LOGINBeberapa hari berlalu.Semenjak malam konfrontasi nama palsu di kamar itu, dan rangkaian persiapan pelantikan yang kian mencekik, Aeri sama sekali tidak bersemangat. Jalur penyelidikannya macet, dan energinya terkuras habis untuk mempertahankan topeng "Gahensa" di depan publik, sementara di dalam kamar ini, dia harus menghadapi tatapan intens dari sang tiran. Dia merasa hampir putus asa.Bagaimana tidak?Aeri merasa sangat sakit hati karena Eryx tentu saja. Logikanya berteriak bahwa pria ini adalah bagian dari dinasti yang melenyapkan Felix, tetapi interaksi jarak dekat yang mereka lalui perlahan mengikis dinding pertahanannya."Aku mulai menyukainya, tetapi itu tidak sepadan dengan perasaan gelisah karena bingung apakah dia benar-benar membunuh kakakku atau tidak. Dan sekarang, aku harus menyadari bagaimana dia berperilaku terhadapku. Dia benar-benar sangat berbeda," batin Aeri pedih.Eryx yang biasanya penuh dengan sarkasme tajam atau gestur kekanakan yang menyebalkan kini berubah t
Suasana di dalam kamar tidur utama paviliun barat itu mendadak mendingin hingga ke titik beku. Pertanyaan Eryx yang menghunjam lurus tanpa tedeng aling-aling meruntuhkan sisa-sisa ketenangan yang susah payah Aeri bangun. Nama "Callista" yang baru saja ia sebutkan memantul di dinding ruangan, terdengar sumbang dan dipenuhi kepalsuan yang telanjang di hadapan ketajaman insting seorang Eryx Leander.Eryx melangkah maju satu kali lagi, membuat jarak di antara mereka terkikis habis. Ia menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata Aeri dengan tatapan yang begitu pekat, seolah-olah ia bisa melihat menembus tengkorak kepala wanita itu dan membaca setiap memori yang tersimpan di sana."Callista?" Eryx mengulang nama itu, lalu mendengus sinis. Sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya. "Jangan meremehkan inteligensiku, Kak Gahensa. Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama fiktif barumu itu? Sejak awal aku tahu kau berbohong tentang motif uang dan pengaruh, dan sekarang kau bahkan
Aeri merasakan seluruh persendian tubuhnya membeku. Udara di dalam kamar tidur utama paviliun barat itu seolah tersedot habis, menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh ketegangan yang ekstrem. Jemari dingin Eryx yang masih mengusap pipinya terasa laksana mata pisau yang siap menggores kulitnya kapan saja. Identitasnya telah dikuliti habis, dan pria di hadapannya ini adalah pemegang kendali atas hidup dan matinya malam ini. Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari dasar takdirnya, Aeri menepis pelan tangan Eryx. Aeri menatap lurus ke dalam manik mata gelap Eryx, menuntut jawaban. "Bukankah Anda sudah tahu sejak awal... kalau saya adalah seorang gadis?" Eryx tidak berpaling. Dia menurunkan tangannya perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya pada tepi meja jati dengan gaya yang teramat santai, seolah-olah bongkar-pasang identitas ini hanyalah permainan catur yang membosankan. "Memang," jawab Eryx pendek, nadanya sangat datar. "Aku tahu sejak awal bahwa kau adalah seorang gadis
Setelah perbincangan beralih ke perihal gaji dan kecelakaan Felix, keheningan kembali menguasai kamar tidur utama paviliun barat. Aeri menekan seluruh gejolak emosinya, kembali memasang topeng "Gahensa" yang patuh, dan dengan telaten mengurus segala keperluan Eryx. Dia menyiapkan obat penenang dari tim medis, membantu membetulkan posisi perban di perut pria itu, hingga akhirnya Eryx memejamkan mata dan tertidur pulas di bawah pengaruh obat.Begitu deru napas Eryx terdengar konstan dan berat, Aeri bergerak tanpa suara. Mengambil kain lap dan beberapa peralatan pembersih, dia mulai menyeka sisa-sisa air hujan yang sempat terbawa masuk ke lantai marmer dekat balkon. Namun, itu hanyalah kedok. Sembari membersihkan tempat itu, Aeri menyelidiki setiap sudut kamar dengan jeli. Matanya menyisir sela-sela laci, kolong meja, hingga balik bingkai lukisan besar, berharap menemukan sisa-sisa rahasia yang mungkin Eryx sembunyikan—semacam kertas, dokumen, berkas Proyek Utama, atau petunjuk apa pun t
