bulan telah berlalu sejak fajar yang membawa perubahan besar itu menyingsing di atas langit Pesantren Al-Fatih. Kehidupan di ndalem kini telah menemukan ritme barunya—sebuah harmoni yang jauh lebih hidup daripada tahun-tahun sebelumnya yang hanya diisi oleh kesunyian. Cabang Butik baru Almira, kini juga berdiri anggun di sisi timur komplek pesantren, tepat di lahan yang dijanjikan Rayyan tempo hari. Bangunannya modern namun tetap memiliki sentuhan arsitektur Islam yang kental. Hari itu, Almira sedang duduk di meja kerjanya yang luas, memperhatikan dua orang santriwati tingkat akhir yang sedang magang di sana, belajar teknik memotong pola kain sutra.Almira mengusap perutnya yang kini sudah mulai menonjol di balik gamis longgar berbahan ceruti premium. “Ustazah, ini polanya sudah benar?” tanya salah satu santriwati dengan sopan.Almira tersenyum teduh. “Sudah bagus, Siti. Ingat, setiap jahitan itu seperti doa; harus rapi dan penuh kesabaran. Kalau hati kita tenang, pak
“Sekarang giliran kamu yang mandi. Mas tunggu di sini, kita shalat jamaah,” ucap Rayyan lembut, tangannya masih enggan lepas dari pinggang Almira.Almira mengangguk, melepaskan pelukannya. Lalu dengan segera, ia menyambar handuknya dan menghilang di balik pintu kamar mandi.Almira butuh waktu untuk menenangkan degup jantungnya yang sedari tadi tak mau kompromi. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, dan tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin.Sepuluh menit kemudian, Almira keluar dengan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah mengenakan mukena satin berwarna broken white yang senada dengan suasana kamar mereka.Rayyan sudah menunggu di atas sajadah, telah mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam yang membuatnya tampak sangat bersahaja namun berwibawa.“Allahu Akbar...”Rayyan memulai salat. Lantunan takbiratul ihramnya terdengar begitu mantap. Di belakangnya, Almira mengikuti setiap gerakan dengan kekhusyukan yang belum pernah ia rasa
Masih Di Kamar Pengantin... Kamar itu biasanya terasa sunyi dan fungsional, mencerminkan kepribadian Rayyan Al-Fatih yang praktis dan teratur. Tidak banyak hiasan, tidak ada barang yang berlebihan—semuanya tertata rapi sebagaimana hidupnya yang disiplin. Namun pagi ini, udaranya terasa berbeda. Lebih hangat, lebih hidup. Ada aroma mawar dan melati yang tertinggal dari riasan pengantin semalam, bercampur dengan aroma maskulin khas kayu cendana milik sang pemilik kamar dan wangi lembut Almira. Perpaduan itu menciptakan suasana baru yang membahagiakan.Almira az-Zahra mengerjapkan matanya, seolah takut jika semua ini hanya mimpi yang akan hilang begitu saja. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat di pinggangnya—sebuah lengan kokoh yang melingkar posesif, seakan memberi perlindungan tanpa perlu diminta. Begitu matanya terbuka sempurna, jantungnya langsung berdegup kencang, naik hingga ke pangkal tenggorokan.Hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, Rayyan terlelap. Napas pria it
Tangan kokoh Rayyan masih menggenggam jemari Almira saat mereka melintasi selasar ndalem yang mulai sunyi. Lampu-lampu taman temaram memberikan bayangan panjang di lantai kayu. Setiap langkah kaki Almira terasa berat, karena debaran di dadanya yang kian menggila. Ia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta, padahal ia adalah seorang ibu dari dua anak.Begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Rayyan berhenti sejenak. Ia menatap Almira dengan senyum tipis yang begitu teduh, lalu perlahan membuka pintu jati tersebut. Wangi bunga melati dan mawar yang tadi sempat dipuji Selina kini menyeruak lebih kuat, menyambut mereka dalam kehangatan yang privat.Rayyan menutup pintu dan menguncinya. Bunyi klik kecil itu terdengar begitu nyaring di telinga Almira, seolah menandakan bahwa dunia luar—dengan segala fitnah dan kerumitannya—telah resmi terkunci di luar sana.“Mas ambil air wudhu dulu ya,” pamit Rayyan lembut.Almira hanya mengangguk kecil, membiarkan suaminya masuk ke kamar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu