Share

Pengawal Palsu Tuan Muda
Pengawal Palsu Tuan Muda
Author: Eselitaa

01

Author: Eselitaa
last update publish date: 2026-04-23 17:51:53

Jasad Felix berbaring di ruang perawatan dengan pakaian formal yang terlalu rapi.

Aeri Roseanne berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, tidak menangis. Matanya—mata yang indah dengan irisan mata yang tajam—tetap terbuka mengamati wajah kakaknya yang sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi hidup.

"Aeri..." bisik ibunya dari sudut ruangan, tapi suaranya terasa sangat jauh.

Aeri tidak menjawab. Dia tidak bisa berbicara. Kalau dia berbicara, dia akan teriak. Kalau dia teriak, dia akan membunuh sesuatu.

Dokter mengatakan Felix jatuh dari balkon. Kecelakaan. Orang-orang berbisik hal yang sama—kecelakaan, kecelakaan, kecelakaan.

Tapi Aeri tahu cara kakaknya berjalan. Felix tidak pernah jatuh. Felix terlalu hati-hati, terlalu penuh perhitungan. Bahkan saat dia mabuk, Felix adalah tipe orang yang menghitung setiap langkah sebelum mengambilnya. Lagipula, Felix bukan peminum. Selama berada di tempat dia bekerja, dia akan berpikir seribu kali sebelum mabuk.

"Pihak kepolisian sedang menyelidiki," kata ayahnya kemudian, suaranya datar, dingin, seperti air es yang sudah berhenti mengalir.

Ayah Aeri adalah tipe orang yang tidak menunjukkan emosi. Tapi Aeri melihat cara tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Aeri juga tidak bisa menerima kematian kakaknya.

Aeri tidak bisa hanya... berdiri di sini.

Malam itu, Aeri duduk sendirian di kamarnya. Dia membuka laptop dan mulai menggali. Informasi tentang Felix bocor di sana-sini—percakapan, forum, media sosial kalangan atas.

Felix Roseanne, anak dari keluarga Roseanne yang bekerja dibawah keluarga Leander, ditemukan meninggal dibawah balkon penthouse milik seseorang bernama Eryx Leander.

Eryx Leander.

Aeri mengetik nama itu, dan internet merespons dengan seratus artikel, foto, gosip. CEO muda Leander Corporation. Terlalu muda untuk posisinya. Terlalu kaya. Terlalu terkenal meskipun keluarganya berusaha tetap rendah profil.

Dia melihat foto Eryx. Pria itu tampak... mudah.

Wajahnya lembut, mata yang ceria, senyuman yang terlihat seperti milik seseorang yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya. Jauh berbeda dengan ciri khas keluarga Leander yang terkenal dengan reputasi dingin dan kekejaman hidup mereka konon mengubah ekspresi mereka.

Aeri merasa ingin membunuhnya.

Dia membaca lebih jauh. Eryx Leander memiliki banyak musuh—kompetitor yang kalah, investor yang tertarik, orang-orang di belakang layar yang ingin dia jatuh.

Nama-nama mulai bermunculan di berbagai forum.

Konspirasi, teori, kemungkinan.

Felix tidak memiliki musuh. Felix adalah jenis orang yang membuat orang lain merasa nyaman. Dia bekerja sebagai konsultan keuangan, kadang-kadang bertugas mengawal bosnya, seseorang yang dipercaya oleh banyak orang untuk mengurus uang mereka dan permasalahan lain.

Jadi kenapa dia jatuh dari balkon Eryx Leander?

Aeri menggali lebih dalam. Jari-jarinya bergerak cepat di keyboard, membuka tab demi tab. Berita lokal.

Laporan kepolisian yang belum dirilis. Gosip dari teman-teman Felix di media sosial.

Seseorang menulis: "Felix sangat profesional, dia tidak akan pernah..."

Seseorang lain menulis: "Berurusan dengan keluarga Leander tidak pernah menguntungkan. Jika kamu berhasil keluar dari sana hidup-hidup, syukuri itu. Mengenai Eryx Leander, dia yang paling baik di keluarga itu. Tetapi bagaimanapun, dia orang jahat..."

Tapi tidak ada bukti. Hanya spekulasi. Hanya desas-desus.

Polisi menutup kasus setelah seminggu. Kecelakaan. Tidak ada tanda-tanda tindakan kekerasan. Tidak ada jejak. Selesai.

"Kita tidak punya apa-apa untuk melawan mereka."

"Bahkan sampai detik ini, tidak ada yang membantu kita. Jangan marah seperti orang gila, Aeri!"

Aeri merasa kesal dengan orang tuanya yang pasrah kematian kakaknya dianggap sebagai kecelakaan.

Aeri memandang layar laptop, merasakan sesuatu yang gelap tumbuh di dalam dadanya. Sesuatu yang berat.

Dia tidak percaya ini kecelakaan.

Dia tidak akan pernah percaya.

Seminggu setelah pemakaman Felix, Aeri duduk di kamar hotel murah di tepi kota, memandangi dirinya sendiri di cermin. Rambutnya panjang, hitam, indah dengan cara yang sangat feminin. Kulitnya halus. Mata yang tajam tapi masih mempertahankan keindahan yang tidak bisa dia sembunyikan.

Keluarga Leander selalu mengambil bodyguard dari sebuah lembaga dunia keamanan elite. Hanya saja, dia tidak bisa memasuki dunia keamanan elite sebagai perempuan. Dunia itu tidak mengizinkan.

Itu adalah dunia yang hanya menerima pria—pria dengan otot, pria dengan suara yang berat, pria yang tidak pernah bertanya-tanya apakah mereka cukup keras atau cukup tangguh.

Persetan dengan itu.

Aeri mengambil gunting. Rambutnya jatuh di lantai dalam potongan-potongan panjang yang terlihat seperti bagian dari seseorang lain. Dia memotong pendek, sangat pendek, dengan cara yang maskulin.

Dia berbicara dengan suara yang lebih dalam, mengubah cara dia berjalan—bahu lebih lebar, langkah lebih panjang.

Dia berlatih di depan cermin selama berjam-jam.

Aeri Roseanne menghilang.

Seorang pria baru muncul.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   96

    Aeri mengepalkan tangannya yang terbalut saputangan sutra milik Eryx. Pertanyaan yang meluncur dari bibir pemuda itu terasa seperti bilah belati yang diputar di dalam lukanya. Di bawah siraman lampu lobi kediaman utama yang temaram dan rintik hujan yang kian menderas, Aeri dipaksa berdiri di persimpangan yang mematikan.Jika dia menjawab dengan nada bariton pengawal yang terlalu objektif, Eryx yang jenius dan paranoid pasti akan mencium gelagat kecurigaan. Namun, jika dia berbohong terlalu manis, hatinya sendiri yang akan menolak untuk bersuara.Aeri menarik napas dalam-dalam, menekan pita suaranya ke nada rendah "Gahensa" yang tegap dan tenang. Dia menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata gelap Eryx yang sarat akan keputusasaan obsesif."Tugas saya bukan untuk memercayai rumor atau analisis detektif sipil, Tuan Muda," jawab Aeri, suaranya terdengar datar namun mantap di antara desau angin malam. "Tugas saya adalah memastikan Anda tetap hidup sampai pelantikan besok malam, dan menyi

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   95

    Limusin hitam itu melaju membelah malam yang kian pekat. Di dalam kabin, keheningan yang tercipta terasa jauh lebih mencekam daripada badai yang baru saja meledak di kantor kepolisian. Tiago dan Selena duduk di kursi baris depan yang menghadap ke belakang, sementara Eryx dan Aeri duduk berdampingan. Tidak ada yang bersuara. Hanya deru mesin mobil dan ketukan rintik hujan pada kaca jendela yang mengisi kekosongan atmosfer di antara mereka.Aeri menatap lurus ke depan, enggan menoleh ke arah Eryx yang berada tepat di sisi kanannya. Namun, dari sudut matanya, ia bisa melihat bagaimana pria itu menyandarkan kepala pada sandaran kursi, memejamkan mata dengan gurat kelelahan yang amat sangat. Darah segar kembali merembes tipis di kemeja putih Eryx—jahitan di perutnya pasti kembali merenggang akibat ketegangan tadi.Rasa sakit hati yang mendalam membakar dada Aeri. Ucapan detektif terbaik itu terus bergaung laksana lonceng kematian di telinganya. "Seseorang yang terlatih secara militer... te

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   94

    Ruangan itu seketika menjadi begitu sunyi, hingga suara detak jam dinding kuno di sudut kantor terdengar laksana dentang lonceng kematian. Pernyataan sang detektif terbaik di negara itu meruntuhkan sisa-sisa wibawa narasi yang dibangun oleh Tiago Leander. Wajah Tiago mengeras, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menegang. Di sampingnya, Selena tampak mematung. Senyuman penuh kemenangan yang tadi sempat bertengger di bibir tipisnya kini lenyap, digantikan oleh tatapan sedingin es yang mengarah langsung pada sang detektif. "Kau... berani sekali melayangkan tuduhan tanpa bukti di hadapanku," desis Tiago, suaranya merendah namun sarat akan otoritas yang siap menghancurkan siapa saja. Detektif terbaik itu hanya terkekeh pendek. Dia meraba saku mantel lusuhnya, mengeluarkan sebuah gawai transparan kecil lalu menekannya. Sebuah hologram diagram tiga dimensi mengenai sudut kemiringan jatuhnya tubuh Felix malam itu terpampang di udara, membelah kegelapan ruang interogasi. "Jeja