Setelah punggung Kaeragha menghilang di balik pintu kaca lobi, suasana koridor kembali lengang. Keheningan yang tertinggal terasa pekat dan menekan, menyisakan ketegangan yang masih berdesir di udara. Eryx membalikkan tubuhnya perlahan, jubah kebesaran yang tersampir di pundaknya berdesir halus mengikuti pergerakannya. "Kau terluka lagi, Kak Gahensa," ucap Eryx tiba-tiba. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh harga diri seperti saat menghadapi Kaeragha tadi. Nada bicaranya melunak, kembali pada intonasi rendah yang sarat akan perhatian posesif yang teramat akrab—dan teramat dibenci Aeri karena selalu berhasil menggoyahkan dinding pertahanannya. Aeri tersentak kecil di balik topeng penyamarannya. Dia buru-buru menyembunyikan telapak tangannya yang terbalut saputangan ke balik saku celana taktisnya. "Ini hanya luka kecil akibat pecahan kaca di kantor polisi kemarin, Tuan Muda. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Eryx tidak menjawab. Dia hanya menatap Aeri dengan sepasang manik ma
Lobi Kediaman Utama Leander yang luas mendadak terasa menyempit. Aura intimidatif dari Kaeragha, berpadu dengan kekejaman laten yang menguar dari tubuh Eryx. Di antara mereka, Aeri berdiri tegak sebagai Gahensa, merasakan tatapan tajam Kaeragha seolah sedang menguliti topengnya lapis demi lapis. Pria itu belum lupa rasa sakit akibat serangan di jalan layang semalam, dan dia sepertinya sedang mencoba menyambungkan titik-titik yang meresahkan itu dengan kehadiran Aeri."Ada seseorang di balik layar, Eryx," suara Kaeragha memecah keheningan, matanya tak lepas dari wajah Aeri. "Seseorang yang cukup serius ingin mengorek kematian Felix hingga ke tulang-tulangnya. Ini bukan lagi sekadar bisingnya publik, tapi sabotase yang terencana. Kau harus lebih waspada."Eryx menanggapi dengan tawa dingin yang terdengar seperti gesekan pisau. Dia melirik Kaeragha dengan tatapan penuh penghinaan. "Kau bicara seolah kau peduli, Kaeragha. Padahal, sejak hari pertama Felix tewas, kau bahkan tidak menunjuk
Aeri datang lebih awal karena itu adalah cara untuk menunjukkan kepada Eryx Leander bahwa keputusannya untuk mengambil Gahensa Xan bukan kesalahan—itu adalah investasi dalam hidupnya sendiri.Maya, pembantu rumah tangga, terlihat terkejut melihat Aeri sudah di penthouse saat pagi buta."Tuan Eryx m
"Gahensa Xan, tuan.""Gahensa," ulangi Eryx, melafalkannya dengan cara yang berlagak-lagak, seolah-olah nama itu adalah bahan lelucon. "Nama yang aneh. Kamu dari planet mana? Atau itu nama asli? Karena ini terdengar seperti nama yang dibuat saat ayahmu sedang mabuk dan ibu mu sedang—""Tuan," poto
Enam bulan kemudian, Aeri masuk ke akademi keamanan elite dengan nama palsu dan identitas palsu yaitu Gahensa Xan. Selama enam bulan itu, dia berlatih sangat keras. Ketika kakaknya libur bekerja, dia biasanya cerita soal pekerjaannya termasuk bagaimana caranya menjadi seorang pengawal terlatih. Dan
Jasad Felix berbaring di ruang perawatan dengan pakaian formal yang terlalu rapi. Aeri Roseanne berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, tidak menangis. Matanya—mata yang indah dengan irisan mata yang tajam—tetap terbuka mengamati wajah kakaknya yang sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi