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   93

    Ketegangan di dalam ruang interogasi mencapai titik didih. Eryx masih menatap detektif lokal itu dengan pandangan membunuh, sementara Aeri berdiri kaku di sampingnya, bersiap menghadapi skenario terburuk. Namun, sebelum perdebatan tentang penahanan itu berlanjut, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari koridor luar, memecah keheningan malam di kantor kepolisian tersebut.BRAK!Pintu ruang interogasi terbuka lebar. Alih-alih Kaeragha yang datang memenuhi panggilan, yang datang malah Tiago Leander dan Selena. Kehadiran dua petinggi distrik itu seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi sangat intimidatif. Di belakang mereka, belasan pengawal elit berbaju hitam langsung memblokir pintu, membuat para petugas kepolisian sipil di dalam ruangan mundur teratur karena ketakutan.Tiago melangkah maju dengan keangkuhan mutlak seorang kepala keluarga. Mata tuanya yang tajam langsung mengunci sosok sang detektif lokal. Tanpa basa-basi, Tiago meminta detektif itu untuk berhenti mem

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   92

    Ruang interogasi di kantor detektif lokal itu terasa pengap dan dingin. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip pelan, memantulkan bayangan buram pada kaca satu arah yang memisahkan mereka dari ruang pemantau. Eryx duduk dengan santai di kursi besi, melipat kedua tangannya di depan dada seolah dia sedang berada di ruang kerjanya sendiri, bukan di bawah tekanan interogasi kepolisian pusat. Di belakangnya, Aeri berdiri tegak sebagai pengawal, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.Sang detektif aneh melemparkan berkas foto tempat kejadian perkara ke atas meja kayu. "Jadi, Tuan Muda Eryx, mari kita mulai dari malam itu. Felix jatuh dari balkon penthouse pribadi Anda. Apa yang Anda lakukan bersamanya malam itu?"Ketika diwawancarai soal Felix, Eryx tidak mengungkapkan kebenaran apa pun. Ekspresi wajahnya begitu datar, hampir menyerupai topeng porselen yang sempurna. Dia selalu menjawab tidak tahu. Setiap pertanyaan taktis yang dilayangkan oleh detektif itu diment

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   91

    Keputusan Tiago Leander setelah insiden penggeledahan penthouse sangat mutlak. Dinasti Leander tidak boleh terseret lebih dalam ke dalam pusaran hukum sipil, terutama tepat di ambang pelantikan akbar. Pihak kepolisian pusat dan detektif lokal yang menangani kasus Felix telah melayangkan surat panggilan resmi kepada Eryx Leander untuk dimintai keterangan sebagai saksi kunci sekaligus pemilik lokasi kejadian. Namun, Tiago bergerak lebih cepat. Di ruang keluarga utama, dengan wajah yang menggelap oleh amarah, Tiago memerintahkan Eryx untuk menolak panggilan tersebut secara sepihak. Tidak hanya itu, demi meredam gejolak publik dan menjauhkan putranya dari jangkauan kementerian, Tiago memerintahkan Eryx untuk segera pergi bersembunyi ke sebuah pulau pribadi terpencil di wilayah selatan sebelum fajar menyingsing. Eryx, yang menyadari bahwa posisi takhtanya sedang dipertaruhkan, tidak membantah. Dia pun bergegas melakukannya. Dengan dikawal oleh tim internal, Eryx bersiap menuju dermaga he

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   53

    "Kak Gahensa, kenapa kamu buru-buru sekali? Aku masih hidup sekarang. Artinya adalah, aku masih bisa bertarung," bisik Eryx di depan wajah Aeri. Aeri menahan nafas dengan kedua mata terbelalak. Lagi-lagi dia gegabah. Namun jika tidak didorong, bagaimana dia akan segera mengetahui dibalik kematia

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   48

    Kaeragha tidak terkejut dengan serangan balik verbal dari Eryx. Pria paruh baya itu justru menaikkan sebelah alisnya, membiarkan senyum sinisnya melebar. Di bawah remang lampu ambulans dan kilatan lampu merah-biru dari mobil patroli, ketegangan di antara kedua pria dari silsilah Leander ini tera

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   03

    "Gahensa Xan, tuan.""Gahensa," ulangi Eryx, melafalkannya dengan cara yang berlagak-lagak, seolah-olah nama itu adalah bahan lelucon. "Nama yang aneh. Kamu dari planet mana? Atau itu nama asli? Karena ini terdengar seperti nama yang dibuat saat ayahmu sedang mabuk dan ibu mu sedang—""Tuan," poto

  • Pengawal Palsu Tuan Muda   02

    Enam bulan kemudian, Aeri masuk ke akademi keamanan elite dengan nama palsu dan identitas palsu yaitu Gahensa Xan. Selama enam bulan itu, dia berlatih sangat keras. Ketika kakaknya libur bekerja, dia biasanya cerita soal pekerjaannya termasuk bagaimana caranya menjadi seorang pengawal terlatih. Dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status